Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Kenapa?


__ADS_3

Dengan wajah yang amat sedih bagaimana ia harus meninggalkan istrinya, pekerjaannya sangatlah banyak dan menumpuk kedua orang kepercayaan siapa lagi jika bukan Rendra dan Ardan yang lumayan kesulitan mengatasi masalah kantor.


"Tolong kamu jaga istriku disini," ucap Faam sambil bersuara berat bagaimana mungkin dia meninggalkan pekerjaan nya dan bagaimana mungkin dia juga bisa meninggalkan istrinya apalagi sekarang istrinya dalam ke daaan yang sangat parah.


"Tuan mau kemana?" tanya Ana yang ingin tahu apa mungkin tuan Faam tega meninggalkan istrinya yang sedang koma sendirian?


Apa tuan Faam sangat tidak mencintai Nona Fiani lagi?


pikiran itu yang terus mengganggu Ana.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan kantorku dulu, kamu tau berat rasanya meninggalkan istri ku yang keadaan nya sedang seperti ini kau tau rasanya aku bagaikan dilema namun apa yang harus aku lakukan aku tidak bisa berbuat apa-apa,


Jika aku mengandalkan kedua anak rese itu pekerjaan ku tidak akan pernah selesai.


"Jadi.....?????"

__ADS_1


"Jadi aku minta padamu untuk? Menunggu di sini." Ana tersenyum saja ya memang ini tugasnya lalu kenapa dia harus protes.


"Baiklah tuan!" Ana mengangguk saja.


Ia menatap tuan mudanya ya mau bagaimana lagi pekerjaan ya pekerjaan bagaimana lagi kasihan juga Nona dia terbaring lemah apa mungkin tadi Nona mendengar ucapan Tuan Faam hingga membuat dirinya menjadi syok dan akhirnya koma seperti ini?


"Tuh lihatlah seperti nya Ana yang di minta suamimu untuk menjaga mu?" Fiani membuang muka yang di pikirkan hanyalah bagaimana menyelamatkan bayinya bukan yang lain soal yang lainnya itu tidak dia pikirkan lagi.


"Fia... Kamu sangat beruntung memiliki orang-orang yang sayang padamu." Fiani mengangguk tapi dia juga kecewa mana kala harus melihat orang yang ia sayang tidak sejalan dengan pemikirannya.


Tapi kan Faam hanya ingin yang terbaik untuk Fia, dia juga bingung harus berbuat apa, apa lagi saat dia harus memilih antara istri atau anaknya itu pilihan yang sangat berat jadi dia memutuskan sepihak dan tanpa sepengetahuan dari Fiani.


"Fia, jangan berburuk sangka dulu pada suamimu, kamu tau dia juga berat memutuskan apalagi saat kondisi mu seperti ini." Fiani nampak tidak suka apalagi mendengar Nur malah lebih membela Faam dari pada dirinya.


"Kenapa kamu seakan lebih membela dirinya." dengus Fiani malah sensitif sendiri.

__ADS_1


"Eh... Bukan! Bukan maksudku untuk membela siapapun di sini, kamu tau kan jika suamimu itu sangat mencintaimu, apa dia akan rela jika harus kehilangan dirimu, menurutnya lebih baik kehilangan.. " Nur malah tidak melanjutkan ucapannya karena melihat Fiani yang menatapnya dan membuang muka.


"Apa kamu marah!"


" Pikir saja sendiri."


Nur tau jika saat ini dia sedang marah, tidak mungkin dia mengatakan apa yang dia lihat jika sebenarnya Faam adalah pria yang sangat tulus mencintai Fiani.


Tidak ada sedikit pun kebohongan dalam diri Faam. Cinta dari Faam sangatlah tulus sampai membuat Nur selalu iri tapi Fiani lah yang selalu rese namun Faam tidak sedikit pun marah padanya.


"Kamu itu sama saja dengan Faam." pekik Fiani.


"Dasar wanita, susah jika di bilangin selalu merasa dirinya yang paling benar saja, apes deh kaum laki-laki. Tapi jika tidak ada perempuan yang super duper cerewet bagaiman nih dunia tanpa hadirnya mereka."


"Apa kau sedang mengumpatiku?" dengus Fiani membuat Nur terkekeh.

__ADS_1


"Kan insting Wanita memang selalu benar 🥴"


__ADS_2