
Jin rese menyuruh Nur untuk diam pokoknya mereka harus menjaga Fiani karena apa karena Fiani itu berbadan dua banyak dari jin yang suka jika ada wanita yang sedang hamil. apa lagi akan jalan-jalan setidaknya mereka jadi obat nyamuk untuk beberapa bulan ini itu saja demi untuk menjaga dua orang kesayangan Fiani dan Faam.
"Kita itu harus mengawasi Fiani, apa kamu lupa jika Fiani itu berbadan dua kamu ingat kan jika seorang wanita berbadan dua itu sering di ganggu." Nur yang mendengar hal itu berpikir lalu apa hubungannya dengan Fiani.
"Memang itu masih berlaku, bukan nya yang menganggu Fiani kita ya?" Nur menampol Jin rese itu ya bukan dia juga kalik.
"Kita itu menyelamatkan walaupun di kira obat nyamuk mulu." Nur tertawa renyah mendengar jin rese mengatakan hal itu.
Memang benar sih mereka yang saat ini menganggu Fiani, namun kedua jin rese itu takut jika Fiani di ikuti oleh jin yang lebih rese lagi.
"Resiko obat nyamuk iya gitu?" tanya Nur pada jin rese itu.
"Ya sudah ayo kita pergi sayang." ucap Faam yang sudah rapi dengan setelan kaosnya.
"Tunggu, apa kedua jin ku ikut saja ya, kan aku sedang berbadan dua." Faam memandang istrinya kenapa harus jin rese itu ikut kenapa juga bawa obat nyamuk segala.
"Terus apa hubungannya? Kenapa kamu malah ingin membawa jin rese itu menganggu saja." gerutu Faam sangat kesal karena istrinya malah ingin membawa jin rese itu untuk ikut bersama dengan mereka rencana pergi berdua kini malah berempat namun yang dua tanpa bisa di lihat oleh mata telanjang dan hanya orang-orang yang tertentu yang akan bisa melihat kehadiran mereka.
"Hubungannya adalah biarkan mereka berdua menjaga anak yang dalam kandungan ku, bukannya aku sirik atau takabur tapi semenjak aku hamil aku tidak bisa tidur."
"Pantas saja, istriku selalu menjauh darimu bukannya takut denganku rupanya, ternyata dia malah takut di ganggu oleh mahluk ading seperti Nur."
__ADS_1
"Jadi alasan kamu tidur tidak selamat dengan ku itu karena hal itu?" tanya Faam yang ingin tahu.
"Di kamar mu ini banyak siatonnya terlebih apa kamu lupa aku ini bukan tipe wanita cerewet tipe tipe wanita jutek yang masa bodoh dengan orang lain tapi aku ini takut jika ada hantu jadi aku kabur lah."
.
"Kirain kamu marah padaku sayang?"
Fiani berdiri dan memandang lekat suaminya.
"Aku marah? kapan aku marah dengan suami ku ini, aku marah kan bentar doang, seperti tidak mengenali ku saja kamu suamiku yang paling rese, nyebelin dan sekarang jarang ada waktu untuk ku." Fiani mencubit pipi Faam hingga membuat Faam segera memeluk istrinya tidak erat sih takut jika kedua anak yang ada dalam kandungan istrinya kesakitan.
"Bukan kah kamu?" Faam memandang istrinya dengan lekat bukankah istrinya ini amnesia jangan jangan jin rese itu mengembalikan ingatan istrinya tanpa sepengetahuan dirinya, hais dasar kurang ajar tuh dua jin.
"Aku tahu kok jika kamu marah padaku, itu karena aku juga yang salah, aku yang tidak tahu bagaimana perasaan mu, aku yang terlalu memaksakan diriku untuk... " Faam tertunduk dia tidak bisa melihat wajah istrinya dia begitu menyesal karena dirinya yang terlalu ceroboh dan tidak ingin mendengarkan apa yang Fiani inginkan tapi saat itu juga dia harus memilih antara Fiani dan anaknya dan dia tidak punya pilihan lain...
