
Mona membuang tas kecilnya ke atas ranjang dengan kasar,wajahnya mulai sembab dengan sisa-sisa air mata yang masih basah di sisi wajahnya.
Permintaan maaf sang ibunya terus mendengung di pendengaranya, seakan -akan merobekan selaput gendang telinganya.
Perlahan ia menjatuhkan badannya ke atas kasur dengan posisi telungkup lalu ia pun menumpahkan segala kekecewaan di hatinya.
Samar-samar terdengar suara langkah menuju ruangan kamar nya tak lama di susul suara pintu yang berdecit terbuka pelan.
Perempuan setengah baya itu berdiri dan dengan memandang heran ketika di dapatinya sang cucu kesayangan itu tiba di rumah dalam keadaan menangis.
Hal itu sontak membuatnya di landa kecemasan.
" Mona." Panggilan lembut perempuan separuh baya itu lirih.Lalu ia pun duduk di tepi ranjang yang tak jauh dari tempat Mona menjatuhkan badannya.
" Mona ada apa ?" Tanya sang nenek mengusap punggung sang cucu perlahan.
Mona masih terisak sepertinya ia enggan untuk memperlihtkan wajah kesedihannya itu kepada sang nenek.
Dengan sabar sang nenek tetap menunggu keadaan cucunha untuk lebih tenang,meski rasa penasaran menyergapnya.Di elusnya dengan penuh kasih sayang rambut panjang Mona yang terurai.
Tak lama Mona pun bergerak lalu mengubah posisinya ,tak lama ia pun segera memeluk tubuh sang nenek dengan di iringi deraian air mata.
" Ada apa sayang ?kok malah nangis seperti ini ?apa yang terjadi ?" Tanya sang nenek membalas hangat pelukan sang cucu.
" Mona bukan nya tadi kamu pergi ke pestanya Zeanu?kok kamu pulang-pulang malah menangis seperti ini ?" Tanya lagi sang nenek mengelus lembut kepala cucu kesayanganya itu.
" Nek." Pekik Mona seraya melepaskan pelukannya.
Sang nenek menatap penuh seksama ke arah cucu perempuan semata wahangnya itu yang terlihat kesusahan untuk berbicara sesuatu kepadanya,lalu ia pun mencoba memberikan ruang agar Mona lebih rileks.
" Ada apa Mona ?kamu cerita saja sama nenek ! setidaknya itu bisa membuat kamu merasa tenang,anggap saja nenek ini teman curhat kamu." Ujar neneknya dengan tersenyum lembut,sang nenek berusaha membuat suasana lebih akrab agar Mona tidak merasa canggung atau pun kaku bercerita kepadanya.
Perlahan Mon mulai melepaskan pelukannya itu seraya menyeka air mata yang terus berlinang.
Sejenak ia mendongkakan kepalanya ke atas, agar air matanya tidak terjatuh lagi.
" Ada apa Mona,cerita sama nenek !" Pinta sang nenek dengan menatap tenang.
Hening.....
Mona masih belum bisa mengatakan apa yang ada dalam perasaannya itu.
Sang nenek mengusap kembali pundak sempit cucunya tersebut hingga Mona terlihat lebih tenang.
" Mona bertemu Mama." Ucap Mona dengan lirih,emosinya kembali meluap sehingga ia pun tak kuat membendung pertahanan air matanya yang memaksa untuk keluar kembali,ia pun terisak kembali hingga terceguk-ceguk.
Sang nenek tecekat mendengar ucapan sang cucunya dan
betapa shoknya ia mendengar kabar tentang keberadaan putri sulungnya yang setelah sekian lama menghilang.
Kini secara tiba-tiba saja ia mendengar kabar kehadiran sang anaknya sekaligus orang tua dari cucunya tersebut.
" Mona apa yang kamu katakan itu benar ?" Tanya sang nenek dengan mata mulai berkaca-kaca menahan perasaan yang menyesakan ruang dadanya.
Mona hanya mengangguk dengan terus terisak.
" Lalu,dimana kamu bisa bertemu dengan mama kamu ?" Tanya sang nenek menatap resah.
" Mona bertemu mama di pesta Zean nek,dan mama ternyata sudah menikah lagi dengan ayahnya Zeanu nek,hikss.." Jelas Mona semakin terisak kencang.
" YAA ALLAH !! " Pekik sang nenek ternganga.
" Benarkah itu Mona ?" Tanya nya lagi mengulang dengan pasti.
Mona mengangguk dalam isakan nya.
Nenek menatap kosong dengan perasaan yang bergemuruh dalam dadanya.
" FATMA." panggil perempuan setengah baya itu dengan lirih seraya menekan dadanya untuk menghilangkan sesak di dada.
