Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Lovia bertingkah


__ADS_3

"Aw." Rintih Dini menahan sakit di bagian belakangnya yang menyentuh lantai. "Kamu tidak apa-apa kan sayang? " Mita membantu Dini berdiri. "Tidak apa-apa kok mah." Ucap Dini.


"Kamu kenapa?" tanya Mita yang melihat wajah murung Dini.


Tidak kenapa-kenapa mah. "Menyembunyikan perasaannya kemudian pergi begitu saja. Mita mengkerutkan keningnya. Bingung dengan sikap menantunya itu. Kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Bastian.


"Bas. " Membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Lovia? " Menatap Lovia dan Bastian secara bergantian. Sejurus kemudian Mita menyadari sikap Dini ada hubungannya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dimana Lovia berada didalam kamar Bastian.


"Mama mau ngomong sebentar. Boleh? tapi hanya berdua. " Terang Mita melirik Lovia dengan tatapan sedikit berbeda dari biasanya.


Lovia yang mengerti maksud dari ucapan Mita tersenyum kaku. "Ya udah kalau gitu aku keluar dulu. " Lovia terpaksa keluar dari kamar Bastian.


"Sedang apa kamu dan Lovia disini? " tanya Mita langsung pada intinya setelah Lovia keluar.


"Aku dan Lovia hanya berbicara biasa saja. " Jawab Bastian.


"Benarkah? "Selidik Mita penuh dengan arti.


"Mah kenapa mama sepertinya tidak menyukai Lovia? " Tanya Bastian.


"Kamu itu sudah menikah dan tadi Dini sepertinya mengetahui dan mendengar pembicaraan mu dengan Lovia."


"Mah, bagaimana pun juga Lovia itu sudah merawat ku selama ini. " Terang Bastian.


"Mama tau itu. Tapi pikirkan juga perasaan Dini. "Mita mendudukkan Badannya disofa yang ada didalam kamar Bastian.


"Aku tidak ingat sedikit pun tentang Dini. " Lirih Bastian.


"Justru itu jika kau terus bersikap seperti ini sampai kapan kau akan bisa mendapatkan ingatan mu kembali. " Mita mendesah atas sikap Bastian.


"Mama harap kau harus lebih sering meluangkan waktu mu bersama dengan Dini daripada bersama dengan Lovia. Bagaimana pun juga Dini adalah istri sah mu sementara Lovia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seseorang yang masuk diantara kau dan Dini. " Terang Mita.


"Cukup mah. Aku tidak ingin mama melebih-lebihkan Dini dan memojokkan Lovia. " Tegas Bastian.


"Mama tau yang terbaik untuk anak-anak mama. Dan mama rasa Lovia tidak sebaik yang kau pikirkan. " Terang Mita mengungkapkan perasaannya.


"Tolong jangan memaksa ku mah. " Pinta Basti menatap lekat wajah ibunya Mita.


"Mama tidak akan memaksa mu. Kau lebih tau apa yang terbaik untuk mu. Tapi setidaknya buka mata hati mu untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi. " Peringat Mita sebelum meninggalkan ruangan itu.


Dari luar kamar Lovia ternyata sengaja mendengarkan percakapan antara Bastian dan Mita. Begitu mendengar suara langkah kaki dari dalam Lovia segera meninggalkan tempat ia menguping tadi dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


"Dia kenapa? " Dini bingung melihat Lovia yang berlari menuju kamarnya. Kemudian tak lama setelah itu Dini melihat Mita mertuanya itu keluar dari kamar Bastian. "Apa Lovia diam-diam melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan mama? " Gumamnya dalam hati bertanya sendiri.


Didalam kamarnya Lovia mengepalkan tangannya. "Kau takkan bisa menghalangi ku mendapatkan apa yang aku inginkan. Bahkan Dini sekalipun tidak akan bisa menghalangi ku. " Lovia dengan segala ambisinya ingin memiliki Bastian.




"Tolong ambilkan aku ayam goreng itu. " Lovia berkata sambil menatap Dini. Semua yang berada di meja makan menatap kearah Lovia. "Dini, kau kan lebih dekat jadi ambilkan aku ayam gorengnya. " Mengangkat piringnya kedepan Dini.



