
BANNY dan Arnneta tiba di lestoran yang telah di janjikan Banny untuk makan siang bersama Arnetta.Semenjak gadis cantik itu menjadi sekertarisnya Banny dengan tidak canggungnya selalu mengajak makan siang atau pun sekedar ngobrol untuk menunggu jam istirahat berakhir.
Banny hanya menganggap jika gadis ini terasa nyambung untuk sekedar curhat atau membahas masalah pekerjaan yang lainnya.
Bagi seorang Arentta bisa menemani pria setampan Banny merupakan kebahagiaan tersendiri,meski ia tidak bisa menampik ke inginannya untuk lebih atas perasaanya,namun ia sadar jika dirinya memang tidak bisa memiliki seuyuhnya hati pria tampan itu,akan tetapi baginya bisa bersama serta berkesempatan bisa bersama sekaligus memandang dekat wajah pria itu merupakan hal yang paling berarti yang selalu di nantikan di setiap kali ada kesempatan.
Walau kenyataanya dia harus sadar jika pria itu tidak akan merubah ke inginannya untuk berpaling kepadanya.Siang ini pun Arnetta begitu menikmati makan siang bersama pria yang selalu menjadi harapan kebahagiaanya, dan kesempatan ini pun tak akan pernah ia lewatkan begitu saja meski terkadang pandangan para staff yang lain berpikir buruk padanya,namun ia tak ingin peduli akan hal itu.
Berneda dengan Arnetta,Banny pria tampan itu justru tidak fokus dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Otaknya justru menuntut pria itu untuk selalu memikirkan Mona,gadis yang ia tinggalkan yang masih terlelap dalam mimpinya sewaktu dia berangkat kerja tadi pagi,rasanya perasaan tak tega mengurungkan niatnya untuk membagunkan gadis itu,dan kini sedikitnya membuat ia tak tenang.
Pikirannya bercabang akan keadaan gadis itu,tentunya ia tak ingin jika gadis itu kembali keluyuran tanpa tujuan hingga dia pulang bisa di pastikan gadis itu tak ada di afartemennya.
Mengingat akan perlakuan dirinya yang selalu membuat perasaan gadis itu tertekan hingga nyaris membuat gadis itu tak memiliki selera untuk menanggapinya kembali.
Raut wajah gadis itu yang terluka melintas di benaknya dan mampu membuat perasaanya kian di landa keresahan.dan itu berhasil membuatnya merasa sesak.
Akhir -akhir ini wajah gadis itu terus menghantui pikirannya.
Membuatnya tidak fokus dengan apa pun yang sedang di kerjakannya.
" Mas !!" Panggil gadis cantik itu yang ketiga kalinya setelah panggilannya pertama kedua tak di hiraukannya.
" Eh iya Ar," Ucap Banny dengan gelagapan,ia sendiri bahkan tidak sadar telah melamun,Wajah Mona berhasil mendominasi pikirannya,ia sendiri semakin yakin jika dirinya memang tak bisa melepaskan begitu saja sosok gadis itu dari pikirannya.
" Mas,ini makananya !" Tanya Arnetta menatap lurus pria yang terlihat tengah kebingungan.
" Sorry,aku lagi tidak fokus. "
" Mas melamun ?" Tanya Gadis itu memicingkan matanya.
" Memikirkan sesuatu ?hmm bu Mona ya ?" Perkataan Arnetta membuat Banny gelagapan.
Bagaimana bisa Arnetta begitu pandai bisa menebak dengan pasti apa yang ada di pikirkannya saat ini.
Banny terdiam lalu tersenyum pudar,merasakan apa yang di pertanyakan gadis itu membuatnya tak bisa mengelak dari perasaanya sendiri.
" Mas,mas Banny mulai menyukai bu Mona ya ?" Tanya gadis cantik itu dengan tatapan datar.
" Sepertinya." Jawab pria itu singkat.
Arnetta terdiam merasakan hatinya tersayat halus oleh jawaban singkat pria itu.Luka tapi tak berdarah seperti itulah gambaran hatinya.
" Aku rasa,aku harus jujur dengan perasaanku yang sekarang aku rasakan terhadap Mona.
Arnetta menarik napas dalam,entah kenapa makanan yang telah ia pesan berubah tak menarik di seleranya tersebut ketika pria tampan itu mengakui akan perasaan dirinya tersebut.
