CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 104


__ADS_3

KEDUA gadis itu tengah duduk di hadapan seorang Direktur utama di perusahaan tempat mereka bekerja, dengan perasaan satu sama lain di selimuti rasa tegang di hatinya masing-masing.


Sang Direktur tampan berwajah dingin tersebut menatap tajam ke arah kedua gadis yang ada di hadapan nya itu dengan tatapan yang sangat mengerikan.


Sudah di bayangkan jika pada kondisi normal saja wajah pria tersebut memancarkan aura wibawa yang sangat tinggi, apa lagi dalam kondisi seperti saat ini pria tampan yang tak pernah tersenyum itu sedang menatapi kedua staff perusahaan nya yang kini sedang bermasalah.


Pikiran kedua gadis tersebut pun merasakan hal yang sama di dalam benaknya masing-masing jika raut wajah sang bosnya itu kali ini memang terlihat lebih dari sekedar menakutkan,dan bisa jadi ini terasa begitu lebih dari kata horor bagi mereka.


Sorot mata dari pria pemilik wajah tampan namun berhati dingin itu mampu membuat kedua gadis tersebut kian membeku kan perasaan-nya mereka,dan kedua gadis tersebut pun hanya saling tertegun dengan pasrah menunggu apa yang akan menimpa dirinya masing-masing.


" Kenapa kalian melakukan hal memalukan seperti itu di acara saya kemarin.?,apa kalian kurang kerjaan sehingga akal sehat kalian tidak bekerja dengan baik ?." Tanya pria tersebut memecahkan kesunyian.


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan penuh penekanan.


Dua gadis muda tersebut saling menoleh dengan perasaan tidak suka satu sama lain.


" Dia yang duluan menyerang saya pak !" Sergah Manda dengan menoleh ke arah perempuan yang duduk di sampingnya dengan menatap tidak suka.


" Dan perempuan ini juga sudah bersikap kasar terhadap saya." Sela lagi Manda melirik sebal gadis yang berada di sampingnya tersebut.


Wajah perempuan itu terlihat lebam di bagian ujung pelipisnya bekas pukulan keras yang menggantam wajahnya tersebut.


Amel hanya terdiam dan membiarkan Manda berbicara sesuka hatinya.


Pria tampan berwajah dingin itu mengalihkan pandangannya ke arah wajah gadis yang di maksud oleh mantan sekertarisnya tersebut.


" Benarkah itu Amel,kamu yang menyerang dia duluan ?" Tanya pria itu dengan menyoroti nya dengan tajam.


Amel tidak langsung menjawab ia hanya menghela napas pelan,lalu sesaat dia terlihat berpikir.


Tak lama ia pun mengangguk pelan,ia beranggapan jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya mengatakan hal yang sebenarnya jika perempuan yang duduk di samingnya itu berniat jahat kepada sahabatnya.


Manda melirik tajam namun sekilas ada perasaan khawatir yang tersirat dari wajahnya jika gadis bertubuh sintal ini akan mengatakan sebenarnya tentang dirinya.


" Sebelumnya saya minta maaf pak,karena atas perbuatan saya setidaknya membuat kenyaman bapak beserta tamu yang lainnya jadi terganggu di acara ." Ungkap Amel dengan suara pelan.


Pria dingin itu menatap lurus ke arah wajah Amel yang relihat lebih santai di banding raut wajah Manda yang terlihat penuh kecemasan.


" Pak,saya punya alasan tertentu hingga saya berani melakukan hal tersebut." Ucap Amel tegas,sesaat ini menoleh ke arah Manda yang sengaja tidak memperdulikannya.


" Saya melakukan hal itu karena perempuan yang duduk di samping saya ini berencana akan merusak acaranya bapak, dengan cara mengatakan hal yang sebenarnya kepada semua orang bahwa acara lamaran bapak tersebut hanyalah settingan saja." Jelas Amel menatap puas ke arah Manda yang tercekat mendengar penjelasan dirinya.


Mata perempuan itu membulat sempurna,menatap tajam ke arah Amel.


kedua alisnya terlihat naik turun mencoba menahan keterkejutannya.


Seberani itu kah gadis bertubuh gendut ini mengatkan hal yang sebenarnya.Pikir Manda dengan mendilak sebal.


Sontak sorot mata pria dingin itu menatap shok ke arah mantan sekertarisnya tersebut,betapa lancangnya gadis tersebut berniat ingin membeberkan masalah pribadinya du di halayak umum.


" Tahu darimana kalian masalah ini ?" Tanya pria itu menatap penuh ancaman.


Manda terdiam merasakan panas dingin di sekujurnya.


