CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 72


__ADS_3

AMEL beserta Tamara sudah berada di rumah Mona mereka berkumpul bersama untuk menengok keadaan Mona.


Tamara dan Amel mereka berdua terkejut setelah mendengar Mona pingsan tadi siang di kantor,dan seusai pulang dari kantor mereka pun tidak menunda lagi untuk langsung pergi meluncur ke rumahnya Mona.


" Gue denger lo pingsan benar-benar syok,secara lo tuh gak pernah sakit eh tiba-tiba gue denger lo pingsan kaget juga." Jelas Amel seraya duduk di ujung Mona yang sedang rebahan.


" Siapa yang ngasih tau lo ?"Tanya Mona menatap lurus Amel.


" Pak Surya."


" Kok pak Surya ?," Tanya Mona sedikit heran.


" Gue abis dari kantin ketemu dia di lift,trus dia bilang kalo lo sakit ampe pingsan dan dia yang anter lo pulang kan ? " Tanya Amel memutar badannya dan duduk menghadap Mona.


" Iyaa !" Jawab Mona singkat.


" Lo kecapean Mon,mungkin bisa jadi lo kecapean pikiran." Sela Tamara seraya membetulkan poni pendeknya dan duduk tak jauh dari Amel.


" Kecapean pikiran ??" Tanya Amel menoleh Tamara begitupun Mona ia menoleh ke arah Tamara dengan penasaran.


" Yaaa....,secara bentar lagi kan lo lamaran,yaaa kali aja lo perlu persiapan yang lumayan menguras pikiran lo."Ucap Tamara dengan santai.


Amel dan Mona mengernyit memicingkan matanya mereka sendiri saja tidak sampai berpikiran ke hal tersebut,namun Tamara yang termasuk orang yang polos itu malah bisa berpikiran ke hal tersebut.


" Heh,itu lamaran cuman settingan Tam,kenapa si Mona jadi baper ampe sakit." Sela Amel menyenggol tangan Tamara hingga Tamara sedikit bergoyang tubuhnya.


" Ssstt...,lo kalian jangan keras-keras nanti kedengeran nenek gue." Ucap Mona segera memberi tahu agar Tamara dan Amel memelankan suaranya.


" Settingan ??Tapi tidak menutup kemungkinan kan jika perasaan lo di hantui perasaan yang perlahan-lahan mengganggu pikirann lo.Iyakan Mon ?" Tanya Tamara menoleh Amel lalu menatap dalam ke arah Mona,entah kenapa pertanyaan Tamara kali di rasa ada benarnya di pikirannya Amel dan Mona.


Mona terdiam ia melipatkan bibirnya dengan menatap penuh perasaan yang tak menentu ke arah kedua sahabatnya.


" Kok lo bisa sampai berpikiran ke hal itu sii Tam ?" Tanya Amel menoleh Tamara.


" Selama ini kita terlalu fokus dengan rencananya bos kita yang berpura-pura ngelamar Mona,tapi kita tidak pernah tau perasaan lo yang sesungguhnya Mon." Jelas Tamara menatap kian dalam sehingga Mona semakin salah tingkah.


Amel memicingkan matanya lalu menyimak betul apa yang di ucapkan Tamara.


" Maksud lo ?" Tanya Amel menatap tajam Tamara.


" Mel,kita tidak pernah tau jika perasaan Mona selama ini tiba-tiba merasakan hal di luar perasaannya.Entah kenapa gue ngerasa lo ngelakuin semua ini demi perasaan lo semata kan,dan sepertinya lo udah mulai suka sama pak Banny kan ?" Ucap Tamara kian serius omongannya.


" Ni anak kesambet hantu jembatan mana lagi,tiba-tiba so tahu kaya gini." Guman Amel terheran-heran melihat sikap Tamara yang berubah menjadi serius.


" Gue serius Mel." Sela Tamara menatap sedih ke arah Amel.


" Lo gak sadar jika Mona tertekan dengan situasi seperti ini ?" Ucap Tamara mengalihkan pandangannnya ke arah Mona yang hanya terdiam menatap kosong.


" Mon." Panggil Amel menatap kembali Mona.

__ADS_1


" Sebaiknya lo jujur dengan apa yang lo rasakan saat ini ?" Tanya Amel mulai menatap serius Mona.


Mona terdiam ia menatap kedua sahabatnya dengan berbagai perasaan.


" Kalau lo memang merasa tertekan dengan sandiwara ini,sebaiknya lo tolak lamaran ini kan lo bisa bicara baik-baik dengan pak Banny."Ucap Amel dengan nada bicara penuh penekanan,ia merasakan apa yang sedang Mona rasakan.


Mona terdiam entah kenapa ia membayangkan kembali kejadian yang telah terjadi antara dirinya dengan sang bos.


" Ini bukan disinetron yang bisa berubah perasaan Mon,ini menyangkut kehidupan lo kedepannya." Ucap lagi Amel semakin cemas menatap Mona.


Tamara saling beratatapan setelah melihat sikap Mona yang semakin gamang untuk mengakui perasaan yang sesungguhnya.


" Gue punya feelling jika Mona emang suka beneran ama bos kita." Sela Tamara dengan yakin.


" Mon ??" Sela Amel dengan menatapnya semakin penasaran.


Mona terdiam ia hanya menarik kecil ujung sudut bibirnya yang seolah-olah mengiyakan atas perkataan Tamara.


" Yaa...," Jawab Mona menggantung ia membagikan tatapannya ke arah Amel dan Tamara dengan ragu.


Dan Amel pun hanya saling bertatapan ke arah Tamara dengan berbagai perasaan yang berkecambuk di benaknya mereka.


" Gue mencintai pak Banny dan Zeanu dalam saat bersamaan." Jelas Mona singkat.


