
"Rapi amat, bumil mau kemana ini?" tanya Nur yang memandang Fiani dari atas sampai bawah nih beneran mau piknik dan dia di tinggal di rumah dong?
Fiani tidak menjawab dan masih memandang cermin dan menyisir rambut panjangnya.
"Tukang cerewet,"
"Pagi-pagi loh bumil, jangan ngambek dulu." Fiani menatap Nur dengan tatapan membunuh sudah tahu ingin jalan-jalan masih di tanyain mau kemana jin ini memang tukang buat suasana pagi jadi bete.
Fiani kembalikan badan dan menatap Nur kali ini dengan tatapan biasa saja.
"Aku mau jalan-jalan sama misua, memangnya kamu mau ikut?" Hah baru denger misua itu siapa?
"Misua? Siapa misua itu?" Tanya Nur.
Fiani melirik ke arah Faam yang sudah rapi dengan memakai pakaian biasa.
"Faam? Bilang dong jika mau pergi dengan suamimu, tapi kali ini aku tidak ikut deh, nanti aku di anggap obat nyamuk hehe. " Fiani menggelengkan kepalanya memang setiap kali pergi kan Nur selalu menjadi obat nyamuk baru nyadar dianya.
__ADS_1
"Memang dari dulu kamu kan obat nyamuk dasar Nur."
"Hah apa yang baru saja Fiani katakan? Apa dia sudah mengingat siapa. aku? Hik!" Nur ngeri sendiri tapi jika Fiani sudah ingat siapa dirinya kan bagus dong.
"Memangnya kamu sudah mengingatku? Nih dasar jin rese seharusnya aku meninggal kan diri mu saja di caffe biar di tangkap oleh pemburu hantu sama seperti teman mu itu." Nur memasang wajah melasnya agar mendapatkan perhatian dari Fiani.
"Jahat kamu." pekik Nur dengan sedikit berca-kaca.
"Lah malah nangis, aku kan memang mengingatmu, Nur yang tidak aku ingat adalah kenangan ku bersama suami ku itu saja." Nur segera memandang mata Fiani secara tajam nih apa dianya yang lupa apa bagaimana?
"Suamimu Faam adalah orang yang menyayangimu apa adanya, kamu tahu sebenarnya kamu awal menerima nya adalah... "
Bagaimana dia tidak merasa seperti itu karena dulu Fiani berkata semaunya saja Faam tetap tersenyum bahkan menganggap nya hanya candaan, selalu menyayanginya membuatnya bisa tersenyum.
Namun semenjak Faam membuat kesalahan pada Fiani, seketika itulah Faam menjadi berubah menjadi sosok yang tidak menghiraukan Fiani lagi mungkin Faam masih merasa sangat bersalah karena mengambil keputusan yang membuat Fiani hampir meninggal.
"Iya itu karena kamu hampir mati, kamu mempunyai penyakit di kepadamu dan resenya jin yang ada di sebelah mu itu menghilangkan ingatanmu tentang suamimu agar kamu tidak marah padanya, eh ternyata malah suamimu masih kerasa bersalah dan terus mengawasi mu tanpa mau mengatakan sepatah katapun padamu. Namun entahlah semenjak kejadian kemarin sifatnya berubah lagi."
__ADS_1
"Nur... Apa kamu lupa aku ini bisa melihatmu loh!" pekik Faam yang membuat Nur segera menghilang dari pandangan begitupun jin rese itu.
"Kamu ini, selalu saja mengusir jin ku." Faam tersenyum.
"Jika tidak seperti itu yang ada mereka akan menganggu kemesraan kita berdua, aku tidak ingin mereka itu melihat bumil." pekik Faam sembari mencubit pipi Fiani.
"Haduh hidung ku. Bisa bisa copot nih." pekik Fiani membuat Faam tertawa renyah memang sudah lama Faam tidak menganggu istrinya seperti ini.
"Kamu ini selalu saja nakal," pekik Fiani yang segera mencubit perut Faam hingga Faam pun berteriak ampun namun tidak di lepaskan Fiani.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat kamu tersenyum seperti ini, memang aku terlalu bodoh membiarkan dirimu sendirian, kamu pun mencari kesibukan tanpa diriku dan bodohnya lagi aku sudah mengetahui sifat mu dan aku malah tidak mendekat dan malah semakin menjauh untung saja ada orang yang mampu membuatmu tertawa walau bukan dengan ku tapi tidak dengan mantan pacarmu itu awas saja nanti aku bisa cemburu berat jika kamu mengungkit tentang Hikmal di depanku."
"Sayang, kenapa baru kali ini kamu seperti ini lagi, aku sudah merindukan dirimu yang selalu mengganggu diriku seperti ini, apa kamu masih mengingat kejadian itu, sekarang aku juga sudah di pelukanmu dan kamu sangat aneh sekali kenapa kamu cemburu dengan masa lalu ku, masa lalu itu tetap lah akan menjadi masa lalu tidak akan bisa berarti apapun lagi karena sekarang ada benih cinta kita dasar pencemburu."
"Hah kan kita mah hanya obat nyamuk, lalu ngapain kita berdua di sini jika kita tahu kita obat nyamuk Nur?"
"Suttt maka dari itu kita di sini agar tidak ketahuan!"
__ADS_1
"Idih apa bedanya?"