
Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Faam, Faam sudah mempersiapkan segalanya untuk hari ini.
Mengingat banyak orang yang ingin menggagalkan acara pernikahannya mengingat Liana pasti mempunyai rencana yang sangat jahat. Pasti dia akan melakukan apapun untuk menggagalkan acara pernikahannya.
Semoga saja semua aman terkendali tidak ada yang menggagalkan pernikahannya.
Faam sudah berpakaian rapi ia begitu berdebar apalagi ketika orang yang di percayai nya sudah mengatakan jika penghulu sudah tiba.
"Faam," Ucap Ardan yang mengejutkan dirinya memang anak satu ini bisa seenaknya saja masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
"Kau ini, bisa nggak sih ketuk pintu sebelum masuk ke kamar ku? " tanya Faam yang sudah geram karena dari tadi nih anak satu ini sudah main masuk dan pergi membuat Faam semakin gerogi saja.
"Jangan marah bos, aku kemari hanya ingin memberitahukan jika penghulu sudah tiba, jadi sebaiknya kau lekas turun." pinta Ardan pada Faam yang hanya mengangguk-angguk kan kepalanya tanda ia sudah mengerti.
"Ya sudah sana pergi, aku masih mau merapikan jas ku dulu." ucap Faam beralasan sebenarnya ia sangat gugup apalagi nanti saat di depan penghulu.
Dan yang paling gugup saat ijab ah kenapa di saat seperti ini dia menjadi salah tingkah sih. Menghadapi penjahat sudah biasa, biasa menyerahkannya pada Ardan dan Rendra maksudnya hehe..
"Apa bos ku satu ini gugup?" tanya Ardan menebak.
"Kau ini," ucap Faam
"Kan benar bos ku satu ini gugup kan, sudah lah cepat keluar keamanan sudah di jaga ketat jadi kau tidak perlu menghawatirkan apapun yang pasti semua sesuai rencana.
Faam sebenarnya tidak memikirkan hal itu yang dia pikirkan adalah tentang Fiani, entah kenapa dia menjadi berdebar dan dadanya terasa sakit apa yang akan terjadi semoga saja tidak ada apa-apa.
"Kenapa kau masih diam di sana?" tanya Ardan yang mengetahui jika Faam tengah memikirkan sesuatu tapi apa apa mungkin dia memikirkan tentang Fiani? Pasti iya mengingat terakhir kali mereka tengah membicarakan sesuatu hal yang sangat penting.
__ADS_1
Di luar gedung Yuda dan Bima sudah bersiap mereka harus pergi ke acara pernikahan Fiani, rencana konyol Fiani ini harus di lakukan mengingat jika dia tidak datang makan dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ana.
Dan saat dia tidak bertemu dengan Ana maka hatinya akan menjadi galau sendiri.
Bima sudah rapi dengan setelan jasnya begitupun dengan Yuda.
Yuda terlihat memikirkan sesuatu di dalam mobil dia hanya melamun. Sedangkan Bima memperhatikan dari kaca mobil.
"Jika semua ini tidak karena Ana pasti aku ogah jika harus menghadiri pesta pernikahan Fiani dengan Faam." pekik Yuda
"Bos jika bos tidak bersedia menghadiri pesta pernikahan antara mereka lebih baik bos tidak.." Bima tidak melanjutkan ucapannya dia takut jika Yuda sampai marah-marah tidak jelas.
"Kau memang benar seharusnya aku tidak menghadiri pesta pernikahan yang tidak ada hubungannya dengan kerja sama di pekerjaan namun jika aku tidak menghadiri pesta itu sama saja dengan aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi dengan Ana kau tau kan aku membangun perusahaan tanpa bantuan siapapun hanya untuk menarik perhatian Ana dan apa yang terjadi Ana lagi dan lagi menolak ku." jelas Yuda kini sedang bercerita tentang masa lalu.
"Pendekatan bosnya mungkin salah, kan bos tau sendiri jika Ana itu orangnya keras kepala, dan bos nya juga sih setiap Ana mendapatkan masalah bosnya selalu membantunya tanpa Ana memintanya jadi Ana merasa jika dia terlalu tergantung dengan bis mana hutangnya semakin banyak dan dia tidak dapat membayar semua hutang-hutang nya." jelas Bima
"Kau itu tidak tau cinta ya Bima, jadi kau carilah pasangan biar kau tau rasanya tidak bertemu dengan si dia itu bagaimana," ucap Yuda membuat Bima tersenyum.
