
Sedangkan Nur bingung harus berbuat apa? Apa dia sembuhkan saja Fiani ia tidak mau jika Fiani sampai meninggal tapi apakah dia bisa? Karena semuanya kan sudah takdir Tuhan dia pasti tidak akan mampu menandinginya dia tau dia hanyalah makhluk yang kecil dan tidak setara dengan Nya.
Fiani memandang ke arah Nur dia bingung pasti Nur juga merasakan apa yang dia rasakan.
"Kenapa kau memandangi diriku seperti itu?" tanya Fiani pada Nur.
"Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu," ucap Nur selama ini Nur hanya memandangi wajah Fiani dengan tatapan sendu apalagi saat dia tahu bahwa Fiani sedang sakit dan saat Nur menawarinya untuk di sembuhkan Faini menolak apa yang dia pikirkan sih?
"Nyawa seorang manusia itu ada di tangan Tuhan, jadi kau tidak boleh menyembuhkan diriku itu sama saja melawan takdirku. Jika aku nantinya mati ya memang sudah takdir kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." jelas Fiani pada Nur yang nampaknya tidak Terima akan hal ini.
"Nanti jika Fiani pergi kau boleh ikut dengan diriku," kali ini Nur menatap Xi dengan tatapan tajam.
Nur tidak ingin mencari teman baru dia hanya menginginkan Fiani, ah kenapa Nur lagi lagi gagal dalam menjaga seorang manusia agar tidak meninggal kan dirinya.
Nur menggeleng pelan.
"Tidak Fi, aku tidak ingin kehilangan dirimu, ayolah mintalah diriku untuk menyembuhkan dirimu, Ayo!!!" Fiani tersenyum tidak dia tidak ingin melawan takdir atau meminta Nur untuk mengabulkan permintaan konyolnya lagi sekarang melihat ibunya sudah aman dia sudah merasa bahagia kok apalagi besok, besok ibunya akan pergi berobat semoga saja ibu Fiani tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Tidak, aku tidak akan meminta apapun lagi dari mu, aku hanya ingin kau menjadi jin yang baik itu saja." jelas Fiani.
"Tapi apa yang harus aku katakan pada Suamimu?" Fiani berpikir sejenak.
"Terserah kau saja, tapi aku hanya minta jangan beri tahu dia jika aku sakit, pasti dia akan sedih." ucap Fiani pada Xi. Sebenarnya Xi tidak mau ikut campur dalam masalah ini mengingat Faham adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya tapi bagaimana lagi dia sekarang sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun apa lagi tentang penyakit yang di derita Fiani.
"Hah," Xi menghembuskan napas kasar.
Permintaan yang sangat berat.
"Baiklah."
Faam sudah mencari ke sekeliling ini adalah dua kalinya dia mencari keberadaan Fiani.
Papanya bertanya pada Faam kemana perginya istri mu dan Faam baru menyadari jika Fiani tidak ada di tempat yang seharusnya, kemana dia pergi.
Yuda membuka pintu dan berapa terkejutnya dia saat Faam ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Yuda gelagapan.
Yuda menjadi panik apakah Faam mendengar obrolan mereka? Semoga saja tidak.
"Aku sedang..." Yuda tidak melanjutkan ucapannya, dia ketakutan sendiri mengingat dia baru saja membuat perjanjian dengan Fiani.
"Yuda, " teriak Ana.
"Kenapa kau mematung di sana, Fiani akan keluar pasti para tamu sudah menunggunya dan apa yang kau lakukan di sana cepat keluar." teriak Ana merasa marah pada Yuda yang berdiri di tengah pintu tidak mau pergi. Ana tidak tau jika Faam masih berdiri seperti tengah mengintrogasi Yuda.
Faam yang mendengar suara Ana segera menerobos masuk melewati tubuh Yuda dengan kasarnya dan Yuda tampak diam saja layaknya patung.
Fiani sangat lah terkejut karena Faam untuk kedua kalinya kembali menemukan dirinya.
"Kau ini, jika ingin pergi cobalah katakan padaku, papa mencari keberadaan dirimu dan mama biasa sudah mengomel tidak jelas sekarang ikut lah dengan ku pengantinku." Faam memberikan tangannya.
Fiani tersenyum. Dan menerima ukuran tangan dari Faam.
