Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Lovia belum menyerah


__ADS_3

Ketika hampir sore. Bastian dan Dini kembali dari rumah orang tua Dini. Begitu tiba lovia langsung menghampiri Bastian. Sengaja menunggu kepulangan Bastian sedari tadi diruang tengah.


"Kalian sudah kembali? " tanya Lovia menyusul Bastian kedepan pintu.


Bastian tersenyum kearahnya. Berjalan dibelakang Dini sambil membawa tas ditangannya. Dini dengan cueknya melewati Lovia tanpa menghiraukan keberadaan Lovia disana. "Kau bagaikan parasit yang menempel di tubuh suami ku." Gumam Dini.


"Baru pulang? " Mita menghampiri Dini yang hendak menaiki tanggan menuju kamarnya dilantai dua.


"Ia mah. " Menghentikan langkahnya.


"Sini kita duduk dulu. " Menuntun Dini yang sedang menggendong Sio kearah sofa yang ada diruang tengah. "Kenapa tidak menginap saja disana? " tanya Mita sengaja namun matanya melirik kearah Lovia yang baru saja ikut duduk bersama dengan Bastian.


Dini dan Bastian saling menatap. Kemudian Dini mengalihkan pandangan matanya ke mama Mita. "Kasihan Sio mah. " Dini membuat alasan.


"Sio sayang, cucu oma. Sini oma gendong dulu. " Mita mengambil Sio dari pangkuan Dini. Menciumi pipi tembam Sio dengan gemesnya.


"Sionya rewel gak tadi disana? " tanya Mita membuat-buat suaranya agar terdengar lucu. Dini tersenyum kemudian ikut menirukan suara mama Mita. "Sio ngak rewel kok oma. "


"Anak pintar. " Mita kembali menciumi pipi Sio.


Sementara Lovia mengerucutkan bibirnya dengan kelakuan menantu dan mertua itu. Sejurus kemudian Lovia merubah ekspresi wajahnya tersenyum sebelum semua orang menyadari kelakuannya.


"Lihat lah diri yang selalu saja melakukan hal bodoh. Tapi sayangnya setiap kelakuan bodoh mu itu selalu kau lakukan didepan mata ku. " Pekik Karin dari kejauhan, sengaja tidak langsung ikut bergabung untuk melihat reaksi Lovia.


Tak lama kemudian Karin ikut bergabung diruang tengah. Duduk bersama yang lainnya. "Sebenarnya yang jadi ibu dari Sio itu siapa sih? kenapa Sio lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Dini dari pada bersama Karin? " Lovia sengaja menyulut api diantara keduannya.


Namun diluar dugaan Karena memberikan jawaban yang membuat Lovia tak bisa berkata apa lagi. "Kau tidak tau apa yang terjadi karna kau adalah orang luar didalam keluarga kami. " Ketus Karin.

__ADS_1


Seketika raut wajah Lovia berubah. "Mba, kok ngomongnya kaya gitu? "


Dini menyadari perubahan raut wajah Lovia.


"Kan apa yang mba katakan tadi ada benarnya? bahwa Lovia tidak bagian dari keluarga kita. Dia hanya orang yang menyebabkan Bastian seperti sekarang ini dan setelah itu merawat Bastian. Tapi sekarang aku rasa dia tak perlu lagi berada disini bukan? Karna Bastian sudah kembali bersama keluarganya." Sindir Karin.


Seketika ruang tengah terasa canggung. Bastian menatap kearah Karin namun tak bisa berbuat apa-apa. "Lovia, mba Karin tidak serius dengan ucapannya nggak usah diambil hati ya. " Ucap Dini kepada Lovia.


Lovia memaksakan senyumannya kepada Dini dan seketika senyumannya itu menghilang disaat Karin kembali berbicara. "Ia kau benar din. Seharusnya Lovia memang tidak perlu ambil hati dengan ucapan ku tapi cukup memikirkannya dan menyadari apa yang dia lakukan saat ini tidak akan berhasil. Karena seseorang akan tetap kembali ke asalnya. Demikian juga halnya dengan kau dan Bastian. Cepat atau lambat Bastian akan pulih dan pada saat itu tiba tidak ada yang bisa mencegahnya untuk bersama dengan cinta sejatinya. " Pekik Karin membuat Lovia terpojok.