" ALAMAK !!" Pekik Amel seraya menepuk jidatnya ia merasa terkejut setelah mendengar pengakuan dari Mona.


Tamara menarik napas panjang ia cukup syok mendengar ucapan Mona.


" Serius Mel,gue suka sama dua cowok itu." Jelas lagi Mona dengan wajah penuh sesal.


" Bingung juga we mau komentar apa." Balas lagi Amel seraya berpindah duduknya.


" Semudah itu perasaan lo terhadap kedua cowok itu,tapi seengganya lo bisa merasakan perasaan yang terhebat terhadap siapa ?" Tanya lagi Tamara menatap penuh harap.


" Tunggu-tunggu !!,Mon lo sadar gak siih ?sepertinya sahabat kita yang satu ini lagi lempeng deh dari tadi omongannya kok agak bener terus yaa ?" Tanya Amel menoleh Tamara dengan tersenyum menggoda.


" Apa sii ?" Tanya Tamara menatap bingung Amel.


" Baru di omongin,malah balik nanya." Ucap Amel seraya menepuk jidatnya dengan pasrah.


" Maksud lo gue ?" Tanya balik Tamara menunjuk dirinya sendiri.


" Yaa siapa lagi Tamara,yaa elo lah dari awal kan lo tuh ngomongnya udah kaya so benar gitu." Ucap Amel dengan sewot.


" Yaa kan gue tiba-tiba ngerasain apa yang sedang Mona rasain,secara gue kan pernah jatuh cinta juga walaupun sekarang jatuh cinta itu sekarang tinggal jatuh gubragg." Ucap Tamara dengan sedih.


Amel menahan tawanya saat melihat raut wajah polos Tamara terlihat mulai sedih.


" Tau-tau,lo gak usah curhat.Tanpa lo curhat gue udah paham." Potong Amel dengan tersenyum menggoda.

__ADS_1


" Kok jadi bahas gue sii Mel." Sela Tamara merengut.


" Sebenernya lo berdua mau nengokin gue apa mau bikin ribut di kamar gue." Sela Mona mendelik.


" Sebenarnya sii kita kesini cuman mau mastiin aja perasaan lo yang sebenarnya terhadap bos kita iya kan Tam." Ucap Amel seraya melirik genit ke arah Mona.


" Maksud lo ?" Tanya Mona dengan ragu.


" Lo tau gak Mon ?sebelum kita pulang kantor kita ngelihat pak Banny sama temennya itu pak Zeanu sedang berbicara serius berdua entah apa yang sedang mereka bicarakan,tapi kalau menurut gue mereka lagi ngebahas masalah lo." Jelas Amel menatap dalam Mona.


" Serius ??" Tanya Mona terperangah menatap tak percaya ke arah kedua sahabatnya itu.


" Tapi pak Banny wajahnya terlihat tegang banget pas lagi bicara sama si cowok tanpa nama itu." Jelas lagi Amel dengan acuh.


" Zeanu Mel." Sela Mona membenarkan ucapan Amel yang salah lagi menyebut nama Zeanu.


" Dan kayannya pak Banny bersitegang dengan pak Zeanu tuh." Sela lagi Tamara dengan penuh keyakinan.


" Kalian jangan ngada-ngada deh Tam,Mel." Ucap Mona dengan cemas.


" Makanya gue ngerasa jika sandiwara lo dengan pak Banny akan melahirkan perasaan yang sesungguhnya."


Ucap Tamara dengan menatap pilu Mona.


" Yaa kalau pak Banny juga suka lo beruntung sekali lo,tapi jika lo doang yang suka lo siap-siap ngebatin atas perasaan lo sendiri." Balas lagi Amel menimpali dengan nada suara yang mulai cemas.


" Itu yang gue khawatitkan Mel." Sela Tamara dengan raut wajah sedih.


" Kok kalian jadi mikirin perasaan gue sii ?" Tanya Mona menatap gantian kedua sahabatnya yang mulai terlihat melo.


" Yaa jelas lah Mon, ini bukan masalah perasaan doang tapi ini menyangkut perasaan masa depan lo.Selama ini lo gak pernah jatuh cinta dan sekalinya lo jatuh cinta lo harus bertepuk sebelah tangan." Ucap Amel dengan suara tinggi.


" Ssstt !!.Lo gak usah ngegas tar nenek gue denger." Pekik Mona setengah berbisik.


" Kita peduli dengan perasaan lo Mon.Kita gak mau lo terluka." Sela Amel dengan wajah sedih berat.


" Iya Mon,kita peduli sama lo." Sela Tamara mengiyakan.


" Cukup Tamara saja yang merasakan patah hati dan susahnya Move on." Sela lagi Amel dengan melirik Tamara yang memasang wajah tengah sedih.


Tamara melirik kesal ke arah Amel yang selalu menjadikan ia target Amel untuk membulinya.


" Gue lagi." Sela Tamara merengut manja.


" Haa haa haa... " Mona tertawa lepas saat melihat raut wajah Tamara kian tertekan dengan candaannya Amel yang selalu menyangkut pautkan masalahnya dengan perasaan dirinya.


" Gue bersyukur punya sahabat kaya lo berdua,meski kadang harus ikutan stress gak jelas seperti kalian ini." Ucap Mona tersenyum simpul dan matanya mulai berkaca-kaca.


" Ikutan stress,lo pikir kita gila apa." Sela Amel tersenyum kecut.

__ADS_1


" Yang gila kaya gini yang bikin hidup lebih ceria,iyakan bebss ?" Sela lagi Amel dengan memeluk erat Tamara.


" Haaa..haaa...pokonya meski gila atau stress gue tetep sayang kalian." Ucap Mona ikut memeluk Amel yang sedang memeluk erat Tamara.


__ADS_2