
"Lalu apa yang harus kita lakukan sayang dia itu bukanlah orang yang pintar untuk di bodohi." tanya Liana.
"Aku mempunyai satu cara dia kan orangnya sok banget bagaimana jika kita suruh dia mengaku secara tidak langsung." Liana memandang ke arah Ardan dengan tatapan tidak mengerti. Maksud dari mengakui sendiri itu apa?
"Sayang aku tidak mengerti maksud dari perkataan mu," ucap Liana sedangkan Ardan hanya tersenyum dan memandang kearah adiknya yang tengah makan. Dengan bantuan dirinya pasti semua masalah akan terselesaikan.
"Kau tidak perlu mencemaskan hal itu sayang, tenang selama ada orang yang sedang sibuk makan itu kita tidak perlu cemas memikirkan hal lain."
Liana memandang Ardan tak mengerti bahkan matanya membulat karena ketidak tahunnya memangnya apa yang di rencanakan kekasihnya ini.
"Memangnya kenapa dengan adik mu? Apakah dia bisa membantu menyelesaikan masalah mu?" tanya Liana.
"Ya jelas lah bisa jangan salah-salah adik ku itu sangat ahli dalam bidang itu percayakan saja semuanya padanya. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana dengan pernikahan kita apa kita akan melaksanakan pesta yang besar?" tanya Ardan mengalihkan pertanyaan.
"Baiklah aku percaya padamu. Soal pernikahan kita tidak perlu mewah aku hanya ingin sederhana saja mengundang orang yang kau kenal kan yang aku butuhkan hanya kamu saja, aku tidak ingin memberat kan mu karena pesta yang terlalu besar." Ardan tersenyum memberatkan apanya bahkan dia meminta lebih dia akan senang hati memberikannya nih wanitanya sekarang sudah berubah dia menjadi wanita yang sangat penurut dan bahkan menerima apa adanya. Sayangnya cuma satu dia selalu di ajari hal-hal yang aneh sebelum menikah ih dasar.
"Apa kau tidak ingin jika pernikahan kita mewah seperti teman-teman mu yang lain? Nanti kau kecewa karena hanya pesta kecil."
"Sayang aku bukan wanita yang dulu, aku tidak membutuhkan semua itu kok, yang terpenting kamu saja itu sudah cukup bagiku. Sudahlah jangan ingatkan aku pada diriku yang matre itu." ucap Liana dengan nada bete nya.
"Baiklah-baiklah. Jangan marah dong aku kan hanya bercanda." ucap Ardan membelai rambut Liana sedangkan orang yang merasa dirinya adalah obat nyamuk pun hanya memandang dengan tatapan kesal.
"Kan baru juga di bilangin jangan mesra-mesraan an lah ini kumat lagi, jika aku tetap di sini yang ada aku jadi obat nyamuk beneran dasar pasangan kasmaran." ucap Rendra yang segera ingin meninggalkan kakaknya dan calon kakak iparnya jika dia lama-lama berada di sini yang ada nasib jomblonya biasa berdampak sial.
__ADS_1
"Dari pada aku masih berada di sini dan di jadikan obat nyamuk lebih baik aku pergi." ucap Rendra membuat Ardan mengalihkan pandangan dan menghadang jalan adiknya.
"Eet... Siapa yang mengizinkanmu untuk pergi sebelum pergi kita kerjain seseorang yuk." Rendra menghembuskan napas kasat kan baru saja di omongin abangnya nih selalu memberikan tugas hah capek deh.
"Baiklah-baiklah sekarang apa tugasnya. " Ardan tersenyum dan berbisik pada adiknya dia mengatakan tugas yang harus segera di laksanakan.
"Baiklah aku akan melakukannya, sekarang aku bisa pergi bukan?" tanya Rendra dengan senyuman getirnya.
"Tapi jangan lama-lama karena aku membutuhkanmu untuk menyelesaikan tugas lain." Rendra mengangguk mengerti dan segera pergi meninggalkan kedua pasangan yang kasmaran itu.
"Sayang sebelum kita menyelesaikan tugas darimu boleh kan aku."