" Bu Mona beruntung ya,dia mampu membuat hati mas tertarik padanya." Ucap Arnetta dengan tersenyum ironi.
Banny menghela lalu mengamati perubahan yang terjadi di raut wajah gadis cantik itu.
Banny sendiri paham akan maksud dari ucapan gadis cantik itu yang menyindirnya secara tidak langsung.
" Aku rasa mas begitu cepat dalam menanggapi perasaannya dia." Ujar kembali gadis cantik itu dengan mengaduk makanananya tanpa selera.
Sesaat Banny terdiam memandangi makanan yang ada di hadapannya itu tanpa ingin mencicipinya.
" Aku merasa bersalah atas perasaan ini. " Ucapnya lirih.Arnetta mendongkak menatap dengan berbagai perasaan ke arah wajah pria itu.
" Maksud mas ? " Tanyanya denga menyipit.
" Mas sadar,Mas terlalu munafik untuk mengakui perasaan itu dan sepertinya perasaan ini mungkin akan terlambat. " Ujarnya dengan rasa penuh kecewa.
" Terlambat ?? " Arnetta berhasil di buatnya semakin penasaran dengan apa yang akan di ucapkan pria itu.
" Mas tau,yang mencintai Mona tak hanya Zeanu sahabat mas sendiri,melainkan ada seseorang yang begitu besar menginginkannya." Banny menatap resah ke arah Arnetta.
" Mas tau dari mana jika Mas Zeanu memiliki perasaan lain terhadap bu Mona ?"
" Kita bersahabat cukup lama Ane,dan Zeanu sudah mengatakan hal itu sebelum perjodohan itu terjadi,jadi mas rasa ia masih berharap jika Mona masih bisa ia dapatkan." Jelas Banny dengan nada bicara yang sulit di artikan.
Arnetta terdiam,hati kecilnya berguman sehebat itukah sosok seorang Mona,gadis yang dinilainya hanya biasa-biasa saja itu namun mampu bagi kedua pria ini sangat spesial.
Arnetta menatap wajah pria itu dengan intens.
" Lalu,siapa pria yang selain Mas Zeanu berharap sama akan perasaan nya bu Mona ?" Tanya Arnetta dengan berat hati ia mempertanyakan hal itu.
__ADS_1
" Dia Angkasa teman Mona sekaligus mitra dalam perusahaan Mas juga,dia Direktur perusahaan PT Angkasa." Jelas Banny semakin tertekan raut wajahnya.
Gadis cantik itu benar-benar kagum akan sosok seorang Mona.
Apa yang menjadikan Mona begitu spesial di hati tiga pria ini ?
Arnetta menggeleng ia benar-benar merasa insecure mengetahui hal ini.
Mona,yang di anggapnya hanya gadis biasa saja rupanya mengalahkan ketertarikan sebagian para pria hebat di matanya.
Arnetta menghela lalu menatap dengan ekspresi datar,makan siang yang ia harapkan akan terasa begitu berarti kini hanya terasa penuh dengan kesesakan yang benar-benar membuatnya terasa membutuhkan oksigen.
Dia berpikir jika dirinya tidak memiliki riwayat penyakit asma,namun kali ini ia benar-benar butuh oksigen untuk membantu pernapasannya agar tidak terlalu sesak.
Otak berjalan terus,berpikir keras kenapa pria tampan itu begitu besar memiliki perasaan yang spesial terhadap gadis yang di matanya itu biasa-biasa saja.Jika dia harus menyandingkan dirinya dengan gadis itu tentulah ia lebih menarik dari segala hal di banding gadis sederhana itu,tapi kenapa Banny justru menyukai gadis sederhana itu dengan dalam?
Rasanya tak habis pikir dia berusaha berpikir keras,Arnetta terdiam mencoba untuk mengusir hawa panas yang mulai terasa membakar hatinya.
" Mas ingin mengakhiri sandiwara ini." Ucap Banny menatap dalam gadis cantik itu ucapannya menggantung menatap dengan penuh seksama wajah gadis cantik itu.
Bola mata Arnetta membulat mencoba menerka apa yang akan di katakan kembali pria tersebut.
Dan gadis cantik itu pun berspekulasi dengan makna dari kata mengakhiri yang sesungguhnya.
Apa itu artinya jika Banny akan benar-benar menceraikan gadis itu dan mengakhiri sandiwaranya ini,atau ???
