Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Memandangi wajah Dini


__ADS_3

Lovia berpikir keras bagaimana caranya agar bisa tetap berada disamping Bastian. "Apa pun caranya aku akan lakukan untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. " Pekik Lovia mondar-mandir didalam kamarnya.


"Aku akan berusaha untuk tetap berada bersama dengan Bastian. Dan sepertinya aku harus membereskan Dini terlebih dahulu. Jika Dini menyerah itu akan mempermulus langkah ku selanjutnya." Gumam Lovia.


"Dini. " Karin mengetuk pintu kamar Dini. "Ada apa mba? " Tanya Dini begitu membuka pintu kamarnya. "Bisa tolong temani Sio sebentar. " Pinta Karin.


"Bisa mba. " Dini keluar dari kamarnya mengikuti Karin dari belakang menuju kamar Karin. Namun kekita hampir tiba didepan kamar Karin. Bastian muncul dari depannya. Namun Bastian melemparkan tatapan yang berbeda. Tersirat jelas mata itu memandang tidak suka kepada Dini. Mungkin karena merasa tidak nyaman dengan pembicaraan yang sebelumnya diruang tengah tadi. Dimana Mita secara langsung meminta Lovia pergi. Dan itu karena semua tentunya karena Dini.


Melewati Dini dengan begitu saja. "Ada apa dengannya? " Gumam Dini mengikuti tubuh Bastian yang terus bergerak menjauh darinya. Membalikkan badannya ketika tubuh Bastian tidak terlihat lagi.


"Sio sayang. " Nia menggendong Sio. Menciumi pipi tembem Sio beberapa kali.


"Din, aku tinggal bentar ke mini market depan. Aku lupa kalau Sio kehabisan popoknya." Jelas Karin. "Ia mba. " Dini terus menciumi pipi Sio.


"Kita kekamar bunda yuk! " Menggendong Sio menuju kamarnya. Bermain cilukba bersama dengan Sio. Lama bermain kini Dini menidurkan Sio dan mereka berdua tertidur bersama diatas tempat tidur Dini.


Bastian keluar dari kamar dan melewati kamar Dini yang tidak tertutup. Melihat sekilas kedalam kamar sambil berjalan melewati pintu kamar. Langkah kaki Bastian terhenti begitu melewati pintu kamar Dini. Merasa penasaran dengan apa yang dilihatnya.


Memundurkan langkahnya sampai tepat berada didepan pintu kamar Dini. Ragu Bastian untuk masuk namun pada akhirnya ia tetap masuk memberanikan dirinya.


Dini yang sedang tidur sambil memeluk Sio. Menatap wajah tenang Dini dengan perasaan yang sulit diartikan. "Apa benar kau adalah istri ku? tapi kenapa aku tidak bisa mengingat sedikit saja tentang dirimu? " Gumam Bastian.


Mendudukkan dirinya disisi ranjang menghadap kepada Dini dan Sio. Memandangi wajah Dini berharap secercah harapan jika ia bisa mengingat sedikit saja dengan memandangi wajah Dini. Namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.


Tak kunjung mengingat sedikit pun akhirnya Bastian bergerak dari duduknya.


Tap tap tap

__ADS_1


Suara langkah kaki Karin memasuki kamar Dini membawa kantong plastik berukuran besar ditangannya. Sepertinya Kiren langsung menuju kamar Dini setelah kembali dari luar. "Bastian kau disini? " Kiren sedikit terkejut dengan keberadaan Bastian dikamar Dini. Bastian hanya menganggukkan kepalanya kemudian hendak berjalan keluar dari kamar.


"Apa yang kau lakukan disini? " Karin bertanya sambil meletakkan barang yang dibawanya.


"Tidak ada aku hanya sekedar lewat tadi. Aku melihat pintunya tidak tertutup dan aku ingin melihat ada apa didalam sini. Ternyata mereka berdua sedang tertidur." Jelas Bastian.


"Aku harap kau memikirkan sedikit saja tentang Dini. Cobalah mulai membicarakan hal-hal kecil lebih dulu. Dengan begitu kau tidak akan merasa canggung dengannya. " Terang Karin memandangi wajah Dini yang tidur dengan pulsanya.


"Aku akan mencobanya. " Ucap Bastian.


"Aku harap kau tidak main-main dengan ucapanmu barusan. " Tegas Karin.


