Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Tidak mengerti


__ADS_3

"Pacar? Kamu gila?" ucap Mila merasa sangat sebal dan syok apa anaknya malah berpacaran dengan wanita yang tidak ia suka.


Sampai kapan pun dia tidak akan pernah setuju. Wanita ini mungkin hanya ingin merebut atau merampas hartanya saja.


Melihatnya saja dia tidak termasuk orang yang berada, mau di taruh di mana mukanya jika semua orang tahu.


Lebih cocok jika anaknya dekat dengan Sonia dari pada wanita ini.


"Ibu! Kenapa ibu bisa bicara seperti itu?" tanya Hikmal pada ibunya.


"Kenapa? Kamu masih bilang kenapa? Lihatlah dirinya itu tidak selevel dengan kita mau di taruh di mana muka ibuk!" teriak ibunya seperti tidak menyukai Fiani apalagi dengan berpakaian layaknya sorang gembel.


Hi! Tidak deh tidak!


"Ibuk, Hikmal sayang sama dia, Hikmal cinta sama dia kenapa ibu bisa bilang seperti itu?" tanya Hikmal seperti tidak percaya dengan sikap ibunya yang malah tidak menerima Fiani, biasanya juga setiap dia membawa teman atau sahabatnya ibunya tidak pernah bersikap seperti ini?


Ada apa sebenarnya?

__ADS_1


Kenapa sikap ibunya berubah?


Kenapa ibunya menjadi sosok orang lain?


"Ada apa dengan ibu?" Tanya Hikmal sambil menggeleng pelan. Hikmal merasa ibunya telah berubah sejak ibunya kenal Sonia.


Bukannya ibunya semakin baik ini malah semakin aneh saja, sikapnya berubah memandang orang juga berubah Sonia ternyata memberikan pengaruh yang buruk pada ibunya.


"Kenapa ibu berubah?" tanya Hikmal malah membuat Hikmal tidak mengerti lagi dengan ibunya.


Dia kan orang kaya dia harus tau tren dong.


"Hikmal tidak mengerti lagi dengan ibu, sekarang. Ibu sudah berubah menjadi orang lain yang tidak Hikmal kenal."


"Haduh nih anak, ibu tidak berubah kok, kamu yang berubah. Dengar semenjak ibu mengenal Sonia ibu jadi mengerti." Hikmal menepuk jidatnya kenapa dengan ibunya dia berubah menjadi sosok orang lain.


"Sudah lah bu,"

__ADS_1


"Mau kemana kamu?" tanya Mila pada anaknya yang malah pergi meninggalkan dirinya dan menghampiri wanita yang tidak ia sukai.


"Menghampiri Fiani." Mila segera menarik lengan anaknya.


"Sekarang ibu mau tanya padamu?" Hikmal menghembuskan napas kasar.


"Apa lagi bu?"


"Kenapa kamu lebih memilih wanita itu dari pada Sonia?" Hikmal ya tentunya masih memilih Fiani tentunya Fiani itu lebih apa adanya jika Sonia dia itu terlalu protektif anaknya.


"Seharusnya ibu yang bisa menilai apakah Fiani itu lebih baik atau kah Sonia yang lebih baik, menurut Hikmal sendiri Fiani yang jauh lebih baik." Mila seakan tidak setuju dengan ucapan anaknya bagaimana mungkin Fiani jauh lebih baik dari pada Sonia.


Jelas jelas Sonia itu jauh lebih dari segalanya nih anak selalu saja membela Fiani? Apa hebatnya dia?


"Ya jika ibu menilai sih lebih baik Sonia jauh. Karena apa dia sudah cantik dan dia juga sangat kaya kok. Dari keluarga yang terpandang tentunya apalagi coba kekurangan nya?" tanya Mila pada anaknya yang menggelengkan kepala karena merasa tidak sependapat dengan ibunya kali ini.


Sonia itu tipe wanita yang cerewet, susah di atur, dan selalu menghambur-hamburkan uang kedua orang tuanya lalu apa yang mau di banggakan dari sosoknya? Cerewet iya! Boro boro perhatian peka aja enggak? Itu yang harus di banggakan?

__ADS_1


__ADS_2