
"Bas, gelang aku tadi mana? kok ga ada." Tanya Dini sambil membuka satu persatu kantong belanjaan mereka.
"Coba cari lagi paling juga disitu aja!"
"Ngak ada loh bas, kemana ya? apa ketinggalan ya?"
"Masa sih?" selidik Bastian.
"Kayanya ketinggalan deh di tempat penjulnya tadi soalnya gak ada disini. " Terang Dini.
"Kalau gitu aku kesana dulu, kamu tunggu disi aja ya!" Terang Bastian.
"Aku ikut aja deh!"
" Gak usah aku sendiri aja kamu disini aja aku bentar aja kok."
"Ya udah deh kalau gitu, kamu hati-hati ya!"
"Ia, aku jalan dulu!"
Bastian akhirnya memutuskan kembali ke tempat dimana mereka membeli gelang tersebut, dan dugaannya itu pun tepat. Setelah mendapatkan kembali gelang tersebut ia pun meninggalkan tempat itu dan ia hendak pulang kehotel namun diperjalanan pulang ketika ia ingin menyebrang jalan raya tanpa ia perhatikan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Bruk!
kecelakaan itu pun tak terelakkan lagi, mobil tersebut menabrak Bastian sehingga ia terpental jauh dan kepalanya terbentur dengan keras sehingga mengeluarkan banyak darah.
Seketika ia tak sadarkan diri lagi dan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut pun segera berlari mendekati Bastian yang tergeletak tak sadarkan diri di tengah jalanan tersebut.
Seorang gadis turun dari dalam mobil yang baru saja menabrak Bastian tadi dan menghampiri para kerumunan yang melihat peristiwa tersebut.
"Permisi. Gadis itu menerobos kerumunan.
" Tolong bantu saya mengangkatnya ke mobil saya biar saya yang membawa orang ini ke rumah sakit. " Terang gadis tersebut dengan panik.
Setelah Bastian berada didalam mobil, gadis tersebut berterima kasih kepada orang-orang yang membantunya mengangkat Bastian tadi dan ketika ia hendak masuk kedalam mobil seseoarang menghentikannya.
"Permisi nak! sepertinya ini milik orang yang barusan anda tabrak." Terang pria paruh baya yang berada di lokasi kejadian tersebut.
"Oh, terima kasih pak." Sahutnya lalu mengambil bungkusan tersebut dan segera ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1
*Dirumah sakit*
Dokter sedang menangani Bastian di ruang UGD sementara gadis yang bernama lovia arnaya kusumo, gadis yang sudah menabrak orang yang sedang ditangani oleh dokter yaitu Bastian.
Dokter yang menangani Bastian tak kunjung keluar dari ruangan tersebut sementara lovia merasa takut jika terjadi sesuatu, dalam pikirannya bagaimana ia memberitahukan kepada orang tuanya perihal ia menabrak seseorang dan menyebabkan orang tersebut terluka parah.
Sementara ditempat lain Dini mulai cemas karna Bastian tak kunjung datang. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Bastian namun sayangnya Bastian pergi tanpa membawa ponselnya.
"Astaga" ponselnya tertinggal, semoga saja tidak terjadi sesuatu pikirnya mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Hari mulai sore namun Bastian tak kunjung datang, akhirnya Dini menyusulnya ketempat dimana mereka membeli gelang tersebut.
"Permisi!"
"Ia, silahkan mau cari yang mana? " tanya pedagang tersebut.
"Maaf, saya mau tanya apa tadi ada laki-laki yang datang kesini untuk mengambil barang belanjaan kami yang tertinggal disini?"
"Oh, ia tadi masnya udah ambil barangnya kesini. " Tutur pedagang itu.
"Begitu rupanya, kalau gitu saya permisi. Terima kasih. " Ucapnya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dini bejalan menyusuri tempat di sekitar itu berharap menemukan sosok Bastian ada di sana namun ia tak kunjung menemukannya dan ia segera pulang ke tempat mereka menginap, berharap orang yang ia cari sudah pulang terlebih dahulu.