Tepat bersamaan ketika gadis itu sedang berpikir keras akan hal itu,pria tampan itu kembali berkata.
" Mas ingin mengakhiri sandiwara ini dan menjalani pernikahan ini dengan sesungguhnya. " Ucap Banny menegaskan.
Deekkkkk.....
Sebuah palu godam mengantamnya dengan kuat,rasa panas dingin kini mendominasi suhu tubuhnya.
Wajah gadis cantik itu memias,nyaris saja ia melepasakan sendok serta garfunya dari gengamannya tersebut tatkala pria tampan itu menegaskan apa yang menjadi ke inginanya tersebut.
Dan pernyataan pria itu pun mampu memporak porandakan harapannya yang telah lama tersimpah rapih di hatinya.
Spekulasi yang tak di harapkan.....
Gadis cantik itu mengambil segelas air minum lalu meminumnya dengan tak berdaya.
" Tapi mas bingung harus dari mana memulainya? " Terdengar suara pria tampan itu mengiba kepadanya seolah-olah ingin menuntut sebuah solusi yang bisa membantunya.
Mona tersenyum pahit merasakan apa yang ada di dalam hatinya terasa remuk.
Yaaa harapan itu hilang seketika atas segala pernyataan pria itu,rasanya tak ada lagi kesempatan untuknya untuk bisa mendapatkan cinta seorang Banny.
" Ane !!" Panggil Banny lirih saat melihat gadis itu hanya melamun tanpa meresponnya.
" Iya mas." Balas Arnetta dengan tersentak.
" Kamu sedang memikirkan sesuatu ? " Tanya pelan.
" Tidak mas." Jawab gadis itu terbata.
" Menurut kamu,apa yang harus Mas lalukan itu mengungkap kan perasaan mas ini ?" Tanya lagi pria itu yang berhasil membuat gadis itu semakin tenggelam akan perasaanya.
Sesaat gadis cantik itu menghela,berusaha menetralkan perasaan kecewa yang sedang menguasai dirinya.
" Yaa jalan satu-satunya mas harus berani jujur atas perasaan mas sendiri,dan....," Ucapan gadis itu terhenti.
Sorot matanya terlihat berbeda.
" Dan apa ?? " Tanya Banny tak sabar.
" Dan memberikan kepastian,itu adalah hal yang paling di nantikan oleh semua perempuan mas,kita tidak pernah tau jika perasaan seseorang memilki perasaan yang sama dengan perasaan kita,mas harus bisa menentukan sikap." Jelas Arnetta dengan suara kian serak menahan sesuatu yang mulai memaksanya untuk keluar.
" Ya,mas mengerti.Tapi mas masih ragu untuk memulainya." Ungkapnya dengan menatap dingin.
Arnetta menghela,dia tahu betul akan karakter seorang Banny yang selalu merasa gengsi akan sebuah perasaan.
" Apa perlu aku ikut serta mas ?" Olok gadis itu tersenyum miris.
Banny menatap raut wajah itu lalu tersenyum enteng.
" Tidak usah Ane,mas takut Mona salah paham dengan melibatkan kamu disini ? " Sergah Banny menolak tawaran Arnetta sekertarisnya.
__ADS_1
" Mas takut jika bu Mona akan cemburu ??" Tanya gadis itu dengan penasaran.
" Mas hanya menjaga perasaanya." Ujar pria itu dengan wajah terlihat resah.
Arnetta mengalihkan wajahnya ke sisi lain,ia tidak ingin melihat kekhawatiran yang begitu dalam tergurat dari raut wajah pria tampan itu, dan dapat di pastikan jika Banny memang merasa benar-benar khawatir akan perasaan gadis itu.
Hening....
Kedua insan itu saling membenam perasaanya satu sama lain dan Pria tampan itu pun terlihat tak berselera untuk menyantap makanan yang sudah di pesannya tersebut,ia terlihat benar-benar tak tau pasti apa yang akan di lakukannya.
Sebuah nada dering panggilan memecahkan kesunyian di antara Banny dan Arnetta.
Sesaat pria tampan itu menatap ke layar ponselnya yang terletak tak jauh darinya,di layar ponsel tersebut menampilkan sebuah nama panggilan
" Mona !!" Sebutnya lirih,setelah ia melihat siapa yang memanggil dirinya.
Tanpa menunggu lama pria tampan itu segera meraih benda pipih buatan negri opa-opa tersebut dan menempelkan di telinganya.
