CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 152


__ADS_3

MONA melangkah menuju pintu kamarnya dan berjalan keluar dengan berbagai perasaan menyelimuti hatinya.Mona menggerakan bibirnya untuk tersenyum saat mertuanya menoleh ke arah dirinya yang berjalan mendekatinya.Wajahnya yang masih terlihat sembab tak bisa ia sembunyikan begitu saja, dan itu setidaknya menimbulkan pertanyaan di benak sang mertuanya tersebut yang menatap lekat wajah menantunya itu.


" Apa kabar pah ? " Tanya Mona menyapa pria separuh baya itu dengan tersenyum simpul,ia pun membungkukan badannya untuk menyalami tangan mertuanya tersebut dengan penuh hormat.


" Papah baik-baik saja.Gimana ke adaan kamu Mona ? " Tanya balik sang mertuanya dengan mengelus lembut kepala menantunya tersebut penuh kasih sayang.


Sesaat Mona memejamkan matanya merasakan usapan lembut tangan pria itu mampu menenangkan sebagian hatinya yang sedang kalut.


" Mona baik-baik juga pah." Ucap Mona mengangkat kepalanya lalu tersenyum pahit.


Pahit rasanya ia harus menekan perasaanya yang hingga saat kini ia harus terus bersandiwara di depan orang yang begitu menyayangi dirinya laykanya seperti anak kandungnya sendiri bertanya akan keadaanya.Andai TUHAN tidak mengirimkan dia sebagai pahlawan penyelamat hidupnya mungkin rasa ini tak akan sepahit ini ia rasakan.


Mona mengambil duduk di samping Banny yang sedari tadi hanya terdiam menatapnya dengan berbagai perasaan.


" Maaf,papah datang tidak memberi kabar.Karena papah tau kalian pastinya sibuk dengan pekerjaan kalian,jadi papah berinisiatif untuk datang ke afartemen kalian saja." Jelas Pak Wiguna menatap dengan rasa bahagia.


" Maaf kan Banny pah,Banny belum sempet nengok papah lagi." Ucap Banny tersenyum di paksakan.


" Tidak apa-apa,papah ngertiin kondisi kalian." Jawab sang Ayah dengan tersenyum hangat.


" Papah mau di buatkan minum apa ? " Tanya Mona menyela.


" Teh panas saja Mona,tidak usah di kasih gula." Balas pak Wiguna tersenyum simpul.


" Mang Yayan ?" Tanya Mona menoleh ke arah sopir pribadi sang mertuanya.


" Saya mah,air mineral saja Non Mona." Ucap mang Yayan dengan sopan.


" Baiklah,sebentar ya pah Mona buatkan dulu." Ucap Mona tersenyum lalu tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju dapur.


Selang beberapa menit kemudian Mona membawakan secangkir teh panas dan segelas air mineral,aroma wangi teh yang khas mulai semerbak seisi ruangan tersebut.


" Ini pah.. " Ucap Mona seraya tersenyum.


" Makasih Mona." Balas pak Wiguna dengan tersenyum lembut.


" Gimana bisnis baru kamu itu Ban ?" Tanya pak Wiguna menatap putranya dengan tenang.


" Sudah berjalan dengan lancar pah." Jawab Banny dengan pelan.


" Syukurlah,papah berharap bisnis kamu yang baru ini akan semakin lancar terus." Ucap Pak Wiguna membagi tatapannya dengan penuh harapan.


Lalu pria berwajah tenang itu mengalihkan tatapannya ke arah Mona yang duduk percis di sebelah putranya,dan ia menatapnya dengan penuh seksama ke dalam wajah gadis itu,mencoba menyelami perasaan yang sedang di rasakan oleh menantunya tersebut,seperti ada sesuatu hal yang sedang di sembunyikan nya.


" Mona,kamu baik-baik saja ?" Tanya lagi pak Wiguna menatapnya dengan penasaran,setelah melihat keadaan Mona yang sedikit kurang nyaman.


Mona terhenyak sebelum akhirnya ia menajawab ia segera membenarkan posisi duduknya lalu mengulas senyuman dengan manis,seolah dia sedang baik-baik saja.


" Mon....na baik-baik saja pah." Ucap Mona terbata,lalu ia pun menjeda ucapannya dan menoleh ke arah Banny yang sedang menatapnya.


" Yakin kamu baik-baik saja ?" Tanya lagi pak Wiguna menatap penuh selidik.


