
Liana sudah kekurangan dari rumah sakit walau dia masih merasa sakit hati dengan Soni, untunglah Ardan dengan setia menemani Liana sampai keluar dari rumah sakit.
Liana baru tau jika Ardan bukanlah orang yang sombong bahkan dia baru tau jika Ardan orangnya sebaik ini pantas saja Faham sampai mempercayainya.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Ardan yang melihat Liana tersenyum biasanya dia tidak seperti ini.
"Maaf!" Ucap Liana membuat Ardan meringis.
"Maaf untuk apa? Memangnya kau mempunyai kesalahan padaku?" tanya Ardan malah balik bertanya.
"Maaf karena selama ini aku salah menilai dirimu, ternyata kau orangnya sangat baik dan mau merawat diriku yang sudah tidak berguna lagi." Liana merasa sangat malu dia sekarang bukanlah wanita baik-baik dia hanyalah wanita kotor yang pantas untuk di buang tapi kenapa kenapa Ardan masih mau menolongnya?
"Tidak berguna?Kenapa kau bisa berbicara seperti itu? Kau bukan wanita tidak berguna Liana,"
"Apa kau tidak dengar apa kata dokter? Aku sekarang sudah tidak akan punya anak lagi siapa yang akan menerima diriku, pasti semua akan menganggap diriku seseorang... " Ardan segera memeluk Liana, sebenarnya dari dulu dia sudah ada rasa dengan Liana tapi dia tidak bisa mengungkapkannya dia terlalu takut, dia takut jika Liana sampai menolaknya.
"Dengar, kamu itu sangat berharga untuk seseorang! " terang Ardan sembari melepaskan pelukannya dari Liana.
"Siapa? Siapa orang yang akan menerima diriku Ardan? Siapa bahkan mungkin tidak akan pernah ada yang ingin menikah dengan ku karena kau tidak akan bisa mempunyai anak dan tidak akan pernah bisa memberikan keturunan lalu apa apa yang bisa seseorang harapkan dariku?" tanya Liana sembari meneteskan air matanya.
"Kenapa kuat menangis, ada orang yang dengan tulus sayang padamu, bahkan dia menerima semua sisi gelap mu." Liana menghapus air matanya.
Siapa? Siapa yang mau menerima dirinya. Dia hanyalah wanita kotor dan tidak bisa lagi di harapkan.
"Ya ada lah, bahkan dia juga mau kok menerima mu apa adanya." Liana membulatkan matanya dia bingung siapa seseorang itu apakah Ardan mana mungkin bahkan dia sangat membencinya.
"Siapa?" tanya Liana penasaran.
__ADS_1
"Orang yang ada di hadapanmu." jawab Ardan dengan malu-malu.
"Hahaha." Liana tertawa seakan tau jika Ardan tengah bercanda mana mungkin Ardan mau dengan dirinya.
"Hei, kenapa kau malah tertawa? Aku ini serius tauk, jika aku boleh jujur sebenarnya dari dulu aku mempunyai rasa padamu tapi kau kan kekasih Faam jadi aku tidak berani mengungkapkan perasaan ku." Liana seakan tidak percaya jika Ardan bisa mengatakan hal seperti ini.
"Apa sekarang kau sedang mencoba untuk membuat diriku tidak sedih lagi?" tanya Liana masih tidak percaya dengan ucapan Ardan yang sangat serius.
"Nah nih anak padahal akun sudah mengatakan jika aku ini beneran sayang padanya lah dianya malahan enggak percaya, haduh gimana dong caranya supaya dia mempercayai diriku?" Liana bengong semoga saja Ardan hanya mencoba untuk membuatnya tidak sedih lagi tapi kan seminggu ini dia selalu datang dan saat dia mengusirnya dia masih saja datang dan sikapnya tidak berubah terus saja memaksakan diri. Dan apakah benar dia mempunyai perasaan padaku?
"Tidak bahkan aku tidak sedang berbohong apalagi bercanda, aku serius aku serius sayang padamu, aku sudah memendam perasaan ini sudah lama mungkin sudah enam tahun yang lalu, aku tidak bisa mengatakannya karena dulu kau adalah kekasih Faam dan aku tidak bisa merebutnya dan sekarang Faam sudah bahagia dengan Fiani." Liana mengangguk ya memang benar juga sih Faam sudah bahagia dengan Fiani.