Betapa rindunya dia terhadap anak sulungnya itu yang sekian lama menghilang,hanya gambarnya saja yang mampu mengobati luka di ruang rindunya.
Pelupuk matanya yang sudah keriput itu terlihat basah dan bola matanya yang tak sepijar dulu itu berkaca-kaca,ada perasaan bahagia yang luar biasa membuncah dalam dadanya. Tak jauh beda dengan apa yang di rasakan oleh Mona sang cucu,seperti itulah yang turut serta dalam perasaan perempuan penuh kasih itu.
Lima belas tahun lamanya Fatma anak perempuan pertamanya itu pergi tanpa pamit,sehingga menyisakan duka yang mendalam bagi seorang ibu yang pernah mengandung dan melahirkannya.
Fatma memilih pergi meninggalkan anak serta suaminya hanya untuk menghindari polemik rumah tangga yang kian rumit,bermula dari sebuah perselingkuhan hingga KDRT memicu ia untuk semakin nekat melakukan di luar akal sehatnya.
Namun ia sangat bersyukur jika Fatma memilih pergi daripada mengakhiri kehidupannya,itu yang selalu di resahkan olehnya kepada anak perempuan nya itu.
Wajah yang tak lagi muda itu tersenyum getir mengingat kembali akan kehidupan dulu sang putri tersayangnya itu,
__ADS_1
dengan atas segala perlakuan yang menjadi suaminya kepada anak perempuannya itu.
Sebagai orang tua tentunya ia menginginkan hubungan rumah tangga anaknya harmonis dan baik-baik saja.
Namun semua itu hanya sekedar menjadi ke inginan saja, yang tak lepas dari Takdir sang MAHA KUASA yang telah memberi jalan hidup kepada anaknya seperti ini.
Dengan menggunakan ujung bajunya perempuan berhati lembut itu menyeka air matanya yang tak terasa jatuh ke pipi.
Ia rindu akan sosok anak perempuannya yang telah lama menghilang.
" Mona,nenek ingin bertemu dengan mama mu." Ucapnya lirih suaranya terdengar mengiba.
Mona hanya tertegun menatap kosong wajah renta itu.
" Nenek,maaf kan Mona,Mona belum bisa menerima kenyaataan ini,Mona belum bisa sepenuhnya menyingkirkan perasaan sakit ini." Ucapnya dengan tertekan.
" Mona,maafkan semua kesalahan mama mu itu sayang,tak seharusnya kamu menahan dan menyimpan perasaan yang selama ini mengganjal dalam hati kamu.Nenek tahu mama mu pergi karena ada alesan tertentu,hingga ia tega meninggalkan kamu.
Nenek sebagai orang tuanya sangat mengerti jika kepergian mama kamu karena tertekan dengan keadaanya dulu,dan ini semua tak sepenuhnya mama mu yang bersalah." Ucap perempuan yang di panggilnya nenek oleh Mona itu berkata cukup bijak.
Neneknya ingin sang cucu bisa mengerti akan kondisi sulit yang di alaminya oleh orang tuanya dulu,dan ia pun berusaha melukuhkan hati sang cucu itu yang masih mengeras.
Mona perlahan menggelengkan kepalanya,rasanya orang lain tak bisa memahami apa yang menjadi alasannya untuk tetap dengan pendirian nya itu,sekalipun itu sang neneknya.
Meski dia adalah perempuan yang telah melahirkan sang ibu,tapi ia tetap tidak memahami perasaannya sebagai seorang anak yang telah di tinggalkan pergi begitu,sakit jika harus membayangkan kembali akan hal itu.
Mengulang rasa yang sekian lama ia pendam
Tentu saja hal itu tak mudah ia lenyapkan begitu saja.
Rasa sakit yang berdampak pada kehidupannya bukan kepada kehidupan orang lain.
Maka seperti itulah perasaan Mona ketika ada seorang pria yang usianya tak jauh dari sosok ayahnya menolong dia dan membantu dia dalam keterbatasan hidupnya hingga dia menyenyam pendidikan tinggi di salah satu Universitas ternama atas kebaikan seseorang yang tulus memberinya beasiswa hingga selesai kuliah.
Dan sosok pria berhati malaikat itu tiada lain orang tua dari bosnya di perusahaan tempat ia bekerja.
Dan hal itupun menjadi alasan kuat ia menerima perjodohan serta sandiwara cintanya dengan sang anak pemilik perusahan tersebut.
Mona menghela,rupanya beban berat hidup yang kian bertambah ia alami,sekiranya beban itu belum bisa beranjak dari kehidupannya.
Masalah demi masalah terus merongrong serta mengiringi setiap perjalanan hidupnya.
