
MONA menanti dengan gusar di ruangan kerjanya ia beberapa kali terlihat menoleh ke arah ruangan Sang Bosnya yang masih terlihat sepi.
Ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan kepada sang Bosnya itu.
Di gigitnya dalam-dalam bibir bawahnya serta Mata belonya dengan terus melarak lirik risau dan entah kenapa semangat kerjanya mendadak buyar.
Beberapa menit kemudian Banny pun datang dengan wajah kurang bersemangat raut wajahnya terlihat sangat suntuk,Mona yang sempat melihatnya semakin ragu akan keinginannya untuk menyampaikan sesuatu.
pesawat telepon berbunyi,dengan cepat Mona segera menyambar gagang telpon itu lalu menjawabnya.
" Mona!tolong kamu ke ruangan saya sebentar!." Ucap Banny singkat.
" Baik pak !" Jawab Mona tak kalah singkat.
Mona pun dengan tak menunggu lama lagi langsung pergi ke ruangan sang Bosnya itu.
Sesampainya Mona segera mengetuk pelan pintu ruangan sang bosnya.
" Masuk !" Jawab Banny singkat.
"Ada apa pak ?" Tanya Mona setelah membuka pelan pintu.
" Tolong kamu buatkan kopi ?" Ucap Banny acuh.
" Kopi ?" Tanya Mona kaget sejak kapan ia kerjanya merangkap jadi OB?lalu ia menatap lurus dengan memastikan apa yang di perintahkan sang Bosnya itu benar untuknya.
" Tapi itu,bagian OB pak?" Tanya Mona dengan ragu.
" Apa salahnya kamu membuatnya?dan saya nyuruh kamu bukan OB.Apa jangan-jangan kamu tidak pandai buat kopi ?" Tanya Banny dengan menatap kaku.
" Bisa pak." Sela Mona menggangguk cepat.
" Jangan terlalu manis,saya tidak suka."
" Ba baik pak,maaf ada lagi pak ?"Tanya Mona menatap Banny sebelum pergi.
" Cukup." Jawab Banny singkat.Dengan cepat Mona pun segera membalikan badannya dan berjalan keluar ruangan Banny.
Banny diam-diam memandangi langkah Mona entah kenapa jika berada di hadapan Mona terasa kaku dan canggung,selalu ada perasaan tengsing bila harus bersikap ramah padanya.
Beberapa menit kemudian Mona sudah datang menghapiri Banny seraya membawakan secangkir kopi panas.Aromanya begitu semerbak menggoda selera.
" Ini pak kopinya." Ucap Mona seraya meletakannya di meja bosnya.
" Terimakasih ." Ucap Banny seraya menarik cangkir itu.
Namun dengan tak sengaja Banny menarik cepat cangkir berisi kopi itu, sehingga cangkir itu tertumpah airnya dan membasahi celana serta jasnya yang rapih itu.
Sontak membuat Mona terlihat sangat shok.
" YA TUHAN !!" Pekik Mona terkejut dengan panik ia segera mengambil tisu yang ada di hadapannya lalu dengan refleks membersihkan jas Banny yang terkena tumpah air kopi panas itu.
" Aww.Panas !!" Pekik Banny kepanasan.
" Bapak tidak tidak apa-apa ?" Tanya Mona seraya terus membersihkan jasnya Banny dengan tisu.
Banny menatap kaku ke arah Mona yang secara tiba-tiba membantunya untuk membersihkan air kopi yang tumpah di jasnya itu.Dia menatap lekat ke arah tangan Mona yang sigap menyeka baju jasnya itu.
Mona mendongkak ketika Banny terdiam seraya memandanginya.Tatapan mereka bertemu di satu titik,Mona dan Banny dan mereka saling menatap satu sama lain dalam satu tatapan.
Banny dapat menatap jelas bola mata yang Mona yang begitu indah,bentuk bola mata yang belo dengan warna ke abu-abuan,sulit baginya menggambarkan keunikan yang ada pada kecantikan sekertarisnya itu.Bulu mata yang lentik serta bulu alis yang tebal sungguh sanggat membuat hati Banny sektika bergetar hebat menyaksikannya.
