
Faam sudah berada di suatu tempat dia juga sudah janjian dengan Yuda yang lebih tepatnya ia hanya ingin tahu apa maksud dari ini semua, apa yang sebenarnya Fiani ndan Yuda rencanakan.
Tak berselang lama Yuda pun datang wajahnya di tekuk bukannya berhasil mendapatkan hati Ana lagi lagi Ana menolaknya karena ayahnya yang tidak setuju dengan hubungan ini.
Faam yang tadinya ingin memarahinya pun mengurungkan niatnya karena dia melihat Yuda yang nampak diam saja nih dia lagi ada masalah apa sampai mukanya begitu lecek seperti cucian kusut.
"Apa yang kau ingin bicarakan, apa tidak bisa menunggu sedikit lagi apa?" tanya Yuda dengan nada malasnya.
"Biasanya jika aku mengajakku bertemu pasti kau akan semangat lah ini enggak bukannya semangat tapi lemes banget jadi orang ada apa? Jika kau ada masalah cerita padaku." Yuda menghembuskan napas kasar dan memandangi Faam dengan malas.
"Bagaimana aku tidak seperti ini, dia menolak ku lagi dengan alasan jika aku ini bukanlah laki-laki yang baik, memang aku bukanlah laki-laki yang baik tapi aku pasti akan bisa membahagiakan dirinya bukan?" Faam tersenyum ternyata ini semua menyangkut tentang cinta dia kira apaan tapi memangnya Yuda mencintai siapa? Apakah dia mengenalnya atau tidak?
"Hahaha ternyata kau masih mengejar dia rupanya, hey aku bilangin sama kamu jangan lah kau membuang harga dirimu hanya karena cinta." Yuda memang tidak seharusnya berbicara mengenai hal ini pada cecunguk rese ini bukannya memberikan solusi yang ada malah dia terus menerus di ejek olehnya.
"Aku dan dia ini sebenarnya saling mencintai, tapi aku yang salah, aku yang membuatnya membenci diriku."
Faam yang tadinya hanya bercanda dengan ucapannya menjadi merasa sangat bersalah karena ketidak sengajaan nya yang menyinggung Yuda.
"Kenapa bisa seperti itu bukanlah kah kau dan dia tidak apa-apa? " tanya Faam sambil menyeruput minuman yang ada di hadapannya.
"Sudahlah kau pasti tidak tau apa yang sedang aku rasa kan jadi jangan terus menerus bertanya lagi, sekarang katakan apa yang membuat mu mengundang ku untuk menemui mu jika tidak penting aku pulang saja." Faam terkekeh mendengar ucapan sahabatnya ini bagaimana cara mengatakannya ya.
__ADS_1
"Kenapa kau malah diam bukanlah tadi kau mengatakan jika ingin mengatakan sesuatu padaku tapi setelah aku sampai kenapa kau malah diam?" tanya Yuda yang ingin tahu apa yang ingin di katakan oleh sahabatnya ini kenapa dia seakan ragu dengan dirinya sendiri.
"Apa kau akan mengatakan hal yang sebenarnya jika aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Faam dengan nada sedikit ragu.
"Ya jelas aku akan mengatakan hal yang sejujurnya, apa lagi kau kan sahabatku, sekarang apa yang ingin kau ketahui tentang diriku, apa ini mengangkut tentang istrimu?" Faam membulatkan mata kan pasti Yuda juga tau kan ternyata hanya dia yang tidak tau mengenai hal ini.
"Kan kau pasti tau jika istriku sedang sakit bukan, kenapa kau merahasiakan nya dariku?" tanya Faam dengan nadanya yang meluap.
"Tenang dulu Am... Tenang sebenarnya aku juga tidak ingin merahasiakan apapun dari mu apalagi ini menyangkut tentang istrimu, tapi aku terpaksa kau harus percaya padaku, aku terpaksa melakukan ini karena ini juga istrimu yang menyuruh diriku, karena dia tidak ingin melihatmu terluka karena penyakitnya yang serius, aku bukannya tidak ingin jujur padamu Am tapi jika aku mengatakan hal yang sejujurnya aku pun tidak akan pernah bertemu dengan Ana, kau ingin tahu kan gadis yang aku cintai ya itu adalah Ana, asisten pribadi Istrimu." Faam bingung harus bagaimana ternyata ini lah yang membuat Yuda bahkan tak berani mengatakan apapun padanya karena ancaman Fiani ternyata.
