
Faam bingung sendiri kenapa jadi istrinya yang tadinya bahagia kini menjadi sedih, apa yang istrinya pikirkan?
"Sayang kenapa kau menangis? Memangnya ada yang salah dengan apa yang aku katakan?" tanya Faam ingin tahu apalagi mengingat istrinya ini selalu ahli dalam menyembunyikan setiap masalah nya, Fiani bahkan tidak akan menceritakan apapun pada sembarangan orang termasuk dirinya.
"Apa yang salah dengan ucapan ku tadi? Kenapa dia menangis dan seakan dia sedang ingin berpamitan denganku, hah kenapa aku jadi berpikiran yang tidak-tidak."Faam jadi senewen sendiri.
Fiani menghapus air matanya dan melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya.
"Bahkan aku tidak bisa mengatakan apa yang aku rasakan, bagaimana caranya aku bisa hidup tanpa kamu sayang? Bahkan untuk kali ini aku juga tidak bisa memberi tahu mu tentang penyakit ku ini, Tuhan aku bingung harus bagaimana? Aku mencintainya sangat mencintainya namun apa? Apa yang bisa aku lakukan?" Fiani berguman sendiri dalam hatinya, dia tidak bisa mengatakan jika dirinya sakit, apalagi usianya juga tidak panjang lagi seharusnya dia mengabiskan saat-saat terakhir nya bersama dengan suaminya tapi dia juga tidak bisa memberi tahu kan pada suaminya jika dirinya mempunyai penyakit yang sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa sembuh.
Faam ingin tau apa yang di pikirkan suaminya kenapa dia jadi aneh seperti ini, apa dia tidak merasa bahagia?
"Sayang, kenapa kau menangis? Apa kau tidak merasa bahagia bisa menikah denganku?" tanya Faam ingin tahu. Fiani menggeleng bagaimana dia mencari alasan tidak mungkin kan dia jujur mengenai penyakit yang di deritanya.
"Bukan kok sayang, bahkan aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku karena akhirnya kita bisa menikah, aku bahagia kok." Faam kembali memeluk istrinya entah mengapa Faam merasa jika dia tidak ingin berjauhan dengan istrinya tapi bagaimana dengan pekerjaan istrinya terlebih liburannya masih dua hari lagi jika Faam bisa memperpanjang bulan madunya tapi pekerjaan mengharuskan lusa untuk kembali.
"Entah kenapa aku seakan tidak bisa jika harus berjauhan dengan istriku, aku tidak rela jika dia meninggalkan diriku sendirian, padahal dia kan hanya bekerja saja tapi entah kenapa aku kok jadi tidak rela gini," ucap Faam bingung sendiri dengan perasaan nya.
"Apa kau bosan disini, em.... Bagaimana jika kita jalan-jalan?" Fiani tersenyum.
Dan segera melepaskan pelukannya dan segera masuk ke ruangan kecil untuk mengganti bajunya. Faam tersenyum ternyata istrinya sangat amat lucu.
__ADS_1
"Istriku, istriku di ajak jalan-jalan nih dianya langsung seneng kan wanita emang dasarnya suka jalan-jalan dan belanja." Ucap Faam sambil menggeleng pelan apalagi melihat istrinya yang bersemangat.
Faam mengambil baju ganti dari lemari dia hanya memakai kaos saja dan celana jins tapi sudah lama dia menunggu istrinya untuk keluar dari ruang ganti tapi dasarnya wanita kalau dandan lama ya gimana lagi jadi Faam harus menunggu.
Fiani bingung harus bagaimana jika dia tidak memakai riasan lihat saja wajahnya di cermin sangat amat pucat, ini harus di tutupi dengan make up yang lumayan tebal jika tidak pasti suaminya akan heboh sendiri.
Setelah dirasa natural Fiani pun keluar dia memakai pakaian yang tidak terlalu terbuka karena dia bukan tipe wanita yang suka dengan pakaian kurang bahan.
