CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 169


__ADS_3

" Gimana Dok ke adaan istri saya ?" Tanya Banny setibanya Dokter itu keluar bersama Mona dari ruang pemeriksaan.


Dokter itu tersenyum hangat setelah melihat wajah Banny yang begitu cemas menghawatirkan ke adaan Mona,istri sandiwaranya tersebut.


" Istri anda baik baik saja pak.Tenang saja ia hanya mengalami kecapean saja dan memang ada sedikit keluhan di kepalanya,istri bapak sering mengalami migren." Terang Dokter itu tersenyum lembut.


" Bu Mona harus banyak istirahat agar kondisi tubuhnya bisa vit kembali." Jelas Dokter itu menerangakan.


Banny menoleh ke arah Mona yang duduk tak jauh darinya.


" Jaga kesehatan serta jaga pola makan setidaknya itu akan membantu daya tubuh bu Mona pulih kembali.Apa lagi jika istri bapak ini sedang melakukan program,tidak boleh terlalu banyak pikiran ya !he hee." Ujar Dokter tampan itu tersenyum penuh arti ke arah Banny dan Mona.


Sontak Mona terenyuh mendengar penjelasan Dokter tersebut.Bagaimana bisa dia melakukan program hamil jika pernikahan mereka hanya sebatas sandiwara saja.Dokter ini terlalu lebay.Rutuk Mona dengan tersenyum pasi.


Hal yang sama di rasakan Banny ia pun menatap satu sama lain dengan Mona,apa yang di katakan Dokter barusan setidaknya membuat hatinya ikut tersentuh.


Ia pun hanya mampu tersenyum dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di benaknya.


Andai pernikahan ini bukanlah sandiwara mungkin dirinya akan menantikan hadirnya momongan dalam hidupnya.


Beberapa menit kemudian Banny dan Mona nampak sudah keluar dari rumah sakit itu,mereka berjalan menuju pelataran parkiran rumah sakit tersebut.


" Aku akan antar kamu sekarang ke rumah nenek kamu !tapi aku tidak bisa nemenin kamu di sana,karena aku harus ke kantor Arnetta barusan menelponku." Ucap Banny seraya membuka pintu mobilnya tersebut.


Mona langsung masuk kedalam mobil mewahnya Banny dengan perasaan enggan menanggapi ucapan pria itu.


Mona duduk dengan perasaan sedikit kecewa,kenapa Arnetta menghubungi Banny ??


Apakah dia tidak bisa menghandle pekerjaan nya ?


Batin Mona seraya menatap Banny yang baru saja memasuki mobilnya dan duduk di sampingnya.


" Ada pekerjaan peting ? " Akhirnya gadis itu memberanikan diri bertanya dengan terpaksa.


" Sepertinya ada beberapa dokumen penting yang harus aku periksa." Jawabnya dengan menatap datar dan mulai menghidupkan mesin kendarannya tersebut.Lalu tak lama ia pun perlahan menjalankan laju mobilnya.


Mulut gadis itu hanya membulat membentuk sebuah hurup o,dan ia pun mengalihkan pandangnnya menatap ke arah jalanan dengan perasaan penuh tanda tanya serta penasaran.Tak berapa lama kemudian mobil mewahnya Banny meninggalkan pelataran rumah sakit tersebut.


" Jam berapa kamu akan pulang,biar aku jemput nanti !" Ucap Banny sesaat menoleh ke arah Mona yang terdiam dengan lamunannya.


" Hmm,aku kurang tau." Jawabnya tak bersemangat.Sepertinya otak besarnya masih menerka-nerka akan kepentingan Arnetta yang menghubungi suami sandiwaranya tersebut.


Kok rasa-rasanya dia merasa keberatan jika gadis cantik itu selalu menghubungi Banny di saat yang tak tepat seperti ini.


" Ada masalah penting ?" Tanya Banny dingin.


" Aku hanya ingin bertemu dengan nenek ku saja,wajarkan bila aku merasa kangen." Imbuh Mona dengan sedikit jengkel.


Rasa keingin tahuan pria tampan itu tak beralaskan baginya.


" Kan bisa lewat vc jika kamu ingin bertemu nenek kamu itu." Balas Banny menatap dingin laju kemudinya.


" Mas keberatan jika mengantarkan aku ke rumah nenek ? " Tanya gadis itu tandas,nada bicaranya terdengar jutek.


