Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Makan makan dan makan


__ADS_3

Faam mengantarkan Ana untuk pulang terlebih dahulu, melihat asisten dari istrinya murung dia jadi berpikir untuk membantu nya tidak ada maksud lain hanya membantu asisten dan sahabatnya saja.


"Terimakasih telah mengantarkan saya pulang Tuan." Faam tersenyum dan menyuruh Anak segera masuk dalam rumah dia akan memberikan liburan beberapa hari untuk nya.


Faam berganti posisi.


Aldo mengemudikan mobilnya lagi dan membawa mereka untuk pergi ke rumah sakit.


"Sayang Ana seperti nya mencintai Yuda deh." Faam tersenyum memang dari awal keduanya ada perasaan namun hanya saja mereka enggan untuk berkomunikasi.


"Dari dulu mereka memang sudah saling mencintai hanya saja aku tidak bisa berbuat apapun namun karena kamu memintanya untuk menolong Ana baiklah aku akan menolongnya." Fiani tersenyum mendengar ucapan Faam.


"Tapi ada syaratnya, kamu nanti harus memeriksa kan dirimu, lihatlah dari tadi kamu terus saja mual-mual." Ucap Faam membuat Fiani tersenyum ternyata suaminya memperhatikan nya tapi entahlah dia perhatian dengan ketulusan ataukah hanya bersandiwara di depannya.


"Tidak, aku tidak apa-apa." ucap Fiani ingin sekali menolok memang usia kehamilan dirinya kan rentan terjadi mual-mual nih suaminya kenapa juga.


"Sudahkah jangan menolak, nanti aku akan membelikan nasi goreng deh." Rayu Faam.

__ADS_1


"Nasi goreng ? Sekarang aja, dari tadi perutku minta makan." Faam segera memencet hidung istrinya lah malah dia kelaparan.


Ternyata anak dalam kandungan istrinya lapar toh benar istrinya seperti tengah menahan sesuatu.


"Aldo, nanti ada warung nasgor kita berhenti sebentar." Aldo yang mendengar akan hal itu pun tersenyum dan segera menepikan mobilnya.


"Kita ingin makan nasgor, apa kamu ingin juga?" Kebetulan cacing di dalam perut Aldo sudah demo dari tadi meminta makan hany ada Aldo tidak enak saja jika ingin berhenti tanpa sebab.


Faam sebenarnya ingin membuka pintu untuk istrinya namun istrinya nyelonong duluan haduh dasar bumil enggak sabaran.


"Seperti nya Nona antusias duluan Tuan." Faam menggeleng kan kepalanya melihat tingkah lucu istrinya.


"Pak pesan nasi goreng nya ya, sayang kamu sudah pesan apa belum?" tanya Faam memandang istrinya yang malah mengambil kerupuk dan melahap nya.


Fiani menggeleng.


"Pesan nasi goreng jumbonya tiga ya pak." Aldo terkekeh wih kenyang kenyang deh nih perut hehe.

__ADS_1


"Sayang es teh manis nya jangan lupa." lanjut Fiani masih dengan melahap kerupuk.


"Iya, iya bumil." jawab Faam tersenyum saja.


Nih dasar istrinya walaupun dimana tempatnya dia tidak pernah melupakan soal makanan.


Apalagi semenjak dia mulai berbadan dua, lihat perut buncit Aldo pasti dia sudah merasakan berbagai macam makanan bersama dengan istrinya.


"Do!" Aldo melirik tuanya.


"Iya Tuan ada apa?" tanya Aldo pada Faam.


"Sepertinya kamu sekarang gemukan?" Aldo tersenyum bagaimana tidak setiap hari selalu mengantarkan Nona Fiani untuk pergi mencari beraneka masakan dan dia pun diminta untuk makan bersama bagaimana nih perut semakin hari tidak membuncit.


"Hehe, iya Tuan, semenjak Nona Fiani mengandung Nona selalu mengajak saya mencari makanan dan Nona tidak melupakan saya pasti Nona akan membelikan makanan yang seperti ia makan." Haha Faam malah tersenyum nih bisa bisa Aldo jadi tong karena kebanyakan makan.


"Hahaha, untunglah kamu masih pengertian dengan istriku, bagaimana jika kamu tidak ada pasti aku akan cemas meninggal kan istri ku saat aku kerja." jawab Faam sambil menepuk pundak Aldo.

__ADS_1


. Aldo tersenyum yang bisa dia lakukan kan hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya.


Inilah yang di sukai Aldo bekerja bersama Faam selain dia baik, istri dari Faam pun tidak kalah baiknya inilah yang membuat dirinya betah menjadi supir pribadi dari Fiani.


__ADS_2