Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Tidak Kan Terulang


__ADS_3

"Hahaha... Hikmal bukankan kamu sudah membacanya kenapa kamu nanya?" Hikmal terdiam memang dia belum bisa memeluk nya secara respek karena dia masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya secara lengkap tapi yang jelas kenapa jadi air matanya mengalir sendiri setelah tahu akan hal ini.


"Kau kenapa apa ada yang sakit?" tanya Wulan yang memegang pipi Hikmal menatapnya dengan wajah sendu berharap jika Hikmal baik-baik saja.


"Tidak, aku hanya terlambat menyadari jika sebenarnya ada yang sangat khawatir saat aku begini, ada yang lebih peka saat aku begitu tapi kenapa aku yang bodoh tidak pernah melihat cintamu? Kenapa akun yang sangat bodoh sampai bisa mengabaikan perasaan mu." Wulan yang melihat air mata Hikmal yang berderai pun menghapusnya dengan kelima jarinya.


"Jangan seperti ini, kamu tidak bersalah, aku yang tidak pernah mengungkapkan perasaan ku, karena kamu bukan lagi sekedar teman apalagi saat kamu lebih menjatuhkan hatimu pada seseorang yang amat penting bagiku, yaitu Fiani aku yang salah, aku yang salah tidak pernah melihat mu maafkan aku."

__ADS_1


"Sudahlah, jangan seperti anak kecil, sekarang kan kamu sudah menerima diriku untuk menjadi kekasih mu, berarti kamu memberiku kesempatan kan." Mata Hikmal berkaca kaca mendengar hal itu.


"Tapi karena aku, karena kebodohan diriku yang tidak pernah menganggap dirimu sebagai yang lebih, tapi sekarang aku janji aku akan membuat mu tidak menangis lagi." Dengan respek Wulan segera memeluk Hikmal ya walaupun Hikmal terlambat menyadari akan cinta darinya tapi dia senang karena pada akhirnya Hikmal membuka hatinya untuknya itu adalah hal yang sangat membahagiakan untuk nya.


"Sudah lah jangan menangis, aku kan sekarang milik mu, soal rasa sakit ku kamu kan yang menyebabkan nya jadi kamu juga yang harus menyembuhkan nya benar kan." Hikmal mencubit pipi Wulan.


"Ya sudah kita makan tadi aku membelikan dirimu makanan ya nanti lain kali aku akan memasak untuk mu deh." janji Wulan seraya melepaskan pelukan Hikmal dan segera mengambil makanan pasti Hikmal sudah lapar karena kemarin kan dia tidak boleh makan karena operasi jadi sekarang dia harus makan untuk memulihkan tenaga nya.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak menyadari jika kamu sebaik dan perhatian ya?" Wulan yang membuka nasi pun terkekeh.


"Karena kamu memang dasarnya tidak peka." Hikmal mengakui akan hal itu memang dirinya laki-laki yang tidak peka, apalagi mengejar wanita yang bahkan tidak mempunyai rasa padanya. Bodohnya dia sampai kebangetan.


"Sudahlah ayo makan, katanya tadi laper." ajak Wulan yang segera menyuapi Hikmal dengan makanan.


Mila ada di depan pintu melihat dua orang yang yang begitu romantis kenapa dia tidak tahu jika sebenarnya dia selama ini sudah egois, membiarkan anaknya dalam keterpurukan tidak memberikan kesempatan kepada anaknya untuk memilih siapa calon istrinya, sekarang terserah Hikmal sebagai orang tua yang tidak ingin anaknya kembali terpuruk jadi dia akan mengiyakan saja asal anaknya tidak lagi sakit lagi.

__ADS_1


"Ibu sudah tidak ingin melihat mu menderita, ibu akan menyetujui segala hal yang ingin kamu lakukan, lebih baik ibu menerima keputusan dari mu nak, ibu tidak ingin kamu terpuruk lagi, ibu juga tidak sanggup melihat dirimu menderita karena keegoisan ibu, ibu janji akan selalu ada untuk mu, asal kamu bahagia dengan pilihan mu ibu pun bahagia juga." Mila menutup pintu dan meninggalkan keduanya.


__ADS_2