
Dini turun dari lantai dua menuju meja makan. Seperti biasa Lovia selalu lebih cepat mengambil posisi duduk disamping Bastian.
Dini menarik nafas dan mengeluarkannya secara kasar sebelum ia bergabung di meja makan bersama dengan yang lainnya.
"Pagi semua. " Sapa Dini menarik kursi untuknya duduk. "Pagi. " Balas Mita, Nugroho dan Karin secara bersamaan.
Sementara Lovia berpura-pura sibuk mengambilkan lauk untuknya. Sedangkan Bastian hanya menatap Dini sekilas kemudian melanjutkan sarapannya.
"Pagi-pagi sudah rapi mau kemana din? " tanya Karin.
"Aku mau kerumah ayah dan ibu sebentar. " Jawab Dini sambil mengisi piringnya. Mengambil lauk pauk yang ada didepannya tanpa memperhatikan Bastian yang sedari tadi menatapnya.
Lovia yang menyadari tatapan Bastian ke Dini menatap tajam dengan raut wajah tidak sukanya kepada Dini. "Bas, mau ini? " tunjuk Lovia ke sayur bening didepannya. Mengalihkan perhatian Bastian agar berhenti menatap Dini yang pagi ini berpenampilan tidak seperti biasanya.
"Aa.. Boleh deh. " Ucap Bastian mengalihkan pandangan matanya kepada Lovia yang duduk di sampingnya.
"Sudah cukup? " Lovia menuangkan beberapa sendok sayuran kepiring Bastian. "Sudah. " Bastian kembali melahap sarapannya.
Dini sempat melirik interaksi keduanya kemudian membuang pandangannya kearah lain. Jujur rasanya tidak nyaman menyaksikan wanita lain memperhatikan suaminya sendiri tepat didepan matanya.
"Aku kuat. Aku tak akan memperlihatkan perasaan ku yang sesungguhnya didepan kalian berdua. Itu tidak akan mengubah apapun jika aku adalah orang lain bagi mu saat ini." Dini menangis dalam hati dan menguatkan dirinya sendiri.
"Din, berangkat sendiri? " tanya Karin namun matanya mengarah kepada Bastian kebetulan sedang melihat kearahnya. "Ia mba. Kenapa? " Dini menoleh kearah Karin.
"Tidak ada hanya sekedar bertanya." Ucap Karin. "Kalau mba ada urusan biar Sio sama aku aja mba. " Terang Dini sambil menikmati sarapannya.
"Ngak sih, tapi kalau mau bawa Sio, bawa aja gak papa. " Ucap Karin. "Ya udah kalau gitu aku bawa Sio. " Sahut Dini menyetujui saran dari Kiren.
"Kalau gitu biar Bastian ikut juga. " Suruh mama Mita. Lovia dan Bastian secara bersamaan mendongakkan wajahnya melihat mama Mita yang sedang berbicara.
"Tapi mah. "Bastian hendak menolak.
Tidak apa ikutlah dengan Dini. Mertua mu juga pasti senang melihat kau sudah kembali. Terang Mita.
__ADS_1
"Ia Bas, yang dibilang mama mu itu ada benarnya. Pergilah dan temui mereka meskipun kau tidak mengingat mereka setidaknya tunjukan etikat baik mu bagaimana pun juga kau adalah suami dari putri mereka. " Ucap Nugroho.
"Kalau begitu aku ikut ya bas? " Lovia tidak ingin jika Bastian berdua bersama dengan Dini.
"Sebaiknya kau disini saja Lovia." Mita yang tau maksud terselubung Lovia segera mencegahnya. "Tante butuh bantuanmu setelah ini. " ucap Mita agar tidak terlalu jelas ia sengaja menyela ucapan Lovia.
"Tapi tan. " Lovia mencoba membujuk Mita.
"Tidak ada tapi-tapian ya Lovia. Pokoknya tante mau kau bantu tante setelah ini. " Tegas Mita.
"Baiklah tante. " Pasrah Lovia karena usahanya tidak berpengaruh kepada Mita yang memintanya untuk tidak pergi bersama dengan Dini dan juga Bastian.
Bastian mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua dari Dini. Sesekali melirik Dini dan Sio yang sedang duduk disampingnya.
Dini memangku Sio sambil bermain dengan Sio. Menepuk-nepukan kedua tangan Sio sambil bernyanyi lagu anak-anak. Bastian ingin menanyakan arah jalan kepada Dini tapi rasanya canggung untuk memulai pembicaraan. "Kita belok ke kanan ya. " "Ucap Dini tanpa menolah kearah Bastian. "
"I-ia. " Bastian mengikuti arahan dari Dini. sekitar lima belas menit menempuh perjalanan mereka tiba. "Didepan berhenti ya yang ada pagar biru. " Suruh Dini kepada Bastian.