" Kalian sudah berani mencampuri urusan yang seharusnya bukan jadi urusan kalian." Ucap pria tampan itu geram.


Manda tertunduk merasakan ketakutan yang kian mencekam.


Sesaat pria tampan berwajah dingin itu menghela mencoba mengontrol amarahnya yang terasa menekan kuat rongga dadanya,tepat ketika Banny menahan amarahnya ia pun teringat akan perkataan-nya Mona beberapa hari yang lalu kepada dirinya.Bahwa gadis itu khawatir jika Manda akan melakukan hal yang di takutkannya,dan benar saja ketakutan gadis itu pun terbuktu.


Yaa....,dirinya masih ingat betul akan gadis itu pernah mengungkapkan perihal itu dan kini faktanya apa yang menjadi kekhawatirkan-nya Mona memang terjadi.


Bersyukurnya sahabat Mona bisa menggagalkan-nya.Pikir pria berwajah tampan itu melirik Amel dengan sorot mata datar.


Rahang pipi pria dingin itu tiba-tiba saja menonjol tegas menahan seseuatu yang tidak di sukainya.


sontak wajah Manda memias dengan bibirnya terlihat bergemetar.


" Manda,jadi kamu berani melakukan hal itu ?" Tanya Banny dengan menatap penuh selidik.


Manda membisu menatap cemas ke arah wajah pria tersebut dan jantungnya berdebar lebih cepat.Ia merasa seakan-akan sedang di introgasi oleh seorang intel dengan kasus pembunuhan berencana.


Manda terdiam dengan perasaan yang bercampur aduk di benaknya,ada rasa-rasa takut akan berakhir karirnya,pikirnya membatin.


" Jawab !!" Banny menggertak keras.


Namun Manda samakin kaku mulutnya seakan terkunci rapat dia merasakan gentar nya menyergapnya setelah melihat kemarahan yang timbul dari diri seorang pria yang bermata elang tersebut,gadis bertubuh bak model itu bingung mau menjawab apa.


" JAWAB !!" Banny menggebrak meja dengan kasar.


Sontak Manda terperanjat dengan menatap shok.


Tak hanya Manda yang terperanjat,Amel pun yang sedari tadi yang tenang-tenang saja kini ikut terperanjat saat meja yang ada di hadapanya kena imbas amukan sang bosnya tersebut.


" Ti ti tidak pak,itu tidak benar.Perempuan ini sudah jelas memifnah saya pak!saya tidak ada bermaksud seperti itu demi TUHAN." Sergah Manda menyanggah ucapannya Amel dengan bersumpah palsu.


Bola mata Amel membulat sempurna melihat reaksi Manda yang memutar balikan faktanya.Terlebih akting perempuan itu menyanggahnya dengan membawa-bawa nama TUHAN.

__ADS_1


" Lo gak usah bawa-bawa nama TUHAN buat menutupi kebohongan lo itu." Selan Amel berguman dan melirik melirik sebal Manda.


" Pak,kalau bapak tak percaya dengan ucapan saya,bapak boleh tanyakan kepada teman saya Tamara,ia tahu percis akan permasalahan ini,dan dia adalah saksi hidup pak." Amel segera menimpali dengan penuh penekanan,agar sang bos percaya dengan apa yang di ucapkannya.


Manda mendecih lalu menatap tidak suka ke arah gadis di sampingnya itu.


" Heh,lo jangan suka memitnah orang ya ! kalau elo tidak suka sama gue,ngomong,gak usah mitnah gue kaya gini." Ucap Manda membela diri.


Banny menatap kesal ke arah kedua gadis tersebut yang saling melakukan pembelaan masing-masing.


" DIAM !!." Hardik pria tersebut dengan lantang.


" Manda,kamu tidak usah mengelak,saya sudah paham akan hal semuanya.Dan hari ini saya tidak bisa mentolerin kesalahan kamu,jadi kamu saya pecat !!" Ucap Banny singkat namun mampu mebuat Manda terhenyak hebat.


Wajah cantik Manda terlihat pucat pasi menatap ke arah wajah pria tersebut,matanya menatap tak percaya setelah mendengar keputusan bosnya tersebut yang taida ampun memecat dirinya.


Tak jauh berbeda dengan Manda,Amel pun merasakan hal yang sama,tak kalah shok dengan keputusan yang di berikan bosnya untuk seorang Manda.


" A APA pak !!!kenapa bapak memecat saya ?sudah jelas perempuan ini menganiyaya saya,seharusnya dia yang bapak pecat." Seru Manda tak terima.


" Seharusnya kamu berpikir,kenapa kamu ikut campur urusan saya,ada maksud apa kamu membongkar rahasia hubungan saya dengan Mona?,apa hal ini merugikan kamu ? " Tanya pria tersebut dengan tercekat menatap emosi ke arah perempuan tersebut.