Bibir mungil yang tebal dibagian bawahnya menggambarkan betapa seksinya bibir itu ketika sedang menganga kecil.
Bannypun larut dalam pesona kecantikan Mona yang begitu sederhana namun faras wajahnya tak pernah bosan untuk di lihatnya.
Mona terperangah kaget saat dia tersadar sedari tadi ia terhipnotis dengan ketampanan sang bosnya itu yang sedang menatapnya dalam.
" Ma maaf!" Ucap Mona tertunduk lalu di lepaskannya perlahan jas sang Bosnya itu dengan wajah grogi.
Banny menarik napas panjang lalu ia menatap jasnya yang sudah kotor.
" Mau saya bersihin lagi pak ?" Tanya Mona dengan tak sanggup menatap lagi wajah sang Bosnya itu.
" Tidak usah !!tolong kamu panggilkan bagian Ob untuk laundry sebentar jas saya, dan kamu tolong bersihkan meja kerja saya." Ucap Banny seraya membuka kancing jasnya lalu melepaskannya.
" Baik pak." Ucap Monda mengangguk.
__ADS_1
Taklama Mona segera membawakan jas Banny untuk di berikan ke Ob agar segera di laundry cepat.Wangi farfum yang menempel di jas bosnya itu sangat ngehas akan Baunya.
Setelah dari ruangan OB Mona pun segera bergegas menuju ruanganya kembal.
Perasaan Mona berubah tidak karuan di tekannya perlahan- lahan dadanya dengan tangannya dengan membayangkan kembali tatapan Sang Bosnya itu yang telah membekas di hatinya,entah kenapa perasaannya menjadi sangat gelisah.
Mona berusaha untuk menetrakkan perasaanya walau nyatanya di dalam hatinya ia sibuk menyingkirkan perasaannya yang mulia bergejolak.
Mona kembali fokus ke pekerjaannya dan berusaha untuk tidak terbawa dengan perasaannya itu yang mendadak gelisah.Ini lah salah satu perasaan yang selalu ia khawatirkan ketika ia mulai merasa simpatik terhadap seseorang.Mona sadar betul jika perasaanya terhadap sang bos itu sudah tak biasa,maka akan ada getaran yang akan melibtakan seluruh perasaannya.
" OH TUHAH..!!" Pekinya sembari memejamkan matanya di angkatnnya kepalanya menengadah ke arah lagit-langit ruangan lalu wajahnya di usap dengan satu tangannya dengan fustasi.
" Massa iya gue jatuh cinta ama bos gue? Kira-kira donk Mona !" Gumanya berbicara kepada dirinya sendiri.
Lagi-lagi Mona dibikin strees dengan perasaanya sendiri terhadap sang Bosnya itu.
TOK TOK.....
Pintu ruangan Mona ada yang mengetuk lalu Mona menoleh ke arah pintu dengan pasrah dan rambutnya sedikit acak acakan.
" Masuk ." jawab Mona dari dalam.
" Siang Bu Mona." Sapa Tora terpogoh-pogoh.
" Ada apa Tor ?"Tanya Mona dengan mengadukan kedua alisnya.
" Bu Mona baik baik saja ?" Tanya Tora menatap lurus Mona.
" Saya ?? ya baik-baik ajalah Tor. kenapa ?" Tanya Mona seraya merapihkan rambutnya.Tora pun hanya menahan tawanya tatkala Mona terlihat gugup.
" Ada apa tor?"
" Bu Mona salah kirim laporan.Coba deh cek kembali laporannya,soalnya barusan bu Mona salah kirim laporan,yang di kirim bukan isi laporannya tapi foto-foto pak Banny." Jelas Tora dengan memelankan suaranya seraya mesem-mesem.
"APA ??" Gue salah kirim ya Tor ?" Tanya Mona dengan mata terbelalak,dengan cepat ia mengecek lagi beberapa laporan yang ia infut.
Mata Mona makin terbelalak lebar setelah melihat infut yang ia kirim kepada Tora.
Mona menatap Tora yang masih tersenyum-senyum dengan penuh arti.
" Sumpah gue gak sengaja Tor.." Pekik Mona dengan wajah memias.
" Bu mona diam-diam ngefenss juga ya sama bapak Bos?" Tanya Tora meledek Mona.Sontak wajah Mona berubah memerah,ketidak fokusannya berimbas pada pekerjaannya.