Banny menghela menahan perasaan tidak nyaman terhadap pertanyaan gadis itu.


" Tidak seperti itu juga,tapi sebaiknya kamu kan harus beristirahat dulu.Dokter bilang jika kamu itu kecapean kan?jadi harus banyak istirahat." Terang Banny seraya fokus ke arah jalanan.


Raut wajah gadis itu terlihat merengut menatap kesal terhadap pria tampan itu.


Tiba-tiba gawai milik Banny berdering kencang mengalihkan antensi pria tampan itu dari fokusnya mengemudi.


Banny segera merogoh gawainya yang berada di saku celananya.


Banny melambatkan laju kendaraannya lalu menatap ke layar ponselnya tersebut yang menampilkan sebuah nama memanggilnya.


Perhatiann Mona pun ikut terarahkan ke arah pria tampan tersebut.


Sedikitnya mampu membuat dia merasa penasaran atas siapa yang menelpon pria tampan itu.


" Hallo Ane! ada apa ?" Sapa Banny dengan cepat.


Mona melirik tajam ke arah Banny setelah mendengar nama sekertarisnya yang menelepon.


Sesaat Banny mendengarkan apa yang di sampaikan sekertarisnya itu.


" Ok.beberapa menit lagi saya akan sampai di situ.Kamu siapkan saja filenya dan suruh klien saya untuk menunggu beberapa menit.Saya lagi ada dalam perjalanan." Tungkas Banny dengan tegas seraya mengakhiri sambungan teleponnya tersebut.


Tak lama kemudian dia pun mengembalikan gawainya ke saku celananya.


" Bisa aku turun disini saja mas ?" Tanya Mona pada akhirnya dengan nada sedikit jutek.Banny menolehkan kepalanya kepada Mona dengan terheran-heran.


" Apa maksudmu?" Tanya nya dengan pelan.


Mona memandang ke arah luar dengan perasaan yang tak bisa lagi dia tutupi.


" Aku bisa naik taxsi kerumah nenek." Ucap Mona datar.


" Kenapa kamu berubah pikiran ?" Tanya Bannu heran.


Mona terdiam tak menjawab.


" Kamu pikir aku bisa menurunkan kamu begitu saja?duduk lah aku tidak akan mencelakan kamu meski aku harus terburu-buru ke kantor." Jelas Banny dengan sedikit kesal.


" Tapi sekertaris mas sudah menunggu." Sindir Mona halus.


Banny menoleh ke arah gadis itu dengan perasaan aneh,setelah melihat sikap gadis itu berubah setelah sekertarisnya itu menelpon dirinya.


Bibir pria itu tergerak lalu membuat lengkungan yang manis.Entah kenapa dia merasa geli melihat gadis ini tengah cemburu kepadanya.


" Kamu cemburu ?" Tanyanya dengan menoleh gadis itu.


Mona terkatup katup ketika pria tampan itu meledeknya.Mata bulatnya mendilak dengan sempurna hingga membekas di netranya seorang Banny.


Sepertinya Mona merasa kecewa jika ia harus mendengar nama gadis cantik itu di sebut oleh Banny.Rasanya gadis itu seperti sengaja melakukan hal itu untuk mencari perhatiann suami sandiwaranya tersebut.


Hmmm tak ada inisiatifnya !!!rutuk Mona membatin.


" Aku ada meeting dadakan sore ini.Jadi kamu tidak usah berpikiran buruk antara aku dengan sekertarisku itu." Ujar Banny kembali meledek gadis itu dengan tersenyum sedikit lebar.


Ia merasa percaya diri jika gadis itu memang sedang merasa cemburu kepada dirinya.


Mona mendilak kembali dengan bibir mungilnya berkomat kamit seakan-akan dia tak terima dengan lelucon pria tamapan itu terhadap dirinya.


what the ???


Mona menatap semakin jengkel.


" Turunkan aku disini saja mas.!" Gertak Mona dengan jengkel.


Banny menepikan mobilnya mendadak hingga Mona merasa terkejut dengan aksi pria tampan itu.


" Mas tidak pandai mengendarai apa ?? " Tanya Mona dengan kesal.


Banny mengernyit dengan heran.


" Kenapa ?? " Tanya nya dengan tanpa dosa.

__ADS_1


" Tidak bisahkah pelan-pelan menghentikan kendaraan ini ? " Tanya nya mendelik.


