CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
episode 10 ~ salah hari


__ADS_3

  MONA berlari kecil menuju kubikelnya dan Ia pun menghempaskan badannya ke kursi kerjanya dengan perasaan lega.


Amel yang berada di lurusan barisan kubikelnya menatap sedikit aneh kearah Mona.


Tamara memutar kursinya lalu menghadap ke arah Mona yang terlihat menatap kelangit langit ruangan itu dengan tatapan menggantung.


 


" Mon ! gimana meetingnya ?? "Tanya Tamara dengan raut wajah sumeringah.


Mona terdiam dia hanya melirik kaku Tamara yang sedang menanti jawaban darinya,lalu dia kembali menatap kosong lagit-langit ruangan dengan tak bersemangat.


" Woy !!Kesambet apa ya?datang datang malah bengong."Ucap Amel seraya mengeraskan suaranya untuk menengur Mona yang sedang menatap kosong.


" Lo baik-baik sajakan Mon?"Tanya lagi Tamara dengan raut wajah semakin cemas dengan perubahan sikapnya yang tak biasa.


" Gue rasa dia kesambet deh Tam.." Sela Amel dengan segera mengusap-ngusap wajah Mona.


" Aduhh apaan sih ?" Tanya Mona menepis tangan Amel yang ada di atas wajahnya itu.


" Elo baik-baik aja kan ?" Tanya Amel cengengesan.


" Gue mau di jodohin Mel, Tam.." Ujarnya merengut.


" Apa di jodohin ??" Sahut Amel serta Tamara dengan bersamaan.


" Kabar bagus donk! " Sorak Amel dengan bahagia.


" Lo gak lagi bercanda kan Mon?"Tanya Tamara menyela dengan menatap penuh selidik.


" Gue serius Tam,barusan nenek gue telepon dia mau ngejodohin gue kalo gue sampe bulan ini gak dapet jodoh juga dan nenek gue akan turun gunung.."


" Gila !!Gokil banget nenek lo ngalahin pendekar 212 bisa turun gunung.."Canda Amel dengan menahan tawanya, Mona melirik kesal ke arah Amel atas candaannya itu.


" Gue rasa bukan pendekar Mel.."Sela Tamara dengan tak lupa membenarkan kembali poni pendeknya.


" Terus ???"Potong Amel cepat.


" Pendaki Mel.Kan yang suka turun gunung itu seorang pendaki bukan pendekar." Ucap Tamara santai.


" Buahaa...hahaha...haa..."Tiba-tiba Amel dan Mona tertawa lepas mendengar celotehan Tamara yang mulai tidak nyambung akan pembicaraannya itu.


" Tam,tam.Gak habis bikir gue kadang-kadang lo bisa juga kaya sule pinter ngelawak."Ucap Amel terkekeh-kekeh melihat tingkahnya Tamara.


" Bener dong gue?yang namanya turun gunungkan itu cuman pendaki Mon,mel.."Ucap Tamara membagikan pandangannya.


" Haha.... seterah lohh dah, urus ajalah..."Ucap Mona ikut tertawa lucu.


 


" Tapi by the way bus way serius lo mau di jodohkan ?" Kembali Amel bertanya dengan mimik wajah serius.


" Serius Mel !tadi nenek gue telepon.Mana lagi ada pak Banny neleponnya,tapi kanyanya pak Banny dengerin juga pembicaraan gue sama nenek gue,soalnya dia merhatiin gue terus ikhh gue kan jadi tangsin, serasa gue jomblo yang gak laku-laku." Terang Mona dengan merengut.


 


" Haha...Haa..,emang kenyataannya lo kaya gitu mau gimana ?" Amel tertawa renyah mengiyakan ucapannya Mona.


" Gue jomblo gak setua itu juga kali Mel,.."Ucap Mona me dengus.


" Terus elo punya rencana apa bua....** !!" Ucapan Amel mengantung tatkala dirinya menatap sang Bos sudah berada percis di belakang Tamara.


Banny menatap tajam ke arah mereka yang masih asyik mengobrol di jam pulang.


" Kalian belum pulang ?"Tannya Banny menatap satu persatu kearah Amel, Mona serta Tamara dengan tatapan dingin.


" Be belom Pak..,kami masih ngobrol-ngobrol dulu sebentar.." Balas Amel dengan tersenyum hambar.


" Apa perlu saya kasih lemburan, dari pada kalian ngobrol- ngobrol saja dan hanya buang-buang waktu."Ucap Banny dengan bersikap penuh wibawa.


