Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Episode 14. Menggoda


__ADS_3

"Nih udah. " Dini yang menyerahkan ponsel milik Bastian.


Dret.. dret..


Ponsel Dini bergetar kemudian ia pun mengambil ponselnya itu dan segera Bastian angkat suara. "itu nomor ku jangan lupa di save ya." Terang nya.


"Ummm." Sahut Dini


-


-


Seminggu sudah berlalu Dini pun mulai bosan dengan situasi yang sepanjang hari hanya berada dirumah, aktivitasnya hanya memasak selebihnya pekerjaan rumah dikerjaakan oleh bude Asih.


"Bude udah mau pulang?" tanya Dini.


" Ia ndok, kerjaan bude sudah selesai." Jelas bude Asih.


"Bude aku ikut kerumah bude boleh gak?"


"Boleh aja, tapi kan sebentar lagi pak Bastiannya pulang istirahat ntar takutnya nyariin lagi."


"Ia juga sih bude"


"Gini aja ntar kan jam 2 bude finjer ke kantor, ntar selesai itu bude jemput kalau emang mau ikut kerumahnya bude gimana mau gak?"


"Ia deh bude."


--------------------------


Di rumah bude Asih.


"Bude. Disini ternyata rame ya perumahannya." Ucap Dini.


"Ia, disini perumahannya 4 blok ndok, dan disini tu blok 2." Terangnya menjelaskan.


"Trus yang tinggal disini semua yang kerja dibagian pabrik ya bude?"


"Ngak juga disini tuh campur ada yang dari bengkel, bagian listrik, dan transport. Kecuali bagian kebun kalau kebun ya tinggalnya di devisi masing-masing." Jelas bude Asih.


"Oh gitu rupanya.


Bude tinggalnya disini sama siapa?"


"Berdua aja ndok ama suami, kalau anak-anak bude udah pada nikah semua."


"Oh gitu ya bude. "


Dini pun mengirim pesan ke Bastian. "Aku lagi di rumah bude Asih ntar sorean aku balik."


Sementara ditempat lain Bastian yang sedang sibuk bekerja terdengar suara notif pesan masuk ke ponselnya, ia pun melihat ponsel tersebut dan melihat isi pesan dari Dini.


Kemudian ia membalas pesan itu. "Ia ntar pulang kerja aku jemput aja pulangnya. "

__ADS_1


Tak terasa jam sudah menunjukkan 5 sore, banyak anak-anak beserta orang tua mereka bermain diluar rumah atau hanya sekedar duduk didepan rumah mereka.


Semua orang yang melihat Dini pun bertanya kepada bude Asih. "Bude itu siapa? "kata salah satu tetangga.


"Istri pak menejer" jelasnya.


Banyak orang yang memuji kecantikan Dini bahkan ada juga yang berkata. "Cantik ko mau sih tinggal di perkebunan kaya gini. " Kata salah satu tetangga bude Asih.


Dini pun tersenyum menanggapi perkataan tersebut. "Ia bu kan ikut suami jadi ya harus mau dong!"


Cukup lama mereka bercengkrama namun kini pandangan mereka tertuju ke arah mobil yang berhenti di depan rumah bude Asih dan semua orang pun tau kalau itu mobil milik Bastian sang menejer di perusahan tersebut.


Bastian pun turun dari mobil dan segera menghampiri Dini yang sedang duduk bersama bude Asih.


Dini pun segera angkat bicara melihat sosok Bastian yang sudah mendekat itu. "Mau langsung jalan apa mampir dulu." Tanya Dini.


"Kita langsung jalan aja. " Sahut Bastian.


"Ya udah. Bude kami pamit pulang dulu ya!"


"Ia ndok." Sahut bude Asih.


Didalam mobil. "Dari jam berapa tadi kesana? " tanya Bastian.


"Dari jam 2."


"Kamu kok tumben main kerumah bude?" tanya Bastian.


"Habisnya aku bosan dirumah terus jadi sekali-kali boleh dong main kesana."


"Uumm. Ia ia aku juga ngerti kok bas!" tutur Dini sambil memancungkan mulutnya.


