
Faam mencoba untuk tegar apalagi kenyataan pahit sudah membuatnya menjatuhkan air matanya, bagaimana mungkin ia bisa tegar apa lagi istrinya ternyata selama ini sakit dan hanya dia yang tidak mengetahui semuanya.
Apakah dia pantas jika masih di sebut sebagai seorang suami?
"Sayang kenapa kau menangis? Dokter bilang apa?" tanya Fiani tersenyum sebenarnya dia ingin melupakan semua nya namun tidak mungkin lambat laun penyakit ini terus saja menggerogoti dirinya dan dia juga pasti akan meninggalkan suaminya.
Yang membuatnya sedih saat ini adalah apakah Faam akan membuka hatinya lagi apabila suatu saat dia benar-benar sudah tidak ada di sampingnya lagi, apa dia akan makan dengan baik dan siapa yang akan menjaganya?
"Tidak, aku hanya sedih karena aku yang menyebabkan kau begini seharusnya aku tidak membuatmu kelelahan." Fiani tersenyum untunglah dokter yang menanganinya tidak mengatakan hal yang sejujurnya jika ia pastinya Faam akan panik dan heboh.
"Apa dokter mengatakan hal yang lain?" tanya Fiani ingin memastikan.
Seharusnya kau tidak menyembunyikan apapun padaku sayang, apa nanti dengan hilangnya dirimu dari hidupku akan menyelesaikan masalah? Tidak! Karena apa hanya kaulah yang aku cintai mana mungkin kau ingin aku mencari wanita lain untuk menggantikan dirimu. Kau sangat jahat. padaku sayang." batin Faam merasa sangat marah karena sikap Fiani uang seperti ini.
"Tidak, kau hanya butuh istirahat saja. Seharusnya aku tidak mengajakmu untuk jalan-jalan terlalu lama akhirnya kau kelelahan kan?"
"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu, lagi pula sekarang aku sudah tidak apa-apa. Tenanglah kau tidak perlu khawatir sekarang."
"Tidak perlu khawatir sekarang? Bagaimana mungkin aku tidak menghawatirkan dirimu bahkan sekarang pun aku menghawatirkan dirimu dan lebih khawatir lagi karena sekarang aku tau jika kau sedang sakit. Aku harus bicara dengan Yuda kenapa si rese itu tidak mengatakan apapun padaku dan malah menyembunyikan semua ini dasar."
"Hey bahkan setiap saat aku selalu menghawatirkan dirimu, kau saja yang tidak menghawatirkan dirimu sendiri. Sekarang istirahatlah aku akan menjagamu disini." Faham mencoba untuk tersenyum walau sebenarnya dia menahan kesedihannya.
"Kamu itu janganlah terlalu khawatir, memangnya aku ini akan pergi kemana sih."
"Nah kan aku perhatian salah enggak juga salah nih yang benar bagaimana kalau sampe rumah awas saja kau. Eh tapi kan dia... Sabar Am dia sedang membuatmu marah jika kau marah maka rencananya untuk meninggalkan aku semakin besar tidak itu tidak boleh terjadi.
__ADS_1
" Aneh kenapa dengan dia? Apa yang membuatnya sepanik ini biasa nya dia juga masa bodoh apa dia tau tentang penyakit ku? ah mana mungkin aku harus tanya pada Lisa.
"Ya biasalah jika kau pasti kau akan menghilang entah kemana, tapi pasti aku akan
menemukan dirimu karena apa karena sekarang kan istriku bekerja bersama dengan sahabatku ya bisalah sekali kali menganggu dirimu." Fiani sebenarnya tidak tega melihat suaminya yang tidak tau apa yang sebenarnya ia sembunyikan.
Entah sampai kapan dia akan merahasiakan semua ini melihatnya menghawatirkan dirinya saja sudah membuat Fiani tidak tega apalagi jika harus mengatakan semua kebenarannya ah tidak sebaiknya ia terus saja menyembunyikan semua ini pada akhirnya dia juga akan pergi bukan tidak perlu mencemaskan suaminya banyak perempuan di luar sana yang mencintai Faam melebihi rasa cintanya.
