
MONA berjalan keluar menuju pintu lobby gedung perkantorannya ia bermaksud untuk segera menemui kedua sahabatnya yang telah mengirim pesan singkat melalui WhatsAap,bahwa mereka sedang menunggu dirinya untuk pulang bersama.
" Mona !" Panggil seseorang,lalu Mona menoleh ke arah suara yang memanggilnya ia mengernyit heran saat tahu yang memanggil itu adalah bosnya.
" Pak Banny!ada apa dia manggil-manggil gue?" Pikir Mona seraya menatap langkah Banny yang menghampirinya.
" Ada apa pak ?" Tanya Mona dengan mendekap erat tas kerjanya.
" Saya ada perlu sama kamu!" Ucap Banny singkat.
" Perlu ??soal apa ya pak ?" Tanya Mona seraya menatap dalam bosnya itu.
" Soal lamaran kita."
" Hah !!" Mona nyaris terkejut mendengarnya.
" Dan sebaiknya kamu ikut saya pulang saja." Ucap Banny dengan nada khasnya yang dingin dan kaku.
" Tapi pak,saya sudah janji mau pulang bersama dengan sabahat-sabahat saya." Sela Mona dengan menatap resah bosnya.
Banny menatap tajam ke arah Mona dengan raut wajah yang dingin.
" Ini masalah lamaran kita Mona,dan saya tidak mungkin berbicara di sini." Ujar Banny dengan pelan namun penuh penekanan.
" Baiklah !" Ucap Mona pelan,akhirnya ia tidak bisa menolak akan setiap keinginan sang bosnya itu.
Banny melangkah terlebih dahulu lalu di ikuti oleh Mona mengikutinya dengan perasaan yang tak menentu.
Seraya berjalan Mona menyempatkan untuk mengirim pesan singkat kepada kedua sahabatnya itu yang sudah menunggu di lobby utama.
Mona : Mel,gue gak jadi pulang bareng kalian🙏,boskul
minta gue pulang bareng,ada hal yang mau di bahas.😤😤.
pesan sudah di kirim namun masih ceklis dua belum di baca Amel.
Mona masih berdiri di belakang Banny menunggu lift turun.
Ting...
Pesan singkat masuk ke handphonenya.
Amel : Udah kita tungguin dari tadi,tau-taunya lo ngebatalin 🙄🙄.
Balasan Amel cukup terdengar kesal.
Mona : Sorry beb🙏.
Amel : Btw lo ada apa sama boskul ?curiga gue."
Mona: Nanti gue cerita,soalnya gue sekarang mau ke parkiran basemant."
Amel : Hati-hati beb,parkiran basement gelap😆 "
Mona : Dasar otak mesum😤😤 "
Balas Mona terlihat jengkel membaca balasan WhatsAppnya Amel yang isi otaknya selalu aneh.
Amel :😁🤣🤣🤣."
Amel hanya membalas emotion tertawa puas.
Lalu Mona pun segera menyimpan kembali handphonenya
ke dalam tasnya dan mengikuti langkah Banny yang memasuki kapsul lift.
Beberapa orang di dalam lift menyapa penuh hormat ke arah Banny lalu mereka bergeser untuk memberi tempat berdiri untuk sang Direkturnya.
Tak lama kapsul lift berjalan turun.
__ADS_1
Di dalam lift ada beberapa orang yang Mona kenal termasuk bu Silvi dan pak Hendra yang sama-sama akan menuju lantai parkir basement.
Bu Silvi dan pak Hendra terlihat tersenyum penuh arti ketika melihat Mona pulang bersama sang bosnya itu,mereka semakin yakin jika ia memang benar-benar menjalin kasih.
Ting......
Suara dentingan lift terdengar lalu pintu kapsul lift pun terbuka Banny segera berjalan keluar terlebih dahulu serta di ikuti oleh Mona dan staff yang lainnya.
" Mari pak,saya duluan." Pamit pak Hendra begitu menuju parkir mobilnya yang terletak jauh dengan atasannya itu.
" Silahkan pak !" Balas Banny dengan singkat.
Lalu staff yang lainnya juga melakukan hal yang sama.
Banny segera menghampiri mobilnya lalu menekan lembut remot controlnya tak lama mobilnya pun berbunyi.
Mona kini sudah tahu bahwa dirinya harus duduk di depan bersama bosnya itu tanpa harus di minta sang bosnya,dan hal itu sudah terbiasa jadinya untuk di lakukan berasa jadi Nyonya besar keluarga Wiguna jika ia sedang berada duduk di samping Banny.
