Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Dasar Fiani!


__ADS_3

"Kau ini kapan pintarnya sih, duh duh!" pekik Fiani dalam kicauannya.


Nur hanya menggeleng nih si Fiani aneh aneh terus permintaannya untung saja bayinya tidak apa-apa dasar perbuatannya memang selalu konyol enggak ngerti lagi deh dengan dia.


"Aku itu tidak mengerti apa yang kau rencanakan, kamu tiba-tiba memintaku untuk melakukan hal yang sama, apa tujuan mu?" tanya Nur ingin tahu.


Fiani sebenarnya melakukan hal ini untuk mencegah operasi jika keadaannya koma maka bayinya akan baik-baik saja selama di dalam perut nya jadi apa salahnya dia hanya menunggu sampai waktunya tiba itu saja.


"Kamu tau kan, jika aku terus menerus sadar maka apa yang akan dokter lakukan? Pasti dokter dan suamiku akan memintaku untuk menggugurkan kandungan ku, aku menginginkan bayiku kamu mengerti kan? " terang Fiani membuat Nur mengerti ternyata alasannya adalah hal ini. Kenapa Fiani sampai. berkorban seperti ini, memang naluri keibuan Fiani memang besar juga tapi tidak dengan cara ini juga dong.


"Kamu ini selalu saja mencari caramu sendiri, tapi apa kamu tidak kasihan dengan suamimu, mendengar kau koma dia menangis tau. Dia takut kehilangan mu. Apa kau tidak memikirkan tentang suami mu yang cengeng itu?" Fiani hanya tertawa memang benar Faam adalah suami yang sangat mencintainya dan bahkan tiba-tiba dia bisa saja menangis tanpa sebab, kasihan juga tapi demi buah hatinya dia rela melakukan hal sekonyol ini lagi.


"Apa? Dia memang cengeng sih tapi aku tau kok jika dia sangat mencintaiku, dan sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini tapi jika aku tidak melakukan hal konyol ini lagi bagaimana caranya aku mempertahankan bayiku?" Di satu sisi memang Fiani ingin mempertahankan bayinya namun di sisi lain suaminya juga sangat mencintainya dia sudah memutuskan untuk melakukannya apapun yang terjadi anaknya harus lahir dengan selamat soal dia bertahan atau tidak itu urusan nanti.


"Kau ini, kan Faam mencintaimu ya dia akan mempertahankan bayi kalian, masa kau tidak mempercayainya?" Fiani menggeleng pelan. Pokoknya jika bayinya masih belum lahir maka dia masih akan seperti ini.


"Dasar wanita keras kepala! Masa dia melakukan hal konyol ini lagi, emm... bagaimana jika tanpa sepengetahuan dirinya nanti aku sembuhkan saja dia, masa dari dulu hidupnya susah mulu kan kasihan lihatnya." ucap Nur tersenyum dia harus bisa membuat Fiani sadar jika semua orang mencintainya.


"Apa yang di pikirkan jin rese ini? Semoga saja dia tidak berpikiran yang aneh-aneh." ucap Fiani memandangi tubuhnya.

__ADS_1


Tak berselang lama Faam sudah berada di ruangan wajahnya sangat lesu dan sangat letih.


"Apa yang terjadi dengan suamiku? Ah masa bodohlah yang terpenting anakku selamat."


"Sayang apa kau marah dengan ku?" tanya Faam sembari mengambil kursi dan mendudukinya wajahnya sangat merasa bersalah apalagi saat memandang istrinya yang terbaring lemah.


"Jelas aku marah lah kau ingin mengambil anakku yang ku idam idamkan."


"Maafkan aku, aku hanya ingin kau tidak merasa sakit lagi, dengan kamu di operasi jadi... Maaf karena aku terlalu mengambil keputusan aku tau kau menyayangi anak kita, aku juga sama." terang Faam menitihkan air mata.


"Lalu kenapa kau mengambil keputusan tanpa sepengetahuan diriku?" Fiani mulai merasa marah namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang maaf kan aku, maaf karena aku terlalu terburu-buru hingga aku tidak menanyakan pendapatmu. Bangunlah sekarang aku tidak akan melarang mu untuk mempertahankan buah hati kita. Bangunlah." pinta Faam memohon namun Fiani masih kukuh dengan pendiriannya dia tidak ingin kembali ke tubuhnya sebelum anak yang dia kandung lahir ke dunia.


Dia juga ingin mencari tau apakah memang suaminya benar-benar mencintainya karena ada orang yang mengatakan jika ada seorang wanita kecentilan yang selalu menggoda suaminya.


Fiani ingin tau siapa wanita itu? Tidak mungkin jika Liana kan? Liana kan sudah menjadi kepunyaan dari Ardan. Lalu bagaimana ke adaan Liana ya apakah Ardan memperlakukannya dengan baik?


Fiani meninggalkan suaminya yang masih sedih ia ingin tau bagaimana keadaan Liana lewat Nur.

__ADS_1


Nur cemberut pasti Fiani ingin meminta hal lain nih, semoga saja tidak aneh-aneh deh.


"Mau apa lagi sih?" tanya Nur dengan nada juteknya.


Fiani merasa sangat kesal bukannya di sambut baik lah ini malah Nur seakan-akan tidak perduli dengan dirinya.


"Kau tau Liana kan?" Nur hanya manggut-manggut.


"Terus!!!! Apa yang ingin kau ketahui tentang dirinya? Dia kan sudah bertobat, apa kau ingin tau kabarnya?" tanya Nur memastikan.


"Nur kau memang pintar sekali." Nur membuang napas kasarnya bukannya memperhatikan suaminya yang sedih di sana dia malah datang kemari menanyakan seseorang yang tidak penting.


"Kau lihat suamimu di sana sedang menangis, lalu apa yang kau lakukan di sini? Kau malah menanyakan orang lain? Apa kau ingin sadar dan menyaksikan Liana dan Ardan yang menikah besok?" Fiani membulatkan matanya siapa katanya Ardan dan Liana akan menikah dan dia tidak tau akan hal itu? Tapi jika dia bangun sekarang juga tidak mungkin kan?


"Apa? Mereka akan menikah? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku sejak awal?"


"Terus jika aku memberitahukannya padamu memang kau juga tidak akan melakukan hal konyol ini lagi?" Fiani menggaruk kepalanya.


"Ya sebenarnya juga tidak sih hehe.. " Nur sudah menduganya dia hanya terkekeh sambil memandang wajah Fiani yang membuat dirinya muak.

__ADS_1


__ADS_2