Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Peka lah sedikit


__ADS_3

Setelah mengantarkan Wulan pulang, Faam akhirnya bisa berbicara empat mata dengan istrinya, masalah Aldo biarkan saja dia memang tukang nguping dan menjadi obat nyamuk.


"Fia." Fiani memandang kearah suaminya entahlah rasanya ada yang sedikit berbeda dengan Faam dia dari tadi memperhatikan nya namun tidak ingin mengatakan apapun padanya.


"Ada apa?" tanya Fiani yang melahap jagung bakar miliknya.


"Besok aku tidak pergi ke kantor apa bisa kita pergi jalan-jalan?" Tanya Faam ingin tahu memang susah lama sekali dia tidak mengajak Fiani istrinya untuk jalan-jalan dirinya selalu sibuk dengan pekerjaan nya.


Fiani menatap mata suaminya dengan intens, sampai membuat Fiani menghentikan kegiatan makannya.


" Kenapa dengan Fiani nih wajahnya terlihat sangat senang ataukah sedih sih?"


"Memangnya kita mau pergi jalan-jalan kemana?" tanya Fiani yang ingin tahu.


"Yang jelas hanya ada kita berdua." Faam tersenyum jika bermesraan di sini malas di lihatin Aldo.


"Baiklah. Tapi kamu kan sudah berjanji loh, temui aku di kamar kok." Fiani tersenyum memandang dasar pria rakus.

__ADS_1


"Baiklah." ucap Fiani yang segera melanjutkan kegiatan makan nya.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah dan memang dasarnya Fiani tukang tidur jadi Faam pun segera mengendong Fiani.


"Tumben Tuan Faam perhatian banget dengan Nona?" ucap Aldo dalam benaknya.


Faam segera membaringkan tubuh istrinya ke kamar mereka berdua, sudah lama mereka tidak tidur berdua.


Faam sebenarnya sangat ingin membelai lembut perut istrinya.


"Sayang maafkan aku, aku terlalu sibuk sampai tidak mempunyai waktu untuk berdua dengan dirimu seperti saat ini. Aku takut membuat dirimu kecewa padaku lagi, aku pernah membuat dirimu kecewa dan itu tidak bisa aku lupakan. Maafkan diriku yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan urusanku, bahkan tidak memperhatikan dirimu dan anak kita. Aku lebih mementingkan pekerjaan dari pada bersamamu." Faam membelai rambut istrinya yang masih terlelap di sebelahnya.


Faam melihat berapa cantik nya istrinya, entah lah kenapa semenjak istrinya amnesia Faam terlihat menjauh mungkin dia masih mengingat akan kejadian itu tapi ternyata istrinya beranggapan lain.


Fiani beranggapan jika Faam sibuk bekerja jadi dia kan tidak ingin suaminya di repot kan jadi Fiani selalu pergi bersama dengan Aldo untungnya Aldo rese jadi Fiani betah dengan dirinya.


"Untunglah Aldo menceritakan semuanya padaku."

__ADS_1


Flashback on


"Tuan maaf sebelumnya, ada yang ingin saya ceritakan." Faam yang tadinya ingin berdiri mengikuti Fiani pun segera duduk kembali.


"Apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Faam yang ingin tahu kenapa Aldo tiba-tiba ingin menceritakan sesuatu tumben.


"Apakah tuan tidak ada sedikit waktu untuk Nona? Nona pernah bertanya kepada ku jika Nona ingin sekali menghabiskan waktu berdua dengan tuan. " Mendengar akan hal itu Faam hanya bisa memandangi dirinya sendiri apakah memang benar seperti itu? Tapi memang dia beberapa hari ini selalu berangkat pagi pulang larut malam, bahkan tidak pernah menyapa istrinya. Ingin sih menyapa tapi takut menganggu istrinya.


"Beberapa hari ini aku sangat sibuk, jadi tidak bisa mengurus Fia."


"Tapi tuan kasihan Nona, cobalah tuan seperti dulu lagi selalu bercanda dengan Tuan Nona menginginkan hal itu apalagi Nona sedang hamil pasti orang hamil itu biasanya ingin dekat dengan suaminya."


"Sudah lah kamu temani saja istriku kan sama saja." Terang Faam.


"Tuan jangan seperti ini, apa tuan tidak ingin seperti dulu lagi, Nona juga membutuhkan perhatian sama seperti orang lain tapi nyatanya tuan malah menjauh semakin menjauh. Menangnya tuan ingin jika Nona Fiani di rebut orang? Tidak kan tuan?" Faam tak menjawab dan langsung meninggalkan Aldo.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2