
Sudah season dua aja nih bagaimana kelakuan Fiani selanjutnya ya. Hah aku malah ke ingetan jin rese itu...
Jin rese keluarlah 😂
Akhiran tapi ðŸ¤
Wanita itu memandang sosok wanita yang sedang lahap memakan makanan.
Sudah lama sejak hari itu Fiani tidak datang lagi kemari rasanya wanita yang bernama Rara ini ingin sekali memeluk sahabatnya.
Tapi bagaimana caranya, apakah dia akan ingat bagaimana saat dulu ia bersekolah bersama, tertawa bahkan selalu kemana pun sama-sama.
Kesempatan untuk mendekati Fiani.
Rara membawakan dua gelas es teh manis.
Rara sedikit lagu untuk bertanya pada Fiani namun dia pun memberanikan diri.
"Ini es tehnya. Emm jangan pergi dulu ya temui aku di samping warung ada hal yang ingin aku tanyakan padamu." Fiani bengong dia malah memandang Rendra.
Ya sedangkan Rendra juga balik menatap Fiani bagaimana pun dia juga bingung kenal sama wanita ini juga enggak eh malah ini di suruh ikut ke belakang warung saat mereka selesai makan.
Memangnya siapa wanita ini?
Apakah ini temannya Nona?
__ADS_1
Pasti! Tidak salah lagi! Tapi bagaimana menjelaskan nya pada Nona? Nanti ku pikir kan.
Rendra tersenyum dan malah mengiyakan. Sedangkan Fiani fokus makan.
"Apakah wanita tadi temanmu?" tanya Fiani pada Rendra yang tidak menyentuh makanannya. Padahal baunya sangat menggugah selera.
"Ah tidak, apakah Nona tidak mengingatnya?" Fiani menggeleng dan melanjutkan makan.
"Tidak, lalu kenapa kamu hanya diam saja, nanti keburu dingin loh makanan nya." Ucap Fiani sambil menggeser mangkuk mie ayam sehingga kini mangkok mie ayam itu sudah berada dekat dengan dirinya.
Rendra menelan ludahnya sendiri, jika dia tidak memakannya maka Nona Fiani akan kecewa. Dan nanti Tuan besarnya akan marah pada dirinya.
"Nona, apakah itu tidak pedas, melihat cabenya saja sudah membuat diriku merinding." Rendra ngeri sendiri. Melihat begitu banyaknya cabe yang ada di mangkuk Nona Fiani.
"Ah tidak Nona, saya makan mie yang ini saja. " Rendra sebenarnya tidak ingin makan, namun aromanya itu membuatnya sedikit takut, takut khilaf dan nambah lagi.
Rendra mengambil garpu dan mencoba untuk mencari tahu apakah memang seenak ini sehingga Nona mudanya terlihat keenakan seperti itu makan nya.
Dan sesuai dengan ekspresi nya, mie ayam ini sangat lah enak.
Rendra memandang wajah Fiani.
"Kenapa?" tanya Fiani yang melihat ekspresi dari Rendra yang begitu aneh apakah mie ayam yang dia pesan memang tidak enak apa sebaliknya.
"Enak Nona." Fiani tersenyum kan benar siapa sih yang menolak keenakan mie ayam buatan bapak Yoyon ini.
__ADS_1
Apalagi bakso buatan Wulan memang terkenal enak.
Wulan siapa dia?
"Nona kenapa?" tanya Rendra yang memandang wajah Fiani dengan tatapan aneh, apakah Nona mengingat sesuatu.
"Seperti nya aku baru ingat sesuatu, apakah kamu tadi mengenal wanita yang mengantar es teh pada kita tadi?" Rendra menggeleng bagaimana dia tau.
Dia saja baru pertama kali datang kemari kok.
"Tidak Nona, mungkin teman Nona sebelum mengenal Tuan karena dulu Nona pernah sering datang kemari bersama Tuan Faam memangnya Nona tidak ingat?" Fiani hanya menggeleng nanti saja dia mencari tahu sendiri yang penting sekarang dia makan biar si dedek yang ad adi dalam senang.
"Tidak salah lagi... Pasti Nona mengingat sesuatu di tempat ini, aku harus memberitahu kan hal ini pada Tuan nanti."
Setelah Fiani selesai makan Rendra tidak begitu, katanya dia sudah kenyang nah ini malah nambah dua mangkuk buset laper apa laper.
"Buset, katanya kenyang nah ini malah nambah, dasar rakus!" Rendra tersenyum dan melanjutkan makan.
"Nih anak katanya tadi kenyang?" Fiani malah kali ini gemas dengan kelakuan anak buah suaminya.
"Nona benar! Mie ayam ini sangat enak." terang Rendra masih melahap mie ayam.
Yang ke tiga.
"Buset nih anak, katanya kenyang lah ini malah doyan. Haduh memangnya siapa yang kaan mampu menolak keenakan mie ayam buatan Pak Yoyon ini." Batin Fiani tersenyum sendiri.
__ADS_1