Bima tidak pernah sekali pun berpacaran yang dia pikirkan hanyalah Yuda, Bima sudah bekerja dengan Yuda sudah hampir 5 tahun. Jadi Bima sudah tau tentang bosnya ini.
Dan soal cinta dia sebenarnya ingin berpacaran tapi jika dia berpacaran sama saja dia tidak akan fokus pada bosnya dan lebih fokus pada pacarnya jadi dia memilih untuk menjomblo saja dulu dan saat bosnya sudah menikah dia baru memikirkan tentang pacaran.
"Jika saya berpacaran? Maka saya akan melupakan anda bos," Yuda hanya tertawa nih asisten pribadinya selalu saja memikirkan tentang dirinya padahal selama ini Yuda membebaskan Bima untuk melakukan apapun tapi entah lah, Bima selalu saja memikirkan tentang dirinya.
"Kau itu bukan orang seperti itu, aku tau lah." Yuda menepuk pundak Bima, Bima tersenyum kan bosnya ini sangatlah baik hanya saja dia baru tergila-gila dengan Ana.
Setelah beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai, tidak ada yang menarik apalagi istimewa di gedung ini.
__ADS_1
Namun Yuda dan Bima hanya melihat beberapa orang yang lewat, mereka pun masuk ke dalam gedung dan alangkah terkejutnya Yuda melihat dekorasi yang sangat menarik dan mewah.
Pastilah orang ini bukan orang yang sembarangan mengingat dia sudah pernah melihat dekorasi seperti ini apa mungkin itu dia? Sahabatnya yang sudah lama tidak ia lihat dan tidak ia temui Farham apakah itu dia? Tapi apa mungkin itu dia mengingat dia adalah orang yang sangat sibuk dan sekarang dia ada di pernikahan sahabatnya itu.
"Bos, sepertinya dekorasi ini mengingatkan ku dengan sahabat bos Farham?" Yuda tersenyum memnag benar hanya Farham yang menyukai dekorasi seperti ini.
Faam sudah berada di ambang pintu dan berapa terkejutnya dia melihat seseorang yang sangat dia kenal, apa mungkin itu dia tapi bukanlah dia seorang yang sibuk sekarang apa mungkin itu Yuda?
Saat Faam ingin menyapa orang yang ia kenal Rendra pun memanggilnya ia mengatakan jika penghulu sudah datang.
Faam pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat ijab kabul dan dia juga melihat pengantinnya dia sangat cantik. Fiani sudah duduk menunggu Faam.
Fiani tersenyum saat Faam duduk bersebelahan dengan dirinya, Faam begitu gerogi apalagi saat penghulu mengucapkan ijab.
Setelah semuanya tamu mengucapkan sah. Fiani pun tersenyum begitupun dengan Faam.
Faam sangat bahagia karena sudah berhasil menikahi Fiani. Fiani segera mencium punggung tangan Faam.
Fiani sangat bingung, di satu sisi dia sangka bahagia namun di sisi lain dia bingung bagaimana caranya dia menjauh dari Faam dan Faam akhirnya bisa membencinya.
Ana menjatuhkan air matanya apalagi meninggal saat Fiani Nona mudanya mengatakan sesuatu yang membuat hatinya teriris. Dia tidak bisa melakukannya, bagaimana bisa dia setega itu saat Nona nanti harus berjuang seorang diri kenapa tidak boleh ada orang yang sampai tau, harusnya Faam selaku suaminya mendampingi dirinya bukan malah ingin dia berjauhan.
Tidak mungkin kan saat Fiani benar-benar telah pergi dan Faam tiba-tiba mencarinya? Apa yang dia harus katakan? Kenapa sesulit ini?
"Seharusnya Nona mengatakan apa yang seharusnya Nona katakan? Saya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Tuan mengingat Saya sudah berjanji dengan Nona semoga saja Nona bisa sembuh." batin Ana sembari meneteskan air matanya.
"Kau selalu saja menangis seperti itu," ucap seorang pria membuat Ana memandangi nya dengan tatapan yang tidak percaya. Kenapa pria ini ada di sini?
__ADS_1