" Kamu aneh !,aneh sekali." Ucap Banny dengan tersenyum sinis.Ia berusaha untuk tenang walau perasaanya kesal sendiri.


Mona menatap keki ke arah pria itu dengan menampilkan kerutan di dahinya.


" Kamu meminta untuk segera turun,aku berhentikan kendaraan ini kamu malah marah-marah.Dasar cewek aneh !" Ujar Banny menggeleng,lucu rasa-rasanya melihat sikap gadis itu.Egois berbalut gengsi.


Mona dengan perasaan tak menentu akhirnya dia mencoba membuka pintu mobil itu walau perasaannya sedikit ragu.Namun sayang Banny tidak membuka kunci mobilnya tesebut,Mona kesulitan untuk membuka pintu mobil tersebut.


" Mas ! tolong buka mobilnya !!" Gertaknya gadis itu keras sehingga cukup terlihat marah.


" Duduk lah,dan jangan memerintahku." Desisnya denga tajam.


Akhirnya pria tampan itu terlihat mulai jengkel dengan sikap keras kepalanya gadis itu.


Mona tidak berkutik lagi mendengar geraman pria itu.Mungkin Banny mulai kesal melihat sikap keras kepalanya tersebut.


Padahal jauh dari lubuk hatinya Mona hanya ingin melihat reaksi dari pria itu yang seperti apa.


" Aku tidak suka kamu bersikap berlebihan." Geram Banny kesal.


Mona langsung menolehkan kepalanya lalu menatap pria itu dengan ekspresi yang berbeda.


" Aku tidak berlebihan,aku hanya menghargai pekerjaanmu mas." Ucap Mona dengan nada suara setengah serak menahan kesalah pahaman perasaannya.


" Heu." Decih pria tampan itu terlihat tak percaya.


Sontak membuat Mona terlihat semakin tak berdaya.


Entah kenapa pria tampan itu seolah-olah mampu menyelami isi hatinya yang tengah menahan perasaan cemburu terhadap sekertaris barunya itu.


" Aku yakin itu bukan hanya sekedar perasaan kamu menghargai pekerjaanku saja,itu hanya...." Imbuh pria tampan itu tak lantas,lalu ia pun menggeser bola matanya lalu mencuri pandang ke arah gadis itu dengan sedikit mengoloknya.


" Apa?hanya apa ?" Tangtang Mona dengan cepat,entah kenapa perasaan menjadi marah dan tersulut dengan ledekan pria tampan itu.


Berani beraninya dia menuduhku cemburu !! Ruruk batin Mona dengan geram.Padahal kenyaan nya benar.Haa...haaa.


Banny kembali melajukan kendaraannya dengan mengabaikan gadis itu yang terlihat mulai mengomel sendiri kepadanya.


" Aku sedang mencoba mengalahkan perasaan egoku ini Mona,jangan membuatku berubah pikiran dengan sikap keras kepala kamu itu." Ancamnya dengan menatap dingin laju kendaraannya.


Mona terdiam,tidak mampu lagi melawannya.Bukan karena tidak sanggup atau takut dengan ekspresinya saat ini,tapi entah kenapa rasa sakit itu mulai menghantam kembali kepalanya.Dan dia pun hanya mampu memejamkan matanya dengan tak berdaya setelah denyutan itu mulai berkontraksi.


Tak lama kemudian mobil mewahnya Banny mulai memasuki pekarangan rumah yang tak terlalu mewah namun terlihat begitu bersih dan nyaman.


Sebuah Mobil clas eropa terlihat terpakir mewah di halaman rumah sederhana tersebut.


Mona dan Banny secara bersamaan menilik akan keberadaan mobil tersebut berupaya saling menebak akan kepemilikan mobil mewah tersebut.


Tanpa menunggu lama Mona segera turun dari mobilnya Banny lalu berjalan meninggalkan Banny yang masih penasaran dengan apa yang di lihatnya kini.


Demi menjaga perasaan sang nenek sekaligus menuntaskan rasa penasarannya akhirnya Banny pun menyempatkan mau tak mau secepatnya mengejar Mona yang telah terlebih dahulu menghambur menuju kedalam rumah.


