CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 144


__ADS_3

MONA terlihat sudah rapih mengenakan baju atasan putih dengan blezzer coklat muda di padukan rok di bawah lutut dengan warna senada,pagi ini ia di sibukan dengan membuat sarapan pagi untuk bosnya tersebut,setelah di rasa sudah beres semuanya ia pun menunggu pria itu di meja makan.


Banny keluar dari kamarnya mengenakan kemeja putih dengan dasi bermotif garis-garis biru di atas warna dasar nevi.Ia melangkah mendekatinya seraya membenarkan kancing lengan bajunya.


" Kamu buatkan sarapan apa untuk ku ?" Tanya dengan wajah sedikit semeringah.


Lagi-lagi gadis itu di buatnya terkesima atas perubahan kecil yang di tampilkan pria tampan itu.


" Sa saya hanya membuat roti panggang dengan selai nanas." Ucap Mona dengan suara pelan.


Wajah pria tampan itu semeringah saat mendengar gadis itu membuatkan sarapan paginya dua buah roti panggang dengan selai nanas kesukaanya,entah kenapa perasaanya tersentuh dengan aksi kecilnya sang gadis itu.


Sementara Mona melihat begitu nyata atas perubahan raut wajah pria tampan tersebut.


" Saya lebih suka jika selesainya di tambah lebih banyak." Ucapnya dengan tersenyum.


" Bapak suka selai nanas ?" Tanya gadis itu menatap lurus wajah pria itu.


Dengan cepat pria itu mengangguk dengan menarik sedikit garis bibirnya hingga membentuk bulan sabit.


Gadis itu kembali terhenyak saat lengkungan garis bibir itu berhasil membuat jantungnya berdebar.


" Sebaiknya kamu jangan panggil aku bapak lagi.Panggil aku nama atau Mas,terserah kamu." Ujar pria itu seraya mulai duduk di hadapan Mona.


Sontak mendengar usulan pria tampan itu Mona di buatnya melongo tak percaya.


Ada apa dengan pagi ini ?? Batin Mona heran.


Di rasa pagi ini memang sedikit terasa berbeda baginya dan ke anehan ini di ciptakan oleh pria yang tak pernah membuatnya seaneh ini.


Ada kebahagiaan tersendiri ketika dirinya melihat senyuman itu terulas untuknya.


Namun lagi-lagi Mona menepis kebahagiaan itu,bahwasaanya itu hanyalah kebahagiaan yang sesaat untuk dirinya.


Gadis itu terdiam tanpa protes mencobaa menelaah kembali permintan sang bos yang menyuruhnya untuk merubah panggilannya.


" Dan saya harap kamu bisa memanggil saya dengan sebutan yang tidak membuat kita terasa kaku." Ucapnya lagi dengan menatap dalam gadis itu yang masih terheran-heran menatap ke arahnya.


" Haah ???"


Gadis itu memekik dengan kedua matanya terbelalak lebar seakan-akan dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya tersebut.


" What ???,apa kuping gue tidak salah dengar,atau bos gue yang salah ngomong? sejak kapan ni orang bersikap manis seperti ini ?,lalu gue harus manggil apa ?"


Batin gadis manis itu menatap bingung seolah-olah ia masih tak percaya dengan atas apa yang telah dikatakan bosnya tersebut.


Mendapati sikap gadis itu sedikit berbeda,Banny menatap panjang reaksi sekertarisnya itu yang masih kebingungan atas sikapnya.


" Kenapa ??,apa kamu keberatan jika kamu memanggil saya dengan panggilan layaknya sebagai pasangan suami istri ?" tanya pria tampan itu melirikan matanya dengan penuh arti ke arah Mona.


Mona tertunduk mengalihkan pandangannya ke roti yang ada di hadapannya.


" Ti tidak pak,bukan itu maksud saya." Sergah Mona dengan cepat.


" Lalu ?" Tanya pria itu menatap datar.