" Mati kutu guee.." Jerit Mona seraya memejamkan matanya Mona merasa malu bukan main terhadap Tora.
" Tor gue gak tau kalau di laptop ini ada bnyak foto Bos kita,Tapi sumpah gue gak ada niat buat ngirim-ngirim ke elo,Ini laptopnya yang sering Manda pake.Yaa mungkin si Manda kali yang ngefans." Jelas Mona dengan terbata bata.
" Haa..haa.. " Tora hanya terawa renyah tat kala reaksi wajah Mona terlihat sangat lucu,Mona semakin terlihat seperti seorang idiot.
" Bu Monakan masih single!jadi gak usah takut kaya gitu." Ledek Tora dengan masih tertawa.
" Sst !!udah nanti kedengeran orang lain bisa gawat." Ucap Mona raut wajahnya semakin down.Tora hanya mengangguk dengan masih tertawa di tahan,lalu ia pun meminta pamitan untuk kembali keruangannnya.
" Tor !!" Panggil lagi Mona dengan cepat.
" Iya Bu Mona." Ucap Tora menoleh Mona.
" please,lo jangan kasih tau hal ini ya🙏" Ucap Mona dengan wajah mengiba.
" Hii..hii.. Tenang aja bu Mona!Amann." Ucap Tora dengan mengacungkan jempolnya.
Mona pun tersenyum hambar sekaligus campur malu ke arah Tora yang melangkah kembali menuju keluar ruangannya.
" Sumpah gue.Ini hal yang sangat memalukan."Guman Mona lagi-lagi berbicara sendiri dengan ekspresi wajah yang lain.
Tak lama kemudian pintunya di ketuk kembali,kembali Mona dibikin dag dig dug dengan suara ketukan pintu itu,ia takut kalau Sang Bosnya itu tiba-tiba datang keruangannya dan mengetahui kesalahan dalam menginfut laporan kepada Tora.
" Masuk !" Ucap Mona ragu.
" Bu Mona bajunya pak Bos udah siap ."Ucap seorang OB menyembul dari balik pintu dengan sangat sopan.
" Oh,kamu lisa." Sela Mona dengan menghela lega.
__ADS_1
" Makasih ya lis." Ucap Mona seraya menerima jas yang sudah bersih dari lisa seorang staff OB.
" Sama-sama bu Mona." Balas Lisa dengan hormat.
Mona pun tak menunggu lama ia pun segera bergegas menuju ruangan sang Bosnya itu dengan perasaan yang mulai tak menentu.
Mona mengetuk pintu ruangan bosnya,lalu dari dalam terdengar suara berat yang menjadi ciri khas suara sang bosnya,dan sang bos pun mempersilahkan Mona untuk masuk.
" Ini Pak Jasnya sudah selesai." Ucap Mona tertunduk ia tak mampu menatap wajah sang Bosnya lagi.
" Ok. Tolong kamu pakaikan !" Titah Banny seraya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mona.
" APA ??" Pekik Mona terperanjat lalu ia berusaha memperjelas akan kalimat yang di ucapakan Bosnya barusan.
" Sepertinya kamu harus cek pendengaran mu itu,biar saya bicara tidak perlu mengulang." Ucap Banny menatap judes.
" *Sumpah Bos gue resenya minta ampun!pasang jas saja masa gue juga yang pasangin,suami bukan.Manja banget*." Guman mona di dalam hatinya sibuk mengomentarin sikap sang Bosnya itu.
" Komentarnya gak usah di dalam hati,langsung saja." Ucap Banny seraya melirik tajam Mona.
Mona melongo menatap penuh tak percaya ke arah sang Bosnya itu,lagi-lagi sang Bosnya bisa menebak isi hatinya.Mona tersenyum pasi dan raut wajahnya berubah inosen dengan bibir mulai mengerucut.
" Ayo pakekan!" Perintah Banny seraya membalikan badan membelakangi Mona.Dengan perasaan tak menentu Mona pun perlahan-lahan memasangkan jasnya itu.Di pandanginya pundak Banny yang bidang itu,dengan sedikit berjinjit Mona membenarkan jas belakangnga yang kurang rapih.