Banny yang di liputi oleh rasa penasaran nya atas keberadaan mobil mewah tersebut memberanikan diri untuk mampir sejenak hanya untuk berpamitan kepada neneknya Mona dan entah kenapa perasaanya berhasil di buatnya tak tenang sekaligus penasaran atas si pemilik mobil clas eropa tersebut.


Banny berjalan mendekat ke arah pintu rumah tersebut,lalu di lihatnya Mona sudah berada di tengah-tengah beberapa tamu yang sedang berkunjung ke rumah neneknya tersebut.


Banny menatap shok setelah melihat salah satu tamu yang bertamu ke rumah neneknya Mona tersebut dan perasaanya kian tak berarah setelah lihat siapa sosok pria yang sedang bertamu tersebut.


Yaa pria itu adalah Angkasa,pria tengah menjalin kerja sama dengan dirinya sekaligus pria yang di anggap saingan terberatnya dalam hubungan asmaranya kini.


Sedang apa dia berada disini ???


Tanya batinnya menatap tajam pria itu.


Entah kenapa ia di ingatkan kembali tentang pernyataan Mona beberapa waktu yang lalu,yang pernah mengatakan jika Mona pernah akan di jodohkan,sebelum akhirnya gadis itu menerima perjodohan dari sang Ayahnya.


Bannny menarik napas panjang berusaha untuk menetralkan perasaanya ia tidak ingin terpancing dengan pemikiran buruknya yang mulai meracau sesisi hatinya.


Angkasa menoleh ke arah kedatangan Banny yang memasang wajah tak biasa.


Semua pandangan tertuju ke arah kedatangan Banny begitupun Mona tak terkecuali.


" Mas !"


Pekiknya pelan.Mona menatap dengan perasaan yang tak menentu setelah melihat reaksi wajah Banny sesaat melihat Angkasa berada di tempat neneknya secara kebetulan.Dan raut wajah pria tampan itu berubah drastis.


" Mohon maaf,sepertinya saya tidak bisa berlama-lama disini." Pamitnya seraya menoleh ke arah semuanya,terutama Banny mendaratkan tatapannya terakhir ke arah Mona.


" Anda tidak bergabung dulu sejenak bersama kami ?" Angkasa menyela dengan tersenyum penuh arti.


Rahang pipi pria tampan itu mengeras menahan amarahnya yang mulai mendera.


" Tidak,terimakasih.Saya lagi banyak urusan." Sergah Banny sedikit ketus.


Mona terdiam tak bisa berbuat apa-apa melihat ekspresi wajah pria tampan itu berubah menakutkan.


" Nenek,saya permisi dulu." Pamit lagi Banny dengan manggut penuh hormat ke arah sang nenek.


" Hati-hati nak Banny." Balas sang nenek tersenyum hangat.


Banny mengangguk lalu membalikan badan dan melangkah menjauh meninggalkan kediaman neneknya Mona.


Ada sekelumit perasaan yang tak biasa di rasanya saat ini,pikirannya sibuk bermonolog tentang kehadiran pria berkarismatik itu.


Apakah ?benarkah atau.....,


Pertanyaan demi pertanyaan menderanya.


Dengan setengah di banting Banny menutup kencang pintu mobilnya,entah kenapa perasaan itu telah sempurna menguasai dirinya.


Banny memegang erat setir mobilnya lalu menatap tajam ke arah depan.


" Shittt !!!"


Pria tampan itu memekik dengan kasar,menepis keras setir mobilnya tersebut.


Yang benar saja jika dirinya telah berhasil di kuasai oleh perasaan cemburunya itu.


Wajah pria itu terlihat geram menatap kesal ke arah kediamannya Mona.


Perlahan Banny menarik napas lalu melajukan kembali kendaranya keluar dari pelataran rumahnya Mona menuju jalan raya.


Sepanjang perjalanan menuju kantor otak besarnya terus bekerja keras memikirkan hal yang menjadi pusat pikirannya saat ini.


Bagaimana bisa pria itu berada di waktu yang tepat di saat Mona mendatangi rumah neneknya ??


Kebutulan macam apa ini ???desisnya geram.


Ataukah mungkin mereka sudah janjian ???


Banny berpikir sejenak dengan terus tangannya melajukan kemudinya.


Benarkah mereka telah membuat janji dan merencanakan sesuatu hal ??