" Saya rasa,saya tidak bisa memanggil bapak dengan panggilan tertentu.Karena saya merasa itu sangat lancang,jika saya harus memanggil nama,atau Mas karena itu terlalu....," Ucapan gadis itu menggantung lalu menatap lurus pria yang duduk di hadannya.


" Terlalu apa ??? " Tanya Banny dengan tak sabar,menatap dalam ke arah gadis itu yang tengah menyibukan diri membuatkan teh manis hangat untuknya.


" Hmmmm...., " Mona kembali terdiam,pandangannya menatap gamang.


Jari jemarinya terlihat sedikit bergetar ketika ia menyodorkan secangkir teh manis hangat kehadapan pria tersebut.


" Bukankah kita sudah menjadi pasangan suami istri ? " Ujar pria tampan itu memandang lekat wajah gadis tersebut.Tatapannya kian tajam,seolah-olah ingin menegaskan jika ucapannya itu tidak main-main.


Mona kian terpana di buatnya ketika mendengar pernyataan pria tampan itu yang telah berhasil membuat pikiran serta perasaanya berlomba-lomba untuk mengartikan.


" Tenang Mona,lo jangan ke-geeran dulu !,lo tahan perasaan elo jangan sampe elo baper !!"


Bisik batin gadis itu seraya menatap jauh ke arah perubahan air muka serta sikap pria tampan itu.


" Tapi kita hanya bersandiwara saja pak,jadi saya rasa panggilan itu tidak terlalu penting buat saya." Ucap Mona tertunduk.


" Kenapa ?,bukankah hal ini mampu meyakinkan mereka,jika kita ini adalah pasangan suami istri,saya rasa tidak ada salahnya jika panggilan itu di rubah,dan kamu harus belajar memanggil saya di hadapan publik dengan panggilan layaknya pasangan suami istri,agar sandiwara ini terlihat lebih natural." Ujarnya dengan tersenyum menyeringah dan itu berhasil membuat Mona semakin curiga akan perubahan sikapnya tersebut.


" Maksud bapak ?" Tanya Mona menatap curiga.


" Saya mau,kamu totalitas dalam melakukan sandiwara ini,dan......," Ucapan itu menggantung saat ponsel milik Banny berdering begitu nyaring.


Pria itu terhenti dari ucapannya lalu menoleh ke arah ponselnya yang berada tak jauh dari meja makan tersebut.


Mona menghela,apa yang menjadi ke curigaannya terbukti jika pria ini menginginkan dirinya untuk lebih totalitas dalam melakukan sandiwara tersebut.


Mona ikut menoleh ke arah ponsel Banny yang teletak tak jauh dari meja sofa.

__ADS_1


Dengan cepat Banny pun beranjak lalu menghampiri meja tersebut dan ia pun segera meraih ponselnya yang masih berbunyi nyaring.


Bola mata elangnya menatap tajam ke arah layar notifikasi ponselnya tersebut,dengan jelas ia melihat di layar ponselnya itu salah satu mitra binis nya menghubungi dirinya dan itu adalah Angkasa.


Entah kenapa perasaanya di liputi rasa heran sekaligus penasaran dengan salah satu Mitranya tersebut,sepagi ini dia sudah menghubungi dirinya.


Sebelum menjawab panggilan tersebut Banny sejenak menoleh ke arah Mona yang sedang memindahkan sepotong roti yang baru ke piring bosnya tersebut.


Banny menatap dalam gadis itu yang secara diam-diam begitu perhatian terhadap dirinya.


" Hallo !! " Sapa nya dengan pelan.


" Hallo pak Banny,Assalamualaikum." Sapa kembali dari sebrang telepon.


" Walaikumsalam pak Angkasa,apa kabar ? " Tanya dengan terus menatap lurus ke arah sekertarisnya itu.


Mona sempat menoleh ke arah bosnya tersebut sesaat bosnya menyebut nama Angkasa.


" Alhamdulillah saya baik-baik saja,bagaiamana dengan pak Banny sendiri ? " Balasnya kembali dengan suara hangat.