Dini yang merasa tidak enak hati terhadap Lovia segera meminta mama Mita untuk melakukan sesuatu melalui tatapan matanya. Namun mama Mita tidak terlihat terganggu dengan itu. Beralih mengarahkan pandangannya kearah Bastian.


Bastian belum sepenuhnya menyadari ada sesuatu dengan Lovia dan Karin. Bingung dengan situasi diruang tengah menatap semua orang secara bergantian.


"Kakak ipar, kenapa kakak berkata seperti itu kepada Lovia? Bukan seharusnya kita berterima kasih kepadanya dan keluarganya yang sudah mau merawat ku hingga membantu ku menemukan keluarga ku yaitu kalian semua." Ujar Bastian menatap Karin.


"Lovia, kau tidak apa-apakan? " Bastian menyentuh tangan Lovia. "Aku baik-baik saja. " Tersenyum hangat kepada Bastian.


Dini menatap tangan Bastian yang masih berada diatas tangan Lovia. Tatapan mata yang sulit diartikan, walaupun ia terlihat tenang namun ada hati yang terluka melihat suaminya sendiri memperlakukan wanita lain dengan lembut.


Karin menyandari tatapan mata Dini, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan situasi semacam itu.


"Aku kekamar dulu." Dini berdiri dari duduknya dan meninggalkan semua orang yang berada diruang tengah. Mama Mita dan Karin saling menatap selepas kepergian Dini. Lain lagi dengan Lovia, ia menyatukan tangannya satu lagi diatas tangan Bastian ketika pandangan mata Bastian mengikuti pergerakan Dini.


"Bas, apa kau tidak lelah? " Lovia mengalihkan perhatian Bastian dari Dini. "Tidak. " Jawab Bastian singkat.


"Mah, Sionya aku bawa kekamar dulu. " Karin mengambil Sio dari pangkuan mertuanya itu.

__ADS_1


"Ia sayang. " Ucap Mita.


Kini tinggal lah mereka bertiga diruang tengah. "Bas, bagaimana tadi disana? apa mertua mu terkejut dengan kehadiran mu disana? " Tanya mama Mita memecah keheningan.


"Sepertinya begitu mah. " Ucap Bastian.


"Jelas saja mereka terkejut dan tentunya mereka pasti bahagia melihat kau kembali disisi Dini." Terang Mita.


"Ya sepertinya begitu mah. " Pekik Bastian.


"Kau harus lebih sering-sering menghabiskan waktu lebih lama bersama dengan Dini. Mama harap dengan begitu ada kemajuan dengan ingatanmu. " Terang mama Mita. Bastian hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Bagaimana menurut mu Lovia? apa kau setuju dengan tante? " tanya Mita menoleh kepadanya.


"Ia tante." Ucap Lovia dengan terpaksa.


"Dengan begitu rasa bersalah Lovia yang menyebabkan mu seperti sekarang ini akan menghilang dan Lovia bisa kembali dengan kehidupannya sebelumnya. Ia kan Lovia? "


"Tante, tidak perlu berpikaran jika aku terbebani dengan kondisi Bastian. Aku sungguh iklas membantunya sampai sekarang. " Terang Lovia.


"Sial, Ucapannya seperti ingin menjebak ku saja. " Gumam Lovia didalam hati tentunya.


"Syukurlah jika demikian jadi tante tenang mendengarnya." Mita memasang senyumannya.


"Bas, berterima kasih lah banyak-banyak kepada Lovia. Kau beruntung karna orang seperti Lovia yang sudah menabrak dan sekaligus menolong mu. " Mita menekan setiap ucapannya.


Tersirat makna pada setiap kata yang ia ucapkan. Sadar jika Lovia bukan orang gampang mnyerah dengan apa yang diinginkannya.

__ADS_1


"Ucapan tante Mita penuh dengan teka teki. Memuji dan menjatuhkan ku disaat yang bersamaan. Tapi aku tau maksud dan tujuan tante yang sebenarnya. Maaf saja jika aku tidak menginginkan Bastian mendapatkan kembali ingatannya. Awalnya aku tidak tau jika Bastian sudah memiliki istri, jika aku tau maka aku tidak akan pernah membawanya kembali kesini.


__ADS_2