Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Dua Pilihan


__ADS_3

"Et.... Tapi sebelum itu kau harus menceritakan kenapa kau sangat ingin mendapatkan Ana bukankah kau sudah di tolak berulang kali?" Yuda hanya bisa mendengus kesal seharusnya memang dari dulu ia meninggalkan rumah dan hidup bersama dengan Ana susah maupun senang tapi ayahnya seakan tega ingin memisahkan mereka berdua, padahal Yuda sangat mencintai Ana bahkan dia rela jika dia harus keluar dari rumah tapi jika dia sampai keluar dari rumah ibunya... Pasti akan di siksa oleh ayah jadi sekarang dia hanya bisa berbuat semau ayah ya tapi tidak untuk kali ini, dia rela jika harus tidak mendapatkan apapun dari ayahnya asalkan dia bisa bersama dengan Ana.


"Kau salah, dulu aku dan Ana sudah hampir ingin menikah, tapi pernikahan kami berdua tanpa restu dari ayah ku, Ana tidak ingin jika kita menikah tanpa restu dari orang tuaku, ayah sudah membuat Ana sakit hati, sejak saat itu Ana tidak ingin bertemu lagi dengan diriku, dan parahnya lagi ayah Ana di pecat dari perusahaan entah karena sebab apa." Yuda kini hanya bisa tertunduk lesu karena usahanya tidak membuahkan hasil.


Ana masih terus saja tidak menghiraukannya dan yang ada Ana terus mencoba untuk menjauh.


"Baiklah aku akan menolong mu, dan ya aku akan membuat ayahmu merestui hubungan mu dengan Ana, jadi kau tidak perlu takut dan sedih seperti ini, kau sudah membantuku jadi sekarang giliran aku yang membantumu." tegas Faam sambil tersenyum.


"Aku malu padamu, seharusnya kau menghajar diriku karena ketidak jujuran ku padamu."


"Kenapa? Kenapa aku harus menghajar mu, yang aku takutkan jika Fiani meminta tolong pada orang lain dan aku tidak tau, itu saja jangan anggap aku ini ingin memarahi mu ok. Sekarang lebih baik..... "


Belum sempat Faam mengatakan apa yang harus dia lakukan ternyata ada panggilan masuk dari seseorang tak lain adalah orang yang di suruh Faam untuk mengintai istrinya.


"Am, ponselmu berbunyi tuh." Faam terkejut ponsel nya berbunyi memangnya ada apa?


Sebuah nomer tak di kenal menelpon.


"Maaf tuan, sebaiknya anda segera ke rumah sakit, Nona pingsan." Faam menjatuhkan ponsel nya sedangkan Yuda bingung ada apa? Apa yang terjadi? Apakah tejadi sesuatu pada Fiani? Sampai membuat Faam seperti itu?


"Kenapa?" tanya Yuda yang ingin tahu.


Tak ada jawaban dari Faam, dia malah segera meninggalkan Yuda tanpa tau apa alasan kenapa Faam pergi.


"Nih bocah kenapa coba, apa jangan-jangan Fiani?" Yuda segera mengejar Faam yang terus lari menuju arah mobilnya.


"Am tunggu, " teriak Yuda segera menarik lengan Faam.

__ADS_1


"Aku harus cepat," pekik Faam tidak tau jika ponsel nya jatuh.


"Kau ingin cepat menemui Fiani tanpa tau alamat rumah sakit?" Faam baru ingat ternyata dia kan tadi menjatuhkan ponsel nya di restoran.


"Nih aku hanya ingin mengembalikan ini, bolehkan aku ikut." Faam hanya mengangguk dan mengizinkan Yuda untuk naik ke mobilnya menuju alamat yang sudah di berikan oleh seseorang.


Di lain sisi Ana yang mendapat kabar jika Fiani sakit pun segera pergi ke rumah sakit, tak penting siapa yang memberitahukannya.


Ana sudah berada di rumah sakit dan Lisa pun menyuruh Ana untuk menemui Fiani karena sedari tadi Fiani ingin sekali bertemu dengan Ana terutama bertemu dengan suaminya.


Ana segera masuk, di lihatnya Nona mudanya yang tersenyum melihat ke arah dirinya.


"Nona... Apa yang terjadi?" tanya Ana tidak di sadari air mata Ana mengalir.


"Tidak, aku tidak apa-apa." tukasnya dengan senyuman di wajahnya.


"Nona maafkan aku karena aku tidak bisa menjaga Nona,"


"Ana panggil suamiku kemari rasanya mungkin aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi." Ana yang mendengar ucapan itu pun segera memeluk Fiani dengan erat mana mungkin Nona mudanya bisa bicara seperti itu?


"Jangan bicara seperti itu Nona, Nona harus bertahan demi Tuan Faam." Fiani tersenyum simpul.


"Maaf... "


"Lisa... " ucap Fiani lirih.


"Haduh bagaimana aku mengatakannya ya,... " Lisa bingung harus mengatakan hal yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kau hamil." Fiani dan Ana saling pandang.


"Dan kau harus segera menggugurkannya." terang Lisa berberat hati.


"Apa hamil?"


"Ya usia kehamilan mu masih empat minggu jadi kau harus menggugurkan nya sebelum terlambat jika kau terus mempertahankan bayimu maka nyawa mu dalam bahaya." jelas Lisa memperingatkan.


Disaat Fiani sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya tapi entah mengapa dia seperti mendapatkan kekuatan baru di dalam rahimnya ada seorang bayi nan lucu. Dia tidak sanggup jika harus menggugurkan nya.


"Sampai kapan pun aku akan mempertahankan bayiku. " Lisa yang sudah tau jika sikap Fiani akan seperti ini pun hanya bisa menggeleng pelan. Dan meninggalkan Fiani dan Ana.


Ana yang ingin tahu pun segera mengejar Lisa yang belum jauh meninggalkan ruangan.


"Tunggu dokter! Maaf sebelumnya,"


"Sebenarnya kau juga tau bukan? Jika Fiani terus bersikukuh mempertahankan bayi yang ada di dalam rahimnya maka Fiani tidak akan pernah selamat. " Mendengar hal itu Ana tidak bisa berkata lagi.


Faam yang baru tiba pun segera menghampiri Lisa ingin tahu apakah istrinya baik-baik saja namun saat dia lebih dekat dia pun mendengar kenyataan lain yang mengatakan jika istrinya tengah hamil dan jika Fiani terus bersikukuh ingin mempertahankan bayinya maka dia yang akan mati.


Faam pun segera lari mungkin ruangan itu tempat istrinya di rawat.


Dan ternyata benar Faam melihat istrinya tersenyum kearah nya. Faam segera memeluk istrinya. Faam menangis membuat Fiani bingung dengan Faam yang seperti anak kecil menangis tidak jelas sambil memeluk dirinya.


"Sayang kau kenapa?" tanya Fiani.


Bukannya menjawab Faam malah lebih erat memeluk istrinya.

__ADS_1


"Kau tidak akan meninggalkan diriku bukan?" tanya Faam dengan nada seperti anak kecil yang merengek seperti meminta mainan.


"Tidak, siapa yang mengatakan jika aku akan meninggalkan diri mu?" tanya Fiani sambil mengusap rambut suaminya.


__ADS_2