Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Hati hati


__ADS_3

Wulan merasa sangat amat sebal nih cowok rese banget bahkan dia tidak perduli dengan nyawa orang lain. Owh berarti dia cemburu nih sama Fiani pasti deh.


"Memangnya saya perduli dengan hal itu?" tanya Faam membuat Wulan menggeleng pelan itu tuh cemburunya kelihatan banget.


"Seperti nya anda sangat perduli Tuan." ucap Wulan membuat Faam membuatkan mata nih wanita apa yang dia ingin kan sih, pagi pagi malah ngajakin ribut payah nih.


"Jika kedatangan mu sepagi ini hanya untuk berdebat dengan diriku, lebih baik kamu pulang sana." Wulan malah dibuat bingung mbok yo nek cemburu kui ngomongo nek cemburu.


"Jangan, kenapa anda mengusir saya, saya ini hanya ingin memberitahu kan jika Tante Mila pasti akan berbuat sesuatu terlebih dia kemarin memarahi diriku karena tidak tahu alamat rumah Fiani."


Faam hanya mengangguk jika menyingkirkan nyamuk sih mudah tapi kan istrinya sedang mengandung mana mungkin dia bisa bertengkar nanti bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan istrinya.


Nah jika menirunya saja sih wajar nih kalau lahir dia ngajak perang kan bahaya.


"Terus hubungan nya apa?" Wulan agak sebal karena dari tadi Faam seakan mengukur waktu untuk mengorek informasi namun dengan cara yang menyebalkan.

__ADS_1


"Sebenarnya saya hanya takut Fiani itu di apa apakan oleh Tante Mila, Tante Mila itu dapat melakukan apapun yang dia kehendaki."


"Terus apa kamu juga akan merasa tidak marah jika wanita nya itu di suruh untuk menemui pria lain selain suaminya."


"Eh... Bukannya kamu ini tidak mempunyai hati nurani ya?" Faam ingin sekali menonjol nih perempuan tapi dia menahannya karena apa lagi lagi karena istrinya tengah mengandung jadi dia akan bersikap baik walau terpaksa sih. Sebal.


"Nah itu yang aku takutkan, cepatlah antar kan saya menemui Fiani, anda ini selain nyebelin tidak pengertian rupanya." Faam segera menggandeng tangan Wulan membawanya dengan kasar membuat Wulan berteriak kesakitan.


"Aw sakit tauk... " teriak Wulan yang menggenggam tangannya aduh nih cowok memang tidak mempunyai perasaan sedikitpun pada wanita jangan jangan gara gara dia juga Fiani menjadi amnesia.


Enggak bener deh.


"Kau ini memang tidak mempunyai hati ya?" tanya Wulan dengan emosi yang meluap, sedangkan Faam hanya berdecak pelan dan setelah itu dia berjalan berlawanan arah dengan Wulan.


"Hey... Saya belum selesai bicara tauk..." teriak Wulan yang merasa emosinya sudah meledak saat itu juga.

__ADS_1


"Fiani... " ucap Wulan yang segera memeluk sahabatnya rasanya rindu sekali tidak bertemu dengan sahabat lamanya.


Mungkin sudah tiga tahun lebih semenjak kejadian itu.


"Bukankah ini wanita yang ada di tempat mie ayam level? Tapi buat apa dia datang kemari?" batin Fiani merasa bingung memangnya ada hubungan apa dia dengan wanita ini.


"Kamu?" tanya Fiani yang ingin tahu.


"Aku Wulan teman kamu waktu di SMA dulu, wajar jika kamu tidak mengingatnya. Tapi ada satu hal yang membuat ku datang ke rumahmu." Fiani hanya mendengar kan saja mungkin wanita ini datang untuk memberitahukan sesuatu yang mungkin dia lupa.


"Apa? Apa alasanmu datang ke rumah ku?" tanya Fiani dengan nada judesnya.


"Nih anak kelakuan banget sama saja kayak dulu, judesnya ini loh buat orang bed mut banget. Tapi kamu harus berhati hati." Fiani mendengarkan secara seksama.


"Berhati hati untuk apa?" tanya Fiani ingin tahu.

__ADS_1


"Ibunya Hikmal mencari mu. Dia memintaku untuk membawamu secara paksa." Faam yang mendengarkan hal itu segera keluar dari tempat persembunyian nya."


"Apa maksudmu?" tanya Faam yang setengah emosi karena Wulan malah mengatakan hal yang ingin dia ketahui.


__ADS_2