Ahh

__ADS_1


Rasanya dada pria itu terasa sesak ketika pikiran buruknya sudah meracuni isi kepalanya tersebut


Wajah pria itu semakin menegang sesaat ia menyimpulkan sendiri asumsi pradugaanya tersebut yang berkeyakinan pria itu akan melanjutkan perjodohan kembali.


Yang benar saja ????


Pria tampan itu mengumpat sempurna


Lengkap sudah pikiran buruknya sudah menguasai isi kepalanya.


Setelah Banny memarkirkan mobilnya dengan sempurna ia segera melangkah menuju lobby perkantorannya,berjalan cepat di koridor kantornya.


Beberapa orang menyambutnya dengan ramah dengan cara menyapanya atau hanya menundukan kepalanya dengan penuh hormat.


Namun reaksi pria berusia 30 tahun itu hanya dingin tak tersentuh enggan merespon sapaan para stafnya dengan ramah.


Banny memang memiliki sikap yang cuek dan dingin itu berlaku untuk siapa saja tak terkecuali Mona.Istri sandiwarannya itu kerap menerima perlakuannya yang dingin serta acuh.


Yaa sikapnya itu terbentuk setelah dirinya merasakan rasa sakit hati yang mendalam atas kandasnya sebuah hubungan yang teramat dalam ia agungkan di masa lalu.


" Selamat siang mas !"


Sapa Arnetta dengan ramah.


" Siang Ane !" Balas pria tampan itu dingin.


" Mas,ada beberapa file yang harus secepatnya di periksa,dan sudah ada beberapa klien yang sedang menunggu mas di ruang tunggu." Jelas Arnetta dengan sigap.


" Ok,tolong sekarang kamu siapkan file file tersebut." Balas Banny seraya terus berjalan tanpa menghiraukan Arnetta yang berusaha berjalan mengejarnya.


" Mas !" Panggil kembali Arnetta dengan cepat.


Banny melambatkan langkahnya lalu menolehkan kepalanya ke arah gadis itu.


" Ada apa ?" Tanya Banny seraya menyimak gadis cantik itu.


" Hmmm..," Gadis cantik itu tersenyum dengan begitu manis.


Banny menatap heran atas sikap gadis cantik itu.Alisnya tebalnya terangkat tinggi dengan penuh ekspresi.


" Bagaimana dengan penampilanku hari ini ?" Tanya Arnetta dengan membenarkan sedikit rok ketatnya yang menempel di paha mulusnya tersebut.


Banny menyipitkan matanya mencoba menatap gadis itu dengan seksama,lalu ia pun mengamati penampilan terbarunya sekertarisnya itu yang cukup menggoda penglihatannya.


" Kenapa kamu merubah penampilanmu ?" Tanya Banny terheran heran.


" Aku hanya ingin terlihat lebih berbeda saja." Balas Arnetta tersenyum lembut,berharap pria tampan itu akan mengagumi penampilan barunya tersebut.


Banny menggeleng dengan frustasi kenapa sekertarisnya itu benar benar membuat moodnya semakin tidak baik dalam dirinya,dan netranya kali ini di suguhkan pemandangan tubuh Arnetta yang cukup seksy.


Ia pria normal wajar jika pandangannya sedikit tergoda untuk tetap menikmati pemandangan yang indah tersebut.


Banny menghela.


" Mas tidak suka,mas berharap kamu tidak perlu mengenakan rok sependek itu lagi." Ungkapnya seraya memalingkan wajahnya.


" Tapi mas...," Sela Arnetta tak lantas,keinginanya untuk membantah perkataan bosnya terpatahkan.


" Bagiku penampilan kamu hari ini sangat norak !! dan sayang paha kamu terlalu terekspose begitu saja." Ucap Banny seraya berjalan kembali.


Dia tak peduli akan perkataan pedasnya itu akan melukai hati gadis cantik itu.


Arnetta menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kecewa dan raut wajahnya pun seketika memerah menahan malu yang luar biasa setelah mendengar komentar pedas dari pria tampan itu yang begitu menampar kuat perasaanya tersebut.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam ia hanya ingin tampil berbeda di hadapan bosnya tersebut dan mendambakan pujian manis yang terucap, namun sayang.Hanya sakit hati yang di dapat bukan pujian atau sanjungan yang dapat melambungkan perasaanya.