" Hallo Mona." Sapanya dengan nada datar.
Arnetta menoleh ke arah Banny yang sedang menerima panggilan.
" Hallo mas." Balas Mona terdengar nyaring dari sebrang telepon dengan suara tak kalah datarnya.
" Ada apa ? " Tanyanya seraya melirik kecil ke arah Arnetta yang masih menatapnya.
" Saya lagi di kantor sekarang mas." Balas Mona singkat.
Banny tercekat mendengar jika Mona sedang berada di kantornya.
" Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya jika kamu akan ke kantor ku ?" Tanya pria tampan itu dengan suara meninggi,namun sejurus kemudian tanpa di sadari sebuah senyuman melengkung di bibirnya,dan itu mampu menarik perhatian Arnetta yang menyimaknya sedari tadi.
" Ok,aku sekarang balik kantor.Kamu tunggu aku di situ.....," Sebelum Banny menyelesaikan pembicaraanya Mona dengan cepat menyela.
" Tidak usah mas !! saya tidak mau ganggu,karena saya tahu Mas lagi makan siang dengan Arnetta." Balas Mona tanpa basa-basi membuat perasaan pria itu menceos.
Kaget bercampur resah Banny melirik kembali ke arah Arnetta yang kini gadis itu tengah berpura-pura menikmati makananya.
Banny bingung harus berkata apa setelah Mona mengetahui dirinya sedang makan siang bersama Arnetta.
" Maaf saya tidak memberi tahu mas terlebih dahulu,karena papah tiba-tiba menelpon saya untuk datang ke kantor." Ungkap gadis itu dengan nada kian datar.
Banny mengusap wajahhnya dengan frustasi,entah kenapa perasaanya menjadi serba salah atas sikapnya itu,dia tidak ingin jika mantan sekertarisnya itu berpikiran lain atas dirinya dengan Arnetta.
" Mona,tunggu aku di situ ! aku akan segera kesana." Pinta Banny dengan nada bicara yang berbeda.
" Saya masih bersama papah di kantor." Balas Mona dengan enteng.
" Ok,aku segera kesana." Ucap Banny terlihat panik dan mengulang kalimat yang sama.
Arnetta melihat jelas akan sikap pria itu yang mendadak gugup serta grogi.
Tak lama pria tampan itu mengambil segelas air minum lalu meminumnya dengan cepat,dengan bersamaan ia memasukan benda pipih itu ke saku jasnya.
" Ada apa mas ? " Tanya Arnetta tersenyum tipis.
" Mona dan papah sudah menunggu Mas di kantor,ada hal yang akan di bicarakan." Ujar Banny pelan.
Wajahnya terlihat semeringah penuh arti saat mengetahui Mona ada di kantornya.
" Kamu mau ikut pulang bersama mas,atau....??" Tanya pria tampan itu tak lantas.
" Mas duluan saja,tidak apa-apa aku sendirian saja kembali ke kantor." Sergah Arnetta dengan cepat.
" Yakin kamu tidak apa-apa ? " Tanya Banny memastikan.Arnetta pun hanya mengangguk dengan tersenyum rapuh.
" Ok kalau gitu mas duluan ya." Pamit Banny seraya meraih kunci mobilnya.
Lagi-lagi Arnetta hanya tersenyum hampa seraya mengangguk pelan menatapi pria itu yang melangkah meninggalkannya.
Gadis cantik itu menghela cukup panjang merasakan hatinya hancur berkeping keping,bagaimana tidak, dirinya dengan begitu jelas melihat ekspresi kegelisahan pria tampan itu akan sosok gadis sederhana itu.
Andai waktu itu bisa di putarnya kembali,mungkin dia tidak akan mengambil keputusan itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu dan memilih mengambil study di luar negri,mungkin ceritanya tak akan se tragis ini.Banny adalah sosok pria yang tak bisa berkompromi dalam hal apapun tak terkecuali soal perasaanya,dia tidak akan mengulang untuk meminta atas perasaannya yang pernah ia abaikan.
Dan dia pun tidak ingin menunggu lama atas harapan yang tak pasti darinya.
Arnetta mengambil napas panjang lalu menghembuskanya dengan pasrah.Hari-harinya akan terasa suram jika ia tahu bahwa pria itu kini telah begitu dalam mencintai gadis dalam sandiwara pernikahannya tersebut.
__ADS_1