Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Beri Aku alasan


__ADS_3

Fiani yang mendengar ucapan dari Dilan pun hanya bisa terkekeh, memang sih seharusnya dia tidak melakukan hal itu.... Tapi....


Mau di bagaimana lagi, orang itu ke memang harus di beri pelajaran biar kapok.


Ana segera masuk dia menggendong anaknya mungkin usianya baru satu tahun.


"Maaf Nona, ada yang ingin bertemu dengan nona Di bawah." Fiani mengangguk pertanyaan dari Dilan juga belum di jawab ini kok ada tamu?


"Tamu? Siapa?" tanya Fiani yang ingin tahu karena tidak mungkin ada orang yang dateng ke rumahnya jika tidak penting penting banget, ada apa? Apa mungkin wanita gila itu yang datang, tapi tidak lah mungkin dia akan memunculkan wajahnya, sekedar minta maaf saja dia sangat amat gengsi.


Boro-boro minta maaf yang ada marah marah tidak jelas.


"Dua orang pria, tapi.... saya tidak kenal Non," Fiani bingung dua orang pria Ana dana sampai tidak kenal siapa? Apa mungkin partner kerja, tapi tidak mungkin jika partner kerja Ana pasti tahu tapi ini tidak.


"Kamu yang benar saja Ana, masa kamu sendiri tidak tahu?" Ana menggeleng.

__ADS_1


"Dilan... Kamu sama Tante Ana saja ok."


Ana bingung nih jika orang tidak benar bagaimana?


"Nona ingat kata Tuan. Hari hati jangan main kekerasan. Ingat nona kemarin saja tangan orang Nona patahkan loh." Fiani tersenyum saja soal tangan patah mah itu sengaja memangnya kenapa dia berulah tanggung sendiri akibatnya.


"Hehe... Jangan bahas tentang itu dong itu mah khilaf... " Ana memandang Dilan.


"Tuh mama kamu gila kan," Dilan hanya tersenyum saja.


Fiani mempersilahkan duduk dua orang pria yang tidak kenal.


"Silahkan duduk... Sebenarnya apa yang anda berdua lakukan!" Yusuf bingung harus mengatakan apa!


"Apakah anda pernah melihat wanita ini... " Jery memperlihatkan sebuah foto. Fiani terdiam bukan kah dua orang ini yang ada di pemakaman kemarin, kenapa dia bisa ada di tempat ini...

__ADS_1


Fiani mengangguk, memang dia kenal karena wanita ini adalah ibu dari Dilan yang sudah meninggal dia tahu karena sebelumnya dia pernah melihat wanita ini saat pemakaman.


"Wanita ini adalah ibu dari salah satu anak angkat ku, Namanya Dilan." Yusuf terdiam salah satu dari anak angkatnya namanya Dilan.


"Setelah sekian lama aku mencari.... Ternyata ayah menemukan dirimu, ayah akan terus melindungi dirimu nak... Namun nampaknya kamu lebih bahagia bersama dengan keluarga ini ayah tidak ingin membuat mu kecewa lagi, jadi ayah akan meninggalkan dirimu, pada saatnya ayah akan kembali menemui dirimu lagi nak."


"Memangnya anda ini siapa? Bukan kah kamu itu orang yang saya temui saat di pemakaman kemarin?" Yusuf mengangguk saja.


"Tapi tunggu.... Apa hubungannya anda ini dengan wanita itu?" tanya Fiani yang mulai merasa salah satu dari mereka adalah keluarga dari wanita itu tapi siapa?


"Foto itu istri saya. Lima tahun lalu dia menghilang karena di culik orang. Saya sudah lelah mencari nya. " Fiani jadi takut jika Dilan di ambil bagaimana dengan Faam suaminya, suaminya sudah terlanjur sangat sayang dengan anak nya itu.


"Tapi tenang, kedatangan saya di sini bukan untuk mengambil anak saya, saya hanya ingin melihat anak saya saja sebelum saya pergi ke luar negri, jika anak saya bersama saya nanti dia akan terkena musibah. Saya akan biarkan dirinya di sini." Fiani terdiam apa alasan nya kenapa dia tidak membawa anaknya tapi tidak apa lah.


"Tapi anda kemana selama ini?" Yusuf diam saja.

__ADS_1


__ADS_2