
"Jangan mendekati lebih baik kalian cari pria itu biar penjahat ini aku yang menghajarnya. " teriak Fiani dengan suara lantangnya.
Mila hanya terpaku ternyata wanita yang tadi pagi dia marahi ternyata jago beladiri.
Fiani menghajar pria memakai topeng itu dia bisa bergerak dengan leluasa karena dia tidak pernah lupa memakai leging setiap kali pergi jadi jika sesuatu terjadi dia tidak perlu bingung akan dresnya.
"Haduh sayang, kamu itu lagi hamil kok main gituan, lepasin tuh penjahat. Bonyok bonyok deh dia." pekik Faam membuat penjahat lain berdatangan.
Sebenarnya siapa mereka? Kenapa mereka semua ada di tempat ini? Apa pemilik rumah ini mempunyai banyak musuh?
Menurut Faam sih iya karena apa ucapan dari wanita itu seperti tidak bisa mempercayai siapapun.
"Wah beraninya main keroyokan ternyata." pekik Faam membuat para penjahat langsung mengeroyoknya.
Kita tinggalkan dulu sepasang suami istri yang lagi berkelahi.
Ana dan Wulan menyelusuri lorong, haduh nih rumahnya kok beda dari empat tahun yang lalu semuanya banyak yang berubah.
"Ada apa dengan dirimu, kenapa seperti nya kamu kebingungan sekali?" tanya Ana yang melihat jika Wulan kebingungan bukankah ia tahu dimana kamar Hikmal kenapa di malah seakan lupa.
__ADS_1
"Rumah ini berbeda, ternyata aku baru menyadarinya, kita sudah masuk ke.." Wulan diam dia mendengar sesuatu yang mencurigakan.
Wulan memberikan kode agar Ana diam karen ada mencurigai ada seseorang yang ada di sekitar sini.
"Hahaha... Kita harus bereskan pria itu karena apa agar dendam bos kita terbalaskan." ucap seseorang berbicara dengan temannya.
Ana dan Wulan yang sedang bersembunyi pun hanya bisa mendengarkan, mereka memang jago dalam bela diri tapi mereka juga tidak bisa gegabah mungkin penjahat ini merencanakan sesuatu apalagi mereka tadi mengatakan jika mereka datang hanya untuk balas dendam.
"Hahaha kita sudah mendapatkan pria tak berdaya itu sekarang yang perlu kita lakukan adalah membuat dia tidak bernyawa lagi." Wulan dan Ana yang mendengar hal itu hanya bisa saling pandang.
Berarti mereka akan membunuh Hikmal tapi apa salah Hikmal kenapa dia yang menjadi korban? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Om Deden apa mungkin saingan kerja yang merasa tersakiti karena ucapan Deden? Atau bagaimana?
Yang jelas keduanya hanya bisa menduga nduga.
"Kita jangan gegabah dulu, kita ikuti saja permainan mereka setelah kita ada peluang untuk maju, kita maju ok." ucap Ana seraya berbisik takut jika keberadaan mereka di ketahui oleh para perampok.
Jika ketahuan sih enggak apa tapi keselamatan Hikmal yang lebih penting.
"Baiklah." ucap Wulan.
__ADS_1
Keduanya memperhatikan para perampok itu, mereka membuka pintu yang terakhir dari beberapa deret pintu.
Apa mungkin Hikmal ada di sana?
Ana berdiri mengendap endap bersama dengan Wulan.
Tyar
Sebuah gelas jatuh.
Tiba-tiba seseorang menarik keduanya untuk bersembunyi, berbarengan dengan para penjahat yang sama-sama menoleh mereka melihat gelas yang terletak di samping meja jatuh. Masa jatuh sendiri tidak mungkin.
Namun tiba-tiba kucing pun meloncat para penjahat tersenyum mereka kira ada seseorang yang mengikuti mereka ternyata cuma kucing saja.
"Kucing itu buat orang jantungan saja." pekik salah satu penjahat yang kaget karena gelas yang jatuh tiba-tiba.
"Memang kamu sudah tua, gampang kaget jadi orang."..
" Kau ini, sudah ayok masuk kita harus segera melaksanakan tugas kita." pekik salah satu temannya.
__ADS_1
Di tempat lain.
"Kamu???" pekik Ana terkejut