" Alhamdulillah saya sehat pak Angkasa." Jawabnya singkat.


" Sepertinya pagi ini suara pak Banny terdengar lebih semangat.Saya rasa itu pertanda baik,jika pak Banny sedang menikmati masa-masa yang begitu indah bersama istri bapak." Ujar pria itu dari ujung telpon dengan sedikit intonasi yang berbeda.


Kedua alis pria tampan itu mengkerut hebat,sesaat rekan bisnisnya itu memberikan sebuah pernyataan yang cukup membuatnya sedikit terganggu.


" Akh pak Angkasa ini bisa saja." Balas Banny dengan tersenyum datar,lalu kembali menoleh Mona yang sedang memulai sarapannya.


" Saya berharap seperti itu." Ucapnya Angkasa kembali.


" Oh,do'akan saja agar pernikahan saya senantiasa bahagia." Ucap Banny tersenyum enteng,Mona yang sempat mendengar percakapan itu menoleh ke arah posisi Banny berdiri.


" Oh itu tentu. " Balasnya dengan nada datar.


" Oya,ada keperluan apa ya bapak menelepon saya sepagi ini,saya merasa sedikit kaget bapak sepagi ini menelpon saya." Ucap Banny mempertanyakan keperluan pria itu.


" Ada hal yang ingin saya bicarakan mengenai permasalahan investasi kemarin,saya akan menambah kembali nominalnya." Ujarnya dengan terlihat tenang.


" Jadi ada penambahan dana investasinya ?" Tanya Banny pelan.


" Tepatnya seperti itu,jadi saya meminta jika siang ini kita mengadakan pertemuan untuk membahas masalah ini." Terang Angkasa dengan seksama.


Sesaat Banny terdiam mencoba menyikapi permitaan rekan bisnisnya itu dengan tenang tanpa berpikir macam-macam.


" Ow,terlalu cepat untuk ukuran pengantin baru jika bapak sudah memulai aktivitas di tengah-tengah situasi yang menyenangkan ini,saya rasa pak Banny ini masih perlu tambahan waktu untuk menikmati masa-masa bulan madu dengan istri bapak." Seloroh pria itu dengan tertawa renyah.


Banny tersenyum kecut saat pria berkarismatik itu menyinggung kembali hal pernikahannya.


" Saya rasa tidak perlu berlama-lama untuk menikmati masa-masa bulan madu,karena bagi saya setiap detik bersama seorang istri seperti bulan madu." Tegasnya seraya menatap lurus ke arah Mona dengan penuh arti.


Sontak saja perkataan itu nyaris membuat Mona tersentak kaget,sepotong roti yang berada di dalam mulutnya terasa membuatnya sesak napas,dengan cepat ia segera meraih segelas air putih untuk mendorong kuat sepotong roti yang tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya,dan itu berhasil membuatnya terbatuk-batuk.


Otaknya tentu saja bekerja dengan cepat saat ucapan bosnya itu tercerna sempurna olehnya,dari artian pembicaraan bosnya itu ia dapat menyimpulkan jika pria tampan itu sedang memamerkan kebahagiaanya guna membuat hati lawan bicara itu percaya atas rekayasa pernikahann nya tersebut.


" Baiklah saya tunggu konfirmasinya segera ya." Tungkas Angkasa mengakhiri pembicaraanya dan enggan menimpali ucapannya Banny.


" Ok,secepatnya akan saya konfirmasi setelah melihat skejul hari ini." Balas Banny tersenyum penuh kemenangan saat mitra bisnis nya itu seketika bungkam mendengar jawaban dari kebahagiaan pernikahannya tersebut.


" Baiklah pak Banny terimaksih banyak dan selamat pagi." Pamit Angkasa sebelum akhirnya pembicaraan itu terputus.


" Pagi pak Angkasa." Balas Banny tersenyum simpul seraya menatap dalam wajah gadis itu yang masih terlihat menenangkan dirinya dari insiden kecil keselek roti panggang.