" Tentu tidak pak." Jawab Manda menggeleng pelan.


" Lalu kenapa kamu lancang ikut camput dalam permasalahan pribadi saya?." Jelas Banny menatap tidak suka kepada perempuan yang tengah kecewa atas keputusannya tersebut.


Manda tidak bisa menjawab ia hanya tertegun tak berdaya.


Amel menarik napas panjang,lega rasanya ia selamat sebuah kata yang Horor tersebut.ia pun melirik Manda dengan wajah tanpa ekspresi ia tersenyum sinis merasa di atas angin.


Yaa....,setidaknya ia bisa menyelamatkan sahabatnya itu dari ratu sihir yang ada di sampingnya.


" Pak,saya mohon maaf kan saya! saya tidak ada maksud untuk ikut campur dalam urusan-nya bapak.sungguh pak." Rengeknya dengan memelas.


Pria tampan berwajah dingin itu hanya menatap kaku dan mengabaikan perempuan tersebut mengiba kepadanya.


" Nanti setelah dari ruangan saya,kamu ambil surat SP kamu dari bu Silvi.Dan saya harap kamu tidak usah mengotak-atik atau mencampuri urusan pribadi saya lagi,karena kamu akan tahu akibatnya jika hal itu masih kamu lakukan." Terang Banny seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu dengan rileks.


" Dan kamu Amel !"


" Iya pak." Amel terlihat tersentak kaget ia menatap cemas ke aras bosnya tersebut.Dadanya berasa berdetak tak karuan.


" Kamu kembali ke meja tugas kamu !" Perintah Banny menatap lurus gadis tersebut.


" Baik pak." Ucap Amel mengangguk pelan lalu segera berdiri dengan penuh rasa hormat meninggalkan ruangan yang terasa baginya seperti tempat uji nyali.


Berlinanglah air mata Manda mendengar ucapan pria tampan tersebut yang mulai detik ini telah menjadi mantan bosnya dan ia pun tak bisa lagi berbuat apa-apa dengan atas apa yang d lakukanya itu selain pasrah.


Tubuhnya terasa tak bertenaga,seluruh energinya menghilang atas kebodohan serta ketololan-nya itu mengakibatkan dirinya di ganjar kontan oleh atasannya tersebut berupa pemutusah hubungan kerja.


Ia sadar jika dirinya telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.


Dan alhasil dari perbuatannya tersebut ia harus kehilangan pekerjaannya,dan tak hanya itu,ia pun harus merelakan pria yang di idam-idamkan selama ini terlepas dari harapannya dengan begitu saja.


Manda menunduk dengan wajah pilu,terlambat rasanya ia harus menyesali perbuatannya karena penyesalan tak akan mengembalikan keadaanya.


********


Tingggggg.....


Suara dentingan lift berbunyi nyaring lalu tak lama pintu lift tersebut terbuka,seorang gadis melangkah keluar dengan perasaan yang lega dari dalam kafsul lift tersebut.


akhirnya ia bisa menyingkirkan perempuan sombong itu dari perusahan ini.


Ia berjalan melenggang menuju kubikelnya Tamara,dan di lihatnya gadis bertubuh jangkis itu tengah serius dengan pekerjaannya.


" Tam !" Panggilnya setengah berbisik.


Perempuan yang di panggil mendongkak lalu dengan tak lupa ia pun membenarkan poni pendeknya.


" Mel,gimana udah selesai sidangnya?" Tanyanya dengan menatap cemas.


" Kelar sudah !" Jawab Amel semeringah.


" Sykurlah,gue berd'oa agar lo gak di pecat."Sela Tamara menatap khawatir.


" Alhamdulillah,gue baik-baik saja." Jawab Amel dengan wajah tetap semeringah.


" Tapi ada kabar heboh yang akan mengemparkan dunia persilatan Tam." Seru Amel dengan berapi-api.Rona kebahaguannya terpancar kuat dari ekspersi wajahnya.


" Dunia persilatan Mel,emang kita lagi bersilat?" Tanya gadis itu dengan sangat polos.


Amel menarik napas lalu melirikan mata bulatnya ke atas.


Percuma di jelasin juga ni orang gak bakalan paham kalimat pribahasa.Pikir Amel seraya menahan kekesalannya agar tidak terpancing dengan kepolosan sabatnya tersebut.


" Terserah elo deh." Balas Amel dengan menggeloyor ke tempat kubikelnya.Raut wajahnya berubah pasrah.

__ADS_1


" Terus nasib si ratu nyamuk ?" Tanya Tamara dengan penasaran.


