
MONA sudah berada di dalam Taksi yang sedang melaju kencang membelah pekatnyan malam.,pikirannya belum berhenti dan matanya sesekali masih mengeluarkan air mata dia tidak lagi sedang memikirkan sahabatnya yang akan pergi meninggalkannya namun justru ia tengah memikirkan nasibnya kedepan akan seperti apa,ia akan berpisah dengan Banny melalui sebuah perceraian,ia bingung entah harus tinggal dimana untuk saat ini.
Bagaimana ia harus menghadapi semua ini ??
Banny dengan begitu teganya mengusir dirinya dari Apartemennya,ada apa dengan seorang Banny sehingga begitu tega mengusir bahkan lebih kejam lagi dia akan menceraikan dirinya.
Seyogyanya bagi perempuan dimanapun berada,hantu yang paling menakutkan dalam sebuah pernikahan adalah sebuah perceraian,begitu pula bagi Mona,setelah Banny mengucapkan kata cerai pikirannya melayang jauh entah kemana,hatinya serasa goyah hingga pinjakan kakinya terasa runtuh.
Sia sia ia melawan permintaan Banny karena ia mengenal betul akan sosok pria tersebut,batinnya hanya mampu berteriak sedangkan lidahnya kelu,seperti perempuan lainnya ia pun tak banyak yang bisa ia lakukan,ia hanya mampu terdiam tanpa mampu berbicara banyak,hingga lelehan air matanya tak sanggup lagi ia tahan.
Mona menatap ke arah jendela mobil taksi yang melaju menerobos sepinya malam,perasaan hatinya terasa tersayat-sayat dengan sikap kejamnya seorang Banny yang begitu tega membuatnya berurai air mata.
Harus bercerita apa jika dirinya benar-benar akan di ceraikan oleh Banny,ini bukan persoalan malu,tapi ini lebih ke sikap tanggung jawab dirinya kepada pak Wiguna,pria yang telah banyak menolong dirinya dalam kehidupannya di masa lalu.
Tentu saja Mona tidak bisa berbohong lagi akan perceraiannya dengan Banny terhadap sang Nenek maupun sang mertuanya,Ayah dari seorang laki-laki yang kini sudah menalaknya.
Mona tidak peduli jika dirinya akan di cibir orang-orang terdekatnya atas keputusan Banny yang menceraikannya,tentu saja imbas dari keputusan ini dia akan di pandang sebelah mata,bahkan ia pun akan menyandang status menjadi seorang Janda muda dari pengusaha muda ternama dan itu sangatlah tidak mudah ia hadapi,berbagai tudingan miring pasti akan menerjangnya dan pastinya ada banyak hal negatif yang akan menyudutkan diri dan perasaanya.
Di dalam kekalutan hatinya,ingatan Mona hanya tertuju kepada salah satu sahabatnya dan dia pun memutuskan untuk segera menghubungi sahabatnya tersebut.Mona merogoh ponselnya lalu tanpa berpikir panjang ia pun langsung menghubungi sahabatnya tersebut.
Tak berapa lama sambungan telponnya tersambung.
( " Hallo Mon!!") terdengar suara berat dari ujung telpon dengan nada menguap.
" Mel,, " suara Mona terisak.
( " Mon lo kenapa ??" ) terdengar suara Amel terkejut mendengar suara tak biasa sahabatnya tersebut.
" Gue ke rumah lo ya sekarang !" ujar Mona dengan tak mampu menahan perasaanya lagi.
(" Tengah malam begini ? elo baik-baik aja kan ?? trus lo dimana sekarang ?" ) berondong Amel di sebrang telpon mengkhawatirkan ke adaanya Mona.
" Gue di jalan,menuju rumah lo." ucap Mona seraya menyeka air matanya yang semakin deras.
( " Baiklah, gue tunggu lo ya !" ) ucap Amel dengan tak sabar,sepertinya dia sangat menghawatirkan keadaanya Mona.
Mona mengakhiri panggilannya lalu melipat bibirnya dalam-dalam,bersyukur Amel belum pindah,jika sudah pindah entah harus kemana ia mengadu.
Mona menarik napas berat,menuruni taksi saat sudah berada di depan rumahnya Amel,dia melangkah setengah malas mendekat ke arah pintu rumahnya Amel.
