Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Dasar Faam


__ADS_3

Mila dibuat heran dengan tingkah Faam, seharusnya dia tidak melakukan hal seperti itu setelah apa yang dia lakukan memang benar yang di katakan orang, Faam adalah tipe pria yang sangat amat sulit di tebak tapi membuat semua orang senang padanya.


Karena hal inilah sekarang Faam menjadi sosok Pak presdir yang sangat di hormati dia akan melawan rasa egonya dan lebih mementingkan orang lain hatinya hancur biarlah hancur asal dia melakukan hal yang seharusnya dia lakukan.


Faam sudah berada di ruang rawat, Nadia terlihat berlari karena kakaknya menggendong seseorang di punggung nya.


"Kakak apa yang terjadi?" tanya Nadia yang segera berlari membawakan kursi roda.


"Nih bocah, tidak ada waktu untuk bertanya sekarang kamu fokuskan pengobatan pada pria ini nanti aku akan menjelaskan nya pada dirimu. " ucap Faam yang segera masuk tanpa memperdulikan adiknya yang sudah membawa kursi roda.


Nih kakaknya memang dasar menyebalkan sudah di carikan kursi roda nih dianya main nyelonong aja dasar.


" Nih kebiasaan, main nyelonong aja." ucap Nadia menggerutu sendiri.


Memang ini adalah rumah sakit nya tapi sebenarnya yang membangun adalah Faam kakaknya. Karena rasa cinta Faam kepada adiknya dia memberikan rumah sakit ini pada adiknya, ya anggap saja rumah sakit Fanad adalah singkatan dari Faam Nadia hanya saja tidak banyak orang yang tahu akan nama Fanad itu orang-orang di sekitarnya hanya tahu pelayanan rumah sakit ini sangatlah mementingkan pasien.


Para dokter pun akan siaga dua kali dua puluh empat jam, mementingkan pasien.


Terlebih jika pasiennya adalah orang miskin mereka hanya tinggal menunjukkan kartu miskin dari desa mereka maka mereka tidak perlu memikirkan tentang biaya, semua biaya selama dirawat di rumah sakit Fanad akan di bebaskan alias geratis.


Uang banyak lalu mau di buat apa jika tidak membantu orang iya kan?


"Baiklah cepat berikan penanganan yang terbaik untuk dirinya." Nadia malah manyun mendengar ucapan dari kakaknya.


Para dokter sudah berada di sana, Faam dan Nadia di minta untuk keluar.

__ADS_1


"Maaf Bapak dan ibu silahkan tunggu di luar. " ucap suster dengan nada lembut.


"Masa pemilik rumah sakit di usir!! Haduh!!! " batin Faam seraya menggeleng kan kepalanya.


"Bagaimana dengan anak saya?" tanya Mila yang begitu khawatir takut jika anaknya tadi di apa apakan oleh Sonia wanita gila yang sampai hati mencelakai anak semata wayang nya.


"Tenanglah Nyonya lebih baik nyonya istirahat saja, biar kami yang menangani pasien." ucap Nadia yang segera menengahi takut wanita ini masuk dan membuat dokter menjadi kebingungan karena kehadirannya.


"Anak saya ada di dalam, dan dia membutuhkan saya, jadi izinkan lah saya untuk masuk kali ini saja." pinta Mila sambil memohon agar dirinya di izinkan masuk namun Nadia juga bersikukuh tidak mengizinkan siapa pun terkecuali dokter untuk masuk apalagi keadaan pasien saat ini sangatlah buruk terlalu banyak obat yang masuk ke dalam tubuhnya dan entah obat seperti apa yang jelas tingkat kesadaran pasien saat ini kurang dari tiga puluh persen.


"Sekali lagi saya tekankan, ibu duduk lah di sini agar kami bisa menangani anak ibu, ibu tidak perlu khawatir kami akan berusaha keras menyembuhkan anak ibu." terang Nadia yang segera masuk.


