CINTA 100 Hari

CINTA 100 Hari
CSH episode 34.


__ADS_3

BANNY pria muda yang berambut hitam legam itu berdiri menatap di balik tirai otomatis jendela ruangan kantornya.Ada banyak pikiran yang sedang mengitari isi kepalanya itu,raut wajah yang biasanya tersirat tegas kini terlihat bermuram menatap kosong ke arah luaran sana Banny terus berdiri dengan kegelisannya.


Posisi Kedua tanganya berada di dalam ke dua saku celananya yang masih berdiri dengan tegap.


Tubuh atletis itu berbalutkan busana kemeja yang bernuasa biru muda serta yang dipadukan dengan dasi berwarna biru tua bermotif garis garis putih. Rambut hitammya disisir dengan rapi dengan gaya jambul tinggi menjulang memperlihtakan bentuk dahi yang sempurna.


Alis tebal dan hidung yang bangir serta rahang yang tegas menambah karismatik yang sangat begitu kuat akan sosok seorang Banny.


TOK TOK.....


Suara pintu mengejutkan dari lamuan panjangnya.


" Masuk !" Ucapnya seraya menoleh ke arah pintu.


Mona menyembul dari balik pintu dengan wajah sedikit tak berselera. 


" Ada apa ?" Tanya Banny dengan datar.


" Pertemuan dengan Direktur Golden logistic lima belas menit lagi pak." Ucap Mona dengan menunduk ia tidak berani menatap bosnya itu.


" Oke.bagaimana dengan persiapannya ?"


" Persiapan sudah maksimal pak.dan saya sudah mengatur semuanya dari beberapa menit yang lalu.Oya pak pertemuannya di lantai tujuh ya,soalnya ruang pertemuan yang biasa kita pergunakan sedang ada perbaikan."


" Bagai mana hasil rekapan data barang- barang kita yang keluar tadi pagi sudah selesai ?" Tanya Banny menatap lurus Mona yang terlihat menghindar dari tatapannya itu.


 


" Sudah pak ! hasilnya saya kirim ke emailnya bapak,bapak tinggal mengecek ulang saja." Jawab Mona dengan tetap menunduk.


" Hmmm....,pembahasan untuk pertemuan ini udah kamu atur ?"


" Sudah pak.Kali ini kita akan membahas materi soal kerjasamanya dengan perusahan Golden logistic.


" Ok." Ucap Banny dengan mengangguk anggukan kepala seraya terus menatapnya dengan lekat.


" Untuk besok ada Meeting ?"


" Ada pak.Tapi sudah saya aturkan waktunya agar tidak bersamaan dengan jadwal undangannya bapak ke pesta pernikahan putrinya pak Gatot.


" Pesta pernikahan ?" Ucap Banny seraya mengernyitkan alisnya yang tebal itu dengan tinggi.


" Iya pak besok Hari sabtu,Kita ada meeting tambahan dengan orang lapangan yang sebelumnya bapak cansel."


" Lalu pesta ?itu pernikahan siapa ?"


" Anak Bapak Gatot direktur utama perusahaan Prima Logistic." Terang Mona detail.


Banny masih menatap sikap sekertarisnya itu yang sedari tadi menghidari terus tatapannya.

__ADS_1


" Oh ya ya..," Ucap Banny dengan memainkan dagunya oleh tangannya itu.


" Lalu dengan perusahan cabang ?" Tanyanya lagi memancing Mona untuk menatapnya.


" Beberapa informasi sudah saya terima,dan beberapa tahapan sudah mulai di lakasanakan akan pembagunannya." Lagi lagi Mona menjawab secara detail dan terperinci.


Banny hanya mengangguk pelan dan terus menatap lekat Mona yang sedari tadi hanya sesekali menatapnya.


" Ada informasi lain lagi ?" Tanya Banny seraya duduk di kursi putarnya dan menatap kaku Mona.


" Tidak ada pak." Jawab Mona pendek.


