
Di tempat lain ibu dari Hikmal yaitu Mila masih menunggu Hikmal untuk sadar ternyata memang rumah sakit ini sangatlah berbeda, mereka mengutamakan pasien tidak perduli jika pasien itu mempunyai uang atau tidak yang terpenting mereka dapat di bantu.
"Buat apa kita datang kemari Nur, kamu tahu tidak ini orang akan membuat masalah saja jika sadar."
"Membuat masalah jika sadar? Seperti nya memang harus di sadarkan tapi, di buat amnesia saja bagaimana? Mana mau aku jika harus melihat Fiani di rebut kan oleh dua pria sudah cukup pria ini selalu membuat Fiani menangis." pekik Nur yang duduk bersebelahan dengan Mila.
"Nur apa yang kamu lakukan? Jika kamu seperti itu yang ada dia akan sadar loh." pekik Ahmad terkejut karena Nur menggunakan keliatannya agar Hikmal tersadar kembali setelah sekian tahun tidur.
"Ya buat apa lagi jika tidak menyadarkan nya, aku ini jin yang baik tahu, tapi tenang aku sudah membuat ingatan Faam eh bukan siapa sih dia ini aku lupa? Emm... Hikmal maksudku dia jika sadar tidak akan bisa mengingat Fiani, yang jelas ada yang sudah mencintai Hikmal ya dia akan membuat Hikmal mencintai wanita itu bukan Fiani lagi kan lebih baik seperti itu bukan?" Ahmad menggaruk kepalanya yang tidak gatal orang yang mencintai Hikmal selain Fiani memangnya ada?
"Tunggu, yang tadi siapa orang yang kamu maksudkan?" tanya Ahmad kebingungan.
"Siapa lagi jika bukan si, si si situ kepo ya?" tebak Nur yang membuat wajah si Ahmad merah, memangnya dia sedang jatuh cinta? Pastinya TIDAK!!!
"Kenapa dengan dirimu? Tuh muka kenapa merah seperti habis di sengat lebah apa bagaimana?" Ahmad melihat wajahnya haduh aneh dia kenapa wajah nya jadi memerah seperti ini?
__ADS_1
"Tidak, aku tuh melihat ada jin sangat cantik, huu wajahnya itu loh uuu sangat membuatku terpikat.. " ucap Ahmad yang langsung menghilang entah kemana nih dasar Playboy cak buaya lihat jin cantik aja langsung matanya u seperti itu lah.
"Nak, ibu sangat senang kamu di rawat di sini, memang ibu tidak pernah mendengar kan dirimu sejak awal, lihatlah walaupun ibu sudah jahat pada keluarga Fiani, Fiani dan Faam malah menolong dirimu dan memberikan dirimu perawatan seperti ini, seharusnya ibu malu meminta hal yang berlebihan, namun bagaimana lagi nak, ibu juga tidak ingin melihat anak ibu menderita, ibu takut kehilangan dirimu, maafkan ibu jika dari awal ibu mendengarkan semua ucapan mu makan ibu tidak akan melihat mu seperti ini."
"Kasihan juga Bu Mila, walaupun dia sangat jahat pada Fiani tapi seorang ibu juga tidak akan tega melihat anaknya yang lemah tidak berdaya. Tapi aku juga tidak ingin jika saat Hikmal sadar yang dia ingat adalah Fiani bukan Wulan hah bagaimana caranya ya pikir Nur pikir jangan nih otakmu susah mikir saat situasi yang di butuhkan."
"Aku ada ide... " Nur segera pergi entah kemana dan di dalam dunia ilusi Hikmal sedang duduk seraya memandangi langit, langit tidak ada pelangi masih di pandangi terus.
"Andaikan saja kamu berada di sini Fiani, pasti aku akan merasakan kebahagiaan namun nyatanya aku saat ini sudah mengecewakan dirimu aku sudah membuat dirimu menderita karena ulah ku, bagaimana mungkin kamu akan memaafkan diriku?" Seseorang pun duduk bersebelahan dengan Hikmal.
"Wulan!! Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kau yang berada di sini?" tanya Hikmal merasakan bingung padahal orang yang di cintainya adalah Fiani namun yang selalu muncul selama satu minggu belakangan adalah Wulan nih apa apa dengan dirinya?
"Aku menunggu perasaan seseorang padaku, mungkin aku akan di tolak lagi."
"Hah apa yang kamu maksudkan? Memangnya jika aku boleh tahu siapa orang yang kamu cintai mana tahu aku akan mendekatkan dirimu padanya." Wulan malah sedikit bergeser dan memandang bukit dengan harapan jika orang yang ada di sebelahnya dapat mengetahui isi hatinya jika dirinya saat ini ingin mendapatkan jawaban dari orang yang dia cintai, namun nyatanya sampai detik ini pun cintanya masih tidak terbalaskan.
__ADS_1
"Ada lah, pokoknya wajahnya sangat tampan, dia pengertian hanya saja dia tidak pernah melihatku, dia selalu melihat ke arah sahabatku, sekarang bagaimana aku mengatakan jika sahabatku sudah mempunyai pasangan sendiri, aku takut dianya akan frustasi jika mengetahui akan hal ini." Hikmal melotot sahabat maksudnya Fiani.
"Sahabat kamu kan cuma Fiani, jadi siapa yang kamu maksudkan apa itu adalah aku? Kamu mencintai diriku ah tidak mungkin!" sangkal Hikmal tapi yang jelas memang itu kenyataan nya.
"Jangan seperti itu Wulan, aku hanya mencintai Fiani dan maaf aku tidak bisa menjadi laki-laki yang akan membuat dirimu bahagia."
"Lalu apakah kamu tahu jika Fiani itu sudah menikah, apakah kamu mau di cap sebagai orang yang menghancurkan keluarga orang lain."
"Bohong!!! "
"Aku berkata jujur, aku mencintai mu Hikmal dan apa kah kau tau aku lah orang yang selalu menghawatirkan dirimu, aku orang yang selalu ada di dekat mu kapan pun itu. Kamu tahu kan memendam perasaan itu sangatlah membuat hatiku ini menderita aku menangis setiap hari berharap kamu akan melihat ku, setidaknya perhatian padaku, namun nyatanya aku bukan lah siapa-siapa bagimu.. " air mata Wulan berderai dan Wulan pun segera pergi meninggalkan Hikmal sendirian.
"Wulan..." Teriak Hikmal seraya mengepalkan tangannya.
"Wulan" igau Hikmal membuat Mila terkejut dan memanggil dokter.
__ADS_1
"Nih si Nur berulah lagi," dengus Ahmad sembari tersenyum.