Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Nah Kan Diam


__ADS_3

"Iya benar sekaki sayang, sudah lah jangan terlalu memikirkan akan hal itu yang terpenting kita harus mendapatkan anak laki laki sesuai yang di harapkan wanita bodoh itu." Jeky terkekeh saja yang salah ini mah siapa dan yang bodoh siapa mudah sekali mendapatkan orang yang pintar di bohongi sebenar lagi dia akan mendapatkan anak dan istrinya pasti akan bahagia jika mendengar hal ini.


Di tempat lain seorang ayah sedang sibuk dengan ketiga bayi nya dia tidak tahu jika hari ini anak mereka harus di imunisasi hah jika tahu akan seperti ini dia tidak kan ikut mendengar anak anaknya menangis dia saja sampai berlinangan air mata nah ini malah harus di hadap kan langsung bisa tidak ya kabur atau tidak mendengar tangisan anak anaknya itu.


"Aku di luar saja ya?" ucap Faam yang melihat sudah tiba giliran ketiga bayinya.


"Lagi lagi di luar kenapa sih, kenapa tuan Faam? Apakah tuan takut?" Faam mendengus kesal bisa tidak Ana ini tidak membicarakan hal aneh seperti ini. Dia itu bukannya takut tapi tidak tega jika harus melihat putra dan putri nya menangis bulan lalu dia sampai bingung sekali untunglah nih wanita yang akan menikah membantu nya jika tidak kerepotan banget jika harus mengurus tiga bayi ini.

__ADS_1


"Takut, bukannya aku takut kamu tidak ingat apa bulan lalu, aku saja sampai sedih melihat putra dan putri ku." Ana segera mengambil Danil dari gendongan ayah super bawel ini, ribet amat tinggal masuk saja banyak alasan.


"Tuan itu hanya di suntik saja, jangan lah terlalu mengkhawatirkan mereka."


"Kamu itu belum memiliki anak jadi kamu tidak tahu rasanya.. " Fiani terkekeh saja mendengar ucapan suaminya yang sangat lebay ini kan hanya di suntik saja tidak akan menimbulkan masalah besar.


Tuh sampai membuat Faam melirik tapi tidak bisa berbuat apa-apa, ingin masuk tapi dia tidak tega melihat nya.

__ADS_1


Tak berselang lama Ana dan istrinya sudah keluar dan ketiga anak nya pun seakan tidak kenapa napa hanya saja Dilan itu yang terlihat masih menangis padahal di suntik nya paling awal.


"Tuh Dilan kenapa nangis gitu, berikan padaku..." Fiani dan Ana hanya bisa menggeleng di saat putra dan putri kembarnya lebih nyaman di pelukan Fiani nih Dilan malah sebaliknya kadang Faam sampai membawa pekerjaan nya ke rumah karena bayi Dilan yang terus menerus menangis padahal sudah di beri susu hanya Faam yang bisa menenangkan dirinya.


"Anak ini... Sama aku aja enggak mau, giliran sama ayahnya saja tuh diem." Faam menatap mata Ana tajam nih pengasuh nya aja galak seperti ini ya pantas saja nih Dilan nangis.


"Dilan ya tahu siapa orang yang menyayangi dirinya, tidak seperti dirimu. Tuh kan diam kan si Dilan. Jangan nangis ya sayang." Fiani juga tahu semenjak di bawa ke rumah memang suami nya lah yang selalu pintar menenangkan dirinya padahal dia juga ibunya tapi entahlah bayi Dilan seakan lebih nyaman bersama dengan suaminya dari pada bersama dirinya.

__ADS_1


__ADS_2