"Baiklah aku juga kangen kok." ucap Rendra sambil mengecup pipi Liana dia juga kangen apalagi dua hari ini dia tidak bertemu dengan kekasihnya ah ya karena apa tugas dari Faam ternyata banyak sekali dan apa dia menghilang saat dia membutuhkan nya.
Di sisi lain Faam sudah membawa Fiani yang masih tidur ke suatu tempat, ternyata selama ini dia tidak tau tentang penyakit Fiani sekarang Fiani tidak mempunyai waktu yang lama.
Sakit ternyata.
"*Aku akan membawamu ke suatu tempat yang hanya kau dan aku saja. Aku tidak ingin kehilangan dirimu apalagi dengan sikap mu yang selalu saja menghindari diriku dan selalu membuatku merasa marah padamu." Faam mengusap lembut rambut Fiani.
Faam pun mempercepat mobilnya menuju suatu tempat yang hanya ada dia dan Fiani*.
Fiani akhirnya sudah terbangun tapi dia sangat terkejut kenapa dia berada di tempat lain, apa Faam yang telah membawanya pergi tapi kenapa?
__ADS_1
"Sayang kenapa kau membawaku kemari?" tanya Fiani ingin tahu apakah Lisa memberitahukan Faam jika dia tengah sakit tapi kenapa?
"Aku hanya ingin lebih lama liburan saja kok. Tapi sebelum itu kau makan ini dulu ya memang sedikit tidak enak sih." ucap Faam memandangi bubur yang tadi dia buat.
Ah kenapa harus bubur kan Fiani tidak suka makan bubur tapi saat Faam membawakannya makanan dan wajahnya sangat khawatir jadi dia menerimanya saja.
"Sayang aku tau kok jika kau tidak suka bubur tapi..." Fiani tersenyum.
"Tidak apa-apa kok, aku bisa memakannya kau tidak perlu cemberut begitu sayang, kemari aku ingin sekali memeluk mu lebih lama." Faam mengambil bubur yang ada di tangan istrinya dan memeluk erat istrinya.
"Bukankah kau memang akan lama memeluk diriku, bahkan setiap hari kau bisa memelukku kenapa kau mengatakan hal itu."
Bagaimana mungkin aku mengatakan jika aku akan mati. Bahkan mungkin waktu yang akan aku habiskan untuk bersama denganmu hanya tinggal sedikit lagi."Fiani menitihkan air mata karena belum bisa mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kenapa kau mengatakan hal itu sayang? Aku sangat ingin selalu ada di dekatmu, mendekap mu, memberikan kebahagiaan tapi nyatanya aku tidak bisa membuatmu bahagia bahkan aku tidak bisa jadi orang yang paling tau tentang dirimu."
"Sayang jangan menangis ya jika aku suatu hari pergi meninggalkan dirimu, aku mencintaimu, tapi aku tidak ingin jika kau tau tentang penyakit ku pasti kau akan sedih."
"Seandainya aku lebih awal tau mengenai penyakit yang kau derita maka aku akan membawamu ke luar negri dan kau tidak perlu merasakan rasa sakit itu. Maaf karena aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu tapi aku akan memberikan mu kebahagiaan untukmu." Faam mendekap erat Fiani dan Fiani pun sama rasanya sangatlah berat.
"Sayang aku..." Faam segera melepaskan pelukannya dan mencium Fiani membuat Fiani terkejut.
Fiani pun hanya diam, mana kala bibir Faam ******* bibirnya. Fiani hanya bisa diam dia tidak membalas ciuman Faam. Dia menatap mata Faam yang bening. Bagaimana mungkin ia bisa twga meninggalkan Faam pasti dia sangat sedih. Jika dia mempunyai kesempatan kedua dia ingin mencintai Faam namun apakah dia akan bisa sembuh?
__ADS_1
"Menatapmu seperti ini saja membuatku akan menangis apalagi saat kau benar-benar meninggalkan diriku. Sayang jika aku dapat menukar nya aku saja yang sakit jangan dirimu. Sembuh lah aku tidak ingin kehilangan dirimu."
"Aneh kenapa dengan tatapan mata Faam, terlihat dia sedang memikirkan sesuatu dan bahkan dia sedih seperti itu kenapa apa yang dia pikirkan?