"Melihat dirimu seperti ini saja aku sudah merasakan sakit yang teramat sangat bagaimana jika aku harus benar-benar kehilanganmu, kenapa sih Fi dari awal kau tidak pernah jujur padaku? Kenapa kau selalu menyembunyikan semua masalah mu dan kau tidak pernah sekali pun menceritakannya padaku kenapa memang aku kau anggap apa sih Fi," tanya Faam bingung sendiri dengan sikap Fiani yang selalu tidak pernah jujur padanya.
"Kenapa dengan dirimu sih sayang tadi katanya dokter aku tidak apa-apa sekarang kau menangis lagi?" tanya Fiani yang melihat Faam uang meneteskan air matanya sebenarnya apa yang dia tidak ketahui apakah dia menyembunyikan sesuatu tapi apa?
"Ya karena aku terlalu bodoh saja, kenapa aku tidak memperhatikan dirimu seharusnya aku lebih baik lagi menjaga mu." terang Faam membuat Fiani tersenyum.
"Sayang jangan menyalahkan dirimu sendiri, lihatlah aku tidak apa-apa kata dokter kan aku hanya kecapean jadi kau tidak perlu khawatir seperti itu." Faam memegang tangan Fiani.
"Aku ingin bertanya satu hal padamu sayang... Sebenarnya kenapa kau terus mengatakan perpisahan padaku kau tidak ingin jika aku.. "
Faam tidak melanjutkan ucapannya dia bingung harus berbuat apa kata dokter jika di oprasi atau pun di berikan obat sekali pun sudah tidak akan ada dampaknya lagi lalu sekarang apa yang harus ia lakukan ia tidak ingin kehilangan Fiani.
"Sayang kau terlalu mengambil serius ucapan ku aku hanya bercanda kok."
Faam segera memeluk Fiani bagaimana mungkin hanya bercanda, dia sudah secara langsung mengatakan perpisahan dan apa itu yang di katakan bercanda.
"Tapi seperti nya ucapan mu itu serius sayang aku..."
__ADS_1
"Bagaimana ini dia mulai curiga apa ini hanya kecurigaan ku saja aku harap kau perlahan akan membenci diriku agar kau tidak terlalu sakit nanti jika aku benar-benar meninggalkan dirimu."
Fiani menjatuhkan air matanya ternyata berat harus meninggalkan orang yang ia sayangi.
"Sayang jangan membuat ku sedih seperti ini aku tidak apa-apa kok beneran."
"Bagaimana mungkin aku kau suruh untuk tidak sedih, aku sudah terlanjur mencintai mu dan sekarang kau akan pergi meninggalkan diriku sendiri bagaimana aku tidak sedih?"
"Sayang kau janji akan selalu ada untuk ku kan, aku takut jika mimpi ku itu menjadi kenyataan. "
"Sayang mana mungkin aku berjanji... "
"Kan kau seperti ini lagi, sebenarnya kau ini sayang apa tidak sih sama aku?" tanya Faam melepaskan pelukannya dan memandang wajah Fiani tajam.
"Aku... Aku..." Fiani tidak bisa menjawab yang jelas ia sangat mencintai Faam tapi dia harus melepaskan cinta itu karena ia tidak mungkin akan bersama Faam untuk selamanya.
"Katakan apa kau mencintaiku Fia?" tanya Faam memandang lekat wajah Fiani.
"Aku mencintai mu tapi aku tidak akan mungkin menemanimu aku tidak janji karena."
"Karena karena kau sakit bukan?" tanya Faam yang membuat Fiani tidak bisa menggerakkan lagi bagaimana ini apa kah dia harus jujur ataukah.
"A a ku.. "
"Katakan apa kau sakit? Jawab aku sayang!" ucap Faam memaksa Fiani untuk menjawab pertanyaan darinya.
__ADS_1
"Kan aku kelelahan, kenapa kau menanyakannya."
"Sudah aku pojok kan seperti ini tapi dia masih saja mengelak apa segitunya dia tidak ingin jika aku tau.