Bastian menganggukkan kepalanya kemudian Bastian keluar dari kamar Dini tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku harap kau bisa membuktikan ucapanmu. " Lirih Kiren menatap punggung Bastian sampai menghilang di balik pintu.


"Bas, kau dari mana saja?" Lovia yang menghampiri Bastian yang hendak memasuki kamarnya. "Aku hanya berjalan-jalan saja. Ada apa? " tanya Bastian kepada Lovia.


"Tidak ada apa-apa. " Lovia tau jika Bastian sedang tidak berkata jujur kepadanya. Karena ia melihat Bastian dari kejauhan keluar dari kamar Dini.


"Kalian sedang apa? " Karin sudah berada dibelakang tubuh Bastian yang baru keluar dari kamar Dini sambil menggendong Sio dan membawa barang yang baru saja dibelinya.


"Biar aku bantu." Bastian mengambil Sio dari gendongan Karin tanpa menjawab pertanyaan dari Karin. "Kau istirahatlah dikamarmu. Aku akan mengantarkan Sio kekamar kakak ipar." Berbicara kepada Lovia dan pergi tanpa menunggu Lovia menjawab ucapannya.


Karin menatap wajah Lovia tajam memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Lovia. Sementara Lovia juga tidak tinggal diam. Ia juga membalas tatapan Karin dengan wajah menantang.


"Minggir! " Karin sengaja menyenggolkan badannya ke badan Lovia padahal bisa saja ia melewati Lovia tanpa harus bersentuhan. Karin hanya ingin sengaja melakukan hal itu sebagai bentuk ketidak sukaannya.

__ADS_1


"Kau pikir kau siapa ha? aku tak akan terpancing dengan mu. " Ucap Lovia menghentikan langkah Karin.


Membalikkan badannya menghadap ke Lovia. "Aku menantu dirumah ini. Apa kau lupa itu?" Karin mempertegas posisinya. Kau seharusnya tau diri hanya sebagai tamu dirumah ini. Dan aku peringatkan satu hal. Bagaimana pun keadaan Bastian saat ini cepat atau lambat ia akan mengingat siapa Dini yang sebenarnya. Dan jika saat itu tiba bersiaplah untuk merasakan sakit dan hancur secara bersamaan. Karena pada saat itu tidak akan ada yang bisa kau lakukan." Peringat Karin.


"Dengan senang hati aku akan menantikan itu tapi sebelum itu terjadi aku akan lebih dulu menjauhkan Dini dari Bastian." Ucap Lovia tidak terpengaruh oleh peringatan dari Karin.


"Kita lihat saja nanti. " Karin kemudian pergi meninggalkan Lovia menyusul Bastian yang sudah berada di kamarnya.


"Makasih Bas. " Karin menghampiri Bastian yang sedang memakaikan selimut untuk Sio. "Kenapa? " selidik Karin memperhatikan Bastian yang sedang memandangi foto pernikahannya dengan Selo.


"Kau ingat dia? " tanya Karin yang dibalas gelengan kepala dari Bastian. "Dia adalah suami ku. Saudara kandung mu. Biasanya kau memanggilnya dengan sebutan abang." Jelas Karin.


Bastian beralih menoleh kearah Karin. "Dia sekarang berada diluar kota. Dan setelah mendengar kabar kepulangan mu ia sepertinya akan mempercepat jadwal kepulangannya minggu ini." Terang Karin lagi.


"Aku harap kau berusaha untuk mengingat siapa dirimu. " Pinta Karin. Bastian hanya tersenyum kaku mendengarkan perkataan Karin.


"Aku ingin melihat kau dan Dini bahagia. " Memukul bahu Bastian dengan pelan. Bastian sedikit terkejut melihat kakak iparnya itu.


"Pergilah lain kali kita akan mengobrol lagi. " Suruh Karin. "Apa? " Bastian belum terbiasa dengan sikap Karin. "Ini sudah malam kau istirahat lah. " Memperjelas ucapannya kepada Bastian.


"Kalau begitu aku keluar. " Ucap Bastian.


"Umm. Kamar Dini tidak dikunci. " Karin menggoda Bastian.


"Apa? " Bastian berbalik kembali.


"Aku hanya bercanda. " Ucap Karin santai.

__ADS_1


__ADS_2