Bastian yang melihat itu pun merasa gemes dengan tampang Dini yang seperti itu dan ia pun mengacak-acak rambut istrinya tersebut.


"Kan jadi berantakan rambut aku. " Sahut Dini sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan akibat ulah suaminya itu.


Namun Bastian hanya tersenyum mendengar keluhannya itu.


Sesampainya dirumah Dini pun segera menuju kamar mandi yang ada didalam kamar mereka.


"Mau kemana?" tanya Bastian


"Ya mau mandi lah, gerah bangat soalnya. " Terang Dini.


"Aku duluan. " Tutur Bastian sambil berlari mengambil handuknya yang tergantung tak jauh dari pintu kamar mandi dan melewati Dini yang hendak mau masuk.


"Ga bisa gitu dong bas, aku duluan!" pekik Dini sambil mencoba memotong langkah Bastian.


"Ngak aku duluan." Sahut Bastian yang tak mau kalah sambil menarik tangan Dini.


"Ih kamu tuh ya kan tadi aku duluan yang mau mandi." Terang Dini dengan suara setengah berteriak.


"Ya udah deh biar adil kita mandinya bareng aja gimana? " Bastian mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Idih. Gak ah, ya udah sana kamu aja duluan. " Sahut Dini dengan sedikit malu melihat kearah Bastian.


"Ya udah kalau gak mau, pada hal pasti seru kalau mandinya berdua."


"Apaan sih kamu tuh bas! gak lucu ya. " Sahut Dini dengan wajahnya yang sudah merah akibat menahan malu.


" Kamu beneran gitu gak pengen?" goda Bastian lagi.


"Sana sudah cepetan mandinya!"


"Ia ia, bawel deh lihat tuh muka kamu merah. " Katanya lagi untuk menggoda istrinya tersebut sambil berlalu masuk kekamar mandi dan disana ia tersenyum puas yang berhasil menggoda istrinya itu.


Sementara Dini sedang mengipas-ipaskan tangannya kearah wajahnya yang terasa panas akibat ulang Bastian yang terus menggodanya.


"Bisa-bisanya dia menggoda ku seperti itu, huh kan aku jadi malu."


Setelah pintu kamar mandi terbuka dan Bastian pun keluar segera ia masuk ke kamar mandi tersebut tanpa melihat kearah Bastian karena ia masih merasa malu akibat ulah Bastian tadi.


Sementara Bastian hanya tersenyum melihat tingkah Dini yang berusaha menghindar karna malu.


Kini Dini sedang menyisir rambutnya di depan cermin dari pantulan cermin ia dapat melihat Bastian yang ada tepat dibelakangnya, ia pun mengamati apa yang dilakukan Bastian namun ternyata Bastian menyadari akan hal itu.


"Udah gak usah di lihatin terus, aku memang udah tampan dari sononya."


"Idih pede amat pak, gak salah tu!"


" Ya gak lah! dari tadi kamu lihatin aku terus, kenapa ha? udah mulai deg deg kan kalau lihat aku?"


"Astaga Bas, kamu tuh ya." Belum sempat ia melanjutkan ucapan nya Bastian sudah dulu menyelanya.


"Apa? sama suami sendiri juga tapi gengsi bilang aja kalau udah mulai ada rasa. " Ledeknya lagi.


"Kamu salah minum obat apa gimana sih? perasaan dari tadi ngelantur terus atau kamu kesambet kali ya?"


"Ia kesambet sama kamu!"


"Udah, ayo makan aku lapar." Terang Bastian dan Dini pun segera mengikuti langkah Bastian dari belakang.


Sesampainya dimeja makan Dini pun segera memanaskan lauk pauk untuk mereka.


"Tunggu sebentar ya. " Pekik Dini.


Tak lama ia pun membuatkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya tersebut dan meletakkannya didepan Bastian. Mereka pun makan makam tanpa ada lagi percakapan diantara keduanya yang terdengar hanya dentingan sendok. Sepertinya mereka berdua sedang menikmati makanannya masing-masing.


-


-


-


-


Bersambung

__ADS_1


Vote, like and comentnya dong buat author!


__ADS_2