Mona mengangguk dengang tersenyum manja ke arah Banny yang tak bergeming menatapnya.


" Insyaallah Mona baik-baik saja pah." Jawabnya dengan pasti.


" Tapi wajah kamu sedikit pucet dan sembab ?" Ucap pak Wiguna masih penasaran dengan ke adaan menantunya tersebut.


" Hmm,kebetulan kepalanya sedikit pening pah. " Ucap Mona berbohong.


" Kamu sedang tidak enak badan ?,sudah kedokter cek kesehatan kamu !" Ucap pak Wiguna dengan nada khawatir.


" Tidak pah,Mona baik baik saja,mungkin hanya pusing biasa saja." Balas Mona dengan cepat berusaha meyakinkan mertuanya tersebut.


" Apa mungkin kamu hamil Mona ? " Ujar pak Wiguna dengan repleks.


Sontak Mona dan Banny dengan bersamaan saling terperanjat mendengar pertanyaan dari pak Wiguna yang sangat mengejutkan perasaan mereka.


" Hamil ??? " Pekik Mona dengan perasaan shok.


Ucapan itu seolah-olah membuatnya terasa panas dingin.


Hamill ???


Bukan perkara yang dapat membahagiakan bagi dirinya,bila di ingat pernikahan ini hanyalah sandiwara belakanya jadi rasanya tidak mungkin ia bisa hamil tanpa melakukan hubungan intim dengan pasangan sandiwaranya tersebut.


" Yaa Hamil,pernikahan kalian sudah memasuki tiga minggu,yaa siapa tahu TUHAN memberikan amanah itu kepada kalian,dan do'a papah akan segera terkabulkan." Raut wajah pria tua itu nampak semeringah jika menantunya benar-benar hamil.


" Mungkin Mona masuk angin pah,kadang masuk angin bisa menyebabkan pusing." Sela Banny ikut menyela.


" Kalian cek up ke Dokter saja,siapa tahu perkiraan papah benar." Ucap pria tua itu dengan tersenyum lebar.


Entah kenapa kepala Mona terasa berdenyut hebat saat mertuanya itu membahas kehamilannya.Yang setadinya kepalanya baik-baik saja kini migren tiba-tiba melandanya.


Rupanya dia salah berbohong hingga berujung sebuah harapan yang menyebabkan dirinya mengalami migren hingga saluran napasnya pun ikut terganggu.


" Mona,kamu baik-baik saja ?" Lagi-lagi pak Wiguna menatap dalam menantunya itu dengan penuh rasa cemas.


" Mona baik-baik saja." Ucap Mona menoleh ke arah Banny yang sama-sama menatapnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.


Banny hanya melemparkan senyuman tak pasti ke arah gadis itu sementara tangannya tanpa di sadari mengelus lembut pundak gadis itu.


Mona terdiam ingin rasanya ia menyudahi perasaan ini yang tentunya akan begitu menggangu perasaan dan pikirannya tersebut.


" Oya Mona,ngomong-ngomong papah kesini ingin menyapaikan,jika perusahan cabang nanti sudah di resmikan papah ingin kamu yang mengelola cabang perusahaan tersebut untuk sementara ini,lagian kamu sudah tidak bekerja di perusahan Banny lagi kan,jadi papah memberi kesempatan kamu untuk mengelola anak cabang perusahaan papah tersebut. " Jelas pak wiguna dengan lugas.


Dek......


Seperti ada benda besar menghantam keras hatinya,dengan perasaan shok Mona pun menoleh cepat ke arah Banny yang tepat saat itu juga pria tampan itu sedang menoleh ke arahnya dengan tatapan tak kalah syoknya.


Tatapan mereka pun saling bertemu kembali,kali ini tatapan mereka berbeda dengan tatapan-tatapan sebelumnya yang penuh isyarat,dan kali ini tatapan mereka sulit di artikan.


Banny cukup terkejut atas keputusan sang Ayah yang memilih Mona untuk ikut andil dalam mengelola cabang perusahannua yang sebentar lagi akan di resmikan,setelah pembangunannya hampir seratus persen terselesaikan.


Selintas berbagai pertanyaan muncul di benaknya,dan pertanyaan-pertanyaan itu cukup mengusik hatinya.Akan sebuah kepercayaan yang di berikannya begitu saja terhadap mantan sekertarisnya itu yang akan ikut andil dalam mengelola cabang perusahaanya tersebut.


