
Ketiganya sudah berada di depan warung yang menjual jagung bakar, Fiani tersenyum karena kali ini suaminya menurutinya hehe.
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Fiani meringis dan menatap Wulan dengan tatapan biasa saja.
Jangan tanya Yuda, Yuda sudah pulang duluan karena perkataan dari Wulan.
"Tidak sayang tidak, aku hanya tidak percaya saja kamu yang biasanya akan cuek dan langsung tidak memikirkan diriku tiba-tiba mengajak ku pergi untuk mencari apa yang aku inginkan." Faam tidak merespon karena ini juga kesalahan nya terlalu sibuk tanpa memikirkan istrinya yang kali ini mungkin sedang nyidam.
"Dianya yang cuek kok aku yang di bilang cuek." Faam menggeleng karena ucapan istrinya seharusnya dia yang mengatakan hal itu sebenarnya yang cuek dari awal kan Fiani, nah kenapa tiba-tiba dia ingin di perhatikan kan ya dia mana peka akan hal itu.
"Kenapa aku tidak memperhatikan mu, kan karena kamu yang cuek dengan diriku!" Fiani terdiam memang nya dia cuek apa? Orang dia biasa saja kok.
"Aku cuek, kamu nya yang cuek, setiap hari kamu hanya diam tak mengatakan apapun padaku." ucap Fiani membela dirinya.
"Ampun bumil di perhatiin dianya marah enggak ku perhatiin dianya ngambek haduh, bagaimana sih memang susah jika berhadapan dengan bumil."
"Sabar Tuan Faam, cobaan ingat istrimu sedang hamil jangan marah hehe." ejek Wulan sembari tertawa kecil.
"Memang kurang ajar nih, bocah satu. Tapi benar juga ya yang di katakan istriku aku tidak perhatian lagi padanya, setiap hari aku pergi ke kantor dan Fia saja masih tidur dan saat aku pulang ke kantor Fia juga sudah tidur. Memang salah ku juga sebenarnya karena urusan kantor jadi aku tidak memperhatikan dirinya lagi."
"Baiklah, memang aku salah sayang kali ini aku tidak akan begitu lagi deh." Faam memohon agar Fiani dapat mengerti kali ini.
__ADS_1
"Aldo cepat turun, kamu ingin jagung apa tidak?" tanya Faam yang segera turun dari mobil dan segera mencari jagung yang dia sangat sukai.
Faam tertawa melihat betapa senangnya Aldo saat mendengar kata jagung, memang dia juga tahu jika sopir pribadi dari istri nya itu penghobi jagung bakar.
"Sayang boleh kan aku bungkus dan bawa jangung nya pulang." Faam mengangguk sama halnya dengan Aldo Fiani juga sangat senang bisa membawa pulang jagung bakar kesukaannya.
Fiani langsung keluar mengejar Aldo yang duluan memesan jagung bakar.
"Nah gitu kan enak, lihatlah Fiani bahagia kan?" tanya Wulan yang turun mengikuti Fiani yang duluan turun.
Faam juga turun mengikuti Wulan dan tidak lupa mengunci mobilnya.
"Bahkan aku tidak pernah menyadari akan hal itu, aku yang sibuk kerja kerja kerja dan tidak memperhatikan Fiani."
"Melihatnya tersenyum dan kegirangan seperti itu membuatku tertawa, bahkan aku sudah lama tidak melihat senyumannya."
Faam segera duduk bersama dengan Fia bersebelahan dengan Aldo dan Wulan.
"Tuan apa Tuan ingin jagung?" tanya Aldo.
"Tidak, kalian makan lah."
__ADS_1
"Sayang bolehkan aku bungkus banyak, untuk di rumah?" tanya Fiani dengan wajah imutnya.
"Terserah kamu asal di makan ok, tapi ada syaratnya nanti temui aku di kamar." Fiani mengangguk saja.
"Oklah, nemenin tidur jahaha."
Aldo menepuk jidatnya haduh ini Nyonya muda memang asal jika bicara kan hal itu tidak boleh di ceplos kan.
"Pak, bungkus jagung bakarnya sepuluh bumbunya pisah ya?" teriak Fiani yang membuat Faam tersenyum lebar.
"Tuan, apa Tuan tahu Nona selalu ingin melakukan hal ini dengan Tuan, Nona pernah mengatakan pada saya kapankah Tuan ada waktu untuk nya. Apalagi ketika Nona keluar dari rumah sakit Tuan seperti orang lain saja. Sebenarnya Nona ingatan nya sudah pulih hanya saja mungkin Tuan masih ragu karena perasaan bersalah nya Tuan."
Memang benar apa yang dikatakan Aldo, dirinya tidak bisa lagi membuat istrinya bahagia dia hanya mempersulit istrinya, namun ternyata istrinya menginginkan perhatian yang sama, sama seperti dulu.
Tapi bagaimana mungkin dia bisa menjadi seperti dulu ketika Faam terus mengingat betapa bodohnya dia, untung saja istrinya masih selalu bersamanya sampai detik ini.
"Aku bukannya ingin menjauh dari istriku Do tapi aku masih tidak bisa lupa akan kesalahan ku pada istriku. Aku yang membuat istriku hampir kehilangan calon anak ku."
Wulan tidak sengaja mendengar akan hal itu sedang kan Fiani tidak menghiraukan nya yang ada dalam otaknya di penuhi dengan makanan dan makanan.
"Tuan, lebih baik Tuan bicara empat mata dengan Nona, karena seperti nya Nona butuh ucapan dan perhatian dari Tuan sendiri. " Faam mengangguk mengerti.
__ADS_1