"Terus..... " ucap Liana.
"Lah kok terus ya sekarang giliran aku dan kamu lah, aku tidak perduli dengan statusmu sekarang, dan jika soal anak kan kita bisa mengangkat anak, kita bicarakan nanti saja soal hal itu. Sekarang aku mau tanya apakah kau menerima cintaku?" Liana ragu bagaimana mungkin dia bisa menerima cinta dari seseorang dia takut tersakiti lagi.
"Tapi sebelum itu aku harus mencarikan mu tempat tinggal pasti orang rese itu membuang mu kan?" tanya Ardan. Liana mengangguk ya memang benar bahkan apartemennya saja sudah di jual.
"Dia bukan hanya membuang diriku tapi juga menjual apartemenku. Tapi apakah tidak merepotkan dirimu?" Ardan mengemasi barang-barang Liana dan memasukkannya ke dalam tas besar.
"Tidak, bagaimana mungkin aku membiarkan kekasihku luntang lantung di jalan, dan jika aku membawamu ke apartemenku dan di lihat okeh Faam pas kita mesra-mesraan kan."
Ardan tidak melanjutkan ucapannya karena sebenarnya dia cemburu sih tapi dia tidak ingin mengungkapkannya.
"Apa kekasihku cemburu? Sudahlah sekarang kan aku milikmu kau tidak perlu cemburu pada seseorang yang sudah menikah, bukankah begitu sayang?" Ardan terkejut apakah Liana sedang menggodanya agar dia tidak cemburu pada seseorang yang sekarang sudah mempunyai orang yang dia sayang?
"Awas kau ya," Liana tersenyum dan segera berdiri dan mengambil tas yang di pegang Ardan wah ternyata berat juga memangnya barang-barang nya sebanyak ini apa?
__ADS_1
Ardan segera mengambil tas yang sudah beralih tangan. "Biar aku saja berat soalnya." Liana tersenyum ternyata Ardan peka orangnya.
"Bukankah barang-barang ku tidak seberat itu?" tanya Liana kebingungan.
"Selebihnya itu barang-barang ku, aku sengaja membawa pekerjaan yang belum selesai ke mari ya biar si bisa tidak marah."
"Bukankah bos mu memang selalu memarahi mu? Hahaha.. " Ardan tidak bisa mengungkapkan rasa kebahagiaannya akhirnya dia mendapatkan hati orang yang selalu ia impi-impikan. Rasanya tidak lah percaya.
"Kau mengejek ku rupanya? Setelah sah nanti aku tidak akan membiarkanmu mentertawai ku." Liana diam.
"Setelah sah, jadi kau tidak ingin melakukannya sebelum kita resmi menikah." tanya Liana memastikan.
"Ya begitulah jadi jangan kau merayu ku ok."
"Tidak janji." jawab Liana sambil cengengesan tidak jelas.
"Ngajarin enggak bener nih calon ku." pekik Ardan merasa jika Liana tengah menggoda dirinya.
"Lah minta di cium memang enggak boleh, ya udah lah jika enggak boleh." ucap Liana pura-pura ngambek.
"Hey... Masalahnya bukan itu tapi aku belum pernah berciuman hahaha..." ucap Ardan jujur karena selama ini dia selalu saja bekerja dan tidak pernah sekalipun mencari pasangan apalagi berpacaran.
"Masa? Kau belum pernah sekali pun berciuman berarti kau masih belum tercemar dong." Ardan membulatkan matanya memangnya dianya limbah ya sampai tercemar segala.
"Jangan samakan aku dengan laki-laki brengsek yang ada di luar sana sayang, aku bahkan tidak akan menyentuhmu sedikitpun jika bergandengan tangan wajar lah."
"Baiklah nanti aku ajarin kamu untuk jadi nakal ya."
__ADS_1
"Terserah lah asal kan kau bahagia saja." Liana pun memeluk Ardan tanpa ada rasa keraguan entah sudah berapa kali mereka berpelukan .