Arnetta menatap kesal ke arah bosnya tersebut,Banny memang tipekal laki-laki yang tak mudah dia curi perhatiannya.Hampir sebulan ini dia menjadi sekertarisnya pria angkuh itu,namun Banny tidak menunjukan ada perasaan spesial terhadapnya.Padahal dulu pria tampan itu pernah memberi harapan yang dasyat untuk dirinya.


Arnetta sadar betul,jika kali ini ia pun tak akan sanggup menarik kembali perhatiaan pria itu setelah menikah.


Banny memasuki ruangan kantornya berjalan lurus menuju kursi kebesarannya.Setengah di hempaskan Banny mendaratkan pantatnya di kursi kerjanaya dengan kasar.


Kali ini dia benar benar gagal fokus,pikirannya tertuju sepenuhnya ke hal Mona yang kini sedang bersama dengan Angkasa.


Kembali ke topik kecurigaannya.Banny memikirkan hal itu kembali.


Apa yang sebenarnya sedang di lakukan istri sandiwaranya itu bersama pria yang sedang menjalin kerja samanya tersebut.


Ahh.....


Rasanya ia ingin menghantam keras sesuatu benda yang bisa membuatnya puas.


Secangkir kopi sudah terhidang beberapa jam yang lalu,dia yakin jika kopi itu sudah tak panas lagi,karena dia datang di jam siang.


Banny mencoba memulai pekerjaanya menatap intens komputernya namun sayang entah kenapa pikirannya sulit sekali untuk bisa fokus.


Lagi lagi Banny tidak bisa berkonsentrasi,dirinya tidak berfokus pada pekerjaannya melainkan dirinya sedang memikirkan istri sandiwaranya tersebut.Ia tak bisa lagi menyembunyikan kegalauan hatinya atas pikiran buruknya yang telah berhasil mendominasinya saat ini.


Banny menghentakan napasnya dengan kasar,ini benar benar membuatnya gila bahkan frustasi !!


di raupnya wajah tampannya itu dengan kasar.


" Maaf mas !" Tiba-tiba Arnetta muncul di balik pintu ruangannya yang sedikit terbuka.


Sontak itu membuat Banny terasa terganggu dengan kemunculan sekertarisnya itu yang secara tiba-tiba.


" Biasakan kamu mengetuk pintu terlebih dahulu !!" Semprotnya dengan kesal,ia merasa kesal dengan ulah sekertarisnya itu.


Arnetta tercekat kaget setelah mendengar perkataan bosnya itu yang dirasa menyinggung perasaanya tersebut.


Ada apa dengan pria ini?,hari ini begitu sangat menakutkan akan sikapnya.


" Maaf mas,aku tak sengaja melihat pintu ruangan mas terbuka jadi....," Ucap gadis itu menggantung.


" Setidaknya kamu memiliki atitude yang baik,tidak melupakan untuk mengetuk pintu." Sergahnya lagi dengan kesal.


" Mas maaf. " Balas gadis cantik itu tertunduk merasakan kedua lututnya bergetar setelah hardikan dari pria tampan itu.


Sabar !!!! rintihnya dalam hati.


" Ada apa ? " Tanya nya dingin.


" Klien sudah menunggu dari tadi mas,aku hanya mau memberi tahu itu saja.Dan ini beberapa file yang mas minta tadi." Ucap Arnetta seraya menyodorkan beberapa file kehadapan bosnya tersebut.


" Astagaa !!!" Pekik Banny terdengar depresi setelah mengingat hal itu.


Kacau !ya kacau sekali.


Kenapa ia menjadi selupa itu ?Rutuknya dengan sebal.


" Sorry Ane,aku lupa." Ucapnya dengan terlihat bersalah.


Arnetta hanya tersenyum pasi dengan menahan perasaan yang mulai tak nyaman atas sikap bosnya tersebut.Namun ia tak mau menyerah dan tak ingin memperdulikan hal itu.Ia ingin sekali menjadi bagian yang terpenting dalam kehidupan pria tampan itu,bagaimana pun itu caranya.


" Aku permisi mas." Pamit Arnetta dengan segera bergegas keluar dari ruangan uji nyali tersebut.


Banny menghebuskan napasnya dengan kasar,hari ini benar benar tak seperti dirinya yang biasa yang selalu bisa bersikap masa bodoh akan segalanya permasalahan.

__ADS_1


Jujur saja dia merasa resah akan keadan Mona yang tengah asik bersama Angkasa.Pikiran serta perasaan seratus persen sedang mencurigainya.


__ADS_2