
Ana menghapus air matanya. Dia memandang Finai dengan tatapan mata sendu.
"Jika kamu ingin menangis menangis lah," ucap Fiani membuta Ana tersenyum dan menghela napas berat.
Seharusnya dia tidak menangis seperti ini, ada apa dengan dirinya apakah dia tadi tengah cemburu dengan Wulan? Hahaha ternyata benar hatinya masih milik Yuda seutuhnya.
"Ngomong O, ben ati mu lego." ucap Faam membuat Fiani menggaruk kepalanya nih dari kapan sih suaminya menggunakan bahasa yang tidak dia pahami dan seperti nya Ana, asistennya mengerti dan hanya dia saja yang tidak mengerti tentang apa yang Faam ucapkan.
"Sayang, kamu bicara apaan sih?" tanya Fiani pusing dengan ucapan suaminya ini nih jika Faam merajuk atau marah padanya jangankan dia mengerti akan apa yang suaminya coba ucapkan.
Bukannya dia paham nah ini bingung sendiri.
"Sudahlah sayang, kau jangan berburuk sangka terlebih dahulu tadi suamimu yang tampan dan baik hati ini hanya mengatakan pada Ana cobalah untuk mengatakan apa yang dia rasakan agar dia merasa lega." ucap Faam tidak membalikkan badannya dia hanya melihat dari kaca depan.
"Hadeh!!!
"Mau, mboh ngopo, mosok aku cemburu?" Fiani menggaruk kepalanya nih dua orang ini membuat Fiani sakit kepala saja.
__ADS_1
Paham tidak, pusing iya.
"Lah cemburu? Koe cemburu karo sopo? Yuda? koe cemburu karo Yuda?"
"Hah cemburu? Kamu cemburu sama siapa? Yuda? kamu cemburu sama Yuda?" ucap Faam malah tertawa cekikikan.
Sedangkan Fiani hanya bisa bengong, nih dasar suami dan asistennya menang ngajakin berantem beneran.
Aldo tersenyum dia juga tahu apa yang Tuan Faam bicarakan hanya saja dia fokus mengikuti mobil yang tadi di tunjuk Tuan Faam.
"Ternyata rasa ku yang dulu ada untuk dia masih ada sampai sekarang ini."
Faam kebingungan, tunggu jadi Yuda itu sengaja mendekati semua wanita hanya untuk membuat Ana cemburu? Hah itu saja alasannya selama ini dasar buaya darat,
"Ngopo kue gak ngomong karo cae nek koe iku ijeh tresno karonan cae, ngopo koe ngapusi ati mu?" takon Faam karonan Ana seng ngerasakno jebule ngelu tenanan nek wes hubungan karo seng jenenge cinta.
"Mengapa kamu tidak bilang sama dia jika kamu itu masih mencintai dirinya, mengapa kamu membohongi hatimu?" tanya Faam pada Ana yang merasakan ternyata pusing beneran jika sudah berhubungan sama yang namanya cinta.
__ADS_1
"Jangan berprasangka buruk tentang Tuan Nona, saya mengerti kok apa yang sedang Tuan dan Ana bicarakan. Tuan hanya sedang menasehati Ana saja mengapa Ana seperti mengharapkan Yuda." Fiani yang mendengar ucapan dari Aldo pun seperti mengingat sesuatu Ana masih mengharapkan Yuda?
Flashback on
"Sebenarnya apa yang membuatmu ingin menemui ku?" tanya Fiani yang ingin tahu mengingat dia sebentar lagi juga akan terapi.
"Bagaimana caramu mendekati Ana?" tanya Yuda yang memandang lekat wajah Fiani.
"Hah, kamu mencintai asisten ku Ana? Dari kapan?" tanya Fiani yang tidak menduga akan hal itu.
"Sebenarnya aku dan Ana sudah saling kenal, hanya saja hubunganku dengan Ana tidak selancar percintaan kami, hubungan ku dan Ana di tentang oleh Ayahku. Ayahku lebih memilih menjodohkan diriku dengan wanita yang sederajat dengan ku."
"Ternyata itu yang terjadi, pantas saja Ana seakan menjauh dari Yuda pasti Ana memang sengaja menjauhi Yuda."
"Dan semenjak kejadian itu Ana semakin menjauhi diriku, dan diriku pun mencoba untuk meyakinkan Ana, namun Ana seperti sudah tidak mempercayai diriku lagi."
Flashback off
__ADS_1