Ana dan Xi dan tak jauh berbeda Yuda nampak begitu khawatir apa Faam mendengar ucapan mereka?
"Apa kalian memang hanya ingin memandangi kita berdua seperti ini? Sekarang ikut lah dengan ku dan kau Xi aku harus bicara padamu." ucap Faam dengan nada datarnya.
Faam dan Fiani bergandengan tangan menuju ruang resepsi. Sedangkan Ana, Yuda dan Xi mengikuti pasangan pengantin ini dari belakang.
Di sisi lain Liana sudah berada di gedung tempat di langsungkan nya acara pernikahan ia tidak tau jika Faam sudah merencanakan sesuatu di gedung ini.
Tatapan mata yang tajam, ia begitu bersemangat ingin menggagalkan acara pernikahan ini Faam harus menjadi miliknya lagi agar anak ini mempunyai seorang ayah kurang ajar sekali si Soni setelah mengambil enaknya saja dia malah meninggalkan dirinya.
Jika bertemu dengan dirinya akan dia beri pelajaran.
"Semoga acara ini gagal ya nak, agar kau mendapatkan ayah yang bisa membahagiakan dirimu." ucap Liana sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.
Awalnya ia tidak percaya jika dia hamil, dia sangat senang saat mengetahui dirinya tengah mengandung tapi di sisi lain Soni tidak suka dia ingin menggugurkan kandungan dari Liana karena dia berpikir jika Liana sampai mengandung ladang uangnya akan hilang.
Jadi Liana memutuskan untuk pergi dari apartemen dan mencari keberadaan Faam walaupun di usir jika ayah dan ibu Faam sampai tau pasti mereka akan memaksa Faam untuk menikahi dirinya.
__ADS_1
Liana dengan langkah yang panjang berjalan menuju gedung, di sana terlihat banyak orang yang sudah berkerumun.
Dia mengepalkan tangan saat melihat Foto Faam dan Fiani yang sedang bergandengan mesra, ia sangat marah seharusnya dia yang ada di sana bukan wanita itu.
Liana segera masuk dan mengatakan pada semua orang jika pernikahan ini tidak bisa terjadi, namun apa yang dia lihat, semua orang-orang disini sangatlah berbeda.
Tidak terlihat keluarga Faam yang ada hanyalah orang-orang asing yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Pasangan pengantin yang sudah di beri tahu jika ada wanita gila yang akan datang pun tersenyum dan menghampiri Liana.
"Kau datang di pernikahan yang salah Nona," bisik wanita yang memakai gaun pengantin berwarna putih dengan banyak aksesoris di gaunnya.
Liana segera meninggal kan gedung itu dan saat ingin keluar dari gedung Soni sudah menggapai tangannya dan membawanya pergi dengan mobil hitam miliknya.
Liana berontak, ia tidak ingin menggugurkan kandungannya walaupun ini anak dari b*jin*n ini tapi dia tidak mungkin tega melukaimu darah daginya.
"Lepas, lepaskan aku..." teriaknya pada Soni.
Orang-orang yang mengetahui jika Wanita ini sedikit tidak waras pun hanya membiarkan saja mungkin itu keluarga nya pikir para orang-orang yang berada di sana.
"Maafkan istriku, dia memang seperti ini, " terang Soni pada beberapa orang yang melihat jika Liana berusaha melepaskan diri dari cengkraman Soni.
Soni segera membawa Liana ke dalam mobil dan langsung menampar dirinya.
Plak
Liana memandang Soni dengan tatapan tidak percaya.
"Kenapa kau keluar dari rumah? Kau ini menyusahkan saja kerjaannya. Sudah baik aku ingin membawamu ke dukun beranak. Aku tidak menginginkan anak ini." Liana membulatkan matanya. Ia berusaha berontak namun Soni menampar nya untuk kedua kalinya.
Plak
"Dasar wanita murahan, kau ini mau ku bantu tidak, sekarang diamlah dan ikut dengan ku.Jika kau berontak lagi ku pastikan aku akan lebih kejam dari pada ini." ancam Soni dengan wajah seramnya.
Liana hanya bisa menjatuhkan air matanya kenapa dulu ia berselingkuh dengan pria sekejam ini? Jika Faam dia pasti akan memperlakukannya seperti seorang Ratu.
__ADS_1