"Sayang, jangan murung seperti itu, aku tahu kok jika kamu tidak berniat seperti itu tapi aku bangga padamu karena apa kamu selalu ada untukku ya walau kamu hanya melihatku tanpa mau menyapaku. Tapi apa kamu beneran cemburu dengan Hikmal?" tanya Fiani membuat muka Faam berubah menjadi masam bukan lagi cemburu tapi sudah cemburu berat.
"Buat apa kamu cemburu pada Hikmal, dia adalah masa laluku sayang, dan kamu adalah masa depanku, kamu yang selalu mengusahakan yang terbaik untukku, aku tidak marah kok sayang, tidak marah sama sekali." Faam tidak kuasa menahan air matanya. Air matanya seketika jatuh berlinangan kenapa istrinya tidak marah setelah apa yang dia lakukan?
"Sayang, lihatlah aku? Aku tidak marah padamu kok, jangan berpikir aku bisa marah pada orang yang aku cintai. Dan kamu tidak perlu cemburu apalagi cemburu pada Hikmal dia hanyalah masa lalu yang sampai kapan pun akan menjadi masa lalu, nanti saat dia sadar aku akan mengatakan pada Hikmal." Faam segera memeluk istrinya bagaimana tidak rasanya ia sangat beruntung memiliki Fiani, walau awalnya dia sangat tahu jika Fiani sama sekali tidak mencintainya dan bahkan tidak mempunyai rasa sedikitpun padanya namun nyatanya Kini Fiani dapat mencintainya dengan tulus.
__ADS_1
"Lalu sayang apa yang membuatmu tidak masuk kerja hari ini? Bukankah kamu adalah bis yang super sibuk?" tanya Fiani yang ingin tahu apa alasan suaminya tidak masuk kantor dan malah memilih liburan bersamanya.
"Kamu tahu kan aku itu selalu memanjakan dirimu, dan aku juga sadar aku tidak pernah membawamu jalan-jalan, bagaimana jika kita pergi ke danau dan naik bebek." Fiani tertawa kecil dasar setiap kesana pasti suaminya akan menaiki bebek dan berkeliling danau hingga puas.
Faam melepaskan pelukannya.
"Kamu ini sayang, tapi bawa makanan ya?" Faam tersenyum begitu pun Fiani.
"Hah kau lihat sendiri di sana ada sepasang yang sedang bermesraan, pelukan lagi, jika kita pelukan apa yang akan di katakan jin jin lain yang ada jeruk makan jeruk."
"Tugas kita itu bukan untuk menjadi obat nyamuk saja, tapi juga harus menjadi seorang jin penyelamat menyatukan cinta mereka dari kebencian menjadi cinta begitu." Nur terkekeh mendengar ucapan jin rese menang Fiani memberikan nama yang baik untuk dirinya namun nama Ahmad itu terlalu baik untuknya.
"Hah bilang cinta lagi aku hajar kau."
"Kenapa kamu jadi yang marah, aku kan hanya membahas cinta, aku tahu kamu kan jin karatan yang tidak laku-laku sampai sekarang, kok aku jadi lupa ya." Nur sangat marah kan benar nama Ahmad itu tidak pantas baginya kurang ajar nih memang harus di kasih pelajaran biar dia selalu mengingat batasannya.
Awas kamu jin rese akan aku tampol kamu.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Memang kata-kata ku tadi salah? Coba deh kamu itu bercermin dulu, eh tembus pandang ya pantas saja tidak kenal dirimu sendiri.
__ADS_1
"Ahmet!! Bicara sekali lagi awas kamu ya!" Ancam Nur sembari menunjukkan kepalan tangannya kali ini dia tidak main main sudah kesal beneran karena perbuatan Ahmad ini.
"Enggak takut wek!!" Ahmet menjulurkan lidahnya dan segera pergi meninggalkan Nur yang sangat kesal dengan dirinya.