Hari semakin gelap namun tak ada tanda-tanda keberadaan Bastian, sampai larut malam Dini menunggu Bastian namun tak kunjung datang menghampirinya di kamar tempat mereka menginap.
Rasa bahagia yang sempat ia rasakan seketika hilang kini hanya rasa cemas, khawatir yang ada dalam pikirannya
"Bagaimana ini? apa aku kasih tau mama papa aja ya? tapi ntar mereka jadi khawatir? aahh! " gumamnya yang merasa frustasi memekirkan apa yang harus ia lakukan.
Akhirnya ia memutuskan untuk memberitahukan masalah yang tengah ia hadapi kepada kedua mertuanya, ia mengambil ponselnya dan menghubungi mereka.
"Halo." Sahut dari orang yang ia hubungi.
"Halo mah." Ucap Dini dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Kamu kenapa nak?" selidik Mita.
"Mah. Bastian."
__ADS_1
"Ia kenapa dengan Bastian? coba kamu tenang dulu, ceritain sama mama ada apa?"
"Bastian gak tau kemana mah, dari siang tadi sampe sekarang dia gak balik ke penginapan, aku takut terjadi sesuatu mah." Terang Dini menjelaskan yang terjadi.
"Coba kamu telpon Bastian dan tanyakan dia dimana sekarang."
"Tapi mah Bastian pergi ngak bawa ponselnya, Dini juga sudah cari disekitar hotel dan.." Ucapan Dini terhenti mengingat Bastian pergi untuk mengambil gelangnya yang tertinggal di tempat mereka membelinya.
"Dan apa nak?" selidik Mita
"Sebenarnya tadi Bastian pergi untuk mengambil barang belanjaan kami yang tertinggal di tempat kami berbelanja, namun Dini gak tau mah kenapa Bastian belum kembali sampai sekarang. Dini juga sudah mencari ketempat itu tapi Dini gak nemuin Bastian disana. Dini bingung mah harus gimana?"
"Kamu tenang dulu ya sayang, kita tunggu sampai besok pagi. Kalau besok pagi dia belum balik kabarin mama biar mama dan papa datang kita sama-sama cari Bastian. Sekarang kamu jangan nangis lagi dan kamu istirahat ya ini udah malam."
"Tapi mah, gimana Dini bisa istirahat sementara Bastian gak tau dimana?"
"Ia mama tau sayang tapi kamu juga harus istirahat biar besok kamu bisa cari Bastian. Kalau kamu gak istirahat trus sakit yang ada kamu gak bisa dong cari Bastian besok."
Dengan berat hati Dini pun mengiakan ucapan mama Mita.
"Ia mah, Kalau gitu Dini istihat dulu."
"Ia sayang jangan lupa besok kabarin mama ya!"
"Ia mah."
Dini mengakhiri telponnya dan meletakkan ponselnya diatas tempat tidur.
"Bagaimana aku bisa tidur malam ini sementara Bastian tidak tau dimana, semoga saja dia baik-baik saja." Gumam Dini didalam hatinya.
Ia mencoba menutup matanya berharap dapat tertidur walau hanya sebentar saja namun tak kunjung berhasil, semakin ia mencoba memejamkan matanya semakin ia merasa takut jika sesuatu terjadi kepada Bastian.
"Bas, kamu dimana? aku disini sendiri aku takut jika sesuatu terjadi bagaimana aku bisa tanpa mu. Aku salah mengizinkan mu pergi sendiri, seharusnya kita pergi bersama maka kamu takkan hilang seperti saat ini."
Dini menyalahkan dirinya sendiri namun semua itu tidak ada artinya lagi, apa yang sudah terjadi sekarang itulah kenyataannya. Sekeras apapun ia menyalahkan dirinya tidak ada artinya lagi karna kita tidak tau apa yang akan terjadi hari ini maupun hari esok.
-
-
__ADS_1
-
Bersambung