
Wulan tidak mengerti lagi dengan Faam kenapa Faam malah ingin menemui Hikmal terlebih apakah dia tidak sakit hati mengingat apa yang baru saja Mila ucapkan itu sangat menyakiti hati.
"Tunggu kenapa kau malah mengizinkan istrimu untuk menemui Hikmal apa kamu sendiri tidak sakit hati mendengar ucapan dari wanita itu?" Faam sebenarnya juga sakit hati apalagi wanita yang marah marah itu malah membuat keonaran di rumahnya.
"Siapa sih yang ingin wanitanya di sakiti?" Wulan tertegun lalu apa alasan Faam membolehkan Fiani bertemu dengan mantannya itu? Apakah dia mempunyai rencana lain yang tidak dia ketahui.
"Lalu apa alasan nya Tuan!" tanya Wulan malah penasaran sebenarnya apa yang ada dalam otak pria ini kenapa dari tadi dia malah diam saja mendengar wanitanya di kata katain seperti tadi.
"Menurutmu tadi aku hanya diam saja melihat istriku di buat seperti itu, nanti kamu akan tahu apa alasanku kenapa aku mengizinkan istriku pergi itu saja hanya satu kali kok setelah itu permainan akan segera di mulai." Wulan menggaruk kepalanya yang tidak gatal permainan apakah yang Faam maksudkan? Apa dia ingin melakukan kekerasan pada Hikmal? Tapi jika aku pikir lagi dia bukan orang yang seperti itu.
"Memangnya apa rencana mu?" tanya Wulan membuat Faam tersenyum sedangkan Fiani hanya diam saja bagaimana dia bisa tahu apa yang Faam rencanakan.
Dia sendiri saja tidak tau siapa Hikmal dan ada hubungan apa di masa lalu sampai sampai ibunya Hikmal memohon tapi dengan cara kasar dan tidak masuk akal.
"Kita ke rumah Hikmal sekarang." Wulan tidak menyangka jika Faam akan mengatakan itu semua.
Kenapa dia malah ingin ke rumah Hikmal bagaimana jika nanti dia cemburu? Nih dasar pria belum tahu rasanya di buat cemburu. Nanti marah marah sendiri?
"Sekarang? Tapi resiko tanggung sendiri. " Wulan memperingatkan Faam.
Faam membuang muka dan menyuruh Fiani untuk bersiap dan juga Wulan.
"Eh mau kemana?" tanya Faam yang melihat Wulan malah membuka gerbang.
__ADS_1
"Ya mau pulang lah buat ganti baju," terang Wulan bersikap datar.
"Masuk, memang di rumah ku yang kecil ini tidak ada baju apa, nanti aku akan menyuruh Ana untuk mempersiapkan keperluan mu." Hah dia bilang apa tadi rumah yang kecil bahkan jika kuda Nil masuk pun mungkin mereka akan bingung di mana jalan keluarnya.
"Sudahlah kita masuk, kamu harus ceritakan masa laluku seperti apa dulu." Faam yang gantian membuatkan mata bagaimana nih istrinya malah mengatakan hal yang demikian. Sadis masa dia ingin mengingat masa lalunya lah jika dia mengingat perkenalan dirinya dulu tidak apa, nah jika yang dia ingat seberapa besar cinta Hikmal kan bisa bisa dia galau dong.
"Tuh mata kedip dong, Saya tidak akan menceritakan hal hal yang aneh kok pada istrimu, santai bos." Faam mengusap dadanya ternyata ini wanita juga sudah tau terlebih dahulu. Syukurlah.
Fiani dan Wulan berjalan masuk ke dalam rumah dan beberapa pekerja menyambut mereka, memang sih rumah yang pantas di sebut istana ini menampung banyak pekerja.
Bagaimana tidak di rumah ini banyak pekerja dan bahkan dia sendiri tidak tahu jumlah dari pekerja yang di pekerjakan suaminya.
Yang jelas ini rumah membuat kaki sakit rasanya, apa lagi jika berkeliling uh sangat melelahkan.
Dia memberikan kebebasan untuk istrinya, agar istrinya mengingat kembali sosok dirinya yang dulunya seperti apa.
"Memangnya kamu sudah lama berteman dengan ku? Maaf aku tidak mengingatnya sama sekali." terang Fiani yang jujur.
"Ya sudah lama sih mungkin enam tahunan lebih, tidak apa-apa kok jika saat ini kau tidak mengingatku, tapi kamu itu harus berhati-hati tante Mila itu orangnya sangat jahat padamu. Kamu dengarkan tadi bukannya dia berterima kasih karena kamu mau datang eh dia malah marah-marah enggak jelas. Dan yang harusnya di salahkan kan bukan kamu tapi Sonia itu kenapa dia malah seperti itu sih dasar. " ucap Wulan membuat Fiani menggeleng ternyata Wulan ini sangat banyak bicara.
Apa mungkin dari dulu Wulan sangat dekat dengannya karena dia adalah pendengar yang sangat baik?
"Jika aku jadi kamu ya memang akan aku usir tuh nenek lampir dulu waktu kamu cinta sama anaknya saja kamu di usir di maki maki dan tidak di hargai. Giliran anaknya sakit dianya malah datang, enak jika ucapannya enak di dengar di telinga. Ih malas juga tuh rese amat." Faam menutup telinganya memang dasarnya wanita biang rumpi.
__ADS_1
"Ini perempuan ngoceh mulu, tapi biarlah biar Fiani ada temannya buat ngobrol. Tapi ku sumpal sekalian tuh mulutnya dari tadi enggak habis habis bicara terus, apa dia tuh tidak tau jika suaranya itu dua oktaf.
" Sayang, apa kamu tau di mana Ana?" tanya Fiani membuat pikirannya yang kemana mana jadi menatap istrinya.
"Owh Ana? Dia baru memilih baju untuk mu, dan teman mu lebih baik ajak teman mu untuk mandi."
"Pikiran mu itu mandi terus mandi terus." dengus Fiani merasa sangat sebal suaminya selalu saja menyuruhnya mandi mulu memangnya enggak ada kata-kata lain kah?
"Yang malas mandi siapa emangnya?" tanya Faam pada istrinya yang tidak merasa.
"Entah."
"Kamu ini masa masih sekolah juga malas mandi nih sudah bumil malas mandi juga ampun dah nih bocah." dengus Wulan merasa jika kebiasaan Fiani ini memang tidak bisa di ubah masa bumil malas mandi. HADUH!!!!
"Kok jadi aku sih, bukannya malas mandi tapi ya begitulah."
"Begitulah apaan?"
"Kamu itu terlalu banyak alasan, pokoknya Lan, jika dia nanti enggak mandi awas saja." Ancam Faam dengan mengedipkan mata.
"Tuh mata kenapa coba kelilipan?" tanya Fiani ingin tahu.
"Bodo amat." pekik Faam yang melangkah ke kamar tamu ia ingin mandi di sana karena apa jika dia ikutan mandi bersama istrinya yang ada, iiihhh malu lah 😂. Takut khilaf 🤣.
__ADS_1
Apa lagi kan ada sahabatnya juga tidak mungkin jangan aneh aneh tahan dulu jangan sampe adek manisnya nakal.