Tapi ia berharap cucu tersayang itu setidaknha mau memafkan kesalahan dari orang tuanya tersebut.Ingin asanya bisa berkumpul kembali dengan anak serta cucu nya walau dalam keadaan sudah berbeda.
Deru mesin mobil terdengar jelas memasuki pelataran rumah mereka dan perhatian mereka pun ter alihkan ke arah suara deruan mesin mobil tersebut,lalu tak berapa lama kemudian di susul suara klakson berbunyi nyaring.
Mona beserta neneknya terperangah lalu menatap ke luar kamar mereka.
Dengan perasaan gamang Mona menatap kembali ke wajah sang nenek yang terlihat resah.
" Sepertinya ada yang datang kerumah kita." Ucap neneknya Mona menoleh ke arah jendela kamar Mona.
Mona dengan ragu ia menyeka air matanya lalu raut wajah berubah tegang.
Pikirannya langsung tertuju kepada sang ibu yang kemungkinan besar menyusul dirinya.
" Nek,apa jangan-jangan mama menyusul ke rumah kita dan Zeanu yang antar." Tanya Mona menatap resah sang nenek.
Baru saja Mona selesai bicara suara ketukan pintu sudah terdengar keras dari luar,Mona dan neneknya tecekat lalu saling betatapan.
" Assalamualaikum. "
Terdengar dari luar pintu sana seseoran mengucapkan salam,Mona menatap semakin tegang saat ia mengenali akan suara itu.
" Itu Zeanu nek,pasti dia bersama mama kesini." Mona menatap bingung.
" Sebaiknya kita temui saja mereka Mona,." Balas neneknya dengan menatap penuh harapan jika Mona bersedia menemui orang tuanya.
Mona terdiam ia hanya tercenung menatap kosong ruangan kamarnya itu.
Sebelum ia berbicara sang neneknya sudah pergi meninggalkan Mona yang tengah kebingungan.
Sang nenek perlahan mendekati ke arah pintu tersebut sementara di luar masih terdengar seseorang mengulang mengucapkan salam
Dengan gamang sang nenek pun memberanikan diri membukan pintu itu.
Begitu pintu terbuka seorang perempuan mengambur ke arahnya lalu memeluk dengan erat.
" IBU !!" Pekik perempuan itu yang tiada lain Fatma ibunya Mona mengambur kepelukan perempuan setengah baya itu.
" Fatma." Pekik sang nenek dengan lirih,entah kenapa tiba-tiba suaranya lenyap begitu saja setelah melihat dengan nyata anaknya memeluk erat dirinya.
__ADS_1
" Ibu,maafkan Fatma.Fatma salah,Fatma telah berdosa dengan semua ini,maafkan Fatma ibu huu..huu.." Fatma menangis tersedu-sedu di hadapan sang ibunya dengan histeris.
Sang ibu memeluk dengan canggung karena setelah sekian lama pelukan itu terasa hampa.
" Ibu,Harus bagaiamana Fatma menebus kesalahan ini ?" Isak kembali Fatma dengan penuh haru.
Sang ibu mengelus kepala Fatma dengan lembut,tak tepikirkan jika ia harus mengabaikan niat baik sang anak yang ingin menebus semua kesalahan nya itu.
" Ibu maafkan Fatma." Selanya lagi seraya bersujud di kaki sang ibunya.
" Jangan seperti itu nak,bangkitlah." Sang ibu mengangkat pundak Fatma dengan penuh kasih sayang.
Fatma masih terisak larut dalam kesedihan yang tak pernah ia bayangkan.
" Ayo kita duduk,silahkan nak Zeanu masuk." Ucap sang nenek mempersilahkan Zeanu beserta seorang pria yang usianya tak jauh beda dengan anaknya itu.
Fatma duduk tak jauh dari sang ibu,matanya mulai sebab sedari tadi ia menangis dengan tak henti-henti.
" Ibu,apakah ibu akan membeci Fatma ?" Tanya Fatma menatap nanar,pandangan matanya kian mengabur tertutupi oleh air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Fatma menghapus air matanya yang mulai berjatuhan ke pangkuannya.
Sang ibu menatap penuh haru,ia tak bisa menghamiki atas kesalahan yang telah di perbuat anaknya itu,meski berakibat fatal bagi kehidupan cucu tersayangnya itu.
" Ibu,maaf kan Fatma." Lagi-lagi Fatma meminta maaf dengan penuh sesal.
" Ibu tau,ini adalah kesalahan paling fatal yang kamu lakukan,tapi ibu tidak berhak membenci mu,karena bagaimana pun juga kamu tetap anak ibu,dan pastinya ibu akan selalu memaafkan kamu." Balas perempuan setengah baya itu dengan hangat.
Mata Fatma semakin basah saat mendengar ucapan bijak sang ibunya yang begitu menyentuh perasaanya hingga ia semakin terenyuh.