**********


MONA berjalan menyusuri lorong sebuah ruangan kantor,ia mempercepat langkahnya guna menuju ruangan sang Menejer,ada beberapa laporan pekerjaan perusahaan yang harus di ambilnya atas permintaan sang bosnya tersebut.


Laporan itu telah di siapkan jauh-jauh hari oleh pak Hendra selaku Menejer perusahaan sebelum akhirnya sang Direktur Banny memintanya setelah beberapa hari ini sang Direktur perusahan tersebut menyerahkan tugasnya kepada pak Hendra selama cuti pernikahan berlangsung.


Di tengah-tengah keseriusannya berjalan ia di kejutkan dengan panggilan suara lembut wanita menengahi langkahnya.


" Bu Mona !"


Mona menoleh ke arah sumber suara tersebut dengan memperlambat langkahnya.


" Hei Aneu." Sapa Mona tersenyum kaku saat di lihatnya gadis cantik itu tersenyum manis ke arahnya.


Lalu sesaat gadis itu menatap dengan ekspresi menyeringah heran atas kehadiran dirinya di kantor.


" Kok bu Mona udah aktivitas lagi ?ini kan masih hari-hari yang paling menyenangkan untuk ukuran pengantin baru." Ujar gadis cantik itu menatap dengan seksama.


" Oh,hmm,kebetulan hari ini ada beberapa kegiatan penting yang harus pak Banny lalukan jadi kita mempercepat masa cuti kita." Jelas Mona dengan tersenyum kaku.


" Iya juga sih,secara pak Banny tipe orang yang profesional jadi wajar jika masa-masa bulan madu nya malah di sibukan dengan pekerjaan." Tambah Arnetta mengiyakan pernyataannya Mona.


Mona menganngguk dengan tersenyum kian hambar perasaannya mulai di liputi perasaan canggung terhadap gadis cantik ini,hati kecilnya selalu memberikan jarak agar tidak terlalu dekat dengan gadis cantik itu,entahlah menatapnya dirinya seakan-akan menghadirkan sebuah persaingan yang begitu dalam.

__ADS_1


" Tapi aku lihat segar sekali bu Mona hari ini,aroma-aroma pengantin baru nya masih terasa melekat." Goda perempuan cantik itu tersenyum lembut.


" Akh kamu bisa saja." Balas Mona tersenyum datar,entah kenapa setiap kali ia bertemu dengan perempuan ini perasaanya selalu tak nyaman dan serta merta saja perasaanya selalu tak enak hati.jujur saja ia merasakan aroma persaingan yang tak terlihat dari sikap tak nyata nya gadis cantik ini,ia yakin jika perempuan cantik ini masih menginginkan Banny.Dan itu bisa ia rasakan nanti jika perceraian nya itu terjadi makan bisa di buktikan jika mantan suaminya itu akan jatuh di pelukan perempuan cantik ini.


Mona mengalihkan pandangannya lalu membuang perasaan khawatirnya tersebut,tak semestinya ia mengkhawatirkan perasaannya itu terhadap pria yang kini menjadi suami sandiwaranya itu.


" Oya bu Mona mau kemana ?" Tanyanya dengan menatap selidik dan pertanyaan itu berhasil membuyarkan lamunan kecilnya.


" Oh !! Saya akan ke ruangan pak Hendra,pak Banny meminta beberapa laporan pekerjaan untuk beberapa hari ini. " Terang Mona dengan tersenyum enteng.


" Kenapa pak Banny tidak meminta saya untuk mengambilkannya,ruangan saya dengan pak Hendra kan tidak terlalu jauh." Imbuh gadis itu menatap cemerlang,sorot matanya terlihat indah.


Sesaat Mona terdiam mengartikan ucapan gadis itu dengan perasaan tenang.