Lain halnya dengan perasaan Mona, yang justru terkejut dengan pernyataan mertuanya tersebut yang menginginkan dirinya ikut terlibat dalam pengelolaan perusahaanya tersebut.


Ke inginannya untuk segera mengakhiri sandiwara ini pun tertahan dengan maksud sang mertuanya.


Mona menghela,perasaanya kian rumit ia rasakan saat ini.Apa yang harus ia lakukan?Menolak atau kah menerimanya ?


Entahlah kepalanya kian terasa berat dan pandangannya begitu terasa kabur.Mona mengulang napas panjang dengan perasan kian sesak.


" Tapi pah,apa papah tidak terlalu cepat mempercayakan Mona untuk ikut andil dalam mengelola perusahaan nya papah ini,Mona rasa Mona belum cukup banyak pengalaman dalam hal seperti ini." Ujar gadis itu dengan perasaan berat.


Pria tua itu tersenyum penuh arti seolah-olah ia yakin akan kemampuan menantunya tersebut.


" Mona,papah mengenal kamu bukan sehari dua hari saja,dan bukan karena kamu menantu papah,lantas papah menunjuk kamu untuk ikut andil dalam perusahaan papah ini.Tapi papah tau betul akan kemampuan yang ada pada dirimu itu Mona.Jadi rasa papah tidak akan salah pilih untuk melibatkan kamu dalam perusahaan papah ini." Jelas pak Wiguna dengan menatap lembut gadis itu.


Banny menatap Mona dengan penuh arti,begitu pahamnya sang Ayahnga mengenali sosok seorang Mona sehingga mempercayakan sepenuhnya cabang perusahaannya untuk di kelola oleh menantunya tersebut.


Apakah ini berlebihan ???

__ADS_1


Banny menatapi wajah gadis itu yang kian terlihat menatap berat padanya.


Ada beban yang begitu dalam tersirat dalam benaknya ketika pria yang di panggilnya papah itu memberikan emban serta kepercayaan yang luar biasa kepada dirinya.Dan hal ini tentunya akan mempersulit dirinya untuk segera menyudahi hubungan sandiwara ini.


Sebegitu spesialnya kah gadis ini di mata sang Ayahnya ?


Banny menepekuri wajah gadis itu dengan seksama,dan perlahan rasa kagum itu semakin dalam ia rasakan kepada sosok gadis beranama Mona.


" Gimana Ban,kamu setuju ?papah yakin kalian mampu melakukan semuanya. " Ujar pak Wiguna menatap gantian putra serta menantunya tersehut.


Mona dan Banny saling bertatapan dengan perasaan yang sulit di artikan,entah apa yang ada di benak mereka sehingga terlhat begitu tegang dan kaku,dan reaksi itu pun mampu menarik perhatian sang Ayah.


" Kenapa ?kamu masih ragu Mona ?" Tanya lagi pak Wiguna dengan menatap lembut.


" Hmmm,akan Mona pikirkan lagi pah." Ucap Mona tersenyum lembut.


" Papah harap kamu tidak usah berpikir lama untuk tawaran ini,papah yakin perusahaan kita akan maju dengan kekuatan kalian yang begitu profesional,kompeten dalam bekerja." Jelas pak Wiguna begitu berkata dengan begitu mantap,yakin jika Mona dan putranya bisa di andalkan.


Banny dan Mona hanya bisa saling bertatapan seraya menghela napas dengan perasaan yang resah satu sama lain.


************


Mona melangkah keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruangan dapur melintasi Banny yang sedang fokus menonton sebuah tanyangan telivisi.Mona terlihat abai tak menghiraukan ke hadiran Banny yang perhatiannya kini beralih ke arah dirinya yang sedang berjalan melintasinya,dengan mengenakan pakaian jauh lebih santai Mona terlihat lebih fress.


Sejenak Mona tertegun melihat mata tajam itu yang tak bergeming menatapnya.Pada akhirnya Mona pun kembali meneruskan langkahnya dengan membuang jauh perasaan ketidak nyamanannya tersebut.


Kalau lah ia tidak merasa lapar,rasanya ia enggan untuk keluar dari kamarnya dan itu hanya akan membuat dirinya bertatap muka kembali dengan pria tampan itu.


