
SEKITAR pukul 20.00 WIB Banny dan pak Wiguna tiba di rumah dengan wajah lelah Banny terlihat menyempatkan diri mengantar sang papah menuju kamarnya.
Setelah sepeninggal sang Mama Banny lebih intens menemani sang papah dirumah untuk sekedar mengobrol,diskusi atau sekedar bercanda ringan agar tetap selalu dekat walau dalam keadaan sibuk sekalipun.
Begitu pula dengan pak Wiguna setelah kepergian sang istri ia lebih sering meluangkan waktunya untuk menyendiri dan lebih sering menyenangkan diri untuk terus bersemangat menjalani kehidupannya.
perasaannya cukup terguncang pasca kepergian sang mendiang istri yang begitu sangat cepat kepergiannya.Sang istri pergi dan tak kembali untuk selamanya.
" Bi !Bi yayah !" Panggil Banny dari depan pintu kamar sang papah memanggil asisten rumah tangganya dengan suara cukup keras.
" Iya Den.Iyaa.." Jawab bi Yayah dengan terpogoh pogoh menghampiri Banny.
" Bi saya sudah bilang alat panggilnya di pake." Ucap Banny dengan gusar Setelah tau asistenya yang sudah di panggilnya beberapa kali tidak kunjung datang juga.
" Maaf Den bibi teh lagi tanggung di dapur." Ucap Bi Yayah dengan penuh hormat.
" siapin air putih buat Bapak."
" Baik den ." Ucap Si Bibi dengan wajah menciut ia paham akan karakter dari putra sang majikannya.
" Satu lagi bi,Saya tidak suka jika mau mandi saya harus mencari cari handuk."
" Maaf Den handuknya di londry semua bibi lupa ambil yang baru.Maaf Den." Ucap bi Iyah dengan tertunduk ketakutan.
" Ya sudah lain kali jangan di ulang ya bi."Ucap Banny seraya masuk kembali ke kamar sang papahnya.
Pak Wiguna menatap lekat ke arah Banny yang duduk di sopa yang tak jauh dari tempat tidurnya.
" Kamu istirahat saja Ban." Ucap sang Papah dengan duduk di tepi ranjangnya.
" Papah minum obat saja dulu dan nanti papa langsung istirahat."
" Papah belom sholat." balas Pak Wiguna menoleh jam yang berada di dinding kamarnya.
" Iya Sehabis sholat papah istirahat ya." Ucap Banny menatap dalam.Ia merasa begitu cemas akan kondisi sang papahnya yang saat ini,Ia takut akan kehilangan kembali orang yang sangat ia sayangi setelah kepergian sang mamanya.
" Banny !!" Panggil pak Wiguna menatap lurus Banny
__ADS_1
" Iya pah." Banny membalas tatapan sang papah.
" Papah ingin kamu segera menikah ?"
" Menikah ??" Tanya Banny seraya meninggikan kedua alisnya dan menatap tajam pak Wiguna.
" Ini adalah permintaan papah." Ucap Pak wiguna dengan deru napas cukup terlihat berat lalu ia menatap nanar ke arah Banny yang raut wajahnya berubah menjadi gamang.
" Ini permintaan papah ?Dan Banny harus mengabulkannya ?" Tanya Banny dengan suara berat,Perasaanya terasa kembali di ungkit ke hal hal yang sangat ia benci.
" Papah harap kamu bisa mengiyakannya." Ucap Pak wiguna dengan tersenyum simpul untuk menghangatkan suasana yang mulai terasa tegang.Sesungguhnya pak Wiguna paham akan kondisi sang putranya pada saat ini,Ketidak nyamanan Banny dengan permintaannya akan memberatkan persaannya.
TOK TOK.....
Suara pintu kamar ada yang mengetuk Tak lama Bi Yayah menyembul dari balik pintu dengan tersenyum ramah.
" Pak. Ini airnya." Ucap Bi Yayah berdiri di ambang pintu.
" Bawah sini bi," Ucap Pak Wiguna menyuruh bi Yayah masuk ke kamaranya dengan ramah.
" Bi jangan lupa besok pagi ingatkan Papah minum obat.Jangan sampe telat lagi loh " Ucap Banny menatap bi Yayah tajam.
" Udah kamu istirahat saja bi."Perintah pak Wiguna menatap lembut asisten ke percayaannya yang sudah hampir 33 tahun mengabdi di rumahnya dari semenjak Banny bayi hingga kini Banny sudah dewasa Bi Yayah dengan setia megabdi di keluarga besar ATMA WIGUNA.
" Aden ada yang mau Bibi disiapkan lagi?"
" Tidak Bi,Bibi istirahat saja,Nanti Banny gampang kalo butuh sesuatu."Ucap Banny dengan sedikit cuek.
" Baik den ." Ucap si bibi seraya pamit untuk istirahat.
Pak Wiguna terlihat menarik napas dalam Ia menatap lekat gelas berisi air putih yang akan diminumnya.
" Sekarang pekerjaan ini yang akan jadi rutinitas papah sehari hari,Minum obat." Ucap Pak Wiguna mengalihkan pandangannya ke wajah Banny.