" Pak Banny paling tidak suka jika pekerjaan kita di lakukan oleh orang lain,dan saya rasa kamu sudah di kasih terlebih dahulu apa sangsinya jika kita melakukan pekerjaan orang lain." Ujar Mona menatap dengan sorot mata yang tegas.


Entah kenapa ia merasa jika gadis cantik yang berdiri di hadapannya itu sedang mencari kesempatan untuk terlihat lebih manis di hadapan bos sekaligus suaminya itu,yaa bisa jadi cari perhatian atau sejenisnya lah..


Mona mengangkat bahu perlahan ia tidak ingin pikiran buruknya menguasai hati dan pikirannya.Mona tersenyum dengan perasaan tak menentu.


" Iya sih,aku paham dengan pelaturan perusahan ini,tapi kan untuk kondisi saat ini masih nuansa pengantin baru, kenapa tidak bu Mona dan pak Banny meng-anggedakan untuk berbulan madu ke luar kota,jadi pekerkaam biarkan kami yang menghendle ?" Ujar perempuan itu menatap dengan penuh seksama.


Mona tersenyum datar saat menyikapi usul gadis cantik itu yang baginya terasa sebuah lelucon sekaligus sindiran yang tak langsung.


Sebelum akhirnya menjawab gadis manis itu tersenyum di paksakan ke arah gadis cantik itu.


" Masih banyak pekerjaan yang harus pak Banny lakukan, jadi untuk sementara kita memending dulu semua acara yang berbau-bau bulan madu." Tungkasnya dengan nada bicaranya penuh penekanan.


" Yaah !!sayang sekali ya,pak Banny memang orang yang terlalu sibuk.Tapi.., jika saya di posisi bu Mona,tentu saja saya akan membujuk pak Banny untuk pergi honey moon." Selannya lagi dengan ekprsi wajah yang berbinar.


" Tapi saya tidak akan melakukan hal itu,karena saya sangat mengerti akan pekerjaannya pak Banny." Mona menyela kembali dengan sorot mata yang berbeda,ia menunjukan jika dirinya begitu mengerti akan ke adaan bosnya tersebut.


Gadis cantik itu menganguk pelan,seolah ia paham dengan apa yang telah di sampaikan Mona kepada dirinya.


" Bu Mona sangat beruntung di cintai oleh pak Banny." Ucapnya dengan lirih.


Mona terkesiap menatap dengan seksama ke arah wajah perempuan itu yang kini raut wajahnya menampilkan sebuah kekecewaan.


Mona menghela lalu menatap dengan tatapan biasa ke arah wajah gadis itu yang terlihat mulai murung.


" Tidak seperti itu Arnetta." Ucap Mona menimpali dengan raut wajah kian tertekan,ia dapat merasakan jika perempuan yang kini di hadapannya ini memang benar-benar mencintai bos sekaligus suaminya dengan dalam,dan reaksi perubahan raut wajahnya itu di rasa dalam olehnya.


" Tapi kenyataannya seperti itu kan ?jika pak Banny memutuskan perasaanya terhadap bu Mona ?" Ucapnya dengan lirih,sorot matanya terlihat penuh kecewa,dan gadis cantik itu pun hanya tersenyum pahit ke arahnya dengan perasaanya mulai di landa gerimis.


Mona menatap jauh kedalam wajah gadis itu dan ia semakin yakin jika di antara perempuan cantik itu memang pernah ada seseuatu rasa yang pernah di pendamnya atas perasaan nya yang dalam terhadap sosok seorang Banny.


Ingin rasanya ia bertanya akan hal itu secara langsung kepada perempuan itu,namun ya sudahlah sejauh ini apa yang di katan Zeanu tentang gadis cantik ini sudah menguatkan jika bosnya memang pernah saling mencintai dengan sosok gadis ini.


Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak ingin tahu lebih jauh akan hal itu,karena hal ini pastinya hanya akan membuat perasaanya kian terganggu.