" Tapi ibu belum bisa menyakinkan hati anak mu untuk memaafkan kamu Fat." Terangnya menatap resah.
Fatma tercenung,apa yang di katakan sang ibu benar,Mona belum tentu bisa akan memafkan kesalahannya itu.
" ......." Fatma menatap resah dengan wajah semakin tertekan menatap getir ke arah wajah perempuan yang telah melahirkanya itu yang semakin menua akan keadaanya sepeninggal dia pergi.
" Ibu." Pekiknya seraya kembali memeluk perempuan renta itu,ia pasrah jika Mona benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya.
" Maaf ibu,saya bukan ingin membela Fatma,tapi alangkah baiknya kita membicarakan kesalahan ini dengan bijak agar Mona tidak salah paham lagi atas kepergian mamanya dulu meninggalkan dirinya.Kerena Fatma sudah cerita banyak akan masa lalunya dulu kepada saya." Sela pria bertubuh tambun itu ikut menyela di antara isakan Fatma dengan sang ibu.
Fatma menoleh ke arah suara suaminya itu yang turut membela dirinya.
" Ibu,ini mas Anton suami Fatma." Ujar Fatma memperkenalkan suaminya kepada sang ibu.
Ibunya Fatma menatap dalam ke arah pria tersebut yang duduk tak jauh dari Zeanu.
" Dan ini anak saya Zeanu." Sela lagi pria tambun itu memperkenalkan anaknya ke pada sang ibu.
" Ibu sudah kenal dengan nak Zean,karena dia sering mengantar pulang Mona." Sela sang ibu tersenyum hangat.
" Ibu,aku ingin ketemu Mona." Fatma menatap penuh iba terhadap sang ibu.
" Mona ada di dalam kamarnya,tapi sepertinya ia belum bisa di ganggu,ia masih terguncang atas pertemuan ini." Jelas sang ibu memberi pengertian agar Fatma tidak memaksannya untuk bertemu dengan anaknya.
Fatma menarik napas lalu menoleh ke arah suaminya,dan yang di toleh hanya mengangguk membenarkan kata-kata sang ibu,agar Fatma tidak memaksa bertemu dengan Mona,ia mengerti jika Mona dalam keadaan masih terguncang.
" Ibu,ibu memaafkan kesalahan Fatma ini ?" Tanya Fatma dengan menatap penuh sesal.
Sang ibu menarik napas panjang lalu menatap dalam putrinya itu.
" Seorang ibu pasti akan selalu memaafkan kesalahan ankanya,dan pastinya seorang ibu akan selalu memberikan yang terbaik bagi seorang anaknya." Balas sang ibu dengan tenang.
Sontak kata-kata itu seperti tamparan kerasa di wajahnya Fatma,dan secara tak langung menyinggung keras akan perasaanya.
" Tapi Fatma tidak seperti itu,hikss...." Fatma kembali menangis ia semakin merasa tidak becus menjadi seorang ibu yang telah tega menelantarkan anaknya demi egonya semata.
" Tidak Fatma,setiap manusia pasti akan memiliki kesalahan,maka selama kita masih di beri kesempatan untuk memperbaikinya, maka perbaiki lah." Kembali sang ibu memberinya petuah dengan bijak.
" Ibu,aku tak tau harus bagaimana lagi untuk mengobati sakit hatinya Mona,aku takut dia tak akan memaafkan kesalahan aku ini." Pekik Fatma meronta seraya meremas kuat tangan sang ibunya.
" Nanti ibu akan berbicara lagi kepada Mona,semoga saja hati dia luluh,karena ibu yakin Mona tak setega itu membiarkan mamanya mengemis-ngemis minta maaf sama dia,karena bagaimana pun juga kamu adalah tetap ibu kandungnya dia." Jelas ibunya menenangkan hati Fatma yang di landa kegelisahan serta ketakutan yang kian mencekam.
Fatma kembali memeluk erat tubuh renta itu,tubuh yang sudah tak semuda dulu lagi,namun hatinya tak pernah berubah selalu memberi dia kenyamanan,ia pun sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang sangat bijak dalam menghadapi kesalahannya itu.
Di balik pintu kamar seorang gadis memperhatikan serta menguping semua pembicaraan itu.
Mona menyandarkan tubuhnya di balik dinding kamarnya menatap jauh ke arah jendela kamarnya ia menahan isakannya yang kian menyesakan rongga dadanya.
Hati kecilnya ingin berlari dan memeluk erat muara kasihnya lalu menumpahkah segala kesedihannya yang selama ini ia sembunyikan.
namun apalah daya,egonya masih membelenggu kuat perasaanya sehingga ke angkuhannya mengalahkan kerapuhannya.
__ADS_1