Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Dia??


__ADS_3

Ana sudah mempersiapkan keperluan dari Nona Fiani, memang tugasnya tidak ini saja dia akan selalu ada di mana pun Nona berada tapi kemarin saat Nona bersama Tuan Faam memang dia tidak di izinkan untuk ikut.


Jadi dia hanya menunggu Nona Fiani sampai di rumah.


"Nona keperluan Nona sudah saya siapkan." ucap Ana yang tersenyum kearah Fiani.


Fiani membalas senyuman dan memandang ke arah Wulan yang sedari tadi hanya diam. Memang apa yang sedang Wulan pikirkan ya?


"Wulan, apa yang kamu pikir kan?" tanya Fiani membuat lamunan Wulan pun buyar, Wulan menatap Fiani dengan senyuman dan garukan kepala.


"Ini rumah apa rumah? Semua nya serba ada, perabotan ini bukanlah sangat mahal harganya, kamu sangat beruntung Fia mempunyai suami yang mampu memberikan segalanya untukmu." Fiani menatap langit langit.


Memang dia mempunyai segalanya dan sekarang dia juga sedang mengandung anak dari suaminya tapi sayangnya dia masih belum mengingat apakah suaminya itu benar-benar mencintainya ataukah bukan.


Dia hanya tidak berharap sesuatu yang lebih, biarkanlah dia seperti ini tidak mengenal siapa pun termasuk mengenal bagaimana sifat suaminya padanya dulu.


Apakah memang suaminya dari dulu menyayangi dirinya ataukah mungkin hanya gara-gara dia lupa ingatan entahlah, dia pun tidak tahu akan hal itu.


"Nona, sekarang Nona bisa mandi saya akan menunggu di sini." ucap Ana membuat Fiani uang biasanya malas untuk mandi sedikit mengeratkan giginya.


"Tenang Nona masuklah, ayok." ucap Ana yang segera menyuruh Nona Fiani untuk masuk dan segera mandi memang Fiani suka bangun pagi tapi susah untuk sekedar mandi saja.

__ADS_1


Fiani memandang wajah Wulan, bagaimana caranya untuk kabur? Baiklah untuk kali ini dia menurut saja kan ada sahabatnya yang melihatnya.


Fiani segera beranjak dari tempatnya duduk dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Ana pun menunggu Nona selesai dengan ritual mandinya. Nona Fiani sekali mandi itu lamanya kebangetan.


"Apakah kamu sudah bekerja lama dengan Fiani?" tanya Wulan mengawali pembicaraan.


"Sudah mungkin hampir tujuh bulan, memangnya kenapa?" tanya Ana yang balik bertanya lagi pada Wulan.


"Tidak, berarti kamu juga tahu bagaimana sikap Fiani dulu." Ana mengangguk dia tahu sifat Fiani yang sebenarnya itu bagaimana dia suka menyimpan sebuah rahasia besar.


Dan dia hanya menceritakan nya pada teman nya bukan dia sih tapi dia selalu saja menguping pembicaraan Nona Fiani.


Terkadang Nona Fiani juga tertawa bahkan marah sendiri. Tapi dia tahu dia bukan gila tapi dia berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata.


"Ya, Nona Fiani adalah wanita yang sangat menyayangi Tuan Faam, namun dia juga tidak ingin menceritakan apapun pada Tuan Faam. Sekali pun itu masalahnya besar. Fiani juga tidak mengatakan apa yang dia resahkan, tidak manja, cuek dan masa bodoh orangnya."


"Tuan Faam lah orang yang mengejar ngejar Nona Fiani karena ke misteriusan Nona."


"Ternyata kamu memang sudah mengetahui warak dari teman ku itu, tapi sekarang dia sangat beruntung. Karena dia sudah bahagia sekarang. Tapi apa tante Dewi sehat?"

__ADS_1


"Nyonya Dewi sedang berobat di luar negeri untuk memulihkan kaki beliau." Wulan tersenyum ternyata Faam orangnya pengertian juga.


Tapi nyebelin banget.


"Baik sekali Tuan mu ya, em sekarang kan Fiani sedang mengandung anak dari pria rese itu kamu pun harus berhati-hati apalagi pada wanita yang tadi berteriak-teriak itu. Jangan tinggalkan Fiani sendirian karena apa saya takut jika nenek lampir itu mencelakai Fiani." Ana tersenyum.


"Memangnya orang tadi siapa?" tanya Ana.


"Dia adalah ibu dari mantan pacar Fiani dulu. Sama seperti Tuan mu itu sih sangat tergila-gila akan sosok Fiani.


" Memangnya mantan pacar Nona kenapa? Kenapa ibunya sampai datang kemari? Apakah Nona membuat kesalahan fatal?"


Wulan mendengus kesal. " Tidak, Fiani tidak membuat kesalahan fatal hanya saja Ibu dari mantan pacar Fiani itu selalu menyalahkan Fiani padahal yang salah orang lain, sudah untung tuh cowok tengil mengizinkan istrinya untuk menjenguk mantan pacarnya itu. Kurang baek apa coba? Masih saja memandang rendah temanku terus." Ana mengangguk ternyata di aini adalah teman baik dari Nona pantas dia membela mati matian seperti ini.


"Kamu terang terangan membela Nona."


"Dia itu teman ku sejak dulu, dia tidak suka keramaian, dia lebih sering menyendiri di pojokan membaca buku, dan biasanya dia akan menatap indahnya langit pagi ya memang itulah kebiasaan dari Fiani."


"Ana.... " teriak Fiani dari dalam kamar mandi.


"Iya Nona ada apa?" tanya Ana yang ingin tahu kenapa Nona nya berteriak.

__ADS_1


"Tolong bawakan handuk, aku lupa membawanya." teriaknya lagi.


"Nah kan kebiasaan buruknya muncul hehe... " ucap Ana yang segera berlari untuk membawakan handuk untuk Nona Fiani yang selalu rese jika sedang ritual mandi.


__ADS_2