" Oh tidak pak. tidak !!sebentar lagi kami pulang ko pak.." Sela Amel dengan gerak cepat menghambur ke meja tugasnya lalu merapihkan beberapa peralatan kerjanya, begitupun dengan Tamara yang ikut menyusul Amel dengan tak kalah cepat.


" Oya Mona,hari senin besok kamu temanin saya ke pertemuan."Ucap Banny menoleh dengan tanpa ekspresi ke arah Mona.


" Saya Pak ??" Pekik Mona terkejut,Mona menatap ragu ke arah bosnya seraya mengarahkan jari telunjuknya ke wajahnya sendiri.


Banny menarik napas lalu memutar badannya dan menghadap ke arah Mona yang masih terheran-heran.


" Iya kamu ! saya lagi berbicara sama kamu ! memang kesiapa lagi ?emangnya kamu ada kembarannya.?."Jelas Banny dengan nada judes dia menatap tajam Mona yang masih menganga tak percaya.


" Ba baik Pak ."Ucap Mona sembari menggangguk penuh hormat.


" Kalian sebaiknya cepat pulang sebelum Pak eko mengunci ruangan ini."Imbuh Banny dengan melangkah keluar ruangan.

__ADS_1


Mona dan Tamara saling melempar tatapan kaku.


" Kaya balok es berjalan ya ?dingin banget ngeliatnya"Celoteh Tamara dengan memasukan peralatan perangnya (make up )ke tasnya.


" Untung Dia ganteng.."Guman lagi Amel dengan gaya bibirnya yang mengerucut.


" by the way itu meeteng elo gimana tadi?baru ingat gue mau nanya itu dari tadi."Tanya Amel sembari berdiri di samping Mona.


" Cukup bikin gue tegang." Ucap Mona seraya meraih tasnya lalu berjalan mendekati pintu ruangan.


"Gue ikut ngebayangin juga Mon gimana sikapnya Pak Banny sama lo,Dia kan orangnya tegas dan so cool gitu, Mana pernah dia kalau ngomong ngasih senyum- senyuman gratis gitu, kalah sama bokapnya yang super ramah.."Jelas Amel membandingkan Banny dengan sang Presdir.


" Ya Namanya juga Anak seorang Presdir mana mau bersikap manis sama bawahannya,yang ada tar bawahanya pada ngelunjak.."jelas Tamara.


" Bener-bener jaga wibawa " Tambah Amel menimpali sembari mendorong pintu ruangannya.


" Tumben lo nyambung.."Sela Amel melirik Tamara.


" Hmm gue bener-bener di bikin panas dingin tau,,"Ucap Mona terlihat merinding-rinding disco.


" Tapi Pak Banny meskipun cuek kaya gitu tapi tetep ganteng ya .."Sela Amel dengan terlihat mengedip- ngedipkan kedua matanya dengan genit.


" Aaaah....!! elo mah anti liat orang ganteng,pasti ngiler.." 


" Ya gue kan masih punya hasrat untuk di sayang Mon, Emangnya elo anti liat orang ganteng bawaanya suudzon mulu.." Bantah Amel dengan memonyongkan bibir tebalnya itu.


" Ko gue ??" Sela Mona melirik Amel


" Ya iyalah,ketemu orang ganteng aja di lewatin.."Balas Amel dengan nada kesal.


" Kalo di lewatin kan bisa puter balik lewat playover ."Sela lagi Tamara dengan polos ikut berkomentar.


" Yah.Yah Kumat lagi dia lo kira lo lagi naik gojek apa?lewat play over." Ucap Amel terlihat geram,Tamara hanya cekikikan sembari mengayung-ngayunkan tasnya,ia paling senang sekali memancing emosi para sahabatnya itu.


Selang beberapa menit Bian datang seraya mengelaksonin Tamara yang masih berdiri di loby utama.


" Beb's gue duluan ya,sopir gue udah dateng.."Ucapnya sembari melangkah dengan riang.


" Bye hati-hati ya bebs.."Tambah Amel melambaikan tangannya.


"Oke " Jawab Tamara sambil menghambur masuk ke dalam mobilnya Bian.


" Enak ya jadi si Tamara.."Ucap Amel sembari masih menatap lekat mobil Bian yang perlahan lahan melaju meninggalkan pelataran Loby utama kantor.


" Kenapa ?" Tanya Mona dengan menatap heran Amel.


" Kan Kita Tiap hari juga gitu ko Mel,Ada yang antar jemput ko."


" Kitaa ?? Gue aja kali lo engga.."Ucap Amel meledek Mona.


" Lo ada yang antar siapa ?,Tiap hari lo nyetop taksi mulu.." Sela Mona seraya tersenyum tipis.