" Oya pak, pertemuan dengan Pak Zeanu gimana ?" Bany bertanya lagi.


" Itu lusa pak,sesuai dengan schedule yang sudah saya buat." Ucap Mona dengan singkat.


" Oke oke...,sekalian kamu atur juga untuk peninjauan kembali ke lokasi anak cabang perusahan yang baru."


" Noted pak.Akan saya aturkan jadwalnya setelah pertemuan dengan pak Zeanu." Ucap Mona memanggut.


" Oya sekalian kamu tolong pesanin jas baru saya di Disaner saya untuk persiapan besok."Ucap Banny dengan mengecek beberapa email yang masuk di laptopnya.


 


"Gila !!kalo orang kaya seperti ini cuman sekali ke undangan aja mesti harus pesen jas baru lagi."


Guman Mona dalam hatinya seraya mencuri pandangan ke arah Bosnya itu yang msih terlihat ganteng walau nampak dari arah menyamping.


 


" Ada lagi pak yang mau saya bantu ?" Tanya Mona menanti.


" Besok kamu temanin saya ke pesta !"


" Heuh...!!" pekik Mona hampir terloncat dari sikap berdirinya itu.


Matanya menatap kaget ke arah sang Bosnya dengan mulut mungilnya menganga lebar.


" Maksud bapak ??" Tanya Mona menatap shok.


" Saya paling malas mengulang pembicaraan." Ucap Banny menatap Mona dengan tatapan yang menakuhkan tatapan yang seolah olah akan menerkamnya.


" Tapi...." Ucapan Mona menggantung ia pun mencoba mengulang pertanyaan sang Bosnya lewat ingatannya.


" Besok kamu ambil jas pesananku dan sekalian kamu pesan buat kamu juga."Ucap Banny dengan kembali menatap layar laptopnya tanpa memperdulikan Mona yang masih terlihat kebigungan.


" Tapi pak ?" Sergah Mona menggantung.


" Kamu tidak suka menemani saya ?"Tanya lagi Banny dengan sorot mata yang semakin tegas.

__ADS_1


" Baik pak." Jawab Mona dengan pasrah.Ia tak mungkin menolak perintah sang Bosnya yang terkenal tegas itu.


" Oke." Jawab Banny tanpa menoleh lagi Mona yang terlihat kebingungan atas titahnya yang kali ini meminta dirinya untuk menemani kepesta.


" Kalau begitu saya permisi pak." pamit Mona dengan mengangguk hormat lalu ia perlahan melangkah dan berputar balik melangkah keluar ruangan.


 


Banny menatap langkah sekertarisnya itu dengan mengulas senyuman kagumnya,entah kenapa ia diam-diam kagum atas sikap sekertarisnya iyu yang begitu cekatan dalam melaksanakan segala perintahnya.


Mona yang baru beberapa bulan saja menjabat jadi sekertarisnya,tapi ia telah mampu mengimbangi akan sikap keras kepalanya serta sikap dinginnya itu.


Banny mengakui serta mengagumi atas kinerjanya seorang Mona yang begitu kompeten dan profesional.


Dalam beberapa bulan ini pun Mona mampu menghandle semua pekerjaannya,meskipun di bidang ini adalah merupakan pertamanya kalinya bagi seorang Mona menjadi seorang sekertaris,namun tidak menutup kemungkinan jika pria sekelas Banny akan merasa nyaman bila bisa bekerja sama dengan sekertarisnya itu.


Banny bisa meraskaan perbedaan antara kinerja Mona dengan Manda sangatlah jauh berbeda,meski ia sadar ia selalu bersikap acuh dan terkesan masa bodoh namun ia selalu memperhatikan setiap kinerja serta kualitas para staff yang berada di perusahaannya itu.


Bahkan seorang Mona lebih menonjol di matanya dengan kelebihan yang dimiliki olehnya, seorang Mona juga lebih peduli terhadap hal-hal yang kecil sekalipun,walaupun terkadang sikap polos dan cerobohnya sering membuat Banny di terpa rasa jengkel tapi di balik semua itu Ia sangat mengakui jika Mona memang cukup dapat apresiasi yang sangat baik darinya.