Faam pun memakluminya karena Faam mencintai istrinya apa adanya dia tidak akan memaksa istrinya untuk memakai dress yang istrinya tidak sukai.
"Sayang... Memang kita mau pergi kemana? Bukankah kita sudah pergi ke berbagai tempat, kita sudah makan malam romantis, kita juga sudah pergi ke berbagai tempat wisata dan sudah pergi ke pantai yang sangat indah apalagi saat aku menyaksikan sendiri matahari yang tenggelam rasanya itu momen yang tidak bisa di lupakan apalagi saat semua itu ku lakukan dengan orang yang aku sayangi." Faam
tersenyum lagi Fiani terlalu berlebihan apakah istrinya tidak datang ke tempat seperti itu ah nanti akan dia bawa ke seluruh Indonesia agar dia bisa menikmati keindahan bumi tanah kelahirannya.
"Sayang apa kau ingin pergi ke pantai lagi?" tanya Faam ingin tahu.
"Kan aku bertanya memang nya kita mau pergi kemana hari ini?" tanya Fiani ingin tahu.
"Bagaimana jika kita belanja, kan kau belum beli apapun memang kau tidak ingin pergi membeli oleh-oleh untuk keluargamu?" Fiani tersenyum.
"Kenapa sih suamiku ini selalu tau apa yang aku pikirkan, " ucap Fiani sambil mencubit pipi suaminya.
__ADS_1
Tapi kau tidak akan pernah tau jika aku akan pergi jauh meninggalkan dirimu sendiri sayang, maaf karena mungkin nanti kau akan kecewa karena sikapku yang perlahan akan membuatmu membenci diriku.
"Nah kan istriku yang sudah cantik dan wangi ini melamun lagi, ayo nanti kita beli oleh-oleh yang banyak dan membeli beberapa baju di sini bagaimana jika kita samaan bajunya kan lucu." Fiani terjekeh ternyata Faam ingin seperti pasangan lainnya kirain dia akan memaksa dirinya untuk tidak ikut-ikutan orang lah dianya tanpa disuruh ikutan.
"Lah kirain kau tidak akan menyukainya jika kita samaan apalagi baju kita berdua."
"Kan kita pasangan ya jelas harus samaan dong owh iya makanan kita sudah siap loh. Kau tadi masak?" tanya Faam ingin tahu kan tidak ada orang lain yang bisa masuk ke penginapan ini apalagi di kamar mereka.
"Ya iseng aja lagian tadi aku enggak bisa tidur jadi aku masak, toh kewajiban istri bukan hanya melayani suami di ranjang kan, istri juga harus pintar masak, " Faam mengangguk soal bisa atau tidak bisa makan dia tidak terlalu memikirkannya karena yang paling penting dia bisa bersama dengan istrinya ia sudah merasa sangat amat bahagia.
"Sayang jika kau tidak bisa masak juga tidak apa kok yang penting kau bahagia saja aku sudah merasa senang soal makanan kan kita bisa beli tak perlu lah kau sibuk di dapur."
"Masa perempuan tidak bisa masak?"
"Terus pembantu di rumah yang bejibun itu mau kerja apa? Jika aku memecat mereka nanti keluarga mereka bagaimana?" tanya Faam sedikit mengancam.
''Jangan bilang jika kau akan memecat mereka semua?" tanya Fiani memastikan.
"Kan istriku sudah berinisiatif sendiri lah lalu apa kerja mereka?" tanya Faam tersenyum simpul namun berbeda dengan Fiani yang raut wajahnya terlihat sedikit cemas bagaimana dengan para pembantu di rumah iya juga jika semuanya dia yang mengerjakan nanti Faam akan memecat mereka tapi bantuin dikit kan enggak apa-apa kan haha.
"Baiklah, aku tidak akan memasak banyak tapi bantuin dikit aja."
__ADS_1
"Sama saja sayang." jawab Faam menggeleng tidak mengerti lagi dengan suaminya sedangkan Fiani tersenyum simpul.