Banny menoleh sesaat memastikan posisi duduk Mona sudah aman,lalu Bannypun menekan tombol merah untuk menyalakan mesin mobilnya lalu ia pun melajukan mobilnya keluar dari gedung parkiran besement.
Hening....
Hening....
Banny masih fokus ke arah laju kendaraanya sementara Mona sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Weekend kita lamaran." Ucapny Memecah kesunyian.
Mona menoleh dengan tanpa ekspresi ke arah bosnya itu.
" Berarti dua hari lagi?" Tanya Mona tanpa menoleh.
" Ya !,itu artinya sandiwara kita tinggal dua langkah lagi." Terang Banny seraya memutar pelan setirnya.
Mona masih terdiam tidak berkomentar apapun.
" Dan bulan depan kita menikah,untuk bulan selanjutnya kita bercerai." Jelas lagi Banny menerangankan susunan rencananya itu.
" Jadi genap tiga bulan kita bersandiwara." Ucap lagi Banny menambahkan.
Mona masih terdiam hanya mendengarkan dan tidak bisa berkata-kata selain hanya mengikuti alur dari rencana sang bosnya itu,baginya ia tak ada kuasa untuk menolaknya.
Siapa yang tak akan bahagia jika di lamar oleh seorang putra pemilik perusahaan tempat ia berkerja dengan memiliki ketampanan yang yang tak ada tandingannya,sekaligus dapat di nikahinya tanpa bersandiwara.Tapi sepertinya itu semua hanya angan-angan belaka saja yang tak mungkin bisa terjadi dalam kehidupan Mona.Pikir Mona seraya menatap jauh ke arah jalan.
" Mona !,kamu mendengar ucapan saya ?" Tanya Banny menoleh sesaat lalu ia kembali ke laju kendaraanya.
Mona terhenyak lalu mengannguk pelan.
" Saya dengar pak." Ucapnya melirih dan suaranya terdengar begitu berat.
Sekilas Banny melihat raut wajah Mona seperti sedang memendam sesuatu hal yang berat di raut wajahnya berubah tak seperti biasanya,meski Mona tidak memperlihatkannya secara langsung namun entah kenapa Banny dapat merasakannya.
" Ada yang mau di tanyakan ?" Tanya Banny pelan.
" Tidak !" Jawab Mona tak kalah pelan.
Sejenak hening...
Hanya terdengar deruan mesin kendaraan yang melaju membelah jalanan.
Banny memusatkan pikirannya mencoba menerka akan isi hatinya sang sekertarisnya itu yang kini mendadak menjadi diam seusai ia menjelaskan apa yang akan menjadi rencananya untuk kedepan nanti.
Banny benar-benar merasa terganggu dengan sikap sekertarisnya itu.
" Kenapa kamu terdiam ?" Tanya lagi Banny mencoba menelusuri isi hatinya Mona.
" Tidak apa-apa pak,saya hanya mengikuti perintah bapak saja,karena bagi saya ini semua hanya tuntutan kerja saja." Jelasnya dengan suara parau.
" Kok kerja?apa hubungannya ?" Banny mengernyit.
__ADS_1
" Selama saya masih kerja di tempat perusahaan bapak,itu artinya saya harus melakukan perintahnya bapak." Terang Mona dengan tanpa menoleh bosnya itu.
Banny menyeringah sinis membiarkan tatapannya terus ke arah jalan dengan satu tangan menahan kepalanya ke sisi jendela kaca dan satu tangannya masih memutar-mutar pelan setir mobilnya.
Apa yang di ucapkan sekertarisnya itu dirasa cukup pedas untuk menyindir dirinya,seakan-akan ia yang punya kendali untuk menjamin kebahagiaan seseorang.
" Jadi kamu pikir saya mengendalikanmu ?"
" Saya hanya di kendalikan dengan rasa balas budi seseorang,dengan cara membuatnya bahagia mungkin balas budi itu akan terbayarkan,meski saya tidak bahagia." Terangnya lagi Mona jelas.
Banny menghentikan laju kendaraanya dan menepikan kendaraannya,lalu ia menoleh ke arah Mona yang tetap menatap jauh kedepan tanpa menoleh ke arahnya.
" Jadi itu alasan kamu nerima perjodohan ini,hanya demi membalas kebaikan papah saya?" Tanya Banny menatap serius.
" Ya." Jawab Mona singkat.
Banny menarik napas lalu mengusap pelan wajahnya dengan frustasi.