" Ratu sihir itu akhirnya kena pecat." Balas Amel singkat.


" APA ???" Seru Tamara terkejut.namun sesaat ia terdiam seperti sedang berpikir sesuatu.


" Kok ratu sihir Mon,ratu nyamuk." Sergah Tamara meralat panggilan Amel.


Amel terdiam lalu menoleh ke arah gadis jangkis tersebut ia menatap gusar namun terkesan pasrah atas siakap sahabatnya tersebut yang mau memanggil apa terhadap Manda,untuk saat ini ia tak mau kebahagiannya berkurang sedikitpun dengan sikap polosnya Tamara yang hanya membuat jengkel saja.


" Seriuss tuh orang di pecat Mel ?" Tanya Tamara dengan tercengang.Amel mengannguk pelan dengan raut wajah datar.


" Mel,ini akan menjadi kabar heboh di dunia persilatan." Jelas Tamara semeringah.


Gleeekkkkk.....


Amel menelan air liurnya dengan penuh penekanan.


Itu bukannya kalimat yang telah di lontarkan dirinya kepada Tamara,kenapa jadi......???


Sudahlah...,pokonya tidak mau peduli.


Amel menggeleng ftustasi lalu menatap layar komputer yang baru saja di yalakan.


" Mel,kok lo gak bahagia sihh si ratu nyamuk di pecat?" Tanya Tamara menoleh Amel yang sedari memasang wajah cuek.


" Kan itu yang gue maksud tadi Tamara...." Selanya dengan menatap ampun.


" Massa sihh ? " Tanyanya dengan polos lalu melirikkan bola matanya dengan genit.


" Bodo amat !!" Cetus gadis tersebut menahan kekesalan yang mulai memaksa keluar.


" Gue gak mudeng, sorry yaa." Ucap gadis tersebut mengiba.


" Bukan gak mudeng,tapi lo telmi." Amel menimpali.


" Telmi ??? " Tanya Tamara membulatkan bola matanya.


" Hah,gak tau pula telmi ?matii saja." Cetus Amel dengan sebal.


" Amell,,Telmi itu telor sama mie ya di kocok ?" Tanya semkain polos.


" Ampun mak,kenapa engkau lahirkan gadis selugu dia." Pekik Amel semakin frustasi.


Amel tersenyum terpaksa.menatap penuh kesabaran ke arah sahabatnya tersebut.


" Sabar gue." Ucapnya lirih.


" Terserah lo deh Tam,gue cape." Akhirnya Amel gondok juga melihat sikap sahabatnya tersebut.


" Kapan-kapan bikin ya ?,kayanya enak tuh !" Sela lagi Tamara kian penasaran.


" Apaan sih ?" Mona melirik kesal,


Sekali saja sahabatnya itu tak membuatnya jengkel,rasanya dunianya terasa sepi.


" Telmi mel." Ucap Tamara tersenyum polos.


" Yaar tar gue bikinin spesial buat lo." Sela Amel melirik sebal seraya menyapu wajahnya dengan perasaan frustasi.


Untung sahabat macam dia cuman satu,seengganya ia masih bisa mengkontrol emosinya,kebayang kan jika ia punya sahabat macam Tamara itu ada lima orang atau lebih mungkin,hmmm bisa jadi dirinya akan mengalami penuaan dini.Pikir Amel mengangkat pundaknya cuek.


" Mel,lo malah senyam senyum gitu?ehh tadi Mona nyariin elo !" Ucap Tamara mengalihkan pembicaraan.


" Ada apa ?" Amel menoleh.


" Dia cemas lah ama lo,takutnya boskul mecat lo." Balas Tamara dengan menatap kembali layar komputernya.


Amel terdiam lalu menatap kosong ke arah sahabatnya itu.


" Kita jam makan siang kumpul ya !" Ucap Tamara pelan.


" Buat apa ?"


" Ahh lo mel,yaa kita perlu cerita lah gimana sih kok elo jadi telmi gitu sih ." Seloroh Tamara dengan cuek.


Amel menaikan tinggi kedua alisnya secara bersaman ketika mendengar perkataan gadis bertubuh jangkis tersebut menyebut dirinya telmi.


" Apa mel,lo bilang gue apa ?" Tanya Amel menyeringah sebal.


" Telmi !!"


" Emang lo tahu Telmi itu apa ?" Tanya Amel dengan menatap remeh.


" Telat mikir !" Jawab Tamara cuek.


GUBRAGGG.........

__ADS_1


Gadis bertubuh sintal itu ingin rasanya membenturkan kepalanya ke atas meja dengan keras.Amel menatap frustasi ke arah sahabatnya tersebut yang telah berhasil membuat tensiannya naik.


__ADS_2