"Ini. " Dini mengambilkan ayam goreng dan meletakkan diatas piring milik Lovia. "Terima kasih. " Lovia tersenyum kecut.



Nia tidak mempermasalahkan akan hal tersebut namun berbeda dengan Mita dan juga Kiren yang tak terlihat senang dengan sikap Lovia. Seperti memang sengaja untuk menyuruh Dini melakukan itu padahal ia sendiri juga bisa mengambilkan ayam goreng yang diinginkannya itu.



Berbeda lagi dengan Bastian, ia tidak mempermasalahkan akan hal itu. Demikian juga dengan Nugroho yang belum menyadari gelagat dari kelakuan Lovia.




"Ini baru permulaan. Aku akan pastikan kau tak sanggup berlama-lama ditempat ini karena kau tak diharapkan disini. Hanya aku yang akan bersama dengan Baatian." Menyeringai di sudut bibirnya.



Selesai makan malam Dini ingin segera masuk kedalam kamarnya. Terlalu lama melihat Lovia dengan segala tingkahnya yang selalu saja menempel didekat Bastian membuatnya muak tak bisa menahan amarahnya terlalu lama lagi. "Lebih baik tidak melihat. " Itu yang ada dipikiran Dini.



Melihat Dini yang beranjak dari duduknya membuat Lovia mengeluarkan kata-katanya. "Mau kemana din? " Mencoba mencari tahu.



"Aku mau kekamar. " Ucap Dini menghentikan pergerakannya. "Ini baru pukul delapan malam. " Lovia melirik jam dinding yang tak jauh dari tempat duduknya.



"Ia. Aku melupakan sesuatu didalam kamar. " Kilah Dini.

__ADS_1



"Oh begitu. Sayang sekali padahal aku ingin mengobrol dengan mu." Ucap Lovia. "Lain kali saja ya. " Dini berlalu meninggalkan Lovia dan semua anggota keluarga yang masih berada di meja makan.



Dini melangkah masuk kedalam kamarnya dengan langkah gontai. Menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur. "Bagaimana cara ku mengembalikan ingatan mu jika kau terus berada jauh dari jangkauanku." Lirih Dini menatap langit-langit kamarnya.



Kini semua anggota keluarga berada diruang tengah menikmati acara televisi. "Lovia. Kapan kau akan kembali? " Tanya Mita menatap wajah Lovia yang seketika berubah menjadi tegang.



"Aku belum tau tante. " Jawabnya kikuk.



"Tante sangat berterima kasih kepada mu Lovia, karena sudah merawat anak tante dengan baik selama ini. Tapi tante rasa sudah cukup sampai disini kau melakukan hal itu. Karena sekarang Bastian sudah berada ditempat yang seharusnya ia tinggal. Dan satu hal lagi ada Dini istri Bastian yang akan merawatnya dengan baik. " Terang Mita dengan tegas secara tidak langsung mengusir Lovia.



"Maaf tante. Aku rasa Bastian masih membutuhkan ku disini. Ia kan Bastian? " Lovia ternyata pintar memanfaatkan situasi. Padahal jelas sekali ucapan Mita yang tak menginginkan kehadirannya.



"Ia mah. Biarlah Lovia tinggal lebih lama lagi disini. Aku belum terbiasa dengan semua ini." Pinta Bastian.



"Bas. Kau ini bagaimana sih? " Mita tak habis pikir dengan ucapan Bastian yang memihak kepada Lovia daripada kepadanya selaku ibu yang melahirkannya.



Kiren yang dari tadi hanya sebagian pendengar akhirnya buka suara juga. "Bas, jika kau belum bisa mengingat Dini tapi setidaknya cobalah menerima kehadirannya dengan begitu mungkin saja ingatan mu akan membaik. " Terang Kiren.



Sementara Nugroho bingung harus berbuat apa. Bukan tidak bisa bersikap tegas namun ia juga tidak ingin memaksakan Bastian mengikuti keinginan mereka.



"Ya sudah biarkan Bastian yang akan memutuskan apa yang terbaik menurutnya." Terang Nugroho menengahi situasi yang ada.

__ADS_1


__ADS_2