"Baik. " Bastian pun menghentikan mobil telap didepan pagar yang dimaksud oleh Dini.
Sementara Bastian membawa tas perlengkapan untuk Sio sebelum ia ikut turun. Berjalan melewati pagar depan rumah. Mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling rumah.
"Ayah, ibu." Pangil Dini sambil berjalan masuk kedalam rumah yang terlihat sederhana namun terasa nyaman untuk ditinggali. Di perkarangan rumah ditanami buah-buahan seperti pohon mangga dan jambu.
Sehingga hawa disana terasa sejuk demikian juga didalam rumah. Barang-barang yang tidak mewah namun disusun secara rapi diletakkan sesuai dengan tempatnya.
Diruang tengah sekaligus menjadi ruang tamu terdapat beberapa kursi yang terbuat dari kayu yang diukir. Dini mendudukkan badannya di kursi kayu tersebut bersama dengan Sio.
"Dini. Kamu datang nak? " Ibu laras keluar dari dapur bersama dengan suaminya Suhardi.
"Ada Sio juga. " Ibu laras tersenyum bahagia segera mendekati Dini dan mengambil Sio dari pangkuan Dini.
Bastian masuk dan meletakkan tas yang dibawanya dari dalam mobil disamping Dini. Suhardi dan Laras terkejut dengan ke datangnya. Saling menatap diantara keduanya kemudian serentak menoleh kearah Dini seolah sedang bertanya.
__ADS_1
"Bastian belum lama ini pulang. " Jelas Dini singkat.
"Nak Bastian duduklah. " Suruh Suhardi. Bastian hanya menganggukkan kepalanya kemudian ikut duduk didepan Suhardi.
"Dari mana saja kau selama ini nak? " Mata Laras sudah mulai berkaca-kaca sambil menatap Bastian penuh kerinduan dan rasa haru secara bersamaan.
"Ibu, Bastian tidak ingat siapa dirinya sebenarnya untuk saat ini. " Jelas Dini karena melihat Bastian yang hanya diam seperti tak tau berkata apa.
"Maksudnya? " Selidik Suhardi.
"Bastian mengalami kecelakaan waktu dibali dan mengalami lupa ingatan. Jadi Dini harap Ayah dan Ibu jangan terlalu memaksa Bastian karena dia tidak mengingat siapa kita. " Pinta Dini.
"Tidak apa. Walaupun kau tidak mengingat siapa kami. Tapi kami sangat bersyukur kau telah kembali. Setidaknya kami tidak lagi mengkhawatirkan Dini. " Terang Suhardi menatap Bastian berkata dengan tulus.
Bastian hanya tersenyum kaku sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dini dan ibunya Laras meninggalkan Bastian dan juga ayah Suhardi di ruang tamu. Sementara mereka kini berada didalam kamar milik Dini sebelum ia menikah dengan Bastian dan setiap kali ia datang berkunjung ia akan tidur dikamar miliknya itu.
"Nak. Apa kau baik-baik saja? " Tanya Laras menatap Dini yang sedang membaringkan Sio diatas tempat tidurnya.
"Dini baik kok bu. "
"Apa Bastian tidak mengingat mu sama sekali? " Laras kembali bertanya sambil ikut duduk bersama dengan Dini di pinggiran tempat tidur.
Menggelengkan kepalanya tanpa berani menatap ibunya Laras. Ia hanya memandangi Sio.
"Bersabarlah! " Ibu Laras mengambil tangan kanan Dini dan menggenggamnya dengan kedua tangannya sambil mengelus tangan Dini dengan lembut.
"Setidaknya dia sudah kembali walaupun Bastian tidak mengingat Dini sebagai istrinya." Lirih Dini memaksakan tersenyum agar ibunya Laras tidak mengkhawatirkan dirinya.
Ibu Laras ikut tersenyum. "Kau benar nak. Ada saatnya Bastian akan mengingat kembali dan ibu harap kau mau bertahan sebentar lagi walaupun situasinya sulit. " Ibu Laras memberi nasehat untuk Dini Putrinya.
"Kalau begitu ibu keluar sebentar. "Beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Ia bu. " Ucap Dini.
"Aku akan bertahan bu. Sampai aku mendapatkan kembali suami ku. " Lirih Dini menatap punggung ibunya sampai tak terlihat dibalik pintu kamar.