Mona memang salah satu perempuan yang pekerja keras serta pribadi yang kritis,tak ayal rasa penasarannya itu kadang membuat seorang Banny bisa jengkel di buatnya.


Tapi over all, di balik semua itu ada kekaguman yang begitu berarti terhadap sosok sekertarisnya itu.


Meski cara berkomunikasi Mona sangat berbeda dengan sekertaris sebelumnya namun perlahan-lahan Banny mulai terbiasa dengan sikap polos serta humorisnya itu padahal dua sikap itu adalah sikap yang tidak di sukainya.


Justru dengan adanya sikap seperti itu terkadang sedikit merubah kebiasaannya seorang Banny yang terkesan jarang tersenyum,jadi ketika ia mengingat hal kecil tentang seorang Mona maka ia akan tersenyum tipis mengingat akan kepolosannya itu.


Tapi Mona memang luar biasa di rasanya,meski Mona dalam berpenampilan sangat sederhana tapi ia mampu bekerja dengan totalitas serta profesionalitas,tak hanya itu pribadi Mona adalah jiwa mandiri, hamble,dan pantang menyerah dan hal itu lah yang menunjukan dirinya seorang yang memiliki sikap berintegritas.


Mona mampu di andalkan jika Banny merasa moodnya hilang,ia selalu menjadi sebuah faktor pelampiasan atas kejenuhannya dengan berbagai rutinitas pekerjaannya. Dengan mengajak Mona pergi keluar kantor untuk sekedar menemani makan siang,atau duduk-duduk santai.Dengan hal cara seperti itu setidaknya bisa mengusir rasa penat dalam hatinya.


Banny setelah menjadi seorang Direktur Utama di perusahan milik sang papahnya ia memang sosok yang terkesan tertutup akan kepribadinnya.Dan ia adalah sosok pria yang mempunyai daya karismatik yang cukup tinggi sehingga tidak semua orang bisa berbaur dengan kriteriannya dan sepertinya hanya orang tertentulah yang bisa memahami seorang Banny itu.


Pembawaannya yang dingin serta elegan menjadikan ia di segani oleh semua staff serta karyawan karyawati di perusahannya itu.


Ia sangat jarang menghabiskan waktunya untuk berpoya poya seperti kebanyakan pemuda-pemuda sebayanya dia di luaran sana.Dipikirannya selalu ada kerja,kerja dan kerja.


Terkadang sikap Diktaktornya senantiasa membuat ia semakin di takuti dan di segani oleh banyak pihak tanpa kompromi.


Sikap dan performanya berpengaruh besar terhadap perusahaan sang papahnya itu yang sedang di kelolanya, jauh lebih pesat progresnya di bandingkan ketika dulu masih sedang di kelola oleh papahnya.


Progresnya kini menjulang tinggi dengan nilai hasil yang sangat memuaskan.


Dan untuk Kerja kerasnya itu tentunya ada campur tangan seorang sekertarisnya yang mampu mengimbangi dirinya. dan lewat tangan cantiknya seorang sekertris mampu mengatur di segala bentuk keperluannya hingga ke perusahaannya, meski memang sikap cerianya Mona sering berlawanan dengan sikap dinginnya Banny namun perlahan tapi chemistry mereka pun mulai terbentuk.


Akan tetapi semua tidak terlepas dari perannya seorang Mona Sekertarisnya yang ikut andil dan berperan penuh dalam beberapa persiapan Banny dalam segala bentuk pekerjaanya sebagai seorang Direktur Utama di perusahannya dari hal yang terkecil sekalipun Mona mampu mempersiapkannya dengan sempurna.


Pengabdiannya benar benar totalitas melebihi dari seorang Sekertaris.

__ADS_1


......Bersambung.


 


__ADS_2