
Fiani, Ana dan Wulan sudah siap dengan dtes cantik mereka.
"Hadeh, buat apa juga dandan cantik cantik, kan cuma mau menemui nenek lampir saja." pekik Wulan di sambut senyuman oleh Fiani.
"Sudahlah, kita sudah di tunggu oleh Tuan." ucap Ana yang segera melangkah pergi di ikuti Fiani dan Wulan.
Faam sudah menunggu mereka untuk keluar pokoknya dia hanya ingin menjenguk mantan pacar istrinya setelah itu biarpun wanita itu memohon ataupun berlutut di kakinya dia tidak akan pernah menemui nya.
Bagaimana mungkin wanita itu datang dan malah membuat keributan.
Bukannya menyadari kesalahan nya ini malah menyalahkan istrinya atas semua perbuatan orang lain.
Seharusnya dia punya malu dikit.
"Apa kamu memang yakin ingin menjenguk mantan pacar ku yang tidak aku ingat itu?" tanya Fiani membuat Faam tersenyum.
"Suamimu ini hanya ingin menjenguk orang yang sakit saja kok. Kamu tahu kan suami mu ini sudah sakit hati karena ucapan wanita itu jadi dia nanti jika datang ke mari lagi dan bersikap seperti itu lagi maka satpam akan menendangnya keluar." Wulan tersenyum owh pantas saja cowok rese ini mengizinkan istrinya untuk menemui mantan pacar istrinya ternyata alasannya cukup simpel saja.
"Rasain tuh nenek Lampir dia tidak akan berbuat apa pun lagi sekarang."
"Baiklah aku mengerti." ucap Fiani yang segera masuk ke dalam mobil.
Kedua wanita itu pun juga sama bergantian masuk ke dalam mobil dan Faam berada di depan bersama dengan Aldo supir pribadi istrinya.
"Wulan? Kamu tahu kan jalan menuju rumah...Ah bagaimana yan mengatakan nya." tanya Faam malah bingung sendiri karena dia tidak ingin menyebut nama mantan pacar istrinya itu dia sangat cemburu kali ini.
"Iya tahu kok, dekat dengan rumah Fiani dulu hanya saja nanti ada gang kecil belok kanan."
"Hah bisa bisanya kita harus berjalan kaki!" dengus Faam.
__ADS_1
"Tidak, itu rumah ku, yang rumahnya Hikmal tepat di kiri jalan dekat SMP Merdeka. " terang Wulan.
"Aldo tahu tidak tempat itu?" tanya Faam pada sulit pribadi Istrinya.
"Tahu tuan, tenang jika arah sana saya sudah tidak asing lagi, karena SMP saya memang di sana. Jadi tuan santai saja tidak akan nyasar lagi."
"Memang kerjaan kamu nyasar terus kok Do." pekik Fiani yang sudah tahu jika supir nya itu selalu saja salah jalan namun itu hanya alasannya saja salah jalan dia hanya ingin beristirahat sejenak di warung mpok Iyem yang mempunyai anak gadis cantik.
Aldo tersenyum lebar kan jika tersasar kan seperti biasa bisa pacaran dan Aldo selaku supir hanya bisa menjadi obat nyamuk.
Nasib memang nasib.
Hehe curhat ðŸ¤.
"Tapi Nona, siapa yang biasanya suka nunjukin arah yang salah kalau tidak malah sebaliknya?" tanya Aldo terkekeh namun tidak memandang wajah Nona Fiani tidak berani soalnya ada Tuan Faam yang super duper cemburu jika menyangkut soal istri kesayangannya ini.
Maka dari itu Faam tidak memecatnya walaupun dia selalu saja rese orangnya, rese kan itu wajar apalagi sekarang istrinya sedang hamil jika dia mengganti sopir dan itu tidak sesuai dengan hati istrinya kan kasihan nanti istrinya.
Siapa yang akan membuat lawakan saat suasana sedang serius.
Di bercandain terus nih Tuannya.
"Kamu ini Do. Mau ngobrol atau malah jalan?" tanya Faam yang membuat Aldo segera menjalankan mobilnya.
Faam memandang Aldo kan kebiasaan buruk terjadi masa membawa mobil seperti seekor siput nanti kapan nih sampainya?
"Do!" ucap Faam bertanya pada supir pribadi istrinya.
"Jika kamu menjalankan mobilnya selambat ini maka kita tidak akan cepat sampai." pekik Faam merasa sebal sendiri.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya sebagai supir pribadi Nona Fiani hanya menuruti perintah Nona biasanya Nina hanya menyuruh saya dengan kecepatan segini Tuan."
"Wulan menang rumah dia itu masih jauh apa sudah dekat?" tanya Faam pada Wulan yang duduk di belakang.
"Tidak Tuan, mungkin lima menit kita sudah sampai, Nah itu SMP Merdeka setelah itu kita belok kiri warna rumahnya silver dan ada mobil warna hitam di depan rumahnya." Aldo tersenyum dan segera mengikuti arahan dari Wulan.
Setelah empat belas menit berlalu akhirnya mereka semua sampai di depan rumah Hikmal.
Terdengar suara keributan dalam rumah. Entah lah apa yang terjadi mereka semua saling pandang satu sama lain.
"Kalian dengar tidak, ada suara tangisan di dalam." ucap Wulan mendengar sesuatu.
"Iya, kamu benar." ucap Faam yang melangkah duluan namun Fiani malah jauh selangkah di depan.
"Apa dia ingat sesuatu ya?" tanya Ana memperhatikan Nona Fiani yang malah berjalan lebih dahulu meninggalkan mereka.
Saat Fiani mengetuk pintu rumah malah ada suara teriakan. Fiani tanpa ragu mendobrak pintu itu dengan kakinya.
Faam, Ana dan Wulan terkejut bukan main melihat aksi Fiani.
Jagoan silatnya muncul lagi.
Fiani melihat ada seseorang yang sedang mengikat wanita yang tadi pagi marah-marah padanya.
"Lepaskan wanita itu.. " teriak Fiani membuat orang yang bertopeng dan hanya terlihat mata dan mulutnya itu memandang wajah Fiani.
"Lepaskan?" Omong kosong!" teriak pria itu yang segera menyerang Fiani namun Fiani dengan mudahnya menghindari dari serangan pria bertopeng itu.
"Hah dia ingat bagaimana dia berkelahi?" batin Ana dan Wulan.
__ADS_1