Setelah ia mengetuk pintu,tak berapa lama Amel membukan pintu dengan setengah sadar,matanya terasa begitu ngantuk,wajahnya begitu terlihat kuyu,Tamara ikut menyembul dari belakangnya Amel.
Begitu melihat Amel Mona langsung menghambur kepelukannya dengan menangis tersedu-sedu.Sontak Amel beserta Tamara terkejut melihat kondisi sahabatnya tersebut.
" Elo kenapa sih Mon ?" tanya Amel seraya mengucek-ngucek kedua matanya,Mona masih terisak enggan membalas pertanyaan sahabatnya tersebut.
" Kok lo bawa-bawa tas gede segala ?lo minggat dari Apartemen lo ?" sambung Tamara menatap heran.
Bukannya di jawab justru Mona semakin terisak kencang air matanya mengalir deras hingga Amel dan Tamara di buatnya terheran-heran.
" Ok,ok lo duduk,tenangkan hati lo dan setelah itu lo boleh cerita sama gue !" ucap Amel seraya memberi pelukan hangat,sementara Tamara hanya menepuk-nepuk punggung Mona untuk menguatkan.
Mona masih tersedu-sedu di pelukannya Amel membuat kedua sahabatnya semakin iba,apa yang telah menimpa sahabatnya tersebut.
Amel menuntun Mona untuk duduk di sopanya lalu Tamara berlari ke dapur dan kembali dengan membawa segelas air putih,di sodorkannya minuman tersebut ke hadapan Mona untuk segera di minumnya.
Mona menerimanya dengan tangan bergetar perasaanya benar-benar terpukul atas kejadian yang menimpanya.
Amel dan Tamara saling berpandangan satu sama lain dengan harapan Mona baik-baik saja.
Perlahan Mona menaruh gelas tersebut di atas meja,lalu ia menyeka air matanya yang terus keluar tanpa ia minta,sakit hati yang tak berkesudahan menyayat hatinya.
" Ada apa Mon ?" tanya Amel menatap dalam sahabatnya.
Mona terisak kembali dengan di iringi linangan air mata yang semakin luruh.
Amel dan Tamara saling menarik napas mencoba menunggu keadaan hatinya Mona stabil.
Sejenak hanya terdengar isakan Mona yang semakin menjadi-jadi.
Amel dan Tamara menatap semakin iba.
Tak lama Mona menarik napas panjang lalu mencoba menahan tangisnya yang kembali hendak pecah.
" Gue," ujarnya terbata.
Amel dengan sigap merangkul pundak sahabatnya tersebut dan mencoba menguatkannya.
" Gue,hiksss...,gue di usir Banny." ucapnya parau,Mona berusaha berbicara di tengah sesaknya dada menahan tangisan,ia pun kembali menangis dengan begitu hebatnya.
Mona menangkup wajahnya dengan kedua matanya berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur.
Sontak kedua sahabatnya tercengang mendengar perkataan sahabatnya tersebut.
" APA ??? , LO DI USIR ?" tanya Amel terkejut bukan main.
tak lagi mampu menjawab Mona hanya mengangguk dengan tersedu-sedu kembali.
Sejenak Amel dan Tamara saling melongo tak percaya.
" Kok bisa ? Apa lo berdua bertengkar ?" Tamara menimpali dengan cemas.
Lama Amel dan Tamara menunggu Mona membuka tangkupan di wajahnya,tak lama Mona membuka tangannya,mempertontonkan wajahnya yang basah dengan air mata,Amel menelan ludah.
__ADS_1
Mona kembali mengangguk dengan menyeka airmatanya.
" Terus kalian ada masalah apa ??" tanya Amel tak sabar,raut wajahnya terlihat gusar.
" Sepertinya mas Banny sudah salah paham," ucapnya terisak.
" Salah paham apa lagi sih ?" tanya Tamara tak kalah penasaran.
" Salah paham ampe ngusir lo,ini bukan masalah salah paham lagi Mon,ini pasti ada masalah penting yang harus lo berdua selesaikan." Amel terilhat mulai menatap kesal sekaligus tak tega melihat kondisi sahabatnya tersebut,sikapnya yang Arogan mulai terlihat.
Mona menarik napas panjang lalu menatap kedua sahabatnya dengan mata yang mulai terlihat bengkak.
Kedua sahabatnya menanti penjelasan dengan perasaan sembilu.
