Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Hanya Ingin Dia


__ADS_3

Setelah Sintia dan ayahnya pulang, Hans menemui anak satu-satunya itu di kamarnya kenapa di depan temannya dia menjadi seperti itu, sangat tidak sopan siapa yang mengajarinya seperti itu?


Dengan langkah yang cepat Hans pun membuka pintu kamar Yuda dengan keras


Brak


"Kau apa-apa sih Yud?" tanya Hans sambil emosi kenapa dia tidak sedikit saja bersandiwara mengingat Ruslan adalah tekan kerja nya yang akan menguntungkan perusahaan nya.


Yuda bangkit dari tempatnya menatap ayahnya dengan wajah kesal, Yuda sangat kesal karena ayahnya selalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mengatakan apapun padanya.


"Apa-apaan ayah bilang? Seharusnya Yuda yang mengatakan hal itu? Kenapa dengan ayah?" tanya Yuda yang mengepalkan tangan menanti Hans dengan tajam ia sangat tidak rela jika dirinya harus meninggal kan Ana dan harus menikah dengan Sintia.


"Kau...!!!! Kau sudah tidak sopan, kau tau Ruslan itu sangat kaya jika kau menikah dengan anaknya maka perusahaan kita akan lebih maju lagi." Yuda tidak mengerti lagi dengan ayahnya kenapa ayahnya selalu saja membahas soal uang apa yang ada di pikiran ayahnya hanyalah uang bukan kebahagiaan anaknya?


"Dan apa ayah tidak memikirkan tentang perasaan anak ayah sendiri? Menikah itu dilandasi dengan dasar cinta bukan dasar uang ayah, Yuda kecewa dengan ayah, kenapa ayah selalu saja memaksakan kehendak ayah sendiri tanpa memperdulikan diriku? Katakan ayah kenapa?" tanya Yuda ingin tahu masih berbalut dengan emosi Yuda pun memunggungi tubuh ayahnya.


"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk mu." Yuda berdecak pekan.


"Yang terbaik untukku? Bukan Sintia wanita yang Yuda inginkan!" teriak Yuda membuat Hans yang sedari tadi bersabar sudah tidak bisa lagi menahan emisinya pasti yang Yuda inginkan adalah wanita miskin yang tempo hari dia usir.


"Lalu? Apa yang kau inginkan? Wanita miskin yang tempo hari kau bawa, dia itu bukan level kita, jika kau terus saja memaksakan dirimu lebih baik kau keluar saja dan jangan lagi kau injak kan kakimu lagi ke rumah ini." teriak Hans yang tidak sengaja di dengar Hesti istrinya.


"Ayah! Apa yang ayah lakukan? Kenapa ayah mengusir anak kita?" teriak Hesti yang tidak ingin jika anak semata wayang nya pergi meninggalkan rumah.


"Biarkan saya bu, biarkan dia menjadi seorang gelandangan di jalan.." teriak Hans yang segera keluar dari kamar Yuda.


"Yah..." teriak Hesti mencoba untuk membujuk suaminya agar tidak mengusir anaknya dari rumah.


Yuda yang sedari lama ingin keluar dari rumah ini pun segera langsung meninggalkan kamarnya tanpa membawa apapun. Ia tidak membawa fasilitas apapun dari rumah yang ia bawa hanya satu set baju yang melekat di tubuhnya.


Hesti pun mengejar suaminya, jika Yuda pergi bagaimana Yuda bahkan anak satu-satunya jika Yuda pergi apa yang akan mereka jelaskan pada keluarga Ruslan.


"Ayah, jangan begini... Ayah tau kan Yuda adalah anak kita satu-satunya. Jika ayah mengusirnya apa yang akan terjadi pada anak kita?" tanya Hesti.


"Cukup bu, lebih baik kau kembali ke kamarmu." teriak Hans masih di sulut dengan emosi.


Yuda sudah keluar dari tempat tinggal nya jaraknya mungkin hampir seratus meter. Dan kebetulan Bima masih berada di sekitar sini, Bima berteriak ke arah Bosnya.


"Bos, apa yang bos lakukan di sini? Kenapa bos tidak pulang?" tanya Bima ingin tahu.

__ADS_1


"Aku di usir oleh ayahku, dan owh iya antar kan aku ke apartemenku, aku sudah tidak ingin tinggal di rumah orang tuaku lagi mereka sudah mengusirku." jelas Yuda pada Bima.


Pantas saja Yuda berkeliaran di tengah malam tanpa tujuan yang jelas.


Bima menyuruh Bosnya untuk masuk ke dalam mobil, setelah beberapa saat kemudian mereka sudah berada di apartemen nya, sebenarnya apartemen ini di tinggali oleh Bima.


Yuda menyuruh Bima tinggal di apartemennya karena jika apartemennya tidak di tinggali maka ada seseorang yang berniat tidak baik nantinya.