" Kenapa kamu lama sekali di dalam sana ?kamu mandi apa ganti kulit ?" Tanya Banny berkata sebelum gadis itu sampai ke ruangan dapur.


Mona terhenti lalu menoleh ke arah pria itu yang melihatnya dengan raut wajah yang menggelap.Pria itu terlihat kesal setelah Mona mengacuhkan dirinya.


Mona menatapnya sekilas namun kembali acuh.


" Saya hanya butuh waktu untuk menenangkan perasaan saya." Ucap Mona tanpa merasa bersalah setelah membuat pria itu terlihat kesal padanya yang sedari tadi ternyata menunggunya untuk makan malam bersama.


Banny mendecih dengan menatap sinis.


" Aku yakin jika kamu merasa terbebani dengan apa yang di tawarkan papahku tadi kepada kamu." Ejek Banny tersenyum dingin.


Mona terdiam merasakan ucapan pria itu mulai terasa menyinggung perasaannya.


" Saya bisa saja menerima tawaran itu tanpa banyak alasan,tapi saya tidak mau mengulang kesalahan kedua kalinya." Ucap gadis itu dengan tandas.


Kulit dahi pria tampan itu berkerut menanggapi pernyataan gadis itu yang di rasanya kurang di pahami apa maksud dari ucapan gadis tersebut.


" Apa maksud kamu apa ? " Tanyanya dengan mengernyit.


" Kesalahan kedua kalinya saya harus menerima kebaikan orang tua anda dan saya harus membalas itu tentunya dengan mengorbankan kembali perasaan saya." Ucap gadis itu dengan nada penuh sindiran halus.


Sontak air muka pria tampan itu berubah lain saat Mona mengatakan hal yang cukup membuatnya tersinggung.


" Jadi maksud kamu itu adalah tawaran balas budi ? " Tanya pria itu semakin tajam menatap gadis tersebut.


" Bisa jadi,dan saya tidak ingin mengulang kesalahan itu." Balas Mona dengan menatap dingin.


Banny menggeram pelan dengan perasaan membeku.


" Aku gak ingin berdebat lagi dengan kamu." Ucap Banny seraya melirik sekilas gadis itu yang sudah memulai ritual makannya.


Banny berjalan mendekatinya lalu duduk percis di hadapan gadis itu yang begitu santai menikmati makan malamnya tanpa menghiraukan kehadiran Banny di hadapannya tersebut.


Banny mengambil serbet dengan gerakan kasar,bibirnya terkatup rapat dengan mata masih menatap tajam ke arah gadis itu.


Ada perasaan jengkel ketika dirinya mulai di acuhkan gadis itu,tak biasanya Mona bersikap dingin kepadanya sehingga ia harus menyiapkan porsi makannya sendiri.


Mona menggeleng pelan melihat sikap aneh mantan bosnya tersebut kali ini.


Diam-diam gadis itu memperhatikan ke arah aksi pria tampan itu yang sedang menikmati porsian makannya dengan begitu kasar seperti orang yang baru menemukan makanan.


Banny melotot semakin kesal,saat aksinya tidak membuahkan reaksi apapun dari gadis tersebut.Rahangnya terasa kram kerena harus mengunyah makanan dalam jumlah banyak sekaligus.


Konyol memang,namun entah kenapa ia merasa begitu caper terhadap gadis itu yang sedari tadi asik menikmati porsian makanannya tanpa menghiraukan aksinya.


Akhirnya Mona merespon juga setelah melihat aksi mantan bosnya itu mulai terasa mengganggu kenyamanannya.Mona menghentikan kegiyatan makannya lalu menatap ke arah pria tampan itu dengan tatapan aneh.


" Kenapa ?" Tanya Banny kaku setelah mendapatinya gadis itu sedang menatapinya dengan berbagai sorotan.


" Belum pernah melihat orang kelaparan ?" Hardik Banny kesal.


Mona hanya mendesah,lalu ia kembali menggeleng seingatnya,pria tampan tersebut dulu tidak pernah bertingkah seaneh ini,sikapnya yang dingin dan penuh wibawa malam ini justru ia melihatnya berbalik seratus delanpan puluh derajat berubah drastis super jayus dan sedikit konyol membuat ia tersenyum lebar di dalam hatinya.


Andai saja saat ini ia sedang memegangi ponsel ingin rasanya ia mendomentasikan jejak aksi kekonyolan mantan bosnya tersebut agar di luaran sana tau jika seorang Banny yang super cool dan wibawa itu bisa bersikap konyol seperti ini.