" Mas Banny menuduh gue selingkuh,gue gak ngerti dengan apa yang sudah terjadi kepada dia Mel, sehingga dia dengan kejam menuduh gue selingkuh,bahkan gue akan di ceraikannya Mel,Tam.?" jelas Mona terbata.
Kembali kedua sahabatnya Mona di buatnya terkejut bahkan tercengang mendengar pernyataan dari Mona,tentu saja hal ini bukanlah permasalahan biasa.
" APA ??? Lo mau di ceraikan pak bos,memangnya dia yakin elo selingkuh ?" tanya Amel suaranya mulai meninggi.
Tamara terlihat memberi isyarat untuk memelankan suaranya.
" Mon darimana boskul tau jika lo selingkuh ?" tanya Tamara menimpali,kini raut wajah gadis berponi pendek itu terlihat lebih serius.
Mau tak mau akhirnya Mona bercerita akan segala permasalahan yang kini tengah menimpanya.
flasback.......
" Oya bun Mona,hmm bu Mona akan pergi jam berapa ke pesta ulang tahunnya Santana ?" tanya Aras menyela di sela-sela usai meeting.
" Sepertinya saya belum tahu,soalnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu, memang ada apa ?" tanya balik Mona menoleh ke arah Aras dengan menghentikan kegiatannya.
" Hmm kebetulan saya bersama Merry ingin pergi bersama,soalnya Merry bawa kendaraan sendiri,barang kali ibu mau pergi bareng bersama kita ?" tawar Aras tersenyum enteng.
" Hmm,tidak terimakasih,saya sudah meminta pak ihwan untuk mengatar saya ke lokasi." balas Mona tersenyum datar.
Aras terlihat kecewa namun ia tak mampu memaksa kehendak atasanya tersebut.
" Baiklah,kalau begitu saya izin pulang,kebetulan pekerjaan saya sudah selesai bu, jadi saya akan pergi sekarang bersama Merry." pamit Aras berdiri dan keluar dari kursinya.
" Ok,nanti saya akan menyusul ke lokasi." ujar Mona seraya melanjutkan kembali kegiatannya.
Aras melenggang keluar meninggalkan atasannya tersebut.
Mona menoleh ke arah jam yang melingkar cantik di tangan kirinya,waktu sudah menunjukan pukul empat sore,ia berpikir jika masih ada waktu beberapa menit untuk bersiap-siap ke acara ulang tahun salah satu karyawan yang paling akrab dengannya.
Tentu saja ia tidak mau mengecewakan stafnya tersebut dengan tidak dapat menghadiri undangannya.
Setelah beberapa jam kemudian Mona terlihat sudah rapih dengan balutan busana yang sederhana,Mona adalah tife perempuan yang tidak terlalu ribet dalam berpenampilan,di rasa itu sopan dan nyaman baginya itu sudah merasa cukup.
Pesan singkat yang begitu membuat hati Mona berbunga-bunga,yaa Banny kembali bersikap bucin terhadap dirinya.
[ Sayang hati - hati ya di jalan,jangan lupa Kabarin aku jika kamu sudah sampai di tempat pesta,love you🤎🤎]
Mona tersenyum menatapi layar ponselnya dengan hati penuh bunga-bunga hingga sekebun bunga pindah ke hatinya.
[ Iya sayang,Love u to 🤎🤎 ]
Satu pesan di balasnya,Mona mengulas senyuman tak henti-hentinya.
Setelah tiba di lokasi pesta Mona di sambut hangat oleh beberapa pihak yang bersangkutan,suasana yang begitu meriah meski tak semewah pesta pada umumnya namun acara tersebut sedikit berkesan,para kerabat dekat hingga teman satu pekerjaan pun ikut hadir memeriahkan pesta tersebut.
Mona melenggang mendekat ke arah Santana staf kantor yang kini tengah asik menikmati kemeriahan pestanya,Mona menyalaminya dengan memberikan sebuah kado cantik yang di bawanya,setelah memberi ucapan ia pun bertemu dengan para staf yang lainnya termasuk Aras,ia hadir di tengah-tengah pesta tersebut.
Setelah bercengkrama sebentar Mona minta izin untuk mengambil segelas minuman segar,selepas hahahihi ia merasa kering akan tenggorokannya,pesta yang cukup meriah ini membuatnya haus,segelas lemon tea sudah berada di tangannya dan ia pun berniat ingin kembali ngobrol bersama beberapa para staf yang lumayan cukup akrab dengannya,namun ketika di tengah perjalanannya seseorang memanggil namanya hingga berhasil membuatnya menoleh.