Mendengar hal itu Mila pun tidak bisa berkata lagi, dia hanya bisa melihat para dokter memasangkan alat-alat medis di tubuh anaknya pasti itu sangat menyakitkan bagi anaknya.


Mila bahkan sampai meneteskan air matanya.


Faam melihat dari kaca transparan, melihat betapa kasihan nya sosok yang sekarang tengah berjuang melawan maut.


Pria yang mungkin usianya terpaut beberapa tahun darinya harus terbaring lemah di sana.


Memakai alat-alat medis untuk menopang hidupnya.


Faam pun sampai pulu melihat Hikmal padahal tadinya dia sangat cemburu.


Dan anehnya Faam sampai meneteskan air mata, entah apa yang terjadi dengan dirinya? Pantas orang tua Hikmal sampai memohon dan bersimpuh di kakinya karena melihatnya saja air matanya jadi mengalir karena tidak tega.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak mengetahui tentang ala yang tengah terjadi pada diriku, tiba-tiba air mataku berderai dan membasahi kedua pipiku, bro aku kasihan padamu, lihatlah ibu apalagi ayahmu dia sangat ingin agar dirimu kembali sadar, tapi jika kamu sadar apakah kamu akan membuat diriku cemburu dengan tingkah mu? Bersaing lah dengan ku secara suportif jangan membuat istriku dibuat bimbang karena mu. "Faam mengusap air matanya dia pun segera duduk bersebelahan dengan Wulan sedangkan istrinya tadi sudah di bawa untuk memeriksakan kandungan nya.


" Cengeng! Kau menangis!" tanya Wulan sedikit berdecak melihat betapa cengeng nya Faam kali ini.


"Entahlah, bahkan saat aku menggendong nya tadi hatiku jadi bergetar, dia sangatlah ringan dan kamu tahu tubuhnya sangat lemah. " Wulan melirik tak menyampaikan apa yang ingin dia tanyakan pada Faam.


"Dan air mataku ini, seakan tidak bisa membohongi diriku, aku kasihan padanya, aku kasihan pada saingan terberat ku untuk mendapatkan cinta dari istriku lagi hahaha sangat lucu." Wulan menggeleng rupanya Faam terlalu tabah jadi orang disaat seperti ini dia malah mementingkan orang lain padahal hatinya sudah remuk tidak beraturan lagi.


Seketika Wulan sadar pantas jika Faam sangat dikagumi banyak orang ternyata tingkah ya sangat manusiawi di saat mungkin semua orang akan menganggap Faaam pria yang lemah dan mudah di manfaatkan tapi di sudut lain Faam ingin secara suportif mendapatkan lagi cinta tulus dari istrinya.


Mendapatkan kembali kepercayaan istrinya yang lenyap itu semua juga karena ulah nya sendiri yang tidak pernah mau berdiskusi.


"Aku tahu hatimu kali ini tengah hancur kan, kamu memang orang yang baik dan Fiani memang sangat beruntung mendapatkan pasangan hidup yang lebih mementingkan orang lain dari pada egonya sendiri. " Faam membuang napas kasar.


"Aku tidak mungkin mengulangi kesalahan ku lagi, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi karena keegoisan ku, aku hanya ingin perhatian ku dan kasih sayang ku di lihat oleh orang yang aku sayangi. Itu saja tidak lebih." Wulan menepuk pundak Faam ternyata dia adalah laki-laki yang kuat yang dengan lapang dada membantu musuh dan hanya berlandaskan rasa kemanusiaan.


"Lalu dimana istrimu?" Wulan celingak celinguk mencari sosok temannya itu.


"Fia, sedang di periksa di ruang sebelah, dia itu memang wanita yang jika dia di larang maka dia akan melakukannya."


"Memang dia memang seseorang yang seperti itu. Tidak lah terkejut jika si Fia mah."


"Wul." Wulan menatap mata Faam dengan serius.


"Apa kamu tahu apa yang di sukai Fiani?" Wulan tertawa mendengar ucapan lucu Faam.

__ADS_1


Nih suami gimana sih masa kedukaan istrinya saja dia tidak tahu?


__ADS_2