Rasanya ia ingin tertawa lebar saat melihat aksi lucu mantan bosnya tersebut.


Yaa TUHAN kenapa gimiknya menjadi selucu ini ???


Batin Mona menatap penuh pria tampan itu yang terus menerus makan tanpa jeda.


" Mas lapar ?,kenapa mas tidak makan terlebih dahulu,saya tidak meminta mas untuk menunggu saya,jika memang sudah lapar,mas bisa makan lebih dulu kan ?." Ucap Mona seraya mengelap lembut mulutnya dengan serbet.


Banny mendengus dengan perasaan kesal setelah mendengar ucapan gadis itu.


" Telat ,kamu lanjut kan saja makannya tidak usah berkomentar." Tegurnya dengan ketus.


Mona terdiam mengangkat acuh bahunya lalu ia pun melanjutkan kembali kegiyatan makannya dengan tenang,malas rasanya harus mencari masalah dalam keributan kecil seperti ini.


Banny menatap Mona diam-diam,entah kenapa Banny malah teringat kembali masa-masa awal pernikahan ia bersama Mona,yang waktu itu Mona melayaninya seperti seorang istri sungguhan yang selalu memperhatikan dirinya dengan sikap polosnya tersebut.


Banny menggeleng cepat,mencoba mengeyahkan ingatan tersebut.Perasaanya kian terasa berat untuk tidak menceraikan gadis tersebut.


Banny kembali melirik Mona,tak ada alasan untuk dirinya untuk tidak melirik wajah gadis itu yang malam ini benar-'benar terlihat menggodanya untuk menikmati sesuatu hal yang tak pernah terjamah olehnya.


Paras wajah gadis itu semakin menawan seusai melakukan perawatan kecantikan tersebut,membuat semakin terpesona di matanya.


" Jadi apa rencana kamu untuk tawaran papah ku ?" Akhirnya Banny bertanya dengan menjeda aksi makan brutalnya tersebut.


Mona menghentikan kunyahaanya lalu menatap wajah pria tersebut dengan teduh.


" Masih akan saya pikirkan " Mona kembali menjawab dengan singkat.


Banny meraih air minum dan menenggaknya,gadis ini mulai benar-benar menguji kesabarannya.


" Yang aku butuhkan jawaban pasti kamu." Ucap Banny menekankan kalimat terakhirnya.


" Maaf,saya belum bisa memberikan jawaban yang pasti." Ucap lagi Mona singkat.


Banny mendesah merasakan kenjengkelannya makin menyergap perasaanya.Terkait sikap mantan sekertarisnya ini yang mulai dirasa membuatnya meradang.


Pria tampan itu hanya bisa mengangguk-nganggukan kepalanya,jauh lebih baik ia memilih diam dan tidak bertanya apapun lagi terhadap gadis itu yang mulai bersikap aneh kepadanya.


" Papah mempercayakan semua ini kepada kamu,dan itu artinya papah tidak main-main melibatkan kamu di perusahaan papah."

__ADS_1


Mona terhenti sejenak dari aktivitas makannya dan menatap kembali pria itu yang kini di raut wajahnya sedang menampilkan senyuman kemenangan.Namun di saat bersamaan ada perasaan aneh yang menyusup di dalam dadanya.


Kinan tersenyum hambar dan kembali melanjutkan makannya,sedikit kurang merespon ucapan pria tersebut.


" Dan saya pun tidak bisa main-main dengan perasaan saya sendiri." Balas gadis itu dengan singkat.


Banny mengernyit heran,namun tak lama ada perasaan tak biasa sekaligus bahagia mendengar pernyataan gadis tersebut.


Akan kah gadis itu memang menyimpan perasaan lain terhadapnya.


" Maksud kamu ?" Banny berpura-pura tidak peka akan ucapan gadis tersebut.


" Kalau memang seperti itu,berarti papah tidak main-main mengakui saya bagian dari anggota keluarganya dan tentunya saya pun tidak bisa main-main dengan perasaan saya sendiri,dan saya pun tidak mau merasa terbebani dengan kepercayaan yang di berikan papah kepada saya. " Jelas Mona masih terlihat acuh namun memberikan jawaban dengan pasti.


" Kurasa tidak ada yang memaksa kamu untuk menerima beban ini. " Ucap Banny pelan.