Mona mencari-cari seseorang tersebut dan di lihatnya seorang pria tersenyum kearahnya.
Kedua alis Mona mengernyit saat mengetahui siapa pria yang memanggil dirinya.
" Pak Sultan ???" gumannya pelan dengan nada heran.
Kenapa dia ada disini ?batinnya seraya menatap heran.
Pria berpenampilan menarik itu melenggang mendekatinya,Mona menatapnya tak biasa.
" Apa kabar Nyonya Banny ?" sapa seseorang itu dengan nada penuh ledekan.
Mona tersenyum datar,ia tahu jika pria tersebut menyapanya dengan sikap yang berlebihan.
Sebelum menjawab Mona tersenyum penuh hormat.
Bagaimana pun juga Mona tidak bisa bersikap sembarangan meski perasaanya tidak terlalu suka dengan sikap pria tersebut.
" Kabar saya baik-baik saja,pak Sultan." balas Mona datar.
Pria yang menyapa dirinya tiada lain Sultan.
" Ini suatu kebetulan yang begitu istimewa bisa bertemu kembali dengan seorang istri pengusaha muda ternama" sanjung Sultan dengan tersenyum penuh sindiran.
Mona menatap tidak suka,namun ia harus tetap jaga sikap.
Padahal dalam hatinya kecilnya ia ingin segera pergi dari hadapan pria berpenampilan menarik tersebut.
__ADS_1
" Yaa ini hanya kebetulan saja pak." balas Mona tersenyum kecut.
" tapi,saya kira ini bukan hanya sekedar kebetulan saja,melainkan sebuah jodoh ?" ujar Sultan tersenyum dengan penuh pesona.
Mona mengernyit dengan tatapan tidak nyaman.
" Jodoh ??? " desisnya pelan.
" Ya jodoh,kita di pertemukan secara tidak sengaja di sebuah pesta." ujar Sultan seraya tersenyum nikmat.
" Maaf saya datang kesini tidak secara kebetulan,melainkan sengaja untuk menghadiri pesta salah satu staf kantor saya." balas Mona tandas tak ada senyuman yang ia tampilkan di raut wajahnya.
" Oya ?? Jadi sepupu saya Santana ini adalah salah satu staf kantormu ??" tanya Sultan dengan gaya terkejutnya.
" Ya. " balas Mona singkat.
" Menakjubkan !!" sanjung Sultan dengan tersenyum penuh daya pesona.Ia berusaha untuk terlihat sempurna di matanya Mona.
" Maaf....,." ucapan Mona menggantung,dengan bersamaan tiba-tiba seseorang berjalan cepat sehingga meyenggol tubuhnya cukup keras hingga tubuh mungilnya Mona terdorong cukup keras dan tersungkur percis ke hadapan pria berparas menarik tersebut,alhasil minuman yang berada di tangannya tumpah tepat mengenai baju pria tersebut.
" Aw... " pekik Mona terkejut.
Begitipun Sultan tak kalah terkejut melihat Mona tersungkur di hadapannya,namun dengan sigap Sultan segera menopang tubuh Mona dengan tangannya agar tidak terjatuh,sekilas adegan mereka memang terlihat tengah berpelukan namun sebenarnya Sultan hanya menahan supaya Mona tidak terjatuh.
Kejadian itu menjadi pusat perhatian beberapa tamu yang hadir di acara pesta tersebut,tak terkecuali Aras ia ikut menoleh ke arah suara gaduh tersebut,di lihatnya Mona masih berada dalam pelukannya Sultan,Aras tersenyum penuh arti seraya menggeleng-gelengkan kepalanya,entah apa yang ada dalam pikirannya.
Dengan repleks Mona segera mendorong tubuh tegap tersebut agar segera menjauh darinya,dan ia pun menepis tangan pria tersebut.
" Sorry !" ujar Sultan merapihkan pakaiannya.
Mona menatap gugup,di lihatnya baju pria tersebut basah kena minumannya.
" Maaf,baju anda jadi basah pak Sultan." ucap Mona seraya menatap kesekelilingnya dengan perasaan tak enak.Mona tak ingin orang-orang yang melihatnya berpikiran lain akan kejadian tersebut.
" Tidak masalah !" balas Sultan seraya merapihkan bajunyanya yang basah kena minuman.