Mona dapat mencium farpumnya yang begitu semerbak di sosok bertubuh tegap itu yang tengah di pandanginya dengan takjub,otak nakalnya mulai bekerja " Seandainya TUHAN menakdirkan gue sama tuan Bos ini mungkin dia (Banny) adalah anugrah terindah gue,yaah meskipun kaya es balok tapi seennganya gue panasin nanti pasti akan bisa cair juga Hee...hee.." Mona menyeringahkan bibirnya dan menyungingkan senyuman penuh arti.
Banny menghadap kembali ke arah Mona sambil mengancingkan beberapa buah kancing jasnya,lalu ia menatap lurus ke dalam wajah Mona yang masih terlihat tersenyum-senyum sendiri seraya masih menatap lekat di bagian dadanya Banny.
" Kenapa kamu tersenyum-senyum sendiri ?" Tanya Banny dengan nada datar.
" Oh, tidak ada apa-apa Pak." Ucap Mona seraya menunduk ketika Banny bertanya secara tiba-tiba.
" Lalu ?" Tanya Banny seraya melangkah kembali ke tempat duduknya dengan acuh.Mona menarik napas panjang lalu ia memberanikan diri untuk berbicara seseuatu yang ia tahan sedari tadi.
" Maaf pak." Ucap Mona dengan suara tertahan.
" Ada apa ?" Tanya Banny menatap lurus Mona.
" Hmm....,nenek saya mengundang bapak untuk makan malam bersama."
" Apa hubungannya dengan saya ?" Tanya Banny terperangah lalu menatap dengan heran ka arah Mona.
Mona terdiam dan menatap kaku ke arah sang Bosnya itu.
Sepertinya bosnya itu mengidap penyakit Amnesia,pikirnya seraya menatap tanpa ekspresi ke arah sang bosnya.
" Loh kan bapak sendiri yang ngaku pacar saya,Yaa bapak harus tanggung jawab.Dan nenek saya mengira hal itu benaran." Sergah Mona berusaha menjelaskan.
" Sayakan hanya ingin nenek kamu segera diam dan tidak banyak bertanya." Ucap Banny acuh.
" Tapi kan gak kaya gitu caranya,dan bapak anggap itu hanya candaan doang pak ?"
" Kenapa ?memangnya kamu berharap saya jadi pacar kamu?kan kamu bisa jelasin kalo saya ini adalah atasan kamu,kenapa juga kamu diam saja." Ucap Bani dengan fokus kembali ke layar laptopnya.
Mona menggeleng kecewa dengan sikap Bosnya yang telah mempermainkan perasaan neneknya itu.
" Seharusnya bapak dari awal bilang sama nenek saya,kalau bapak itu atasan saya,dan bapak sudah menciptakan masalah baru di kehidupan saya,seharusnya bapak yang mengatakan yang sebenarnya tanpa harus berbohong kepada nenek saya." Ucap Mona dengan raut wajah kesal.
Banny tidak memperdulikannya ia hanya diam dengan kefokusannya itu.
" Permisi pak." Ucap Mona dengan singkat.
Tak terpikirkan masalah ini akan menjadi lebih serius olehnya,terutama ini menyangkut perasaan sang Nenek. Mona pun mulai di terpa gelisan harus mencari alasan apa agar sang nenek tahu jika Banny adalah bukan pacarnya dia,ia semakin bingung harus berkata apa kepada sang neneknya tentang ke bohongan yang bosnya perbuat.
Banny memandangi langkah Mona yang gontai menuju ruangannya,lalu mengintainya lewat tirai otomatis yang terpasang di jendela kaca ruangan itu.
Wajah Mona terlihat sedih sekaligus kecewa dengan sikapnya.Banny menatap dengan perasaan lain ke arah sekertarisnya itu,dan perlahan perasaannya hadir dalam diamnya.
Ada perasaan yang mulai berubah arah yang sedang tertuju kepada sekertarisnya itu.Entah kenapa ia baru menyadari akan kesalahannya yang selalu menganggap mudah perasaan seseorang tanpa berpikir akan akibatnya,lalu rasa salahnya mulai menyeruak di dalam hatinya.
__ADS_1