" Tidak ada yang memaksa ?" Mona mendecih lalu tersenyum sinis.


" Jika tidak memakasa? berarti saya berhak menolak tawaran ini.Walaupun itu yang meminta dari orang yang telah banyak berbuat baik kepada saya." Ujar Mona dengan suara datar.


Banny terdiam,rupanya Mona sepintar itu membalikan perkataanya tersebut.


" Saya bisa saja menolak permintaanya papah,karena saya tidak mau menjadikan perasaan saya akan menjadi taruhannya atas perasaan yang selama ini saya pertaruhkan demi kebahagiannya." Mona menyela dengan nada mulai terdengar berat.


" Jadi kamu melakukan semua ini karena ..... ??" Ucapan Banny tertahan setelah Mona segera menyelanya dengan cepat.


" Karena saya merasa berhutang budi." Sergah Mona dengan tandas.


Banny terdiam,entah kenapa ia merasa kecewa atas jawaban yang di lontarkan gadis itu,ingin rasanya ia mendengar pengakuan jika gadis itu melakukan smua ini karena ia mencintainya,tapi itu salah, ekspetasinya menghianati kenyataanya.


" Jika orang yang menikahi saya hanya untuk membuat orang lain bahagia,maka saya pun demikian." Ucap Mona dengan menyudahi kegiayatan makannya lalu mengambil air minum di gelasnya.


Banny tersenyum sinis,mendapati gadis itu mulai cerdik membalas segala ucapannya tersebut.


Mona mengangkat wajahnya,membalas senyuman Banny dengan sama sinisnya.


Rupanya ia paham jika di balik sikap wibawanya seorang Banny tidak ada rasa peka yang di milikinya.


" Saya tidak ingin menjalani hubungan ini dengan perasaan terbebani,walaupun itu hanya sandiwara." Ucap Mona pelan.


" Jika kamu terbebani dengan hubungan ini,kenapa sejak awal kamu bersedia atas perjodohan ini? " Tanya Banny mulai jengkel dengan sikap mantan sekertarisnya tersebut yang mulai menyudutkan keadaan.


Mona terdiam merasakan pernyataan pria itu cukup menohok perasaanya,pada kenyataannya memang tak ada yang harus bisa ia salahkan, karena semua ini ia lakukan atas kesadarannya sendiri menerima perjodohan ini.


Mona meletakan serbet di meja makan lalu menarik napas panjang,rupanya hal ini tak bisa membuat pria itu berterus terang kepadanya atas perasaanya tersebut.


" Saya tetap pada pendirian saya jika saya akan segera menggugat cerai anda,dan menyudahi sandiwara ini." Ucap Mona dengan suara bergetar berusaha tetap pada pendiriannya.


Banny menghela lalu menatap dengan perasaan yang tak bisa lagi di tahan akan amarahnya di dalam hatinya,selera makannya pun lenyap seketika ketika gadis itu mengatakan keinginannya untuk tetap segera menggugat cerai dirinya.


" Bisakah kamu menggugat cerai hingga aku mendapat alasan yang tepat untuk itu ?" Tanya Banny dengan rahang pipinya mulai terlihat keras,menahan amarah yang mulai meraksuki dirinya.


" Tidak bisa !!" Ucap Mona dengan singkat.Ia pun bermaksud akan segera pergi secepatnya dari tempat itu.


Banny ikut beranjak dari tempat duduknya lalu segera mengejar dan menarik pergelangan tangan gadis itu hingga gadis itu nyaris terjatuh,namun ia malah berakhir menabrak dada bidang pria tampan tersebut.


" Kamu pikir kamu bisa berbuat seenaknya dengan aku ?apa kamu lupa jika aku yang berhak menentukan semua keputusan ini !!" Ucap Banny dengan penuh penekanan.


Bola mata pria tampan itu membulat menatap dengan sempurna ke dalam wajah gadis tersebut.


Mona menatap Banny dengan tatapan risih.


" Kenapa anda suka sekali mepermainkan perasaan saya. " Ujar Mona dengan terbata.


Sorot mata pria itu mengernyit lalu menatap gadis itu dengan perasaan heran.


" Perasaan kamu ???" Tanya dengan aneh.