" Hmm kalau begitu saya permisi." pamit Mona hendak melangkah pergi namun pria itu segera menahannya.
" Tunggu !! " sergahnya dengan cepat,Mona menoleh dengan ragu ke arah Sultan.
" Ponsel kamu terjatuh." ujar Sultan seraya membantu mengambilkan ponsel milik Mona yang tergeletak di bawah lantai.
Mona terkejut mengetahui ponselnya terjatuh,ia memekik pelan,dengan cepat ia pun segera mengambil ponsel tersebut dari tangan Sutra.Tak ada perasaan atau kecurigaan apapun yang di rasakan Mona ketika kejadian tersebut,ia hanya beranggapan jika itu hanyalah insiden biasa saja.
" Terimakasih." ucap Mona seraya melangkah mundur lalu segera pergi meninggalkan pria tersebut.
Mona segera bergegas keluar ruangan pesta tersebut,pikirannya tak tenang setelah tahu ponselnya tidak bisa menyala.Ia pun memilih untuk segera mengecek ponselnya tapi naas ponsel tersebut tetap tidak bisa menyala.Mona berguman kesal mendapati ponselnya tidak menyala.
" Yaa Tuhan !! Kenapa ini ??" gumannya dengan panik.
" Bu Mona mau pulang ?" tiba-tiba Aras sudah berada di belakangnya dan mengejutkannya.
Mona
" Eh kamu Ras,iya nih tapi ponselku mati mau menghubungi mas Banny gak bisa." ucap Mona dengan raut wajah sedih.
" Kenapa ponselnya??,apa karena terjatuh tadi ?? " tebak Aras.
" Entahlah,sepertinya ponselnya low." balas Mona seraya membolak balikan ponsel tersebut ia tetap berusaha menyalakan ponselnya tersebut namun nihil,ponselnya tetap tidak bisa menyala.
Mona merasa jika ponselnya itu masih baik-baik saja sebelum terjatuh tadi.
" Bu Mona pake ponsel saya saja untuk menghubungi pak Banny,gimana ?" usul Aras seraya menyodorkan ponsel miliknya.
Sejenak Mona terdiam mempertimbangkan tawaran Asistenya tersebut,betapa tidak jika Aras memberinya sebuah bantuan,ia khawatir jika Banny sedang menghubungi dirinya.
" Baiklah !" ucap Mona setelah mempertimbangkan menyetujui tawarannya Aras.
Tak lama Mona mengetik beberapa digit angka untuk di hubunginya,baginya nomor ponsel Banny sudah hapal di luar kepalanya.
Beberapa menit kemudian suara sang operator menjawab panggilannya tersebut.
(Nomor yang ada tuju sedang berada di panggilan yang lain,mohon tunggu atau tinggalkan pesan dengan cara..... Bla bla.... Bla...." suara operator menjelaskannya.
Mona mengernyit menatap heran,dia mencoba memeriksa nomor yang dia tuju.
Sejenak Mona terdiam berusaha berpikir,apakah Banny sedang mencoba menghubungi nomor dirinya?Mona menatap bingung,hingga dengan rasa penasaran ia kembali mencoba menghubunginya,jawaban masih sama hingga ia melakukannya berkali-kali untuk menuntaskan rasa kepenasarannya,namun lagi-lagi hasilnya sama dengan sebelumnya,selama itukah Banny menelpon ??
rutuk Mona dengan kesal.
Mona menggeleng,ia berusaha untuk tidak berpikiran buruk tentang suaminya tersebut.
" Sepertinya Mas Banny lagi sibuk,jadi tidak bisa di hubungi." ujar Mona seraya menyodorkan ponselnya milik Aras.
" Lalu bu Mona pulang dengan siapa ? " tanya Aras perhatian.
" Masih banyak taksi kok." balas Mona tersenyum enteng.
" Apa bu Mona bersedia pulang bersama kami?" ucap Aras menawarkan kembali pertolongan.
" Tidak,terimakasih,takutnya mas Banny datang menjemput." Mona menolak tawaran Asistenya tersebut.
" Baiklah kalau begitu saya izin pulang bu Mona." pamit Aras seraya berjalan melewati Mona,Mona hanya mengangguk dengan tersenyum tak pasti.
__ADS_1
Mona menarik napas panjang entah kenapa ia merasa khawatir dengan ke adaan Banny yang tak biasanya ponselnya susah di hubungi.