" Ane,maaf aku ke kantor pak Hendra dulu ya,soalnya beberapa menit lagi aku dan pak Banny akan ada pertemuan dengan mitra bisnis nya yang baru." Ucap Mona mengalihkan pembicaraanya,ia tidak ingin melihat raut wajah gadis yang kian dalam memendam perasaan.


" Ok baiklah,sekali lagi aku ucapkan kamu selamat yah jadi istrinya pak Banny,semoga pernikahan kalian langgeng." Ujar gadis itu kembali tersenyum pahit.


Mona hanya mengangguk seraya tersenyum dengan di liputi perasaan tak menentu.


" Makasih atas do'anya." Balasnya seraya berjalan kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan sang Menejer.


Gadis cantik itu hanya tersenyum pahit mengiringi langkah Mona.


Sesak yang kian memburu di dadanya tak sanggup lagi ia rasakan,jika ia harus jujur untuk masalah ini,ya !!


Ia merasa terluka atas pernikahan yang di lakukan oleh Banny beserta sekertarisnya itu.


Padahal sebelumnya, jauh dari apa yang ia harapakan serta di rencanakan nya,atas ketersediaan nya bekerja di perusahan Banny tak ada lain hanya ingin dekat dengan pria tampan itu dan ia pun sangat berharap jika pria tampan itu bisa memberi kembali harapannya yang tertunda di empat tahun yang lalu saat Banny pernah menyimpan harapan besar untuk menjadikan dirinya seseorang yang spesial,namun sayang kondisi pada saat itu tidak memungkinkan atas perasaanya yang terhalang oleh masalah pendidikan,yang mengharuskan dirinya jauh dengan pria tampan itu.


Sosok seorang Banny memang sulit untuk di tebak hingga saat ini sekalipun,ia tidak bisa memastikan jika harapan itu akan menjadi sebuah kenyataan untuk dirinya, justru pria tampan ini malah memilih menghilang dari harapan yang selama ini ia pendam hingga akhirnya pria tampan itu memutuskan untu menikah dengan sekertaris perusahaanya.


Arnetta menghela napas panjang merasakan hatinya kian terasa sesak,apa yang selama ini di harapkan nya kandas tak bertepi seiring perasaanya terbawa pergi atas pernikahann itu.


Yaa ia patah hati.Dan patah hati itu memang lah sangat menyakitkan namun sepertinya ada yang lebih menyaktikan dari itu,ketika ia harus mencintai seseorang hanya dalam diam.


Gadis itu perlahan berjalan dengan perasaan yang kian terluka atas perasaanya yang terabaikan begitu saja.Dari awal ia di pertemukan dengan seorang Banny hati kecilnya sudah terpikat dan ia pun berharap jika TUHAN akan mempertemukan dirinya di sebuah rasa yang di persatukan lewat sebuah ikatan pernikahan,tapi memang kenyataannya ia harus menelan kuat pil pahit itu jika pada akhirnya pria tampan yang sangat ia idamkan itu harus di persatukan dengan perempuan lain.


Tapi kenapa orang tua pak Banny tidak menjodohkan putranya tersebut dengan dirinya,bukankan orang tua dirinya dengan orang tua Banny berhubungan erat,lantas kenapa malah gadis sederhana itu yang di pilih sang pria tampan itu untuk menjadi istrinya ?


Bukankah ia jauh-jauh mengejar sebuah gelar hanya demi untuk mensejajarkan kedudukannya dengan pria tampan itu,tapi kini.....???


ah rasanya itu memang tak adil jika sosok seorang Mona yang harus mendapatkan pria sekelas Banny, dan mengalahkan dirinya yang jelas kasta dan tata jauh lebih tinggi dari gadis sederhana itu.


Apakah serendah itu kini tife idamanan seorang Banny hingga dirinya tidak menjadi sebuah pertimbangannya.


Ah rasanya kepalanya terasa berdenyut kencang jika ia harus mempertanyakan perihal gadis itu yang dengan mudahnya bertahta di hati pria tampan itu.


Arnetta menggeleng dengan perasaan kian frustasi.

__ADS_1


__ADS_2