" Yaa !,Satu hal yang harus anda tahu.Anda terlalu egois dengan perasaan anda sendiri,terlalu menutup hati untuk perasaan seseorang." Ujar Mona dengan bergetar,merasakaan perasaan di dalam hatinya terasa kian sakit,jujur saja pria tampan ini benar-benar tidak peka akan perasaanya tersebut.


Haruskah dia mengatakan yang sesungguhnya,jika dirinya sudah terlalu cinta kepadanya.


Akhh rasanya itu hanya akan membuat dirinya merasa bodoh di hadapan pria angkuh tersebut.


Sekilas Banny dapat menangkap raut wajah terluka di wajah cantik gadis itu.


" Kamu menuduhku aku terlalu naif ?" Tanya Banny tak percaya.


" Apa ada alasan untuk tidak seperti itu ?,saya tidak suka jika harus berterus terang tentang perasaan saya sendiri terhadap orang yang tak bisa merasakan perasaan saya itu." Ujar Mona dengan dingin.


" Jadi,kamu secara tidak langsung ingin mengetahui perasaanku yang sesungguhnya ?" Tanya pria itu menatap dengan penuh ancaman.


" Tidak perlu !" Sela Mona dengan penuh penekanan di setiap katanya.Ia pun membuang wajahnya untuk menjauh dari posisi wajah pria itu yang sorot matanya terlihat sangat berbeda.


Banny meraih dagu Mona dan di tatapinya dalam wajah gadis itu dengan begitu seksama.


" Berapa kali lagi aku katakan jika semua ini aku lakukan hanya untuk..... !!" Ucapannya kembali menggantung.


" Papah anda bahagia. " Mona menyela dengan tandas,rasanya ia sudah tidak ingin lagi mendengar alasan itu keluar dari mulut pria tampan itu yang akan di dengar oleh telinganya tersebut.


Terlalu basi rasanya jika pria itu harus mengulang-ngulang kata-kata tersebut.


Banny terdiam,rasanya sulit sekali dirinya mengatakan perasaan yang sesugguhnya terhadap gadis yang kini ada di pelukannya itu.


Mona tersenyum getir


" Baiklah,tak perlu lagi saya menahan keputusan saya ini,toh cepat atau lambat kita tetap akan berpisah.Dan saya rasa lebih cepat lebih baik" Jelas Mona dengan perasaan yang sulit ia artikan dengan apapun atas kekecewaan dirinya akan segala ucapan pria itu yang bersi keras menikahi dirinya dengan alasan demi kebahagiaan sang Ayahnya.


Banny terdiam.Perlahan melepaskan tubuh gadis itu dari pelukannya,ada rasa sakit yang menyusup di dalam dadanya saat ia menyadari jika betapa besarnya ke inginan yang di miliki gadis itu untuk segera bercerai dari dirinya,hal itu membuktikan jika gadis itu memang tidak mengharapkan sesuatu lebih darinya atas sandiwara ini.


Ia tidak pernah menyangka jika Mona sejauh ini mulai menunjukan sikap ketidak sukannya terhadap dirinya.


Selama ini ia selalu bersikap dingin kepada gadis itu bahkan lebih dari itu dirinya selalu bersikap apatis dan diktaktor terhadapnya.


Tidak seharusnya ia merasakan perasaan ganjil seperti ini !


Dimana sikapnya yang selalu tegas dan tak mau tahu.Justru kini ia merasa ragu harus melepaskan gadis ini dan menceraikannya.


Mona melangkah mundur.


" Saya pastikan jika perceraian ini terjadi,saya rasa beban hidup saya akan segera terlepas,begitupun beban hidup anda." Ucap Mona pelan,ia pun segera berlari menuju kamarnya dengan perasaan hancur sehancur-hancurnya.


Ia selalu berharap jika pria tampan itu akan mengatakan kata ajaibnya yang selalu di dambanya setiap saat,tapi nyatanya itu ketidakmustahilan bagi dirinya.


Seprti mukjijat yang tak akan pernah di dapatinya.


Banny menatapi kepergian Mona dengan tatapan hampa kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya.


BODOH !!!


Rutuknya dengan penuh sesal,rasanya ia merasa lemah tak memiliki nyali yang cukup besar untuk mengatakan perasaan hatinya.


Haruskan mengalami rasa sakitnya kehilangan terlebih dahulu atas rasanya itu ?baru ia akan menyesalinya.

__ADS_1


Ah rasanya ia benar-benar merasa menjadi seorang lelaki yang sangat bodoh.


__ADS_2