" Yaa kan tapi gue sekali kali di jemputnya ama Sendi walaupun gue LDR tapi kan gue masih bisa ketemu.lah lo ??" Tanya Amel kembali meledek Mona.


" Berdoa aja biar Sendi gak macem macem.." Ucap Mona seraya menyetop taksi.


" Gue bareng ya Mon,, " Ucap Amel sembari membuntuti Mona yang masuk kedalam taksi.


" Ok.." Jawab Mona singkat.


***********


PAGI-pagi Mona berlari kecil menerobos antrian panjang kendaran,lalu diilihatnya jam yang melingkar di tangan sudah menunjukan pukul 08:45menit.


Mona pun berlari dengan sekuat tenaga menembus kerumunan beberapa orang yang berlalu lalang di trotoar.


Ia melesat bak burung Elang seperti di filem drama kolosal Angling darma.


 


" Huuhh gila kenapa harus pake kesiangan segala sih?padahal kan udah pasang alarm,masih aja kesiangan" gerutunya dengan terlihat tersenggal-senggal.


Mona berjalan cepat seraya membenarkan tali tas selempangnya yang terlepas-lepas di pundaknya.


" Tunggu pak Eko !!"Sergah Mona sembari mengeluarkan jurus andalanya lari secepat kilat bak Angin ****** beliung.


Pak Eko mengernyit.


" Loh Tumben Bu Mona,Hari ini masuk ?" Tanya Pak Eko yang merupakan security kantornya bertanya heran kepada Mona yang melesat masuk ke pintu gerbang itu.


" Saya lagi buru-buru nih pak Eko,sudah telat nanti pas jam istirahat saya kasih tau ya alesannya "Ucap Mona sambil berlari kecil menuju ruangannya.


Setelah memasuki lobby pintu perkantoran ia pun segera menuju ruangannya dan memperlambat jalannya seraya mengatur laju napasnya.

__ADS_1


" Haduhh...!!perut gue sakit..."Rintih Mona setibanya di ruanganya meremas kecil perutnya.


" Huuh gila gue sudah kaya Atlit maraton lari dengan kecepatan di atas rata-rata.." Gumannya lagi masih ngosngosan Mona tidak menyadari kalau kedua sahabatnya tidak ada di kubikelnya.


Mona menarik napas dan membagikan pandangannya ke seluruh pelosok ruangan yang terlihat begitu lengang dan sei, hanya ada dirinya sendiri di ruangan itu.


" Ehh buseet !! Kenapa dua anak kurcaci kok belum pada datang juga? jangan-jangan kesiangan mereka." Tanyanya sembari terlihat clingukan.


Sejenak ia pun sedang berpikir sesuatu dan mengingat- ngingat akan hari apa ini?


" Hari apa sih ini ?" Tanya Mona sembari menatap kalender yang ada di atas meja kerjanya.


Mata Mona nyaris terbelalak lebar ia pun menutup mulutnya dengan shok.


" Pantesan tuh bocah-bocah kagak ada,ini hari minggu. Oh my God !!"Ucap Mona sembari menepuk keras jidatnya.


" Kenapa gue jadi pikun kaya gini sih.."Ucap Mona sambil bergegas keluar dan kembali ke pintu lobby gedung perkantoran ia berjalan dengan gontai.


" Bu Mona kok keluar lagi ?" Tanya pak Eko menyambut Mona dengan pertanyaan yang cukup membuat Ia tersipu malu.


" Pak Eko ini kenapa gak bilang kalau hari ini hari minggu ?" Ucap Mona dengan wajah cembetut.


" Tadi kan saya sudah nanya sama bu Mona.Kok tumben bu Mona masuk ?tapi bu Mona menjawab,nanti kalau sudah jam istirahat baru saya kasih tau Hee..hee...,"Ucap Pak Eko dengan tersenyum santai.


" Hee..hee...,Ikhh pak Eko,saya jadi malu jadinya."Ucap Mona terlihat menahan rona malunya.


" Tapi di dalam ada Pak Banny ko bu !Baru saja tiba."Ucap Pak Eko memberi tahu.


" Pak Banny !! tumben dengan siapa pak Banny di dalam ?" Tanya Mona terlihat penasaran.


" Saya liat beliau hanya sendirian saja..." Balas pak Eko pelan.


" Ooh !! Tapi kok tumben-tumbenan hari minggu pak Banny ke Kantor ?"Tanya Mona menatap Pak Eko dengan penasaran.


" Pak Eko !! "Panggil Banny dengan tiba-tiba menghampiri pak Eko


" Iya Pak.."Sahut Pak Eko menoleh ke arah Banny berdiri di sampingnya.