" Demi kesehatah papah tidak apa apa." Balas Banny seraya duduk di samping sang papah.
Banny menatapi sang papah meminum obat dengan berbagai persaan yang berkecambuk di benaknya Ia melihat di raut wajah sang papahnya ada guratan kebimbangan yang teramat dalam tentang nasibnya.
__ADS_1
Banny sadar ia belom mampu untuk mengabulkan yang menjadi permintaan sang papahnya untuk memiliki seorang pasangan. Bahkan di usianya yang sudah matang ini Banny belum bisa membuka perasaannya untuk seorang perempuan manapun.
Tapi entah kenapa ingatannya terhenti di sosok seorang perempuan yang bernama Mona,Perempuan yang terkadang selalu membuat ia merasa jengkel dengan kepolosannya dan sikap cerianya yang selalu menghangatkan suasana hatinya dikala sepi.
" Kamu sudah 33 tahun dan sudah waktunya kamu untuk memilih pendamping hidupmu dan yang akan menemanimu serta membahagiakanmu sampai akhir hayatmu nanti." Ucap sang papah membuyarkan lamunan Hasta yang sedang tertuju kepada banyangan wajah Mona.
Banny menghela napas dengan berat ia menatapi Karpet merah yang berbulu yang ia pijaki entah harus darimana ia memulia cerita tengtang Mona sang sekertarisnya yang diam diam telah hadir mengisi kehampaan hidupnya.
Entah harus dimulai dari mana ia menceritakan kepolosan dan keuletan Sang sekertarisnya yang telah membuatnya jatuh hati dalam ke acuhannya.Ia bimbang dan takut akan kehadiran Mona tidak bisa di sambut hangat oleh keluarga besarnya.
Namun lagi lagi Banny merasa cemas akan perasaanya terhadap Mona yang nasibnya akan berakhir kecewa, jika sang papah mengetahuinya akan sosok perempuan yang telah membuka pintu hatinya hanyalah seorang sekertaris biasa yang jauh levelnya di bawah dia.
Banny merasa takut akan cintanya terbentur dengan restu sang papah,dan pastinya sang papah akan menginginkan pasangan hidupnya yang dari kalangan yang sepadan dengan dirinya.
Banny membenam perasaan itu kian dalam ia mencoba mepertimbangkan lagi permintaan sang papahnya.Ia berharap ia bisa bangkit dari rasa traumanya dengan kehadiran Mona yang telah mampu perlahan lahan membuka hatinya.
" Banny akan pertimbangkan lagi permintaan papah,Sekarang papah istirahat." Ucap Banny seraya berdiri dan berpamitan untuk ke kamarnya.Pak wiguna mengangguk seraya tersenyum,Semoga Banny bisa memenuhi permintaanya dalam waktu yang singkat.Karena ia sadar Banny sudah terlalu lama dalam kesendirian yang membuat Pak Wiguna selaku sang papah merasa resah siang dan malam.
Banny menaiki satu persatu tangga yang menuju ruangan kamarnya yang berada di lantai atas dengan langkah yang gontai,Tatapannya kosong menerawang tanpa arah dan tak lama ia pun memasuki kamarnya yang bernuasa putih tulang dengan kombinasi gold.
Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya yang terlihat sangat mewah.
Banny menatap kosong ke langit langit kamarnya yang berdekorasi sangat indah.Entah kenapa akhir akhir ini ia begitu risau akan perasaanya terhadap seorang Mona.
Perasaan yang selama ini menghilang dari raganya kini tiba tiba muncul kembali dengan perasaan yang luar biasa.
Yaa..Seorang Mona telah mampu membuka pintu hatinya yang sudah sekian lama tertutup untuk bisa mencintai kembali seorang wanita.
wajah sederhana Mona hadir kembali di pelupuk matanya, senyuman manisnya serta kerlingann matanya begitu lekat di dalam ingatannya sehingga Banny sangat sulit untuk mengusir semua bayangannya tentang sosok Mona.
Entahlah apa mungkin ia telah jatuh cinta kepada sang sekertarisnya atau hanyalah kagum semata.Tapi ia yakin perasaan ini adalah perasaan cinta yang pernah ia rasakan di beberapa tahun yang lalu.
saat ia mencintai sosok perempuan yang bernama Kinaya dengan sepenuh hatinya.Yaa Kinaya adalah sosok perempuan pertama kalinya yang membuat ia jatuh cinta dan Kinaya juga sosok perempuan pertama kalinya yang membuat Banny terluka hingga kecewa hingga saat ini.
Banny menghela napas panjang lalu ia pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Ia terlihat mengusap ngusap wajahnya dengan frustasi.
Mudah baginya untuk menyatakan perasaannya terhadap Mona tapi ia belum siap dengan konsekwensinya yang akan dia terimanya nantinya ketika restu sang papahnya pasti akan meragukan hatinya bila ia mencintai seorang sekertaris.
__ADS_1
karena ia paham patah hati itu lebih menyakitkan dari pada penolakan penanaman saham di satu perusahaan.