" Saya tidak pernah memikirkan gimana perasaan saya maupun nenek saya,yang saya pikirkan bagaimana caranya saya bisa membalas kebaikan pak Wiguna dengan hal seperti ini,dan ketika nanti jika memang ada pernikahan berakhir perceraian,maka saya setidak sudah melaksanakan balas budi itu dengan baik walaupun pada akhirnya saya akan tetap memberi kekecewaan terhadap pak Wiguna, tapi setidaknya saya sudah menuruti permintaan pertamanya untuk menikah dengan bapak." Jelas Mona dengan suara bergetar.
Entah kenapa ia berubah menjadi diri pribadi yang rapuh merasa menyesali perasaanya yang kini tumbuh di hatinya yang mulai utuh dan tertuju kepada sosok pria yang ada di sampingnya itu.
Banny tertegun meratapi perubahan derastis yang kini sedang di alami oleh sekertarisnya itu.
Mona yang polos berubah bijak serta dewasa semua perkataanya terkontrol dengan baik.
Banny menatap jauh ke depan,isi kepalanya terasa penuh dengan berbagai pertanyaan yang berderet panjang tanpa ada jawabannya.
Kenapa Mona berubah sederastis itu?ada apa?
Apakah ada yang salah dengan penyusunan rencanya untuk kedepan nanti?apakah Mona mulai ada perasaan terhadap dirinya hingga ia kecewa dan berubah bijak seperti ini?
Banny menggeleng pelan lalu menoleh Mona dengan berbagai perasaan.
" Saya turun disini saja." Pinta Mona hendak membuka pintu mobil Banny.
Dengan cepat Banny menyambar tangan Mona dan menahannya.
" Kamu tetap di mobil." Sergahnya dengan dingin.
Mona menatapi tangan bosnya itu yang mencekal erat.
" Maaf,kali ini saya mengabaikan perintah bapak,jadi saya turun di sini saja." Ucap Mona memberanikan diri untuk menolak perintah bosnya itu.
Sepertinya Mona sudah pasrah dengan apa yang menimpa dirinya,baginya berurusan dengan bosnya itu hanya bisa membatin,namun tidak dengan kali ini ia memilih ingin keluar dari mobilnya dan berjalan menelusuri sendiri jalanan.
" Kamu tetap disini !!" Ucapnya lagi dengan menatap tajam Mona.
Mona tidak bisa berontak ketika cekalan tangan kekar itu semakin kuat di pergelangan tangannya.
Banny masih menatap dalam ke wajahnya yang mencoba menyimak dengan betul dengan apa yang sedang di rasakan oleh sekertarisnya itu.
Mona membalas tatapan dingin sang bosnya dengan berbagai perasaan di hatinya seakan-akan ia sedang mengumpulkan keberanianya untuk mengatakah hal yang menganjal di hatinya selama ini.
Namun tatapan itu tak kuasa ia hindari,tatapan yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang seolah ia mempunyai riwayat penyakit jantung.Nyatanya itu adalah detakan-detakan sebuah perasaanya yang terdalam kepada sang bosnya itu.
Banny melembutkan tatapannya,iris matanya terlihat cemerlang menatap penuh arti ke arah Mona yang tengah mendamaikan perasaanya.
Dua insan itu sesungguhnya saling mencintai namun egonya masih mengangkuhkan perasaanya masing-masing,entah sampai kapan perasaan itu saling tertahan.
Pria dingin berwajah tampan itu terus menelusuri tiap inci perubahan di raut wajah Mona seakan-akan ia ingin mengatakan sesuatu hal yang lebih serius dari tahapan rencananya kedepan.
Tapi Mona terus menghindarinya ia tak ingin tertipu kembali dengan sikap lembutnya sang bosnya itu yang selalu muncul ketika dan melemahkan egonya itu.Akhirnya ia pun mampu mengalihkan tatapannya serta menepis kuat tangan bosnya hingga terlepas.
" Maaf pak,saya pulang sendiri saja !!" Cetusnya lagi seraya membuka cepat pintu mobil.
Dengan tak menunggu lama lagi ia pun segera melangkah keluar meninggalkan bosnya yang masih terkaget-kaget melihat gerak cepat Mona yang memilih untuk keluar dari mobilnya itu.
Banny menatap panjang siluet tubuh sekertarisnya itu yang semakin jauh meninggalkannya.
__ADS_1
Seorang perempuan yang tengaj menjadi kekasih sandiwaranya itu kini berubah sikap menjadi lebih dingin layaknya seperti sikap dirinya.