Banny menoleh ke arah Mona yang berdiri tak jauh dari Pak Eko dengan mengernyitkan kedua alisnya.


" Mona Kamu mau kemana ?"Tanya Banny menatap lurus Mona yang terlihat menyembunyikan perasaan yang tidak menentu.


" Hmm..,mm..,Anu...ini Pak !Saya pikir ini hari senin eh tau taunya hari minggu.."Ucap Mona seraya menahan rona malu di wajahnya.


Banny tiba-tiba terkekeh melihat tingkah sang bawahannya itu yang terlalu rajin bekerja sehingga dia lupa akan hari .Mona melongo ke arah Banny sedang tersenyum cukup lebar itu.


Mona dan Pak Eko saling melempar tatapan satu sama lain mereka cukup tersanjung melihat Banny yang tersenyum lebar.karena momentum ini merupakan momen yang sangat langka bagi Mona begitu punPak Eko yang merupakan security senior di kantornya bisa melihat Sang Bos tersenyum lebar.


Senyum lebarnya Banny membuat paras Banny semakin menawan sontak saja membuat Mona menatapnga penuh pujian di dalam hatinya.


Banny tersenyum lebar sambil masih memandangi wajah mona yang sedang mengartikan dari senyuman lebarnya itu.


Mona dan Pak Eko sangat paham akan karakteristik dari seorang Banny yang tak pernah sedikitpun menyunggingkan sebuah senyuman dari garis bibirnya apa lagi senyuman selebar ini.dan ini adalah hal yang paling bersejarah bagi Mona dan pak Eko bisa melihat Banny tersenyum lebar.


Dengan penuh rasa terkesima Mona mencoba menikmati senyumannya itu,Mona terpesona dengan senyuman seorng Banny yang ternyata semenawan itu.


Dengan mengenakan setelah kemeja putih Banny sengaja tidak memasukan kemejanya kedalam celana,dah hal itu membuat Banny terlihat lebih santai.


penamilannya yang casual itu terlihat lebih muda dengan luaran auter semi jas yang di padukan dengan celana jeans.Banny terlihat lebih berbeda dengan penampilan-penampilan yang biasa ia kenakan.


Mona terbiasa melihat penampilan Banny yang selalu rapih serta Maskulin,yang wangi farpumnya semerbak memenuhi seantereo ruangan bahkan keharumannya bisa mencapai ujung lantai 10.Kebayangkan wangi farpumnya sewangi apa?


Dan lebih dasyatnya lagi aroma wangi farpumnya tidak bisa hilang dengan begitu saja.Kebayang juga kan nilai harga farpumnya seberapa ?.


" Lucu ya Pak..?"Tanya Mona dengan tersipu malu.


" Kamu memang karywan teladan sangat totalitas.." puji Banny yang masih tersenyum-senyum memandangi raut wajah Mona yang salah tingkah.


" Kalau begitu maaf pak sebaiknya saya permisi dulu.."Pamit Mona hendak melangkah.


" Tunggu !Kamu tidak usah pulang kamu temenin saya aja dulu,soalnya ada beberapa Dokumen penting yang belum saya cek karena data yang di salin Manda tidak sama dengan Data yang di berikan Tora, jadi kamu bantu saya untuk mengecek ulang.."Ucap Banny dengan menatap teduh Mona.


" Tapi Pak itu..." Ucap Mona menggantung


" Tugas Manda ??Saya tidak tau Manda sembuhnya kapan karna kaki dia Cidera, ada kemungkinan dia perlu waktu untuk masa penyembuhannya semalam juga dia ada ijin untuk cuti beberapa hari,karena kondisi kakinya yang cidera itu cukup parah."Jelas Banny dengan mengulung senyumnya yang sedari tadi di bentangkannya olehnya tanpa ia sadari.


" Tidak apa-apa tuh bu Mona,dari pada pulang lagi."Sela Pak Eko mendukung atas permintaan sang Bosnya itu seraya tersenyum penuh isyarat kepada Mona.


" Oya Pak Eko,tolong bapak Antarkan ini ke kantornya Pak Zeanu yang ada di sebrang kantor saya itu"Ucap Banny sembari menunjuk gedung yang berada di sebrang perusahannnya.


" Baik pak ."Ucap Pak Eko sigap sembari menerima sebuah bingkisan dari Banny.


" Ayo Mona !!."Ucap Banny mengajak Mona untuk masuk kembali keruangannya,Mona tidak menolak Ia mengikuti apa yang diminta dari sang Bosnya dengan perasaan yang tidak enak.

__ADS_1


# bersambung #


 


__ADS_2