"Bos, coba bos ceritakan kenapa bos bisa di usir dari rumah? Apa bos bertengkar lagi dengan Tuan?" tanya Bima yang mulai kepo akan apa yang di alami bosnya.


"Kau ini kepo sekali," ucap Yuda sambil tersenyum.


"Ya aku di usir dari rumah dan bodohnya aku tidak mengambil apapun dari rumah," lanjut Yuda yang langsung tertawa.


"Masa? Tapi ponsel bos kan masih ada pada saya nih?" ucap Bima yang langsung menyodorkan ponsel milik bosnya yang tadi jatuh tanpa bosnya sadari.


"Kenapa ponselku ada padamu?" tanya Yuda ingin tahu.


"Tadi saya tidak sengaja menemukannya saat bos tergesa-gesa ingin menemui Ana." Yuda mengangguk mengerti.


Di tempat lain pasangan suami istri itu sudah sampai di tempat bulan madu mereka.


"Fia," ucap Faam.


"Iya kenapa?" tanya Fiani ingin tahu.


"Kau janji tidak akan meninggalkan diriku kan?" tanya Faam yang tiba-tiba menanyakan hal yang tidak pernah di bayangkan Fiani.


"Jika suatu saat aku tiba-tiba menghilang apa kau akan mencari ku?" tanya Fiani yang mengalihkan topik pembicaraan.


"Fia... Kau belum menjawab pertanyaan dariku, katakan apa kau janji tidak akan meninggalkan diriku?" Fiani tersenyum.


"Suatu saat pasti aku akan meninggalkan dirimu dan bukanlah setelah ini kau juga akan meninggalkan diriku? Kau pasti meninggalkan diriku saat kau akan kerja," Faam tersenyum kenapa Fiani malah bercanda. Padahal dia hanya ingin kepastian darinya eh dianya malah bercanda.


"Hahaha, kau ini bukan itu yang aku maksudkan sayang... Kau ini lucu sekali hahaha.. Ya sudah kita istirahat di kamar yuk." ucap Faam yang segera menggendong Fiani menuju kamar mereka.


Fiani tersenyum menatap rona wajah suaminya. Apa yang terjadi ketika Faam sampai tau jika dirinya sakit. Apa yang akan dia rasa kan, apa dia akan menangis? Atau dia akan mencari dirinya atau malah sebaliknya.


Semoga saja dia tidak mencarinya setelah Fiani membuat Faam sakit hati.

__ADS_1


"Sayang kenapa kau menatapku seperti ini," tanya Faam masih mengendong Faini menuju kamar mereka.


"Idih, siapa yang menatapmu kau itu terlalu pede suamiku,"


"Awas saja nanti aku akan membuat mu kelelahan." ucap Faam tersenyum renyah


"Dasar mesum." lanjut Fiani.


"Mesum sama istri sendiri enggak boleh?" tanya Faam yang segera membaringkan tubuh Fiani kini Faam sudah berada di atas tubuh Fiani.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Fiani pada Faam.


"Ya melakukan sesuatu yang biasa di lakukan pasangan suami istri lah apa lagi." Fiani tersenyum.


"Sekarang?" tanya Fiani meyakinkan.


"Ya iyalah, aku ini juga laki-laki yang mempunyai hasrat pada seorang wanita." ucap Faam yang tanpa ragu mencium pipi Fiani.


"Faam!" teriak Fiani namun Faam malah ******* bibir Fiani, Walau bukan kali pertama mereka melakukan ciuman panas itu tapi keduanya sangat menikmatinya.


Faam membuka kancing kemeja Fiani awalnya Fiani tidak mengizinkannya dia malu jika bagian tubuhnya di lihat oleh suaminya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Fiani.


Faam melepas satu demi satu kancing kemeja yang menempel di baju Fiani.


Dia melihat ada dua gundukan besar dia segera memainkan gundukan itu membuat Fiani mendesah.


Faam segera melepaskan bra yang di gunakan untuk menutupi dua gundukan besar itu, memainkannya dengan lidahnya dan memberikan tanda, Fiani menikmati permainan Faam.


Faam membuka kaos santai yang dia pakai Fiani terkejut melihat bentuk badan suaminya yang sangat atletis.


"Bolehkah aku melakukannya sekarang sayang?" tanya Faam, Fiani hanya mengangguk.


"Tapi bolehkah aku memainkannya sebentar?" tanya Fiani membuat dia bola mata Faam membulat.


"Ah sayang.. tapi..." Faam ragu tapi jika ia menolak sama saja dengan mengecewakan Fiani jadi dia hanya mengangguk dan duduk dengan nyaman.


"Fiani sudah jongkok dia melihat benda yang baru pertama kali dia lihat, bentuknya sangat lah panjang, Faam menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


Fiani segera memasukkan mulutnya dan memainkan benda yang seperti sebuah pistol itu, Faam mendesah keenakan. Ia tidak tahan lagi ia pun segera menggendong Fiani dan sekarang mereka berdua sudah polos posisi mereka pun sama seperti awal.


__ADS_2