
Ahmad dan Nur sudah seperti seorang obat nyamuk diantara Faam dan Fiani bagaimana tidak dari tadi dia terus mengikuti kemana pun perginya Faam dan Fiani.
"Sayang seperti nya dari tadi nih mobil berat amat." ucap Faam yang menyindir dua jin yang ada di belakang kemudi.
"Nih dasar Faam nyindir mulu kerjaannya, sudah tahu kami berdua ikut." pekik Nur memandang Ahmad dengan tatapan lucu.
"Nih dasar mau ngelawak apa bagaimana sih, tuh muka bisa di kondisikan apa tidak?" tanya Ahmad pada Nur yang sangat lucu karena terlihat aneh saat memandang Ahmad.
"Berat? Apanya yang berat sayang, tidak mana mungkin mobil yang kamu kendarai ini berat." Faam kembali melirik namun kali ini dia memandang kaca sepion depan untuk melihat dua jin yang tanpa di suruh pun mereka akan ikut.
"Masa kamu tidak tahu itu sayang, dan lagian ternyata kamu membawa dua obat nyamuk sekaligus." Fiani melirik ke arah belakang pantas saja suaminya mengatakan hal itu ternyata dua jin ini sangat rese udah ada di dalam mobil.
"Lah ternyata dua jin rese ini ikut rupanya, dasar tanpa aku minta menang mereka selalu saja menghawatirkan diriku." senyum Fiani mengembangkan ternyata dua jin nya ini selalu ada untuknya itulah yang membuat dia tidak takut terjadi apapun.
"Haduh kamu ini sayangku, mereka kan memang selalu mengikuti diriku, lalu memangnya mereka itu menganggu apa bagaimana sih?" tanya Fiani tidak merasa jika kehadiran kedua jin nya adalah obat nyamuk yang hidup walaupun mereka coba padamkan obat nyamuk itu akan terus hidup.
"Ini istriku peka apa tidak sih, jika kedua jin ini ikut dengan diriku dan Fiani kan sama saja aku tidak bisa bermesraan dengan Fiani lah Fiani istriku rupanya tidak paham, memang bumil kadang nyebelin." gerutu Faam di dalam hati Faam takut jika dia bersuara Fiani akan marah padanya kan dua jin itu kesayangan dari Fiani. Biasanya kan satu kenapa nambah satu lagi.
"Sudah lah sayang, jangan merengut, keduanya kan hanya mengawasi diriku, bukan berarti mereka akan menganggu kemesraan kita berdua, tapi sayang seperti nya kamu ini salah belok deh, bukannya kita harus berjalan ke kiri?" Faam terkekeh mendengar ucapan istrinya bagaimana mungkin Faam lupa kali ini dia tidak ingin mengunjungi danau itu dulu Faam ingin berpiknik tentunya berduaan dong dengan istrinya.
Tanpa dua jin ini lah jadi lewat sini saja dulu.
__ADS_1
"Ini bukannya tempat menuju bukti cinta, kamu ini memang sangat tahu sayang." Fiani melingkar kan tangannya ke pergelangan tangan suaminya dan bersandar di pundak suaminya.
Suasana yang sangat ia inginkan sejak dulu, rasanya ia ingin berkunjung ke mari bersama seseorang yang sangat dia cintai dan rupanya Faam mengetahui keinginan dari dirinya.
Dulu saat ia masih bersekolah ibunya pernah bercerita tentang bukit cinta. Bukit cinta sangatlah indah karena bukit cinta terletak di dataran tinggi dengan di himpit oleh air terjun yang airnya langsung dari bebatuan.
Sangat indah saat berada di puncak nya kita dapat melihat pemandangan dari atas, banyak yang datang ke bukit cinta untuk mengunci cintanya di gembok cinta dan membuang kunci itu tepat di danau di depan nya.
Suasana di bukit cinta sangat lah sejuk dan bahkan aroma asli masih tercium banyak sekali pepohonan yang menjulang tinggi, langit yang kebiruan dengan awan putih yang mengitarinya.