"Seharusnya kau bilang!" teriak Faam membuat Yuda tau memang seharusnya dia mengatakan hal yang sejujurnya.
"Sekarang bagaimana!" tanya Faam membuat Yuda malah kebingungan bagaimana apanya?
"Bagaimana apanya, aku pun tidak bisa melakukan apapun mengingat dokter pun tidak bisa berbuat apapun bahkan obat dan operasi jika di lakukan tidak akan berarti apa-apa. Sekarang tenangkan lah dirimu."
Faam masih mengepalkan tangannya ingin sekali menghajar orang yang ada di hadapannya tapi bagaimana lun juga dia juga di ancam oleh istrinya. Dan semua ini bukanlah kesalahan Yuda.
"Apa?" Faam terduduk lemas mendengar yang baru saja keluar dari mulut Yuda.
"Iya, aku sudah berulang kali ke rumah sakit bersama dengan istrimu, jika kau ingin menghukum ku atau kau ingin menghajar ku baiklah aku akan menerima nya karena kebodohan diriku." Faam menatap Yuda dengan tatapan putus asa.
__ADS_1
"Aku tau ini semua bukan kesalahan dirimu, aku saja yang tidak pecus menjaga istriku, ini semua bukan kesalahan mu jadi kau tidak perlu seperti ini." Yuda menepuk nepuk pundak sahabatnya bagaimana caranya dia menenangkan pikiran sahabatnya ini.
"Sekali lagi aku minta maaf, dan sebenarnya tadi Fiani maksud ku istrimu mengajak ku untuk ke rumah sakit lagi, katanya obat nya habis." Yuda memandang ke arah Faam pasti nih biang keroknya karena apa kata Fiani obatnya hilang sebagian. Tidak salah lagi pasti Faam yang kepo dengan obat Fiani.
"Kau tidak mengambilnya karena penasaran bukan? Kasihan dia walau hanya untuk peredam rasa sakit jika penyakitnya kambuh dia pasti." Yuda tidak melanjutkannya karena Faam yang masih tidak percaya bahkan dia memandangi bungkusan obat yang memang kemarin ia sengaja mengambilnya tanpa memberi tahu kan pada Fiani ya jelas lah dia kepo kan obat itu sangat banyak masa hanya sakit biasa obatnya sebanyak itu.
"Memang benar aku yang mengambil obat itu karena penasaran, tapi aku tidak tau kan aku asal ambil." Yuda mendengus kesal bagaimana mungkin dia seceroboh itu apa dia tidak tau bagaimana jika istrinya tiba-tiba kambuh? Hah Faam Faam.
"Kau ini, yang kau ambil itu obat peredam rasa sakit, pasti dia mengeluh kesakitan kan, kau ini. Lalu kenapa kau malah di sini apa kau tidak takut jika istrimu sendirian di rumah apa kau tidak menghawatirkan dirinya."
"Aku jelas-jelas menghawatirkan dirinya, aku tidak ingin sampai sesuatu terjadi padanya, memang aku sangat ceroboh tapi bukan itu maksudku aku hanya penasaran saja kok." Yuda memukul pundak Faam nih anak selalu saja seperti ini.
"Lalu kenapa jika kau menghawatirkan dirinya kenapa kau meninggalkannya sendirian, keadaan istrimu itu sangat lah lemah jika kau tau, dia sering mengeluh sakit kepala padamu kan, jika dia mimisan lagi aku hanya menyarankan kau harus membawanya ke rumah sakit." terang Yuda.
"Aku ini suaminya aku pasti lebih tau." Yuda menggeleng pelan ah dasar Faam katanya khawatir ini malah meninggalkan istri nya hanya karena penasaran.
"Aku juga tau jika kau adalah suaminya tapi istrimu sakit parah apa kau tidak khawatir padanya, sekarang pulanglah, dan aku akan mengatakan pada Fiani untuk membatalkan perjanjian antara aku dengan dirinya. Tidak apa-apa lagi lah jika aku tidak bisa bertemu lagi dengan Ana." Yuda pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Hey aku bisa kok membantumu untuk mendapatkan Ana, aku tidak marah sama kamu malah aku berterimakasih karena kau mau menjaga istriku ya walau karena keterpaksaan." ucap Faam.
"
__ADS_1