
Setelah keluar dari kamar Karin. Bastian memikirkan ucapan dari Karin. Memaksa ingatannya untuk bisa mengingat sedikit saja tentang Dini istrinya. Namun tetap saja tidak ada hasilnya.
"Bodoh. Bodoh. " Bastian memukul- mukul kepalanya karna tak kunjung mengingat siapa Dini. Terduduk dilantai dipinggiran tempat tidurnya. Mulai merasa sakit dibagian kepalanya karena berusaha memaksakan untuk mendapatkan ingatannya kembali.
Meraih pinggiran tempat tidur untuk berdiri. Menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Merintih menahan sakit sambil memegangi kepalanya. Menarik nafas dalam kemudian membuangnya secara perlahan.
"Bas.."
Pintu terbuka ternyata Mita yang datang. "Bas, ada apa? kau baik-baik saja? " Mita menghampirinya.
"Kau kenapa?" tanyanya lagi mulai panik melihat raut wajah Bastian menahan rasa sakit sambil memegangi kepalanya.
Mita duduk disamping Bastian yang sedang berbaring. "Sakit. " Rintih Bastian masih memegangi kepalanya.
"Kita kerumah sakit sekarang ya? " Mita hendak membantu Bastian untuk duduk. "Tidak usah mah. Sebentar lagi juga akan baikan. " Tolak Bastian menghentikan gerakan Mita yang ingin mendudukkan Bastian diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Kau yakin tidak apa-apa? " Mita memastikan. Bastian menganggukkan kepalanya pertanda ia baik.
"Apa rasanya begitu sakit? " Lirih Mita begitu mengkhawatirkan putranya itu. "Sayang sebaiknya kita periksakan saja kerumah sakit ya?" bujuk Mita lagi. Kembali lagi Bastian menggelengkan kepalanya pertanda tidak ingin pergi kerumah sakit.
"Sakitnya sudah semakin ringan. " Terang Bastian.
"Kenapa bisa kepala mu sakit? apa terjadi sesuatu atau kepala mu terbentur? " cecar Mita.
"Aku hanya berusaha mendapatkan kembali ingatan ku. " Ucap Baatian.
"Apa kau sering merasakan sakit seperti ini? " tanya Mita mendudukkan dirinya disisi tempat tidur menghadap kearah Bastian.
"Tidak. " Sahut Bastian singkat.
Cukup lama Mita bersama dengan putranya itu. Menemani Bastian hingga tertidur setelah rasa sakit dikepalanya menghilang.
__ADS_1
"Semoga saja secepatnya kau akan mendapatkan ingatan mu kembali. Mama kasihan melihat Dini menderita melihat kedekatan mu dengan Lovia." Mengelus kepala Bastian dengan lembut.
"Mama takut jika Lovia berniat buruk antara hubungan dengan Dini. Meskipin Lovia tidak memperlihatkannya didepan mu tapi mama yakin dia tidak sebaik yang kau pikirkan. Setiap kali ia melihat Dini selalu saja menatap tidak suka dan mama rasa kekhawatiran mama ini ada benarnya. " Berbicara sendiri mengeluarkan dugaannya tanpa didengar lagi oleh Bastian.
Mita memperbaiki selimut yang menutupi tubuh Bastian sebelum ia pergi meninggalkan Bastian yang sudah terlelap memasuki alam mimpinya. Keluar dari kamar dan segera kembali kedalam kamarnya.
"Mama dari mana saja ini sudah malam bukannya tidur malah keluyuran." Tanya Nugroho setibanya Mita didalam kamar. "Mama dari kamar Bastian pah. Tadi mama hanya sekedar ingin menyapanya tapi begitu mama masuk ke kamarnya mama melihat Bastian sedang menahan sakit dibagian kepalanya. " Jelas Mita.
"Ada apa dengannya? " Nugroho menatap wajah istrinya harap cemas menantikan jawabannya.
"Sepertinya Bastian mencoba memaksakan ingatannya tentang Dini dan hal itu memicu rasa sakit dikepalanya. " Terang Mita ikut berbaring disamping suaminya.
"Apa sebaiknya kita periksakan saja kedokter keadaan Bastian mah?" saran Nugroho. "Tadi juga mama sudah menyarankan kepada Bastian agar memeriksakan kedokter tapi Bastian menolak pah." Jelas Mita lagi.
"Lantas apa yang harus kita lakukan? " selidik Nugroho. "Kita lihat saja perkembangannya dulu beberapa hari kedepan ini. Dan jika Bastian masih merasakan sakit mama akan memaksanya untuk memeriksakan kesehatannya. " Terang Mita.
__ADS_1
"Kalau begitu terserah saja mana baiknya. " Ucap Nugroho.