Fiani hanya bisa melihat pemandangan yang asri di dalam mobil, Faam tersenyum dia sudah lama tidak datang ke bukit cinta ternyata suasana di tempat ini memang tidak berbeda dari dulu, masih alami dan kenapa Faam tidak terpikir kan sampai ke sini kenapa dia tidak mengajak istrinya dari dulu kesini?
"Awan di sini masih sama, pelangi di sini masih sama, suasana di sini sangat lah sama, yang tidak sama hanyalah kenangan ku dengan istriku, tidak ada cara lain selain aku menunggu, tidak ada cara lain bagiku untuk tidak mengatakan dan mengungkapkan cintaku, ternyata aku sudah berada di sini bersama orang yang dulu tidak menyadari jika aku menyayangi dirinya namun ternyata kebencian nya rupanya sudah menjadi cinta. Aku sudah berjanji dan aku juga ternyata akan menepati janjiku untuk datang ke bukit cinta menemui orang yang aku sayang. "
"Nih Faam membawa Fiani ke bukit cinta ternyata ini juga ingin mengunjungi seseorang yang sangat ia sayangi, namun rupanya orang itu sudah lama pergi dari dunia ini."
"Maksud mu dengan pergi dari dunia ini apa Mad?" tanya Nur yang ingin tahu apa alasan Faam mengajak Fiani untuk datang ke bukit cinta.
Apakah dia ingin menemui seseorang itu lagi tidak bisa bicara, tidak bisa melihat dan bahkan tidak bisa mendengar, apa dia sudah merindukannya lagi?
"Apa kamu lupa, di sebelah bukit cinta dulunya Faam juga tinggal di sekitar sini dan nenek dari Faam meninggalnya tidak jauh dari sini, mungkin hanya ratusan meter jaraknya."
__ADS_1
"Masa lalu Faam sangat lah kelam, sangatlah kejam, selain dia hanya hidup bersama adiknya Faam pun hanya mempunyai neneknya, pertanyaan Nadia itu siapa bukan? Nadia adalah adik dari Faam.
" Kamu tahu tidak sayang, hal yang sebenarnya tidak kamu ketahui sampai hari ini?" tanya Faam.
"Apa itu sayang?" tanya Fiani sangat penasaran.
"Aku sebenarnya bukan anak dari ibu dan ayahku sekarang yang aku miliki hanyalah nenek, sebelum kita pergi ke bukit cinta kita sapa nenek dulu yuk."
Fiani tersenyum siapa pun Faam dan dari mana asal nya Faam sangatlah tidak penting baginya, yang terpenting adalah Faam adalah laki-laki yang sangat pengertian pahala sikap Fiani selama ini seperti anak kecil yang membutuhkan perhatian dan Faam tidak pernah memarahinya Faam hanya tersenyum dan terkadang mentertawakan dirinya, bersikap lembut layaknya tidak terjadi sesuatu padahal mungkin ucapannya sangat menyakiti hati Faam.
"Tidak penting lah sayang siapa sebenarnya dirimu, yang terpenting adalah kamu orang yang selalu mencintai ku dan menyayangiku apa adanya, aku sangat beruntung memiliki suami seperti dirimu, bahkan kamu tidak pernah sekali pun membenci diriku, kamu bahkan tidak memarahi diriku karena perbuatan ku yang kekanak-kanakan."
"Apakah kamu tahu, nenek ku selalu mengatakan jika nanti aku mempunyai seorang istri aku tidak boleh sampai kasar padanya, aku tidak boleh bersikap terlalu tidak sopan pada wanita karena tanpa wanita kita tidak dapat mencurahkan hati dan perasaan kita, mencurahkan itu tidak berarti melampiaskan nya loh."
"Itu sama saja sayang,"
"Ya tidak lah, jika melampiaskan itu hanya menuruti hawa nafsu saja, jika mencurahkan itu membuat dirinya merasa nyaman dengan kehadiran diriku."
Gombalan seorang manusia ketika cinta sudah melebihi nafsu.
Maaf baru sempat up karena susah sinyal 😔
__ADS_1
Makasih yang sudah mampir dan jangan lupa like komen dan follow IG autor ya 😄 @ambar0598